
“Aku masih mau di sini, Mas. Tidak mau kembali ke Jakarta,” tolak Bella. Seketika membuat Bara menghentikan langkahnya.
“Bell, aku mohon. Kamu boleh marah padaku sepuasnya nanti setelah tiba di Jakarta. Kamu boleh memukulku semaumu, tetapi kamu dan Icca harus ikut denganku kembali ke Jakarta,” pinta Bara.
Bella bergeming, tak lama ia menghempaskan tubuhnya duduk di ranjang dengan kaki menjuntai.
“Biarkan aku di sini untuk sementara, Mas. Ada Ibu yang menjagaku. Di sana aku sendirian,” pinta Bella, memohon.
Bara yang baru saja akan merapikan isi kopernya segera berbalik, menghampiri istrinya yang tertunduk dengan raut wajah sedih.
Sebenarnya ia juga tidak tega menolak permintaan Bella di saat sedang hamil muda seperti ini, tetapi kalau meninggalkan Bella di Surabaya ada perasaan tidak tenang. Kalau terjadi sesuatu, ia tidak bisa secepatnya menemui istrinya.
“Bell, aku mohon. Tolong mengerti. Sekali ini saja. Aku tidak bisa tenang meninggalkanmu di Surabaya. Kamu sedang hamil, sebisa mungkin aku ingin bisa berada di sisimu, di masa-masa kehamilan. Aku tidak mau melewatkan sedikit pun,” jelas Bara. Lelaki itu sudah berjongkok di hadapan istrinya sembari menggenggam kedua tangan Bella yang terkulai di pangkuan.
“Ini anakku, benar-benar darah dagingku,” lanjut Bara.
“Aku tahu, tetapi izinkan aku tetap di sini. Aku berjanji akan baik-baik saja,” pinta Bella, memohon.
Lama terdiam di tempatnya berjongkok, Bara sedang berpikir, mencari solusi terbaik untuknya dan Bella. Kehamilan Bella membuatnya tidak bisa terlalu keras pada istrinya.
Dengan menghela napas, akhirnya Bara memutuskan. “Baiklah, aku memberimu waktu seminggu. Setelah itu, ikut aku kembali ke Jakarta,” tegas Bara, memutuskan.
Bella tetap diam, tidak menolak ataupun mengiyakan. Entah apa yang dipikirkannya. Sampai sejauh ini, ia belum memutuskan apa pun.
Sebuah kecupan ringan mendarat di kening Bella, berikut senyuman Bara. “Tolong ikut mengantarku ke bandara,” pinta Bara. Lelaki tampan itu sudah berdiri dan melepas pakaiannya. Bergegas ke lemari dan mencari pakaian ganti.
Melihat kesibukan Bara di depan cermin, Bella pun membantu Bara menyiapkan kopernya, merapikan isi di dalamnya.
“Bell, biarkan saja. Kalau pekerjaanku tidak terlalu banyak, aku akan pulang ke sini nanti sore,” ucap Bara, meraih tangan istrinya yang sedang berjongkok dan membereskan isi kopernya.
“Maksud, Mas? Mas akan ke sini lagi nanti sore?” tanya Bella, hampir tidak percaya.
Bara tersenyum dan mengangguk. Tersenyum pada istrinya yang sekarang berdiri di hadapannya.
“Aku tidak bisa meninggalkan kalian di sini. Aku tidak bisa tenang, Bell.”
__ADS_1
“Apa tidak capek, Mas?” tanya Bella lagi. Hatinya mulai goyah dengan pengorbanan Bara, tetapi sebisa mungkin ia tidak akan terpengaruh kali ini.
“Aku belum tahu, tetapi kalau tidak terkejar. Bisa saja, besok sore baru aku ke sini. Aku mau lihat pekerjaan di kantorku dulu,” sahut Bara.
Tatapan haru itu makin terlihat nyata, Bella hampir menangis menatap lekat suaminya yang sedang berganti pakaian. Ia tahu suaminya pasti sangat kelelahan saat ini. Baru kemarin menyetir dari Jakarta ke Surabaya.
“Bell, pakaianku tinggal di sini saja. Mobilku juga akan kutinggal, berikut dengan Pak Rudi,” jelas Bara.
Selesai berpakaian, Bara terlihat mematut dirinya di depan cermin. Tersenyum mengagumi dirinya yang terlihat tampan meskipun belum mandi pagi.
“Aku tidak keburu, aku harus berangkat sekarang. Tolong ikut mengantarku ke bandara. Icca titipkan pada Ibu sebentar,” pinta Bara.
Istrinya itu belum menjawab, tetapi Bara sudah bersuara kembali. “Aku akan membawa pengasuh Icca bersamaku nanti.”
“Ingat jangan terlalu sering menggendong Icca. Berjalan dengan hati-hati. Ada bayiku di dalam sini,” ucap Bara, berpesan banyak hal pada istrinya, sesekali mengelus perut rata yang kalau bisa ingin dielusnya setiap saat.
“Ya, Mas. Aku bukan anak kecil,” gerutu Bella. Kesal mendengar pesan Bara yang tidak ada habisnya.
“Ah ... aku tidak rela meninggalkan kalian,” ucap Bara, langsung mendekap erat istrinya.
“Aku pasti merindukan kalian. Jangan marah lagi. Aku bersalah padamu, aku minta maaf,” ucap Bara pelan sebelum mengecup lembut bibir tipis istrinya. Kecupan ringan itu makin dalam dan menuntut.
Dan ketika Bella pun ikut membalas, Bara makin terhanyut. Kalau tidak ingat sebentar lagi ia akan terbang ke Jakarta, sudah pasti saat ini ia akan menerbangkan Bella bersamanya.
Terlalu lama berpuasa, mood Bella yang naik turun membuatnya tidak berani mendekat. Berusaha untuk tidak larut, akhirnya Bara menyudahi kecupannya.
“Ayo, antar aku ke bandara sekarang,” bisik Bara, menarik tangan Bella untuk ikut turun bersamanya.
***
Keesokan harinya.
Pagi itu Bella sudah bangun pagi-pagi sekali. Berencana menitipkan putrinya pada sang Ibu. Seperti ceritanya kemarin pada Ibu Rosma, ia akan mencoba melamar pekerjaan di kantor Pak Rahmat, tetangga rumah mereka.
Beruntung, semalam Bara menghubunginya, kalau suaminya itu tidak bisa terbang ke Surabaya kemarin. Jadi suaminya itu tidak bisa menghentikan niatnya untuk bekerja. Ia sudah memantapkan hati ingin mandiri dan tidak tergantung pada Bara.
__ADS_1
Hubungan mereka yang tidak bisa dibilang manis dan akur, membuat Bella berpikir dan mempersiapkan banyak hal.
“Ibu, hari ini aku akan ke kantor Pak Rahmat. Aku serius mau melamar kerja di sana,” cerita Bella, sesaat setelah menjatuhkan bokongnya di kursi makan. Tangannya dengan cekatan meraih centong nasi goreng dan mengisinya sebagian ke piring.
Issabell yang duduk di sebelahnya, tampak berantakan dengan sepiring nasi goreng yang diacak-acak dengan tangannya.
“Kamu benar-benar serius? Bagaimana dengan suamimu? Apa dia mengizinkan?” tanya Ibu Rosma, mulai risau.
“Aku serius. Aku juga sudah mendapatkan alamat kantornya. Sebentar lagi aku akan berangkat, Bu,” cerita Bella.
“Icca, jangan diacak-acak, Sayang,” pinta Bella. Merapikan mulut dan tangan Issabell yang berantakan dipenuhi nasi goreng yang berceceran.
Ibu Rosma menggeleng. Mau melarang, tetapi ia yakin Bella pasti tidak terima. Mau mendukung, sudah pasti Bara tidak akan setuju.
“Bell, bagaimana dengan suamimu? Apa tidak sebaiknya menunggu suamimu dulu. Apalagi kamu baru beberapa hari di sini. Apa tidak sebaiknya menikmati liburanmu,” usul Ibu Rosma, berusaha menggunakan cara terhalus untuk mengagalkan keinginan putrinya.
“Kalau menunggu Mas Bara, yang ada aku harus kembali ke Jakarta. Dia tidak akan mengizinkanku bekerja,” tegas Bella, membantu menyuapkan Issabell.
“Icca, nanti jangan nakal, ya. Mommy mau keluar sebentar. Icca sama Oma,” bisik Bella di sela perbincangannya dengan Ibu Rosma, mengambil alih piring Issabell dan menyuapinya.
“Kamu sedang hamil, Bell. Jangan sampai kandunganmu kenapa-kenapa. Kalau kamu tidak menyayangi suamimu, setidaknya sayangilah bayi di dalam rahimmu. Bayi itu tidak salah. Bayi itu tidak ada sangkut-pautnya dengan pertengkaran kedua orang tuanya. Jangan sampai bayi tidak berdosa menjadi korban keegoisan kalian para orang tuanya,” nasehat Ibu Rosma.
“Aku sudah memantapkan hatiku, Bu. Mas Bara itu tidak mencintaiku. Untuk apa aku bertahan di dalam rumah tangga seperti ini. Untuk apa aku menjalani rumah tangga yang hanya akan menyakitiku.”
Ucapan Bella membuat Ibu Rosma kesal.
“Apakah sewaktu menikah, kamu tidak tahu kalau Bara tidak mencintaimu. Lalu kenapa kamu mau menikah dengannya. Lalu kenapa kamu mau menjadi istrinya. Bahkan bukan istri di atas kertas. Kamu benar-benar menjadi istri Bara seutuhnya. Sudah sejauh ini, sudah hamil anaknya juga. Kenapa baru mempermasalahkan masalah cinta.” Ibu Rosma berkata dengan kesal.
***
T b c
Love you all
Terima kasih.
__ADS_1