Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 178 : Extra Chapter 2


__ADS_3

Menjadi orang tua untuk bayi kecil Real memberi pengalaman baru untuk Bara dan Bella. Meski mereka sudah lebih dulu menjadi daddy dan mommy untuk Rania dan Issabell, kehadiran baby Real tentu saja berbeda.


Banyak hal yang sebelum ini tidak terbayangkan, tiba-tiba hadir di depan mata. Banyak kejutan-kejutan kecil yang tidak disangka, membawa perubahan-perubahan kecil pada keduanya. Siapa mengira, Bara harus mengurus sendiri putranya setiap malam, di saat laki-laki itu sudah menyiapkan pengasuh bahkan menambah asisten rumah untuk Bella.


Ah, bayi mungil Real memang tidak bisa ditebak. Hal kecil yang akhirnya membuat Bara bukan saja menjadi suami siaga, tetapi menjadi ayah siaga untuk anak-anaknya.


Hampir seminggu Real pulang ke rumah. Tak ada satu malam pun, Bara bisa tidur nyenyak. Melewatkan tengah malamnya dengan menimang baby Real, laki-laki itu baru bisa tertidur setelah subuh menjemput. Perjuangan Bara untuk menjadi real daddy benar-benar sedang diuji.


“Bell, tidak perlu membangunkanku untuk sarapan,” pesan Bara sesaat setelah merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Pegal, lelah, kantuk, semuanya menyatu saat ini.


“Mas tidak ke kantor. Ini kan Sabtu bukan Minggu?” Bella balik bertanya.


“Aku sudah putuskan sekarang. Sabtu, minggu kantor libur. Suamimu ini butuh istirahat, Sayang,” jelas Bara.


“Adek sudah tidur?” tanya Bella. Wanita itu juga baru saja memejamkan mata setelah memompa asi dan menyimpannya. Jadwal tidur Real yang berantakan, membuat jadwal menyusuinya juga kacau. Biasanya dia cukup menyodorkan pada bayi Real, sekarang dia harus memompanya keluar.


“Hmm ....”


Mata terpejam itu merengkuh tubuh berisi istrinya, menariknya mendekat dan memeluk erat. Mencari kenyamanan yang selama seminggu ini tidak sempat didapatkannya.


“Mas, nanti siang Kailla mau ke sini. Mau menjenguk bayi Real.” Bella memberi tahu.


“Hmm ....”


Hening sejenak, Bara bagai tersentak dari lelapnya. Bangkit duduk dengan wajah sulit diungkapkan.


“Apa? Kailla? Anak nakal itu lagi?” Bara berucap kaget.


“Ya, Mas.” Bella ikut duduk, terkejut melihat respon Bara yang aneh.


“Katakan padanya bulan depan saja baru ke sini lagi. Baru juga dua hari lalu ke sini, untuk apa ke sini lagi!” gerutu Bara, menolak.

__ADS_1


Bukannya apa-apa, malam di mana Kailla menjenguk bayi Real, putra kesayangan Bara itu menjerit semalaman, tidak mau tidur. Bahkan seisi rumah terguncang. Lebih rewel dari biasanya. Sampai Bara kesal sendiri.


“Aduh Mas, dia cuma mau menjenguk Real. Tidak bermaksud apa-apa,” protes Bella.


“Kamu ingat Bell, malam di mana anak nakal itu datang, Real kita semakin menjadi. Menangis, mengamuk dan menggila. Menghancurkan seisi rumah,” jelas Bara.


Bella menggeleng. “Perasaan sama saja dengan malam-malam biasanya, Mas.”


“Karena kalau malam kamu lebih banyak tidur, Bell. Coba, siapa yang setiap malam begadang, menggendong Real?” Bara bertanya. Pembahasan tentang Kailla, membuat kantuknya hilang. Begitu bersemangat.


“Mas ....”


“Nah itu, masalahnya kalau malam kamu enak-enakan tidur, Bell. Kamu tidak peduli sedikit pun dengan penderitaan suamimu.” Bara mulai menyalahkan. Hari pertama dan kedua, dia masih bisa sabar menghadapi kelakuan Real. Namun hari-hari selanjutnya, semua serba salah di matanya. Jangankan melihat Bella yang terlelap di depannya, melihat rumput yang bergoyang tertiup angin saja, Bara bisa mengomel dan menggerutu dalam hati.


"Aku juga butuh istirahat, Mas. Kalau adek maunya dengan Mas, bukankah harusnya Mas bersyukur, artinya secara tidak langsung mengakui kalau Mas itu daddy-nya.” Bella membela diri.


“Lagi pula, Mas mau kalau adek maunya dekat-dekat dengan Kak Ricko atau dengan Pak Rudi atau penjaga pos satpam?” tanya Bella lagi.


“Oh, tidak bisa! Dia putraku, tentu harusnya dekat denganku,” tolak Bara. Bergidik ngeri membayangkan putranya akrab dengan laki-laki lain.


“Bell, sebaiknya kamu bujuk Kailla untuk lain waktu saja menjenguk adek Real.” Bara ikut berbaring di sisi istrinya. Tangannya mendekap tubuh Bella dengan mesra.


“Aku tidak bisa menolak, Mas. Lagi pula yang ingin menjenguk adek Real itu Om Pram, bukan Kailla. Kenapa tidak Mas saja yang menolak Om Pram?” Bella memberi ide.


Bara menutup mulutnya seketika. Menelan salivanya, tidak mungkin juga menolak kedatangan Pram.


***


Siang harinya, saat matahari sudah di puncak kepala. Sebuah mobil sport hitam berhenti tepat di pekarangan rumah Bara. Tanpa banyak bertanya, Bara yang sedang menggendong putranya di teras rumah langsung tahu siapa pemilik Bentley hitam metalik itu. Bella yang juga melihat, tersenyum sumringah menyambut kehadiran temannya, Kailla.


Gadis manis memeluk sebuah boneka teddy bear raksasa, berjalan menuju ke rumah, diikuti suaminya yang terlihat tampan dengan setelan jas hitam. Semenit kemudian, sudah terdengar suara berisik Kailla, meneriakan nama istri pemilik rumah dari kejauhan.

__ADS_1


“Mommy Real!” teriak Kailla, tersenyum bahagia.


Belum sempat Bella menjawab, bayi Real yang tadinya tertidur pulas di gendongan Bara, tersentak dan menangis kencang.


“Baru saja menginjakan kakinya, anak nakal ini sudah berulah lagi."


Tepukan pelan di pundak Bara, berusaha menyemangati laki-laki yang sedang kewalahan mendiamkan putranya yang kesambet suara Kailla.


“Istriku terlalu bersemangat, tidak sabar ingin melihat putra tampanmu.” Pram memohon pengertian.


Bara hanya bisa mengangguk, tidak bisa menyerang Kailla seperti biasa. Kehadiran Real di gendongannya, membuat Bara tak leluasa menyerang balik, gadis nakal musuh bebuyutannya.


“Bagaimana Bar?” tanya Pram, memamerkan senyuman hangatnya. Menatap bayi Real yang menangis kencang dengan mulut terbuka lebar dan wajah memerah keunguan seperti apel ranum.


“Kamu lihat saja sendiri ....” Bara menahan kesal.


“Berikan padaku!” Pram mengambil alih bayi Real dari tangan sahabatnya. Tak butuh waktu lama, bayi kecil yang ditelungkupkannya di pundak itu, diusap pelan punggung dan bokongnya. Dalam sekejap tangis bayi itu lenyap, bahkan nyaris tertidur kembali.


"Sayang, kamu hebat!” Kailla berjalan mendekat, menatap suaminya dengan penuh kekaguman, melirik Bara dengan senyuman mengejek. Seperti biasa, Bara dan Kailla persis seperti Tom and Jerry setiap kali bertemu.


“Aku sudah menamatkan hal-hal kecil ini 20 tahun yang lalu.” Pram tersenyum menatap Kailla.


“Kamu tahu Bar, 20 tahun yang lalu, ada bayi perempuan. Lebih rewel lagi dari putramu. Siang menangis, malam menjerit. Tidak sedetik pun membiarkan orang lain duduk tenang. Seisi rumah dibuat panik. Tidak mau tidur di ranjang, maunya ditimang sepanjang malam,” cerita Pram, mengulum senyuman melihat istrinya.


Kailla terbelalak. Dia tahu jelas, siapa yang dimaksud Pram. Tatapan mata lelaki itu mengurai semua keburukannya di masa lalu. Asisten di rumah sering bercerita padanya tentang masa kecil yang terlupakan olehnya. Bagaimana dulu Pram menimangnya tidur hampir setiap malam, bergantian dengan Ibu Ida dan Ibu Sari.


“Persis dengan putraku, Pram!”


“Kamu bisa melihat sendiri besarnya seperti apa, Bar!” Pram melirik Kailla.


“Kalau tahu besarnya menyusahkanku, sudah aku titipkan ke panti asuhan waktu bayinya.” Pram tergelak menatap wajah cemberut istrinya.

__ADS_1


“Ya Tuhan, amit-amit kalau sampai mirip anak nakal ini.” Bara memohon dalam diamnya.


***


__ADS_2