Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 96. Ciuman di lift


__ADS_3

Mobil Bara sudah masuk ke pelataran BW Group, perusahaan keluarga yang mulai dikelolanya sejak kedua orang tuanya meninggal. Dari kejauhan terlihat seorang security berlari menghampiri, membantu membuka pintu mobil di bagian sopir.


Sudah menjadi kebiasaan, Bara selalu pergi ke kantor dengan menyetir sendiri. Sangat jarang menggunakan jasa sopir pribadi atau sopir kantor. Lelaki tampan dengan tubuh kekar itu menapakan kaki dengan sepatu pantofel hitam mengkilap. Mengitari mobil sport hitamnya dan membuka pintu mobil untuk istrinya.


Bella yang di awal kehamilannya mudah lelah, terlihat hampir tertidur dengan tubuh menempel di pintu. Begitu Bara membuka pintu mobil, tubuh mungil itu hampir jatuh keluar kalau suaminya tidak sigap menahan.


“Maaf, Bell,” ucap Bara, berusaha menopang tubuh istrinya.


“Aduh, kepalaku pusing,” keluh Bella, memijat dahinya, sembari mengerjap beberapa kali.


“Kita di mana, Mas?” tanya Bella, belum sepenuhnya sadar. Mengedar penglihatannya berusaha beradaptasi.


“Kita sudah sampai di kantor,” sahut Bara, mendekap istrinya supaya tidak merosot jatuh dari mobil.


“Masih pusing?” tanya Bara penuh kekhawatiran.


Bagaimana tidak khawatir? Ini adalah pengalaman pertama untuk Bara. Ia menginginkan yang terbaik untuk istri dan anaknya.


“Sedikit, Mas. Belakangan pusingnya semakin menjadi, tapi sudah tidak mual dan muntah lagi,” cerita Bella, sudah berdiri dengan ditopang suaminya.


“Ya sudah, sebentar lagi kita ke dokter. Aku takut terjadi sesuatu pada kalian. Ada beberapa berkas yang harus aku tandatangani,” jelas Bara, menggandeng tangan Bella. Masuk ke dalam kantor dengan tatapan beberapa pasang mata karyawan yang mencuri pandang pada Bella.


Sembari menggandeng istrinya, Bara menghubungi Kevin supaya menyiapkan berkas-berkas yang harus di tandatanganinya supaya nanti tidak menghabiskan terlalu banyak waktu. Ia hanya mampir sebentar di kantor.


Raut kepanikan Bara terlihat jelas, tangan yang tadinya dipakai untuk menggandeng istrinya berganti dengan memeluk pinggang yang masih ramping di trimester awal kehamilannya.


“Bell, kamu kuat jalan sampai ke ruanganku? Apa kita langsung ke dokter saja. Biarkan Kevin saja yang mengurus semua untukku,” cerocos Bara saat berada di dalam lift, sesekali merapikan anak rambut yang membandel di dahi istrinya.


“Aku tidak apa-apa, Mas. Hanya sedikit pusing saja. Masih terbawa suasana di rumah sakit,” sahut Bella.


“Lagi pula sudah tanggung juga, Mas. Kita sudah sampai di sini,” lanjut Bella lagi, memaksa tersenyum.

__ADS_1


“Bell, jangan pernah menemui mereka lagi. Aku mohon,” pinta Bara. Ia sudah berdiri di depan Bella, menarik tubuh istrinya yang terlihat lemah supaya bersandar di dadanya. Wajah Bella kian memucat , ia takut Bella terjatuh.


“Ya, maafkan aku, Mas. Tadi pagi tidak meminta izin padamu.” gumam Bella tidak terdengar jelas. Ia sedang menikmati, menyusup di dada bidang Bara yang terbungkus setelan jas hitam. Menikmati aroma maskulin dari parfum bercampur aroma tubuh suaminya.


“Kenapa tiba-tiba jadi manja begini, Bell?” tanya Bara, merasakan kepala Bella yang kian menempel di tubuhnya.


“Mas ...." Bella menengadahkan kepalanya. Berjuang menatap Bara yang jauh lebih tinggi darinya. Dengan sedikit berjinjit, ia berusaha menggapai wajah Bara.


Tangan yang tadinya bebas, sekarang bergelayut dengan manja di leher Bara. Melupakan mereka sedang berada di dalam lift yang sebentar lagi akan tiba di lantai yang dituju.


Bella masih dengan usaha untuk menyentuh bibir suaminya. Ada dorongan yang kuat di dalam dirinya, ingin bermesraan dengan sang suami. Sudah lama rasanya tidak melakukannya, perselisihan yang tidak berkesudahan membuat jarak di antara mereka selama ini.


Bara yang cukup paham keinginan istrinya, segera mengambil alih. Dengan sedikit membungkuk, ia mengecup bibir istrinya. Mel”umat dengan lembut sesekali dan menyusup masuk ke dalam. Saling membelit lidah, melupakan keberadaan mereka di tempat umum. Saat ini, ia sedang menikmati ciuaman istrinya. Entah kenapa, berciumaan dengan Bella kali ini sedikit menggetarkan sesuatu di dalam hatinya.


Bukan kali ini saja mereka berciuman, tetapi yang sekarang lebih manis. Membuat lupa segalanya. Bahkan saat pintu lift terbuka, ia masih terlena dan menikmati. Menulikan pendengarannya, membutakan penglihatannya. Saat ini, ia hanya menginginkan istrinya.


Bella tersadar, saat pintu lift terbuka sempurna. Ujung matanya menangkap sosok ketiga yang berdiri membeku menyaksikan keintiman yang tidak pada tempatnya.


“Mas,” ucap Bella, berusaha menetralkan kembali napasnya yang tersengal. Bersusah payah ia harus melepaskan diri dan menyadarkan Bara yang terlanjur terbawa suasana.


Berusaha mengembalikan kepercayaan dirinya yang sempat ambruk saat ketahuan mencium istrinya, Bara melangkah keluar dari lift. Bella sendiri hanya menunduk, menutup rona malu di pipinya.


“Bagaimana, Kevin?” tanya Bara, mengajak istrinya masuk ke ruang kerjanya.


“Semua berkas-berkas sudah aku siapkan di atas meja, Pak,” jelas Kevin. Pandangannya tertuju pada Bella, sedikit ragu untuk melanjutkan pembahasan serius ini di depan istri atasannya. Apalagi ini menyangkut perempuan dari masa lalu Bara.


“Em, ada yang mau aku sampaikan. Bisa kita bicara di luar, Pak?” tanya Kevin ragu, mengalihkan pandangannya pada Bella. Istri atasannya itu sedang bersandar di sofa, memejamkan matanya. Terlihat wajahnya sedikit pucat. Sepertinya sedang dalam kondisi tidak sehat.


Bara mengangguk, cukup paham dengan kode mata dari asistennya.


“Bell, aku keluar sebentar, ya. Ada yang mau dibahas Kevin denganku,” pamit Bara.

__ADS_1


***


Begitu keduanya sudah berada di luar ruangan, Kevin langsung membuka suara. Sejak tadi, ia ingin menyampaikan, tetapi tidak enak dengan kehadiran Bella.


“Bagaimana, Kevin? Apa yang terjadi?”


“Ini mengenai Brenda. Jadi kamu akan menanggung semua biaya pengobatannya. Atau bagaimana? Aku kurang jelas di telepon tadi,” tanya Kevin, bersikap lebih santai melupakan embel-embel atasan dan karyawan.


“Ya, tetapi langsung dengan pihak rumah sakitnya. Aku tidak mau diketahui siapapun.”


“Maksudnya?”


“Istriku sudah mulai terganggu dengan kehadiran Brenda dan keluarganya. Aku mau menutup akses itu. Salah satu alasan keluarga Brenda tetap menggangguku sampai sejauh ini karena mereka kesulitan keuangan. Mereka membutuhkan uang yang tidak sedikit untuk biaya pengobatan Brenda. Dan satu-satunya yang bisa mereka andalkan cuma aku.”


Kevin mengangguk, sudah paham jalan pikiran atasannya.


“Jangan sampai mereka tahu kalau aku yang membiayai. Aku tidak mau mereka berbondong-bondong mendatangiku sekedar mengucapkan terima kasih dan membuat istriku tidak nyaman sekaligus berpikiran buruk,” lanjut Bara.


“Istriku sedang hamil, aku tidak mau masalah mereka membuat kehamilan istriku terganggu.”


“Baik.”


“Satu lagi. Jangan sampai istriku mengetahuinya. Dia akan berpikiran yang tidak-tidak mengenai hubunganku dan Brenda. Aku tidak mau menimbulkan kesalahpahaman dengannya. Sebisa mungkin jangan melibatkanku. Kamu selesaikan saja sendiri,” jelas Bara.


Kevin tersenyum, tetapi senyuman itu hilang saat terdengar suara seorang perempuan.


“Mas, kamu di sini?” tanya Bella, tiba-tiba sudah muncul dibelakang keduanya.


***


T b c

__ADS_1


Love You all


Terima kasih


__ADS_2