Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 110. Aku masih mau di sini, Mas


__ADS_3

Selesai makan malam, Bella dengan membimbing tangan mungil Isabell naik ke peraduan malam mereka tentunya setelah gadis kecil itu berpamitan manja dengan omanya.


“Mayam, Oma,” pamit Issabell, merangsek naik ke atas pangkuan Ibu Rosma, mengecup kedua pipi keriput yang tersenyum. Keberadaan Ibu Rosma mulai mengisi hati gadis kecil itu, begitu pun Ibu Rosma.


Semenjak kehadiran Issabell di dalam hidupnya, masa tuanya lebih berwarna. Apalagi, Issabell yang makin hari makin pintar. Kecantikan gadis kecil itu hampir sama dengan Bella sewaktu masih kecil. Bahkan, ia terkadang lupa, kalau Issabell hanyalah putri yang diadopsi Bara dan Bella.


Dengan dibantu mommy-nya, Issabell meloncat turun dan menarik tangan daddy-nya untuk ikut bergabung bersama mereka.


“Sebentar ya, Icca, Daddy masih ada urusan dengan Om Kevin,” tolak Bara. Jemari lelaki itu sedang bergerilya lincah, mengetik di layar ponselnya. Mengirim email balasan untuk pekerjaan yang mendadak ditinggalkan demi menyusul istrinya, mengabaikan tarikan kecil di lengannya.


“Daddy ...." Issabell merajuk, merengek dengan alunan manjanya, sembari menarik tangan Bara untuk ikut bergabung.


“Nanti ya, Sayang. Daddy menyusul,” jelas Bara, tersenyum sembari menunduk, mengecup pucuk kepala Issabell.


“Icca sudah. Tidur dengan Mommy,” bujuk Bella, setelah melihat Issabell yang merengek terus menerus di sebelah Bara, mengganggu pekerjaan daddy-nya. Bella hanya bisa menarik putrinya untuk mengikuti langkahnya menuju kamar tidur dan membiarkan Bara yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


***


Bella baru saja mengganti pakaian tidur Issabell, setelah sebelumnya menemani gadis kecil itu menggosok gigi dan mencuci kakinya.


“Mommy, Icca bobok cini,” jelas Issabell, menunjuk ke sisi tempat tidur yang ditunjukan Bara untuknya. Issabell adalah anak yang lucu dan mulai bisa mengerti banyak hal. Bahkan, gadis itu mulai bisa mengingat hampir semua yang dijanjikan Bara padanya.


Bella mengerutkan dahinya, melihat Issabell yang mengambil posisi tidur yang tidak biasa.


“Icca, boboknya di tengah. Nanti Icca jatuh kalau tidur di pinggir,” pinta Bella, sembari menggeser tubuh mungil putrinya, sedikit ke tengah.


“No, Mommy cini,” ucap Issabell, menepuk sisi tengah ranjang,


“Icca cini.” Gadis kecil itu bergeser.


“Daddy cana,” lanjutnya berceloteh ria, sembari memeluk Bella yang sebelumnya diminta berbaring di tengah.


“Ayo, Icca pindah ke tengah, Sayang. Nanti terjatuh,” bujuk Bella.


Perdebatan keduanya baru berhenti saat Bara masuk ke dalam kamar. Lelaki itu terlihat senyum-senyum sendiri, menatap istri dan putri kesayangan yang sedang berdebat sambil berbaring manja di atas tempat tidur.


“Daddy ... ayo cini,” seru Issabell, memeluk Bella yang tidur di tengah dengan tangan mungilnya.


Panggilan Issabell bagaikan mata air di tengah gurun pasir. Setidaknya, Issabell bisa membuat Bella sedikit melunak padanya.


Senyum Bara makin merekah, saat merebahkan diri tepat di samping istrinya. Dan Bella diam saja, tidak protes seperti biasanya.


“Mommy, Daddy boleh peyuk Mommy juga?” tanya Bara menggoda, sengaja mengeraskan suaranya. Supaya Issaabell bisa mendengarkan.


“Boyeh Daddy. Ayok peyuk Mommy,” sahut Issabell tertawa kegirangan. Yang dipeluk bukannya senang, sebaliknya menyikut keras suami yang sedang menempel di punggungnya.


“Mencari kesempatan saja!” gerutu Bella dengan wajah cemberutnya.


Persekongkolan ayah dan anak itu terbilang berjalan lancar. Bella nyaris tidak berkutik. Bahkan ia tidak berontak dan berteriak saat suaminya menyingkap atasan piyamanya dan mempertontokan perutnya yang masih rata.

__ADS_1


“Mas!” protes Bella.


Bara yang licik, tidak kehilangan akal. Lelaki itu bersuara dan lagi-lagi menjadikan Issabell alatnya.


“Icca, ayo kita sayang dedek bayi yang di perut Mommy,” ucapnya, membuat Bella melotot. Hanya bisa pasrah ketika tangan kekar Bara dan telapak tangan mungil Issabell mengusap perutnya silih berganti. Bahkan Bara sengaja menurunkan sedikit celana tidurnya supaya lebih leluasa menikmati perut istrinya.


Terlihat Bara mencium perut rata itu dengan penuh perasaan. “Baik-baik di sana ya, Nak. Ini Daddy,” bisik Bara, pelan, mencoba berbicara dengan calon anaknya yang masih bersembunyi di rahim Bella.


Bella yang masih saja kesal pada suaminya, membuang muka mendengar bisikan suaminya. Rasanya makin muak. Entah kenapa sejak hamil ia susah bertoleransi dengan suaminya. Apapun yang keluar dari bibir suaminya terdengar menyebalkan. Selalu ingin membantahnya.


“Mas, bisa geser sedikit. Ini gerah!” dengus Bella, mendorong tubuh suaminya menjauh. Belitan tangan Bara yang begitu erat membuatnya susah bernapas.


“Kamu kenapa, Bell?” tanya Bara, dengan wajah sedihnya. Meskipun ia berusaha menutup mata dan telinga, tetapi penolakan demi penolakan yang dilakukan Bella cukup membuatnya terguncang meskipun ia berusaha menutupi kenyataan itu.


“Aku gerah, Mas. Bisakah Mas pindah ke kamar kosong di sebelah?”


“Aku tidak mau, Bell. Malu sama Ibu.” Bara beralasan


Bara lumayan terkejut. Ucapan Bella Ini bukan lagi kemarahan biasa. Semarah-marahnya Bella padanya, tidak pernah mengusirnya seperti ini.


Melirik sebentar ke arah putrinya yang tertidur pulas, Bara pun kembali berbisik pelan.


“Bell, tidak bisakah memaafkanku?” tanya Bara, memberanikan memeluk erat tubuh mungil istrinya. Menghirup aroma feminim yang sudah sangat dirindukannya.


Mereka berpisah hanya beberapa jam, tetapi entah kenapa rasa kehilangannya begitu besar. Padahal dulu, ia meninggalkan Bella di Surabaya hampir dua tahun. Dan sedikitpun tidak ada rasa seperti ini. Apakah hanya dengan beberapa bulan tinggal bersama saja, Bella sanggup memporakporandakan prinsip hatinya.


“Aku minta maaf,” ucapnya lagi, memindahkan rambut panjang Bella yang tergerai menutupi pundak.


Bella tidak menjawab, membeku kaku menikmati perlakuan Bara. Kalau boleh jujur, di salah satu sudut hatinya pun masih merindukan suaminya. Menginginkan sikap manis lelaki yang sedang mendekapnya dari belakang.


“Kita pulang ke Jakarta, ya. Aku masih banyak pekerjaan di sana,” bujuk Bara lagi, memberi kecupan ringan di bahu Bella


“Mas, izinkan aku tetap di Surabaya. Aku mau menetap di sini saja,” pinta Bella.


“Tidak, aku tidak mengizinkanmu,” tegas Bara.


“Kamu sedang hamil. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini, Bell,” lanjut Bara lagi.


“Mas, dengarkan aku,” ucap Bella, melepaskan diri dari pelukan Bara. Ia memilih duduk bersandar. Tangan kirinya mengusap lembut punggung Issabell yang sempat terganggu lelapnya karena pergerakan kecilnya.


“Aku mau menenangkan diri di sini. Selama hamil, aku mau berada di dekat Ibu,” jelas Bella, menatap suaminya yang sedang meletakan kepala di pangkuannya dengan manja.


“Lalu, bagaimana denganku, Bell?” tanya Bara dengan manjanya, mendekat dengan perut Bella, mengecup berulang kali di sana.


“Mas, biarkan aku dan Icca tetap di sini,” pinta Bella.


“Aku masih belum yakin dengan hubungan kita,” jelas Bella pelan.


Bara terkejut. “Bell, jangan gila. Sebentar lagi kita akan punya bayi. Jangan bahas perpisahan di depan anak-anak. Mereka tidak tahu apa-apa, mereka tidak bersalah. Kalau kamu merasa ini kesalahanku, cukup limpahkan padaku semua kekesalanmu, tetapi jangan membuat anak kita menjadi korban.”

__ADS_1


“Pikirkan anak-anak. Jangan egois.”


Kalimat Bara sempat membuat Bella tersadar, mengelus perutnya sendiri. Ia sudah cukup dewasa dan paham arah pembicaraan Bara, tetapi saat ini kecewanya belum sembuh benar. Butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya. Masa lalu datang silih berganti. Dari masalah Rissa sampai dengan mantan istri.


“Aku belum mau kembali, Mas. Di sini aku bisa beristirahat dengan tenang. Lagi pula ada Ibu yang menjagaku di sini, Mas.”


“Bell, aku mohon. Aku harus bagaimana baru kamu mau kembali?” tanya Bara, masih membujuk.


Bella menggeleng. “Tidurlah, Mas. Aku sudah mengantuk.”


***


Semburat mentari pagi mulai masuk ke dalam kamar melewati gorden putih. Memancar tepat ke arah sosok kekar yang tidur tertelungkup seorang diri. Lelaki itu tidak bisa tidur semalaman, setelah berbincang dengan istrinya. Bujukan Bara belum mampu meluluhkan hati Bella untuk ikut dengannya kembali ke Jakarta.


Di halaman rumah sudah terdengar suara tawa kecil Issabell, yang berlarian ditemani Bella dan Ibu Rosma. Keduanya sedang menikmati udara pagi sembari berjemur, merenggangkan otot-otot setelah semalaman tidur.


Issabell yang sudah dimandikan tampak cantik dengan gaun pink-nya berlari ke sana kemari, bermain bersama Pak Rudi yang baru saja selesai mengecek kondisi mobil.


Suasana hangat di luar rumah itu tiba-tiba dikejutkan oleh teriakan Bara. Lelaki itu keluar dari kamarnya masih dengan tampilan bangun tidur lengkap dengan celana pendek dan kaos buntung.


“Bell!”


“Bell!” teriak Bara, mencari keberadaan istrinya.


“Bell! Kamu di mana?”


“Ya, Mas!” teriak Bella tidak kalah kerasnya dari halaman rumah.


“Hush! Jangan berteriak seperti itu. Tidak sopan. Coba lihat suamimu, sepertinya dia membutuhkan sesuatu,” nasehat Ibu Rosma, menggelengkan kepala. Melihat sikap putrinya yang terkadang kelewatan pada suaminya.


Bella menurut, segera menghampiri dan mencari tahu.


“Ya, Mas. Ada apa?” tanya Bella. Suaminya sedang celingak-celinguk di ruang makan.


“Bell, ayo bersiap. Kevin baru menghubungiku, ada masalah di salah satu proyekku. Aku harus kembali ke Jakarta,” pinta Bara, bergegas naik ke kamarnya kembali.


Lelaki itu baru saja menapaki pertengahan anak tangga saat tubuhnya berbalik, menatap istrinya masih mematung tidak bereaksi.


Kembali berlari turun dan merengkuh tangan Bella supaya ikut bersamanya. “Ayo, Sweetheart,” ajak Bara, mengandeng tangan Bella dengan buru-buru.


“Kevin sudah mengirimkan tiket untuk kita berempat, termasuk Pak Rudi. Ayo bersiap,” lanjut Bara lagi.


“Aku masih mau di sini, Mas. Tidak mau kembali ke Jakarta,” tolak Bella. Seketika membuat Bara menghentikan langkahnya.


***


T b c


Love You all

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2