
“Kamu siapa?” tanya Bara dengan mata melotot menahan cemburunya yang terpancing saat ada laki-laki yang menyebut nama istrinya.
Matt tersentak sesaat di seberang. Berusaha mengingat kembali kata-kata yang baru saja dilontarkannya. Apa terlalu tidak sopan sehingga memancing amarah lelaki yang menerima panggilannya ke gadis manis yang mengenalkan diri bernama Bella.
“Maaf, Om. Saya Rahmat. Bellanya ada, Om?” tanya Matt, mengubah panggilannya. Sedikit mengakrabkan diri pada lelaki yang disangka papanya Bella.
Tuttt.
Bara mematikan ponselnya, berbalik menatap Bella. Istrinya sudah berpakaian kembali. Tidak ada lagi tampilan menggoda yang bisa meredam amarah di dada yang terlanjur terpancing.
“Siapa Rahmat?” tanya Bara, melempar ponsel ke atas ranjang. Raut kesal belum hilang sepenuhnya. Mendengar nama Rahmat, kemarahannya muncul kembali.
“Rahmat?” Bella menggeleng.
“Aku tidak kenal, Mas,” lanjut Bella. Ia tidak mengingat nama Rahmat. Lelaki yang ditemuinya di bandara itu tidak membekas di otaknya, apalagi di hatinya.
“Aku serius, Bell. Siapa dia?” tanya Bara, masih saja meneruskan cemburunya.
“Memang Mas pikir aku bercanda,” sahut Bella kesal. Emosinya ikut terpancing saat Bara tidak memercayai jawabannya.
“Dia mengenalmu, Bell!” tegas Bara lagi.
“Masalahnya aku tidak mengenalnya. Aku lupa pernah mengenalnya di mana!” seru Bella dengan berapi-api.
Deg—
Bara menatap raut kemarahan tersirat di dalam mata membulat sempurna mengarah padanya, lengkap dengan napas naik turun, kedua tangan bertolak di pinggang ramping.
Wajah cantik itu cemberut sudah, seperti buah mangga mentah yang asam kecut. Mendapati itu, Bara menciut, tidak sanggup kalau harus melawan kemarahan Bella. Terserah mau disebut takut istri. Untuk saat ini, mengalah lebih baik dari membela diri.
Istri kecilnya yang sedang hamil ini bisa mengaum seperti harimau, bisa mengamuk bak singa kelaparan dengan caranya sendiri.
“Sudah, aku tidak jadi bertanya. Anggap saja, Rahmat kurang ajar itu salah orang,” sahut Bara tidak mau memperpanjang masalah. Memilih menelan rasa cemburu itu sendirian.
Berjalan pelan, menelan rasa takutnya dan mendekati Bella.
“Sweetheart, jangan marah-marah lagi, ya,” rayu Bara, memeluk tubuh mungil yang begitu berani menantangnya saat ini.
“Kita kan sedang babymoon. Baiknya kita kesampingkan dulu semua hal yang membuat jarak diantara kita makin jauh,” bujuk Bara lagi.
“Mas yang duluan memancing kemarahanku,” keluh Bella.
“Ya sudah, aku minta maaf,” sahut Bara, berusaha menyelesaikan masalahnya.
Bella mengangguk dengan segaris senyuman datar yang dipaksa.
__ADS_1
“Nah, begitu 'kan cantik,” puji Bara, sembari menyentuh ujung dagu lancip Bella. Menunduk perlahan dan memberi sebuah kecupan hangat di bibir tipis istrinya.
Kecupan ringan itu makin dalam dan menuntut ketika Bella meresponnya. Dengan berjinjit sembari memeluk pinggang kekar yang sekarang menguasai jalannya kompetisi, Bella menurut, nyaris takluk dengan semua perlakuan manis Bara.
“Selamat menikmati babymoon-mu, Sweetheart. Jangan sedih lagi, jangan marah lagi, jangan cemberut lagi,” ucap Bara, melepaskan ciumannya.
***
Keduanya sedang larut dalam permainan yang sebentar lagi akan dimulai. Saling mengusap lembut dengan tubuh mungil Bella sudah tidak berdaya di bawah kungkungan tubuh kekar Bara. Lelaki itu hampir gila, setelah sekian hari mood Bella yang naik-turun hanya mampu membuatnya mengelus perut rata setiap malam.
Kali ini hasratnya akan tersalurkan, kala Bella begitu manisnya menerima semua hal darinya dengan tangan terbuka. Bara baru akan memulai, memosisikan diri saat ponsel dengan bunyi asing milik Bella kembali berdering nyaring.
Deringan pertama, Bara memilih mengabaikan, tetapi deringan selanjutnya membuat lelaki itu kesal. Meraih ponsel yang tergeletak tidak jauh dari tempat mereka saling memeluk tanpa busana, menjawab tanpa melihat lagi siapa yang menghubungi Bella.
“Ada apa lagi!” teriak Bara dengan napas tersengal, setelah menempelkan ponsel itu dengan kasar di telinganya. Berharap teriakannya cukup membuat si penelepon tahu diri.
Hening—
Bara mengerutkan dahi, menatap Bella sebentar kemudian beralih menatap ponselnya. Jantungnya berdenyut kencang saat menyadari siapa yang menghubunginya saat ini.
“Ibu,” ucapnya pelan. Antara malu bercampur tidak enak hati telah membentak ibu mertuanya.
Detik selanjutnya, baik Bara maupun Bella bisa mendengarkan jerit tangisan kencang Issabell dari seberang telepon.
“Sayang, jangan menangis,” ucap Bella, berusaha menenangkan. Bella bisa mendengar jelas tangisan Issabell yang menyayat hati, sedang dibujuk oleh Ibu Rosma.
“Sayang,” panggil Bella lagi. Tetap tidak ada jawaban. Sepertinya Ibu Rosma terlalu sibuk dengan Issabell dan mengabaikan teleponnya.
“Mas!” Bella, terlihat kesal kali ini.
Mood yang tadinya baik, sekarang memburuk kembali. Senyum yang tadinya begitu manis, berganti tatapan sinis. Mendorong kasar tubuh Bara, Bella langsung meraih pakaiannya yang berserakan di lantai. Mengenakannya kembali, dan membiarkan Bara seorang diri tertegun di atas tempat tidur.
“Bell, jangan marah. Aduh begini lagi,” ucap Bara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menatap tubuh istrinya yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
Mau kesal entah dengan siapa, mau marah entah harus menumpahkannya pada siapa. Harusnya ia tidak mengaktifkan ponsel saat berada di sini, jadi tidak ada gangguan-gangguan kecil yang akhirnya akan membuat hubungan mereka memburuk. Pasang-surut layaknya air laut.
***
Bara memilih berenang untuk mematikan apa yang terlanjur menyala, sembari menikmati keindahan Pulau Dewata. Setelah menunggu hampir setengah jam, istrinya tidak kunjung keluar dari kamar mandi, lelaki itu menulis pesan di secarik kertas.
Dan sekarang di sinilah ia berada. Berenang sambil menikmati teriknya mentari, melupakan sejenak masalah kecilnya dengan Bella sekaligus mempersiapkan strategi baru untuk menyerang Bella saat waktunya tiba.
__ADS_1
Kesalnya belum kunjung reda. Teringat kembali dengan sosok Rahmat yang tidak diketahui bentukannya. Bara berkeyakinan, lelaki itu pasti mengenal istrinya. Dari cara bertanya, bukanlah salah sambung atau telepon nyasar. Pasti lelaki itu mengenal istrinya.
“Aku harus mencari tahu. Beraninya dia menghubungi istriku. Aku akan membunuhnya dengan kedua tanganku!” ucap Bara, mengepalkan tangannya di dalam air.
Lelaki itu masih saja mengomel sendirian, saat seorang gadis cantik dengan bikini seksi bermotif floral menghampirinya di pinggir kolam renang.
Dengan tidak tahu malunya, gadis itu duduk di dekat Bara, membiarkan kaki jenjang putih mulusnya tenggelam ke dalam kolam, mengayunkannya pelan di dalam air, menimbulkan riak pelan di kejernihan air kolam yang tampak membiru.
“Maaf,” ucapnya pelan, menyibak pelan rambut tergerainya menampilkan leher jenjang yang begitu menggoda. Sedikit menunduk, memamerkan belahan dadanya yang terlihat indah dan meminta disentuh.
“Aku ke sini untuk meredam semuanya, kenapa tiba-tiba ada makhluk jadi-jadian yang sengaja memancingku!” batin Bara, kesal.
“Tidak apa-apa. Aku permisi!” sahut Bara, berenang menghindar. Berusaha menjauh dan tidak mencari masalah. Kalau sampai istrinya melihat, ia tidak bisa membayangkan nasibnya akan seperti apa. Bahkan, ia tidak yakin bisa menyelamatkan nyawanya dari kemarahan Bella.
Sang gadis bukannya menyerah. Setelah melihat Bara menjauh, gadis itu malah menceburkan diri menyusul. Sampai tepat di tengah kolam, Bara dikejutkan dengan kehadiran sang gadis nekad yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
Deg—
“Apa-apaan ini!” gerutu Bara dalam hati.
Lelaki itu baru saja akan menghindar, saat tangan gadis tidak tahu malu itu mencekal dan mengajaknya berkenalan.
“Maaf, Nona. Aku harus naik sekarang. Istriku sedang menunggu,” tolak Bara, bergegas ke pinggir kolam dan segera menyudahi.
Akan tetapi nasib buruk Bara sedang menyelimutinya. Baru saja akan melangkah menjauh dari kolam, ia melihat Bella. Istrinya sedang menatap sinis padanya. Wajah cantik itu terlihat kesal dan berbalik pergi. Bahkan, Bella tidak mau bicara dengannya.
“Bell, dengarkan aku!” pinta Bara, kala melihat punggung Bella yang berjalan menjauh.
Mau mengejar, tetapi tubuhnya basah kuyup. Akhirnya Bara memilih berganti pakaian. Dengan buru-buru kembali ke kamarnya lagi untuk membujuk Bella.
Ia tidak mau bertengkar, sebisa mungkin menikmati momen berdua ini dengan Bella. Untuk itulah ia memboyong sang istri sampai ke Bali. Supaya memiliki kesempatan berduaan, saling mengenal lebih jauh. Hal yang belum pernah dilakukannya dengan Bella selama ini.
Sampai di kamar, Bara terkejut. Istrinya sudah berdandan rapi.
“Mau kemana, Bell?” tanya Bara heran.
“Aku mau belanja, antarkan aku. Kalau tidak, aku akan meminta Rahmat mengantarku!” ucap Bella, dengan ketus.
***
T b c
Love you all
Terima kasih.
__ADS_1