Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 66. Penolakan Bara


__ADS_3

"Ada apa,Pa?" tanya Bara, mempersilakan mantan mertuanya duduk.


"Ini ... ini mengenai Brenda dan Rania," ucap laki-laki itu ragu. Tertunduk, seperti susah mengucapkan kalimat selanjutnya.


Ruang kerja Bara hening sesaat. Kedua laki-laki yang dulunya pernah akrab seperti ayah dan anak itu sama-sama diam, berkutat dengan pikiran masing-masing.


Apalagi Sutomo, ayah dari dua orang putri yaitu Brenda dan Stella. Laki-laki kurus, yang belakangan semakin terlihat tua karena beban pikiran yang menghantamnya.


Sebenarnya ada rasa malu dan sungkan menemui mantan menantunya. Walau bagaimana pun perceraian yang terjadi hampir sepuluh tahun yang lalu, karena kesalahan putrinya.


Namun, saat ini hanya Bara yang bisa dimintainya tolong. Ia yang seorang biasa, tidak bekerja lagi di masa tuanya. Hanya menumpang hidup dari kedua putrinya.


Tulang punggung keluarga mereka, yaitu Brenda sedang mendapat musibah. Stella yang hanya seorang sekretaris biasa walaupun bekerja di perusahaan besar, tetap saja tidak akan sanggup menanggung biaya hidup keluarga dan biaya pengobatan Brenda yang membutuhkan dana yang tidak sedikit.


Belum lagi mengenai Rania. Cucunya yang mulai beranjak dewasa. Entah apa yang harus dilakukannya sebagai satu-satunya laki-laki di dalam keluarga Sutomo. Walau renta dan tidak memiliki penghasilan, dia adalah kepala keluarga.


"Ada apa, Pa?" tanya Bara, memecahkan keheningan di antara keduanya.


"Begini, Bar. Aku mau meminta bantuanmu." Kalimat memalukan atau lebih tepatnya tidak tahu malu itu pun keluar dari bibirnya.


Masa lalu pernikahan putri dan mantan menantunya ini, jelas-jelas ia tahu penyebab utamanya dan siapa yang pantas disalahkan. Namun di usia senjanya, ia harus mengesampingkan harga dirinya demi putri dan cucunya. Demi masa depan putri dan cucunya.


"Ada apa, Pa?" tanya Bara, semakin penasaran. Memilih bersabar menunggu, kalimat yang akan keluar dari bibir Pak Sutomo.


Terlihat Bara menghubungi sekretarisnya, menyiapkan minuman untuk tamunya. Tak butuh waktu lama, seorang office boy mengetuk pintu dan membawa nampan berisi secangkir teh hangat masuk ke dalam ruangan.


"Silakan, Pak," ucap karyawan Bara sebelum keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Silakan diminum, Pa."


Pak Sutomo tampak meraih gagang cangkir dan meneguk beberapa kali teh manis hangat yang saat ini sudah tidak berasa apa-apa lagi di lidahnya. Gugup dan perasaan malu menyergap dirinya.


"Bar, apa tidak terpikir untuk rujuk kembali dengan Brenda?" tanyanya tiba-tiba.


"Hubungan kalian bukan setahun dua tahun, sejak SMA kalian sudah memilih bersama," lanjutnya lagi.


"Walau aku tahu, Brenda pasti menolak, tetapi aku tetap berusaha," ucapnya pelan.


Bara tertegun, menatap mantan mertuanya tanpa berkedip. Berusaha membaca isi hati yang masih disimpan lawan bicaranya rapat-rapat.


Sepuluh tahun yang lalu, mantan mertuanya ini mendukung keputusan Bara menceraikan Brenda, tetapi sekarang kenapa tiba-tiba datang memintanya rujuk kembali.


Ia jelas tahu hubungannya dengan Brenda tidak baik-baik saja. Pertemuan terakhir mereka jelas tergambar seberapa bencinya Brenda padanya. Namun, laki-laki ini sebaliknya mendorong untuk mereka bersama lagi.


"Maaf, aku tidak bisa. Aku sudah menikah," tolak Bara tanpa berpikir dua kali.


"Bukan karena aku sudah menikah lagi. Andai aku belum menikah pun, aku tidak mungkin kembali lagi dengan Brenda."


"Maaf, aku tidak tahu kamu sudah menikah lagi," ucap Pak Sutomo. Mengusap kedua matanya yang mulai menggenang. Cobaan terberat di dalam hidupnya, di masa tuanya. Ia sudah tidak berdaya, harapan satu-satunya ada pada Bara. Setidaknya ia bisa tenang kalau terjadi sesuatu padanya.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Bara mencari tahu.


Permohonan aneh sang mantan mertua yang tiba-tiba, semakin menguatkan dugaan Bara. Pasti ada masalah dengan Brenda atau Rania.


"Brenda divonis kanker payudara. Dalam waktu dekat, dia harus menjalani pengangkatan payudara," cerita Pak Sutomo berterus terang.

__ADS_1


Bara diam, tidak berkata apa-apa. Simpati, mungkin lebih tepat perasaan itu yang muncul saat ini. Seburuk apa pun masa lalunya dan Brenda, di saat ini rasanya tidak adil harus mengungkitnya kembali.


Di antara ratusan sakit dan kecewa yang mereka lewatkan bersama dulu, tetapi ada ribuan bahagia yang pernah mereka lalui berdua.


"Aku akan menanggung semua biaya hidup kalian, termasuk biaya pengobatan Brenda dan biaya pendidikan Rania. Tapi tidak untuk yang lainnya," ucap Bara.


"Hanya saja ... sebelum itu, aku harus membicarakannya terlebih dulu dengan istriku," lanjut Bara.


Pak Sutomo tidak bisa berkata apa-apa. Untuk menatap wajah mantan menantunya pun rasanya malu. Dulu putrinya sudah banyak menyusahkan Bara, dan di saat sekarang lagi-lagi ia menyusahkan Bara. Namun, ia tidak punya pilihan. Yang bisa diandalkan cuma Bara.


"Baiklah, aku permisi dulu, Bar. Aku harap kedatanganku ini tidak sampai diketahui Brenda."


"Entah apa yang terjadi di antara kalian berdua dulu, separah apa ... hanya kalian berdua yang tahu. Di saat akan menemui malaikat maut pun, Brenda lebih memilih menerima jalan kematiannya dibanding menerima uluran tanganmu," lanjut Pak Sutomo, berpamitan.


Selepas kepergian Pak Sutomo, Bara hanya bisa tertegun. Jujur, ia tidak menyangka akan musibah yang menimpa Brenda.



Ingatannya kembali pada saat pertemuan mereka di rumah sakit. Brenda yang sedang memeluk map, menatapnya dengan tidak bersahabat.


Entahlah, tetapi saat ini ia hanya bisa menawarkan bantuan itu saja. Dalam hidupnya sudah ada Issabell dan Bella. Ia sudah tidak bisa mempersilakan orang lain lagi masuk di dalam kehidupannya.


Cinta mungkin pernah ada. Entah sudah hilang atau pun masih tersisa. Namun, saat ini semua tidak lagi penting. Ada hati yang harus dijaga. Apalagi sekarang Bella sedang hamil anaknya.


***


T B C

__ADS_1


Love You all


Terima kasih.


__ADS_2