
“Aku asisten Halim Hadinata,” jelas Matt, tersenyum.
Hening sesaat, Bara meneliti sosok di hadapannya dengan dahi berkerut. Mencoba mengingat kembali, lelaki yang kalau diperhatikan memang tidak asing.
“MATT,” ucap Bara dengan suara kencang, setelah menyadari siapa pria di hadapannya. Ia benar-benar tidak mengenali. Apalagi pertemuan mereka yang terakhir hampir delapan tahun lalu, saat perusahaan Bara yang di Surabaya mendapat kepercayaan menangani interior di kediaman mewah Halim Hadinata.
“Ya, benar. Aku Rahmat,” jelas Matt, menegaskan kembali.
Sebuah tepukan kencang mendarat mulus di lengan Matt. “Maaf, ayo masuk ke dalam,” ajak Bara setelah mengetahui dengan jelas asal usul lelaki yang sempat menjadi lawan tandingnya tadi.
“Bell, minta Mbak buatkan minuman,” pinta Bara pada istrinya.
Matt masih sempat-sempatnya menatap wanita yang sekarang sudah jelas statusnya, milik lelaki lain.
***
Keduanya berbincang di teras rumah menikmati semilir angin ditemani secangkir kopi hitam. Matt tidak menduga sama sekali kalau gadis yang ditaksirnya adalah istri orang, lebih parahnya adalah ia mengenal suami sang gadis.
“Bagaimana bisa mengenal istriku?” tanya Bara, heran.
“Tuan muda menabrak Bella di bandara. Ponselnya jatuh dan rusak. Tuan muda memintaku mengurusnya,” jelas Matt.
Bara terlihat berpikir. Mengingat kembali tuan muda yang dimaksud oleh Matt. Lama tertegun akhirnya otaknya mengingat jelas.
“Si Koko pulang ke Indonesia? Atau masih stay di Inggris?” tanya Bara.
“Tuan muda Ditya bolak balik Jakarta-London. Apalagi sekarang, Tuan Halim sudah sakit-sakitan. Maunya Pak Bos besar, putra satu-satunya itu menetap di sini, mengurus bisnisnya,” cerita Matt.
“Oh ya, Pak Barata sudah lama tinggal di Surabaya?” Matt balik bertanya.
“Aku sekarang tinggal di Jakarta,” sahut Bara, singkat.
“Wah kebetulan sekali. Pak Bos baru membeli penthouse di Jakarta Pusat. Nanti aku usulkan memakai perusahaan Pak Barata untuk interior,” cerita Matt.
“Di mana?” tanya Bara, menyimak. Keluarga Halim Hadinata tidak mungkin membeli properti kelas biasa. Bisa mendapatkan proyek keluarga konglomerat Halim tentu menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus menambah pundi-pundi uang yang tidak sedikit.
“Di dekat Bundaran HI, Plaza Indonesia,” jelas Matt.
Bara cuma mengangguk.
“Penthouse itu dibeli untuk tuan muda Ditya. Bos besar mau menetap di Surabaya, sudah lelah bolak balik Jakarta-Surabaya. Umur tidak bisa bohong. Kondisi fisik sudah melemah. Tidak mampu lagi bekerja terlalu keras,” lanjut Matt.
__ADS_1
“Si Koko belum menikah?” tanya Bara lagi.
“Belum, cuma sudah dijodohkan,” cerita Matt singkat. Bara hanya mendengar. Secara pribadi ia tidak terlalu mengenal putra Halim Hadinata, hanya sempat bertemu beberapa kali sewaktu mengerjakan interior di kediaman Halim Hadinata. Ia lebih sering berhubungan dengan Bos Halim langsung.
***
Bella sedang mengobati luka robek dan memar di sudut bibir dan pelipis suaminya. Sesekali bertanya mengenai Matt yang ternyata mengenal suaminya itu.
“Mas, bagaimana bisa mengenal Rahmat?” tanya Bella, sembari memberi obat merah di luka Bara.
“Aku pernah mengerjakan rumah bosnya Matt,” cerita Bara. Saat ini, ia tidak semurka sebelumnya setiap membahas lelaki itu.
“Oh, yang tampan itu. Sebenarnya dia yang menabrakku tempo hari,” cerita Bella keceplosan.
Mendengar kata tampan yang ditujukan pada lelaki lain, emosi Bara tentu saja terpancing. Mata yang teduh itu langsung memerah, terbakar api cemburu yang sudah melahap sebagian logikanya.
“Aku tidak suka kamu memuji lelaki lain di depanku, Bell.” Bara mengingatkan.
“Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya berbicara fakta, bukan menyatakan perasaanku. Aku tahu, aku sudah bersuami,” cicit Bella pelan. Tidak mau membuat amarah Bara kian terpancing.
“Bell, ikut aku kembali ke Jakarta, ya?” pinta Bara. Tangan kekarnya tiba-tiba menggenggam tangan istrinya yang sedang menggosokkan es batu pada luka memar yang ada di pelipisnya.
Bella tampak berpikir, sebenarnya ia juga sedikit khawatir dengan masalah Issabell.
“Jangan katakan kamu masih belum mau kembali, Bell,” todong Bara, dengan tatapan menyelidik. Mulai muncul segala pikiran buruk di benaknya.
“Katakan padaku dengan jujur, Bell. Matt baru kali ini berkunjung ke rumah atau sebelumnya sudah pernah?” tanya Bara mulai curiga.
Bella menggeleng. “Baru pertama kali, Mas,” sahut Bella.
“Kemarikan ponselmu, Bell,” pinta Bara, menyodorkan tangannya.
Tanpa membantah, Bella menurut. Menyerahkan ponsel pada sang suami yang saat ini mulai terpercik api cemburu. Tidak mau memancing masalah dengan suaminya.
Lelaki itu membaca semua pesan yang masuk dan keluar di ponsel istrinya, sekaligus menyisir semua panggilan masuk dan keluar. Bara bisa bernapas lega saat tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di dalam sana.
“Mas, kalau aku berbuat macam-macam di belakangmu, pasti aku sudah menghapus jejak itu sebelumnya,” celetuk Bella, membuat senyum cerah di wajah Bara meredup seketika dan memancing tawa Bella.
Perkataan Bella membuat Bara semakin melotot, bahkan lelaki itu harus berulang kali menahan kesal.
“Mas, jangan marah lagi. Aku akan ikut denganmu ke Jakarta,” ujar Bella, memeluk Bara.
__ADS_1
Mendapat perlakuan begitu manis dari Bella, emosi Bara mereda. Berganti, lelaki itu mendekap istrinya.
“Maaf, kalau aku sering membuatmu kesal. Aku sadar, terkadang aku menyebalkan. Di saat aku panik, aku mudah terpancing. Aku susah mengontrol emosiku,” ucap Bara.
Jujur, saat ini selain menyesal karena sempat mengasari istrinya. Ada rasa haru menyeruak di dadanya. Pengertian dan kesabaran Bella padanya, membuat hatinya tersentuh. Tidak banyak yang sanggup bertahan di sisinya, tidak banyak yang bisa mengerti dengan sifat temperamen dan cemburuan yang belakangan menambah deretan sifat buruknya.
Berbeda dengan rumah tangganya dan Brenda. Mereka memiliki sifat yang sama kerasnya dan tidak ada yang mau mengalah. Setiap hari bertengkar untuk hal kecil, tetapi Bella berbeda. Gadis mungil yang diperistrinya memang sedikit keras, tetapi Bella sangat sabar menghadapinya.
“Ikut aku pulang ke Jakarta, aku usahakan sesering mungkin kita akan berkunjung ke Surabaya,” jelas Bara, mengecup kening Bella perlahan.
Bella mengangguk dan tersenyum hangat.
“Kamu tahu, Bell. Betapa beruntungnya aku mendapatkanmu,” bisik Bara di sela dekapannya.
***
Kehidupan rumah tangga Bara dan Bella, tenang tanpa riak. Bella fokus dengan kehamilannya yang sebentar lagi akan memasuki bulan ke lima. Perhatian dan sifat posesif Bara semakin menjadi, seiring dengan perut istrinya yang semakin hari makin membulat.
Apalagi setelah beberapa hari yang lalu disampaikan dokter kalau bayi yang dikandung Bella kemungkinan besar berjenis kelamin laki-laki. Sikap posesif Bara semakin menjadi.
Selain itu, tidak ada bayang-bayang masa lalu yang datang menghampiri kehidupan rumah tangganya, meskipun terkadang Rania masih sering menginap di tempat mereka, tetapi Bella tidak mempermasalahkannya. Bahkan, Bara secara terang-terangan membantu kehidupan mantan mertua sekaligus pengobatan Brenda yang masih belum ada kabar baiknya.
Siang itu, Bella sedang menemani Issabell bermain boneka di teras rumah. Menikmati semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi. Dengan daster motif floral, Bella terlihat cantik dengan tubuh yang jauh lebih berisi, duduk di kursi rotan bersama pengasuh Issabell.
Bella sedang mengelus perutnya yang mulai kelihatan, saat sebuah mobil Alphard hitam mengkilap masuk ke pekarangan rumah mereka. Tidak lama, tampak seorang lelaki diperkirakan seumur suaminya, turun dari dalam mobil dengan setelan jas lengkap dengan kacamata hitam.
“Selamat siang, saya ....”
Lelaki itu menghentikan ucapannya. Konsentrasinya beralih pada Issabell yang sedang berbincang dengan boneka.
***
T b c
Love you all
Terimakasih.
Maaf, sampai akhir tahun, novel ini upnya tidak teratur, karena author ada kesibukan di dunia nyata untuk menyambut tahun baru.
“Happy New Year 2021”
__ADS_1