
Keluar kota yang dimaksud Bara bukanlah perjalanan yang terlalu jauh dari Jakarta. Bara hanya meninjau salah satu proyeknya di Bogor dan seharusnya tidak perlu sampai menginap seminggu seperti yang dikatakan Bara. Bahkan mereka bisa kembali ke Jakarta hari itu juga tanpa perlu menginap.
Perjalanan kerja seperti yang dikatakan Bara itu, banyak dihabiskan Bella dengan menikmati pemandangan di pinggiran jalan tol. Matanya terbelalak saat mobil mereka sudah keluar dari tol. Ada banyak jajanan di sepanjang jalan, termasuk penjual asinan kesukaan Bella.
“Sayang, apa yang kamu lihat?” tanya Bara, tiba-tiba sudah menjatuhkan dagunya di pundak Bella yang duduk di sisinya. Ia sengaja menempelkan wajahnya di pipi Bella, membuat sopir yang mengintip dari kaca spion tersenyum.
Bella yang terpana melihat asinan Bogor kesukaannya, dibuat makin terkejut dengan sikap Bara yang berubah tiba-tiba. Laki-laki itu belum lama marah-marah di rumah mereka, tetapi langsung berubah manis saat di perjalanan. Belum lagi panggilan 'Sayang' yang diperuntukkan untuknya itu, baru didengar Bella untuk pertama kalinya.
Deg— Jantung Bella langsung berdetak tidak beraturan. Efek dari kata Sayang yang baru saja didengarnya.
“Mas, kamu kenapa?” tanya Bella, setelah berhasil menguasai rasa gugup.
“Tidak sakit, kan?” tanya Bella, meletakkan punggung tangannya di kening Bara.
“Aku baik-baik saja,” sahut Bara, tersenyum. Masih nyaman dengan posisinya, membiarkan sepasang mata yang diam-diam mencuri pandang dari kaca spion di depan menjadi iri.
“Mas, aku serius. Kenapa jadi begini?” tanya Bella lagi, berusaha mencairkan suasana yang sedikit kaku karena kemesraan tiba-tiba yang ditunjukan Bara.
“Aku juga serius. Kenapa memang?” Bara balik bertanya.
Bella menggeleng, memilih tidak larut dalam permainan Bara yang tidak diketahui maksud dan tujuannya.
Saat ini telunjuk Bara sedang mengetuk kaca jendela mobil. Masih dengan posisi saling menempelkan pipi, Bella bisa merasakan hembusan napas teratur Bara yang jelas di pendengarannya.
__ADS_1
“Kamu mau itu?” tanya Bara menunjuk sederetan penjual jajanan yang mereka lewati.
Bella terkejut, sekaligus tergiur dengan tawaran Bara.
“Boleh, Mas?” tanya Bella ragu.
Bara mengangguk dan memerintahkan sopir menghentikan mobil. Tak lama, ia mengajak Bella turun bersamanya.
“Kamu boleh membeli apa saja yang kamu suka,” sahut Bara menggenggam tangan Bella. Bara sengaja membiarkan Bella menuntunnya.
“Aku boleh membeli semuanya?” tanya Bella memastikan sekali lagi.
“Boleh, asal jangan penjualnya ikut dibawa pulang,” sahut Bara menunjuk salah penjual jajanan yang paling tampan di antaranya, sambil menunggu respon Bella.
Bella hanya membeli asinan Bogor kesukaannya saja. Setelah mendapatkannya, ia pun mengajak Bara kembali ke mobil.
“Sudah? Hanya ini saja?” tanya Bara.
“Sudah!” Bella menjawab singkat, fokusnya saat ini hanya pada box mika di tangannya yang berisi asinan bogor siap disantap.
Bara tersenyum menatap Bella yang sedang menikmati jajanannya.
“Enak?” tanya Bara lagi. Istrinya tidak terlalu banyak bicara, hanya diam sambil menyuapkan buah-buahan potong itu ke dalam mulut. Menatap ke arahnya pun tidak.
__ADS_1
Bella mengangguk dan tersenyum. Menyodorkan kotak mika itu ke hadapan Bara.
“Kamu baru ingat untuk menawari suamimu?” tanya Bara, membuat Bella tersipu.
“Maaf,” sahut Bella menunduk.
Mobil yang membawa mereka masuk ke sebuah hotel mewah di kota Bogor. Terlihat sopir menurunkan koper dan mengekor di belakang Bara dan Bella yang berjalan berdampingan.
“Setelah sekian lama, akhirnya bisa menikmati pemandangan ini juga,” ucap sang sopir dalam hati.
Pak Rudi adalah sopir keluarga Bara. Sejak kedua orang tua Bara meninggal, ia memilih tetap ikut dengan putra majikannya. Kedua orang tua Bara meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas saat Bara menyelesaikan kuliahnya di Amerika.
Pak Rudi mengetahui jelas bagaimana kisah hidup Bara, termasuk rumah tangga Bara yang gagal beberapa tahun silam.
Hatinya sempat ketar-ketir saat majikannya membawa pulang Rissa dan seorang bayi, dua tahun yang lalu. Di matanya, Rissa tidak jauh beda dengan mantan istri Bara.
Tadinya, ia berpikir Rissa adalah istri Bara, tetapi belakangan ia melihat sendiri foto pernikahan Bara yang tergantung di dinding ruang keluarga. Sampai saat ini, ia sendiri tidak tahu jelas status Rissa di dalam hidup Bara.
Hidup majikannya terlalu rumit dan berantakan.
***
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih.