Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 137. Apa ini?


__ADS_3

Bara pulang ke rumah saat menjelang tengah malam. Sepanjang hari lelaki itu disibukkan dengan aktivitasnya sampai tidak sempat menghubungi istrinya, bahkan untuk sekedar menanyakan kabar jagoan kecilnya. Seharian ini jadwalnya padat dan terpaksa harus mengabaikan Bella dan Issabell.


Ada rasa yang hilang sehari saja tidak mendengar suara cerewet Bella. Sudah menjadi kebiasaannya belakangan ini, saling bertukar kabar atau bertukar cerita di sela waktu senggangnya.


Langkah kaki kelelahan, menyeret masuk ke dalam kamar putrinya. Memastikan Issabell tertidur nyaman dan menghadiahkan putri kecilnya itu kecupan hangat.


“Sweet dream, Sayang,” ucapnya pelan, mengusap lembut dahi Issabell. Merapikan selimut yang berantakan supaya tetap menghangatkan tubuh mungil yang mulai menggigil kedinginan.


Sejak bayi, Issabell sudah terbiasa tidur sendiri, jadi Bara sudah hafal dengan aktivitas rutinnya. Setiap tengah malam memastikan Issabell baik-baik saja.


Selanjutnya, beralih ke kamar tidurnya yang terletak di sebelah kamar Issabell. Begitu melangkahkan kaki masuk ke kamar, matanya menangkap pemandangan istrinya yang sudah terlelap, terbuai di alam mimpi.


Melepaskan jas kerjanya, melempar asal ke sofa sebelum menjatuhkan tubuhnya di sisi ranjang. Duduk di tempat tidur, menatap wajah lelap yang begitu polos tanpa beban.


“Gadis kecilku sekarang sudah dewasa,” bisik Bara, melukis wajah Bella dengan ujung telunjuknya.


Mengukir perlahan, garis wajah istrinya dan berakhir di bibir tipis merona kemerahan. Mengingat kembali masa-masa kecil Bella yang mengisi hari-harinya saat masih tinggal di Surabaya. Gadis manis yang begitu rajin membantu ibunya setiap pulang sekolah.


Cup.


Kecupan ringan mendarat di bibir menggoda Bella, seiring membukanya kelopak mata perlahan. Berkedip beberapa kali sampai akhirnya membulat sempurna. Bella terbelalak saat menyadari Bara yang sedang memperhatikannya dari jarak dekat.


“Mas, sudah pulang?” tanya Bella, dengan suara serak, mengumpulkan kesadaran yang masih kocar-kacir. Mata mengantuk itu menatap jam bulat tergantung di dinding kamarnya.

__ADS_1


“Kenapa malam sekali, Mas?” tanya Bella, saat menyadari waktu yang sudah terlampau malam dan suaminya baru saja menjejaki kaki pulang ke rumah dengan setumpuk kelelahan yang tampak jelas di penampilan Bara.


“Ada sedikit masalah di proyek, tetapi sekarang sudah selesai,” sahut Bara tersenyum. Jemari tangannya mulai lincah dan berani, merapikan surai hitam mahkota Bella yang berantakan menutupi wajah. Menyelipkan perlahan di belakang daun telinga.


“Cantik,” puji Bara, mengulas senyum. Menatap kecantikan sederhana istrinya tanpa sapuan make up, tanpa gaun tidur yang indah. Hanya sebuah daster biasa karena terlalu sering dipakai dan sering dicuci. Kata Bella, kelusuhan itu menandakan kenyamanan si gaun tidur sederhananya. Terlalu nyaman sampai dipakai terus menerus. Apa lagi di masa kehamilannya, lebih nyaman untuk beraktivitas di rumah.


“Mas sudah makan?” tanya Bella, mengambil posisi duduk, bersandar pada bantal yang ditumpuk.


“Belum.”


“Mas, mau aku siapkan makanan?” tawar Bella, duduk tegak mengikat rambutnya asal, ia bersiap bangkit dari tidurnya.


“Nanti saja. Aku mau mandi dulu.” Pandangan Bara beralih menatap perut istrinya. Seharian ini tidak menyapa jagoan kecilnya.


“Dia rewel seharian ini? Dia mencari daddy-nya, Bell?” tanya Bara.


“Tidak lagi. Seharian ini bayi kita kalem. Tidak menyusahkan Mommy. Mungkin dia mengerti kalau Daddy sedang bekerja keras untuk membeli mainan mobil-mobilan yang banyak untuknya.”


Tanpa banyak bicara, Bella bergegas ke kamar mandi. Menyiapkan air panas untuk suaminya. Hal yang tidak pernah ketinggalan, bahkan sejak belum menikah, ia sudah hafal di luar kepala, akan tugas menyiapkan air panas untuk suaminya.


Tak lama, ibu hamil itu sudah keluar dari kamar mandi setelah memastikan semuanya beres.


“Mas, air panasnya sudah siap,” terang Bella. Tak lama setelah keluar dari kamar mandi. Kantuknya lenyap sudah. Ia harus menyiapkan makan malam untuk Bara. Tidak enak membangunkan asisten rumah tangga di tengah malam seperti ini. Sudah lewat dari jam tugas mereka, rasanya tidak manusiawi kalau masih tetap menyusahkan para asisten untuk tugas mudah ini.

__ADS_1


“Mas, mau dibuatkan nasi goreng?” tawar Bella lagi, sebelum keluar dari kamar.


“Tidak perlu, Bell. Panaskan saja makanan yang disajikan untuk makan malam. Kalau tidak ada lagi, susu juga boleh. Asal bisa mengganjal perut,” sahut Bara, membuka kemeja dan celana kerjanya. Seperti biasa, membuangnya asal di pojok kamar.


Tanpa menyadari ada sesuatu yang keluar dari kantong celananya, tergeletak begitu saja di atas lantai, Bara bergegas masuk ke kamar mandi, tanpa berpikir apa-apa.


Bella yang tadinya hendak keluar, menghentikan langkahnya saat melihat kertas yang terurai keluar dari kantung celana hitam suaminya. Penasaran yang menggelitik hatinya. Tidak seperti biasanya, Bella memilih masa bodoh. Saat ini rasa ingin tahunya begitu besar, membuatnya mencari tahu.


Membungkuk untuk memungut demi memastikan apa yang mencuri perhatiannya. Namun, rasa penasaran itu langsung berganti kecurigaan saat melihat lima lembar karcis masuk ke Taman Safari, dan yang membuat kecurigaan Bella semakin menjadi saat melihat faktur pembayaran atas nama Bara untuk dua buah kamar hotel berbintang lima di Puncak.


“Ya Tuhan, apa ini?” bisik Bella hampir menangis, menatap tanggal dan hari yang tertera di faktur dan karcis tersebut menyatakan kalau semuanya dipesan Bara hari ini.


“Apa yang suamiku lakukan di luar sana?” cicit Bella pelan. Matanya mengembun, mulai panas dan memerah. Ingin mengumpat diri sendiri rasanya. Di tengah ketidakpastian, lebih tepatnya baru menduga-duga, ia langsung menangis untuk hal yang belum pasti.


Namun apa dikata, pikiran positifnya tidak mau diajak kompromi. Kata hatinya lebih mendominasi dibanding logikanya.


***


TBC


Yang mau diselingi kisah Pram dan Kailla disini, bisa komen ya. Tapi yang mau baca full kisah rumah tangga Pram dan Kailla, silahkan mampir di novelku yang lain.


- Season 1 : Istri Kecil Sang Presdir

__ADS_1


- Season 2 : Istri Sang Presdir


__ADS_2