Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 159 : Bara vs Roland


__ADS_3

“Kita makan sekarang? Kasihan anak-anak makan sendirian,” bujuk Bara.


Bella akhirnya mengangguk, meski di dalam hati masih ada sisa yang mengganjal.


“Bell, tolong percaya padaku. Aku mungkin tidak seromantis laki-laki lain, tetapi aku setia padamu. Aku tahu sakitnya dikhianati itu seperti apa. Jadi ....”


“Sudah Mas ... mandi saja dulu. Nanti susul kita ke bawah. Aku menunggumu untuk makan malam,” potong Bella. Ibu hamil itu sudah beranjak dari atas ranjang. Bergegas keluar kamarnya.


Bara hanya bisa menatap dalam diam, memandang punggung yang menghilang dari balik pintu kamar. Terkadang, terselip kasihannya pada Bella. Menikah dengannya, Bella mengorbankan banyak hal, meskipun tujuan awalnya untuk tetap menjaga hubungan baiknya dengan Ibu Rosma. Pernikahan ini ada karena dia ingin bertanggung jawab seumur hidup pada keluarga pembantunya itu.


Akan tetapi semakin ke sini, semakin dia merasa Bella yang dikorbankan. Meskipun selalu berusaha menjaga perasaan istrinya, menjaga setianya, tetapi ada saja yang membuat Bella menangis, membuat Bella terluka. Entah itu sengaja atau tanpa disengaja.


Istrinya masih terlalu muda, bahkan belum genap dua puluh tahun. Sudah harus hamil dan mengurus dua orang anak sekaligus. Belum lagi, saat jagoan mereka lahir, tanggung jawab Bella semakin bertambah.


Belakangan, sejak Rania tinggal di tempat mereka, setiap Bara melihat Rania selalu terselip rasa bersalah pada Bella. Putrinya Rania, masih bebas menikmati masa kanak-kanak menuju remaja, yang tidak akan terulang lagi. Sedangkan Bella, yang usianya hanya terpaut enam tahun dari Rania harus dihadapkan berbagai tanggung jawab sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya.


Setiap mengingat itu, Bara berusaha menahan sabarnya untuk Bella. Kadang kala, emosi Bella masih sering naik turun dan tidak stabil. Terkadang masih kekanak-kanakan, tetapi tidak jarang juga terlihat dewasa. Hanya saja, Bara sering lupa, kalau ibu hamil yang mengisi sisi ranjangnya itu masih sembilan belas tahun, ada kalanya dia menuntut berlebih, seperti istri-istri pada umumnya.


***


Keesokan harinya.


Dengan diiringi lambaian tangan Bella, Bara memacu mobilnya menuju ke kantor. Masih sempat melabuhkan kecupan di kening dan kedua pipi yang diakhiri dengan menempelkan bibirnya di bibir sang istri.


“Bell, aku pulang sedikit terlambat. Aku harus ke proyek. Pengerjaan rumah Roland sudah hampir rampung dan aku harus turun tangan untuk memastikan. Melakukan pengecekan sendiri.”


“Ya, Mas. Usahakan pulang secepatnya. Aku lelah menjawab pertanyaan anak-anak yang tidak berkesudahan setiap tidak melihatmu di meja makan.


“Oke ....”


“Pastikan Pak Rudi menjemput anak-anak tepat waktu, Bell.”

__ADS_1


“Ya, Mas.”


“Kamu jadi bertemu dengan Kailla?” tanya Bara lagi, mengusap pelan kandungan istrinya yang menginjak tujuh bulan.


“Jadi, Mas. Aku tidak membawa anak-anak.”


“Sebelum pergi, jangan lupa pastikan anak-anak sudah beres, Bell. Jangan sampai kelelahan, kamu tahu sendiri Kailla itu seperti apa. Aku tidak mau sampai kamu kenapa-kenapa, Bell.”


“Ya Mas. Jangan berlebihan. Kailla itu baik, Mas.”


“Aku berangkat dulu, ya.” Bara menyempatkan mengusap pelan puncak kepala istrinya. Tersenyum hangat sebelum masuk ke dalam mobilnya.


***


Bara ditemani pengawas proyek sedang berkeliling memastikan hunian mewah lima lantai di atas lahan seluas 4000 meter persegi. Hari ini, sedang ada pemasangan lift di rumah mewah milik Roland yang rencananya akan melakukan serah terima di akhir bulan.


Laki-laki itu harus turun tangan sendiri untk proses renovasi, mengingat proyek yang diambil perusahaannya ini bernilai fantastis. Setelah memastikan semua lancar dan sesuai dengan gambar yang telah disetujui sebelumnya, Bara bisa bernafas lega.


Bar, bagaimana kabarmu?” Tiba-tiba terdengar suara bariton menyapanya.


“Land, apa kabarmu?” tanya Bara, memeluk sembari menepuk pundak Roland. Tersenyum, meskipun tidak sepenuhnya tulus. Entah kenapa, sampai saat ini Bara tidak bisa bersikap baik lagi pada teman dudanya itu. Bukan hanya masalah Issabell, tetapi ada masalah lain yang mengusik rasanya.


Tatapan Roland seperti menyimpan sesuatu, yang Bara tahu ada yang tidak berjalan di jalurnya. Apa itu, Bara tidak tahu jelas. Apalagi saat laki-laki itu menatap istrinya, Bella. Seperti menyimpan sesuatu yang sulit digambarkan.


“Baik, Bar. Icca bagaimana?”


“Icca sudah mulai mandiri. Bicaranya juga mulai lancar, tidak tersendat seperti sebelumnya,” jelas Bara, melempar senyuman.


“Karena terlalu lancar, sampai apapun diceritakan semua ke Bella,” batin Bara mengingat kelakuan putri kecilnya yang berimbas pada hubungannya dan Bella.


“Bagaimana, Land? Kamu sudah melihat hasilnya, apa ada yang tidak sesuai dengan keinginanmu?” tanya Bara, mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Roland menggeleng. “Semua sudah oke. Aku percaya dengan pekerjaanmu, Bar. Siapa yang tidak mengenal Barata Wirayudha. Hanya dengan menyebut BW Group, orang-orang akan mengangguk. Tidak akan berkomentar.”


Obrolan keduanya terhenti, saat nada pesan masuk terdengar dari ponsel di saku celana Roland. Laki-laki itu merogoh saku dan tersenyum saat memastikan siapa yang telah mengiriminya pesan


Sembari membaca, laki-laki itu senyum-senyum sendiri. Sebaliknya, Bara hanya menyimak sesekali mencuri pandang. Akan tetapi, bola mata Bara nyaris melompat keluar saat tanpa sengaja melihat foto anak dan istrinya mengisi wallpaper ponsel Roland.


Amarah bercampur cemburu itu berkolaborasi, bekerja sama mengaduk-aduk emosi Bara. Membuat laki-laki itu hampir meledak. Bara merebut paksa ponsel dari tangan Roland. Memperhatikan foto Bella dan Issabell yang sedang berada di kamar tidur bernuansa hello kitty.


Deg—


Laki-laki itu kemudian menggeser layar ponsel, mencari galeri tempat penyimpanan foto. Bara berkeyakinan, akan menemukan lebih banyak lagi foto-foto Bella dan putrinya.


Beruntungnya ponsel Roland tidak terkunci. Jantung Bara bergemuruh, saat mendapati ratusan foto Issabell dan Bella, bahkan ada foto istrinya yang sedang tertidur di kamar mereka.


Dengan tangan terkepal, kemarahan Bara yang sudah membuncah tidak bisa dikendalikan lagi.


“Katakan! Bagaimana kamu mendapatkan foto-foto istriku, Brengs’ek!!” tanya Bara.


Laki-laki yang sedang diselimuti kabut amarah itu membanting ponsel Roland sampai hancur berkeping-keping. “Katakan! Bagaimana kamu bisa mendapatkan foto anak dan istriku!” tanya Bara, menarik kerah baju Roland.


“Apa yang kamu inginkan? Apa maumu?” cerca Bara. Tanpa menunggu Roland menjawab, Bara sudah menghajar laki-laki itu dengan pukulan membabi-buta. Tidak sampai di situ saja, Roland yang tidak sempat melawan, didorong Bara sampai tersungkur ke lantai.


“Katakan bagaimana kamu bisa mendapatkan foto-foto pribadi istriku? Siapa yang kamu bayar untuk mengirimkannya padamu, Brengsek’!!”


Bara sudah duduk di atas tubuh Roland yang terkapar, kembali memukul wajah tampan khas oriental itu tanpa jeda.


“Aku ... aku ....” Roland tidak sanggup melawan atau menjawab. Bara mengirimkan pukulan bertubi-tubi di wajahnya.


Laki-laki itu hanya sanggup menutupi sebagian wajahnya dengan tangan, meringkuk berusaha menghindar dari serangan Bara yang mengerikan.


“Aku akan membunuhmu sekarang!” ancam Bara.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2