Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 176 : Akhir Kisah Bara dan Bella - END


__ADS_3

Dua hari bermalam di rumah sakit, pada hari ketiga Bella sudah diizinkan pulang. Tentunya, setelah baby Real melewati serangkaian pemeriksaan dan dinyatakan sehat.


Bayi mungil itu masih sempat mendapatkan imunisasi pertamanya. Bara dan Bella sampai harus berpelukan saat melihat buah hati mereka menjerit kesakitan, disuntik untuk pertama kali. Rasanya tidak tega melihat bayi sekecil itu berhadapan dengan jarum suntik.


Berjalan tertatih-tatih, mengenggam erat lengan suaminya, Bella bisa tersenyum lega saat kakinya melangkah masuk ke dalam kamar tidur yang sudah hampir tiga hari ditinggalkan. Rindu itu begitu membuncah. Terisolasi di dalam kamar perawatan, Bella seperti orang asing saat bisa merasakan kembali udara bebas dan sengatan panas mentari.


“Mas, aku bisa tidur nyenyak malam ini,” bisik Bella, sumringah. Menjatuhkan tubuhnya perlahan di atas ranjang empuk berselimut seprai ungu. Tangannya gemetaran, meremas lengan laki-lakinya saat nyeri itu kembali terasa. Tanpa sengaja jahitannya terkena gesekan kain, memberikan sensasi menggelenyar.


Bagaimana bisa tidur nyenyak, alarm-mu itu akan berbunyi setiap dua jam sekali, Bell.” Bara terkekeh, menunjuk ranjang bayi kosong di sudut kamar. Terbayang sudah malam yang akan mereka lewati bersama.


Pemilik ranjang mungil itu sedang menjadi primadona, digilir dari Ibu Rosma sampai Oma Rania. Belum lagi kakak-kakak yang berebutan mencium. Baby Real sedang menjadi perbincangan dan sorotan di luar kamar. Jadi perhatian para asisten rumah dan pengasuh barunya.


“Aduh ... ssshh!” Bella meringis pelan lagi. Wajahnya mengernyit, sontak membuat Bara bergidik ngeri.


“Masih sakit, Bell?” tanya Bara, ikut merasakan ngilu. Inti tubuh yang dijahit berlapis, tentu saja bukan perjuangan yang mudah.


“Hmm ....” Bella mengangguk sembari menahan perutnya.


“Kira-kira butuh berapa lama untuk sembuh, Bell?” tanya Bara dengan polosnya.


“Paling cepat itu empat puluh hari, tetapi bisa lebih lama.”


“Astaga! Harus selama itu, Bell?” Bara tampak mengerutkan dahi dan berpikir. Selama empat puluh hari dia harus cuti. Itu pun paling cepat, bisa jadi lebih lama, tergantung kondisi di lapangan.


Membuang pikiran kotornya, Bara memilih melangkahkan kaki menuju sisi kiri kamar. Menarik tirai dan membuka lebar jendela. Membiarkan angin segar masuk, mengundang semburat cahaya menyerang seisi ruang tidur.


Sedetik kemudian, kamar menjadi terang benderang seiring desiran angin yang ikut menerobos masuk tanpa permisi.


“Bell, mulai besok aku sudah ke kantor lagi.” Menerawang menatap taman samping rumah, ayunan kayu dan rumput hijau bergoyang pelan.


“Ya, Mas.”


“Tidak apa-apa, kan?”


“Tidak, Mas. Aku bisa sendiri. Banyak yang membantuku di sini.”


Laki-laki dengan setelan casual itu berdiri di depan jendela dengan kedua tangan terselip di saku celana, menikmati sengatan matahari sore. Ada banyak cerita yang dilewatinya selama hampir tiga tahun menikah dengan Bella. Gadis kecil yang dulu tak terlihat, sekarang jadi bagian terpenting hidupnya.


Ya, Bella Cantika sekarang adalah bagian dari dirinya, separuh dari hidupnya. Cinta yang entah sejak kapan tumbuh, sekarang semakin kuat dengan kehadiran Baby Real. Bayi mungil, pengikat hubungan keduanya.


“Mas ....” Suara Bella terdengar manja.


“Ya, Sweetheart.” Bara berbalik.


“Tolong bawakan baby Real, sepertinya asiku sudah merembes lagi.”


Bara tersenyum kecut, memandang noda basah di kedua puncak bukit kembar istrinya. Teringat bagaimana kehebohannya dan Bella, saat pertama kali cairan putih itu memancar keluar dengan bantuan pompa asi.

__ADS_1


“Dipompa saja, Bell. Mereka sedang bermain dengan Baby Real, biarkan saja. Kalau baby Real lapar pasti menjerit.” Bara memberi ide. Tanpa disuruh, dengan sigap menyiapkan pompa asi berikut botol kaca tempat penyimpanannya, mengambil dari dalam steamer dan menyerahkannya pada Bella.


“Nanti aku akan membeli freezer untukmu menyimpan stok asi. Jadi tidak tercampur dengan makanan lain,” sambung Bara. Duduk tepat di depan Bella, menikmati pemandangan langka saat istrinya memeras asi.


“Ya, Mas.”


“Kenapa melihatnya sampai seperti itu, Mas?” tanya Bella risih dan kesal sendiri dengan ekspresi nakal suaminya. Bara seperti manusia gua yang tak pernah melihat wanita.


“Pemandangan langka, Bell.” Bara terkekeh.


Sejak Baby Real lahir, banyak hal baru yang dipelajari Bara. Dari menggendong bayi, mengganti popok, bahkan Bara sudah bisa membungkus baby Real dengan bedong. Semua dipelajari dari perawat rumah sakit. Ini bayi pertamanya, tentu harus mendapatkan perlakuan sedikit berbeda.


Daddy dari Rania, Issabell dan Real itu benar-benar menjadi suami dan ayah siaga. Banyak hal yang menuntutnya berubah seiring waktu. Kesabarannya pun semakin diuji pastinya.


“Bell ....”


“Hmm ....” gumam Bella, masih sibuk dengan pompa asi di tangannya. Ibu dari tiga orang anak itu melihat pun tidak.


“Terima kasih untuk semuanya.”


“Hmmm.” Kembali berguman tak jelas.


“Bell ....” Suara Bara terdengar mengalun.


“Ya, Mas. Ada apa? Sejak tadi Ball Bell Ball Bell,” gerutu Bella, ketus. Terlalu serius dengan aktivitasnya, meladeni suaminya pun tidak.


Sejak tadi berjuang mengalihkan perhatian istrinya, tetapi malah terkena semprotan. Ingin, membuat semua terlihat manis, yang terjadi malah sebaliknya.


Pernyataan yang tidak biasa itu, mengalihkan perhatian Bella dari dunianya. Mommy baby Real seketika mengangkat pandangan, memerhatikan raut wajah Bara.


“Kenapa Mas? Apa yang ingin kamu sampaikan?” tanya Bella melunak. Ada sesal saat melihat rona kecewa terpancar di wajah sang suami.


“Selesaikan semuanya, aku menunggumu di sana.” Bara menunjuk ke arah jendela besar.


***


Lima belas menit, Bara berdiri termenung menunggu. Memusatkan perhatiannya pada pemandangan di luar kamar. Ujung ranting berayun pelan, rumput hijau menari sejalan dengan desiran angin menuntun.


Kelopak mawar tampak jatuh gugur perlahan. Indah, seindah dunia Bara saat ini. Hidupnya semakin lengkap saat bergandengan tangan bersama Bella dan ketiga anak-anaknya.


Otak Bara sedang merangkai banyak hal. Ada banyak cerita yang belum terselesaikan, ada banyak simpul yang belum terurai.


“Mas ... ada apa?” tanya Bella, tiba-tiba memeluk tubuh kekar suaminya dari belakang. Menikmati punggung yang nyaman dan hangat. Miliknya, ya Bara sekarang miliknya. Bukan milik masa lalu, bukan juga milik wanita mana pun.


“Asinya sudah selesai?” Bara bertanya tanpa menoleh, sebaliknya menikmati kemanjaan Bella yang jarang sekali terjadi selama tiga tahun pernikahan mereka.


“Sudah, ada apa?”

__ADS_1


Hening, hanya terdengar tarikan napas berat dan hembusan panjang.


“Aku berencana menyampaikan kebenaran tentang Icca pada Ibu, bagaimana menurutmu?” Bara meminta pendapat.


“Mas yakin?”


“Hmm ... aku pikir harusnya sudah tidak masalah. Saat ini Ibu sedang bahagia. Diberi kejutan kecil aku pikir tidak masalah,” sahut Bara, menurunkan pandangannya, menatap tangan Bella yang kini mengunci perutnya.


“Rissa di penjara untuk waktu yang lama, tentang ini saja Ibu masih sanggup menerimanya. Apalagi hanya masalah Icca. Aku pikir harusnya Ibu lebih bahagia lagi, mendapati Icca juga cucu kandungnya,” lanjut Bara.


“Terserah padamu, Mas. Aku menurut saja,” ujar Bella.


“Kemarilah!” Merengkuh pelan tangan istrinya, Bara menarik Bella perlahan supaya berdiri di hadapannya. Kalau tadi wanita ini yang memeluk, sekarang kedua tangan Bara yang memeluk dari belakang.


“Terima kasih Bell ....”


“Untuk?”


“Semuanya ....” jawab Bara.


“Bell ....” Laki-laki itu menjatuhkan dagunya di pundak Bella, mengecup pelan dan dalam.


“Hmmm.”


“Pernah menyesalkah menerima lamaranku yang tiba-tiba?” tanya Bara.


“Pernah, Mas. Sering aku menyesali keputusanku waktu itu. Harusnya aku tidak menerima lamaranmu. Harusnya aku tidak menikahi majikan ibu.”


Bara tersenyum.


“Aku masih mengingat jelas, bagaimana raut wajah terkejutmu saat aku melamarmu di depan ibu, Bell. Kamu baru pulang sekolah, masih mengenakan seragam putih abu-abu. Aroma keringatmu masih bercampur debu dan knalpot jalanan. Saat itu kamu masih kampungan sekali.”


“Jangan mengingatkanku. Itu memalukan sekali, Mas.” Memukul pelan tangan Bara yang membelit di pinggang dan mengenggamnya kemudian.


“Aku memilihmu karena kamu sederhana. Aku memilihmu karena kamu berbeda jauh dengan Brenda. Aku memilihmu, karena setiap hari kamu yang sering mengurusku saat itu.”


“Harusnya, aku memilih Rissa. Aku tahu ... ibu lebih berharap aku memilih Rissa. Selain dia anak tertua, umur kami tidak terlalu jauh berbeda. Rissa sudah menamatkan kuliahnya, berbeda denganmu yang masih sekolah.”


“Ibu tidak pernah mempermasalahkan, Mas.”


“Ya, aku tahu. Ibu pasrah dan terikat budi denganku.” Bara berkata pelan.


“Bell, sampai hari ini, tidak sekali pun aku menyesal telah memilihmu. Dan kamu harus tahu, sewaktu aku melamarmu, aku serius ingin membina rumah tangga denganmu. Tidak pernah terbersit sedikit pun mempermainkanmu. Sejak menikah, aku selalu menjaga hatiku untukmu. Aku tidak pernah berkhianat ... karena aku tahu rasa sakitnya dikhianati.”


***


Akhir Kisah Bara dan Bella ( END )

__ADS_1


Jangan di unfavorit ya.. akan ada extra chapter untuk kisah perjuangan Ran-Ran - Teo mendapatkan restu Bara dan Bella & kehamilan anak ke2 Bella.


__ADS_2