Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 127. Ada apa dengan Rissa


__ADS_3

Keesokan harinya.


Bara menyeruput kopi hitam dari cangkir keramik yang baru saja disajikan pelayan restoran. Hampir setengah jam lelaki itu menunggu, duduk sembari menikmati pengunjung restoran yang keluar masuk, silih berganti.


Tampak berulang kali ia menatap jam di ponselnya yang serasa berjalan lambat. Memang ia sengaja datang setengah jam lebih cepat dari janji yang seharusnya. Untuk menghindari macet, demikianlah alasan sehingga lelaki itu lebih rela menunggu dibanding terjebak di jalanan.


Menghela napas kasar, lagi-lagi mengangkat cangkir kopi untuk kesekian kalinya. Hampir habis sabarnya, tetapi ia tidak mungkin meninggalkan janji yang sudah dibuatnya.


Seruputan terakhir, kopi itu pun habis, tertinggal puing di dasar cangkir. Baru saja tangan kekar lelaki itu melambai ke arah seorang pelayan berseragam putih hitam, tiba-tiba mata Bara menangkap sosok yang ditunggunya.


Roland, masih dengan setelan kerjanya berjalan mendekati meja. Lelaki itu masih sempat melambaikan tangan dan tersenyum pada Bara.


Melalui sekretarisnya yang seksi, Bara membuat janji bertemu dengan Roland di restoran ini. Dan tentu saja, Roland sedikit banyak tahu kira-kira apa yang akan dibahas Bara padanya. Tentu bukan pembahasan bisnis seperti yang sudah-sudah. Kontrak kerja sama mereka sudah rampung dibahas dan tidak ada kendala.


“Selamat sore, Bar,” sapa Roland. Ia menjatuhkan bokong di kursi, tepat di hadapan Bara. Lelaki itu masih berusaha berbasa-basi meskipun ia tahu Bara sedang menahan amarahnya setelah ia membuat kekacauan yang tidak direncanakannya dan berakhir dengan pingsannya seorang wanita hamil yang bisa dipastikan itu adalah istri Bara.


“To the point saja. Kemarin kamu datang ke rumahku dan menemui istriku. Apa maksudmu?” tanya Bara.


Berusaha bersikap santai meskipun hatinya sudah bergejolak saat melihat wajah Roland. Menarik napas untuk menenangkan dirinya dengan menautkan jari-jemarinya di atas meja. Ia tidak mau jari-jari tangannya melancarkan serangan tak terkendali.


“Istrimu tentu sudah bercerita banyak.” Roland berkata, berusaha merangkai kata untuk mencari kalimat terbaik menjelaskan pada temannya. Masalah yang sedang ingin dibahasnya bukanlah perkara mudah. Tidak gampang untuknya dan tentu juga untuk keluarga Bara.


“Katakan saja. Aku mau mendengarnya langsung dari mulutmu,” tegas Bara.


“Aku ayah biologis dari putrimu, Issabell Wirayudha,” ucap Roland, pada akhirnya. Sedikit melemah saat bibirnya mengucap nama Wirayudha. Ada kecewa dan rasa tidak rela, di dalam Issabell mengalir darah Danutirta tetapi harus menyandang nama Wirayudha. Lelaki bernama lengkap Roland Danutirta itu berpikir.


Tentu saja Bara terpancing emosi. Bukannya tidak terima kenyataan, tetapi lebih kepada tidak suka akan sikap pengecut Roland. Baik sikap Roland yang tidak bertanggung jawab pada Issabell dan Rissa sekaligus sikap Roland yang menggunakan cara pengecut untuk memberitahu kenyataan sebenarnya.


Sebuah amplop yang sama, yang pernah ditunjukannya pada Bella kembali disodorkannya pada Bara.


“Ini hasil tes DNA yang menyatakan kalau Issabell adalah putriku.” Roland mengeluarkan bukti dari rumah sakit. Yang menunjukan fakta tidak terbantah.


Melihat kop rumah sakit yang tertera di amplop, kembali amarah Bara meluap. Ingatannya menerawang, pikirannya mengembara.


“Jangan-jangan penculikan Issabell beberapa waktu yang lalu ada sangkut pautnya denganmu!” tuding Bara, menatap tajam.


Roland menunduk. “Maafkan aku,” bisiknya.

__ADS_1


Tangan yang saling menaut di atas meja, sekarang terkepal. Berusaha menahan amarahnya.


“Lalu sekarang ... setelah dua tahun lebih. Apa yang kamu inginkan dengan mendekati PUTRIKU?” tanya Bara, sengaja menekankan kata putriku di kalimatnya.


“Kamu tahu bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan Issabell. Pengorbananku dan istriku untuk menjadikan Issabell seorang Wirayudha, putri kami.” Bara berkata, terlihat matanya memerah, menahan rasa berkecambuk di dalam hatinya.


“Kamu tahu bagaimana menyedihkannya ia saat pertama kali aku melihatnya,” lanjut Bara, mengingat kembali perjumpaan pertamanya pada bayi Issabell yang bahkan tidak mendapatkan kehidupan yang layak.


“Untuk apa kamu datang lagi?” tanya Bara.


Roland terlihat berusaha menahan malunya. Ia tahu ia egois kalau meminta Issabell dikembalikan padanya, disaat ia tidak memiliki hak apa pun, selain statusnya sebagai ayah biologis gadis kecil yang sedang lucu-lucunya. Sedangkan selama ini, ia tidak bertanggungjawab sama sekali.


“Bisakah membaginya juga untukku. Aku tidak memintanya kembali. Aku hanya ingin dia juga mengenalku dan keluargaku,” pinta Roland, memohon.


Brakkkk!


Bara menggebrak meja. Cangkir dan alas piring seketika meloncat, membanting kembali di atas meja, menimbulkan suara berdenting nyaring. Beberapa pasang mata pengunjung terfokus pada mereka setelah mendengar bunyi keras dari meja Bara.


“Kenapa begini tidak tahu malunya, Land,” ucap Bara, masih dengan tangan terkepal.


Tampak lelaki itu menimbang, apa perlu untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Bara. Lama terdiam, akhirnya lelaki itu terpaksa membuka aibnya sendiri. Mungkin ini lebih baik untuk mendapat simpati Bara dan diizinkan untuk mengenal putrinya.


“Semuanya bermula dari sekitar tiga tahun yang lalu ...." Roland menghentikan kalimatnya. Tenggorokannya tercekat, saat harus menceritakan keburukannya sendiri. Dosa yang berusaha disembunyikan dari dunia dan almarhumah istrinya. Mungkin sekarang istrinya bisa tertawa dari surga. Menertawai kebodohannya.


“Seorang rekan mengenalkanku pada Rissa. Kebetulan dia juga salah satu langganan Rissa. Di kalangan rekan bisnisku, nama Rissa lumayan terkenal,” lanjut Roland.


Saat itu istriku baru didiagnosa terkena kanker rahim stadium dua. Aku sedang banyak masalah. Dari berawal menemani minum, berlanjut ke tempat tidur,” cerita Roland, mengingat kembali masa-masa buruknya.


“Aku pikir, profesi Rissa seperti itu, pasti dia sudah berjaga-jaga tidak akan sampai hamil. Aku sudah membayarnya mahal, aku tentu tidak mau mengambil resiko dan akhirnya akan menjadi masalah di kemudian hari. Aku sudah beristri. Dan tentu saja aku tidak mau berpoligami, apalagi mengganti berlian di rumah dengan sepotong besi yang di lempar ke sana kemari,” jelas Roland.


Terdengar Bara menghela napas, masih menyimak dengan seksama. Ia tidak terkejut, ia bahkan sudah mengetahui sejak dulu bagaimana kelakukan Rissa. Begitu menginjakan kakinya kembali ke Jakarta, berita Rissa adalah hal yang pertama dilaporkan Kevin padanya.


“Sekitar dua bulan kemudian, Rissa datang padaku dan memintaku bertanggung jawab untuk kehamilannya,” cerita Roland.


“Tentu aku menolak. Perempuan itu tidur dengan banyak lelaki setiap hari. Menjadikan itu sebagai pekerjaan utamanya. Tentu aku menolak. Aku tidak mungkin mengorbankan rumah tanggaku untuk pe’lacur seperti Rissa, meskipun aku belum memiliki anak dan istriku juga sakit,” jelas Roland.


“Jadi kamu melepas tanggung jawabmu?” potong Bara.

__ADS_1


“Tidak juga! Aku memberinya uang, bahkan aku masih membiayainya sampai melahirkan meskipun aku tidak pernah menemuinya lagi,” jawab Roland.


Bara tersenyum kecut.


“Bukankah seharusnya kamu bisa melakukan tes DNA saat Issabell lahir, memastikan itu putrimu atau bukan,” tuding Bara.


Roland mengangguk.


“Ya, tetapi Rissa memberiku pilihan sulit. Ia baru bersedia mempertemukanku dengan putrinya dan melakukan tes DNA kalau aku bersedia menikahinya.”


“Dan kamu tahu, kan? Aku tidak mungkin menikahinya. Meskipun aku belum menikah saat itu, aku tidak mau menikah dengan perempuan seperti Rissa,” jelas Roland.


“Dan sejak saat itu, Rissa memutus hubungannya denganku, tidak ada kontak lagi. Menutup akses untuk bertemu dengan putriku,” lanjut Roland.


“Aku bahkan tidak tahu kalau sekarang, dia menjadi putrimu, Bar. Aku terlalu sibuk mengurus almarhumah istriku belakangan. Sampai tahun lalu istriku berpulang,” lanjut Roland lagi.


Terlihat Roland menghela napas berulang kali.


“Dan baru beberapa waktu lalu, Rissa menghubungiku lagi. Memintaku datang menemuinya. Ia menceritakan semuanya tentang Issabell. Termasuk hubungannya denganmu,” cerita Roland.


Bara menegakan duduknya, masih terpaku mendengar penjelasan demi penjelasan Roland.


“Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya ... apalagi aku sudah tidak terikat dengan siapapun, pasca kematian istriku. Akhirnya aku putuskan menemui Rissa di balik jeruji besi,” cerita Roland.


Perkataan Roland kali ini cukup membuat Bara tersentak. Setelah sekian lama ia tidak berhubungan lagi dengan Rissa, bahkan kakak iparnya itu tidak pernah muncul di kehidupannya dan Bella. Informasi yang disampaikan Roland cukup membuatnya terkejut.


“Mak ... sudmu bagaimana?” tanya Bara terbata, masih belum yakin dengan pendengarannya.


“Rissa sekarang ditahan? Maksudmu dipenjara?” tanya Bara.


***


To be continued


Love you all


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2