
“TIDAK!” potong Bara, merespon kalimat Bella. Issabell yang masih di gendongannya langsung menangis kencang karena terkejut dengan ucapan Bara yang keras dan tegas.
“Mommy.” Tangisan kencang Issabell mengalihkan perhatian Bella. Suara jeritan Issabell begitu nyaring dan memekakan telinga membuat Bara tidak kalah panik.
“Mau Mommy,” pekiknya menyodorkan kedua tangannya ke arah Bella. Sontak membuat Bella berlari mendekat. Baru saja ia meraih tangan kecil Issabell dan bermaksud mengambil alih dan menenangkan tangis Issabell, tetapi niat baiknya dipatahkan Bara.
“Jangan! Kamu sedang hamil,” tolak Bara,tidak mengizinkan Bella menggendong putrinya.
“Ya, tetapi Icca sedang membutuhkan pelukanku, Mas,” ucap Bella kesal, mengusap punggung Issabell, berusaha menenangkan gadis kecil itu.
“Ya, Mommy di sini,” ucap Bella, mengusap air mata Issabell, sembari mengelus rambut berantakan putri kecilnya.
“Mau Mommy! Mau Mommy!” teriak Issabell sembari terisak. Tangisnya tidak mau berhenti sampai Bella mau mengendongnya.
“Sudah, Mas. Biarkan aku menggendong Icca,” pinta Bella, setelah tidak tega melihat tangis Issabell tidak kunjung berhenti.
“Tidak, tadi saja hampir terjatuh,” omel Bara.
“Mas tidak dengar jeritan Icca. Kasihan, Mas,” debat Bella, berusaha mengambil alih dan memohon agar Bara mengizinkannya.
Ibu Rosma tersenyum. Perdebatan anak dan menantunya itu sebenarnya bisa mempererat hubungan keduanya. Secara tidak langsung Issabell adalah salah satu penyelamat rumah tangga Bara dan Bella, selain bayi yang ada di dalam kandungan Bella.
Tanpa kehadiran keduanya, bisa dipastikan kekerasan hati Bella akan sulit untuk dipatahkan Bara. Ia mengenal jelas putrinya. Dulu saja, Bella sudah pernah menggugat cerai Bara. Kalau bukan karena Issabell bisa dipastikan hubungan keduanya selesai.
“Mas," pinta Bella sedikit keras. Dengan wajah cemberutnya memaksa mengambil alih Issabell dengan paksa.
“Lepaskan, Mas! Kasihan Icca!” omel Bella, seketika membuat Bara mengalah. Wajah penuh amarah Bella, membuatnya menciut.
Tangisan Icca mereda setelah berada di gendongan mommy-nya. “Sudah jangan menangis lagi. Daddy-mu itu memang mengerikan,” bisik Bella mengecup kedua pipi Issabell yang basah.
“Bell, aku tidak seperti itu,” ucap Bara, membela diri.
“Bu, aku ke kamar,” pamit Bella tidak menggubris ucapan Bara. Masih menggendong Issabell, ia menapaki anak tangga perlahan. Pemandangan itu terpaksa membuat Bara mengekor di belakang. Ada beribu khawatir saat ini. Sebut saja ia terlalu posesif apalagi menyangkut kehamilan Bella. Tetapi itulah faktanya. Setiap hal yang menyangkut kehamilan Bella, ia akan menggila. Apalagi ini pengalaman pertamanya menjadi seorang ayah seutuhnya.
“Bell, jalannya pelan-pelan,” protes Bara, was-was. Setiap langkah kaki Bella, membuat jantungnya berdebar. Khawatir istrinya terpeleset ke bawah seperti di sinetron-sinetron yang sering di tonton asisten rumah tangganya di rumah
“Jangan berisik, Mas. Kenapa selalu mengikutiku!” omel Bella.
“Kita belum selesai bicara, Bell. Jadi aku pikir kita harus menyelesaikannya. Meluruskan apa yang salah dari hubungan kita,” sahut Bara.
“Tidak ada yang perlu diluruskan, Mas. Sebaiknya pulang ke Jakarta. Makin Mas muncul di depan wajahku, aku makin kesal,” ucap Bella, melangkah masuk ke dalam kamar dan meletakan Issabell duduk di atas tempat tidur.
__ADS_1
“Icca mandi, ya,” ucap Bella, melepaskan pakaian tidur putrinya.
Bara yang berdiri tidak jauh dari istri dan putrinya terus saja mengoceh dan membuntuti, bahkan sampai ke kamar mandi.
“Bell, maafkan aku. Jangan marah lagi,” bujuk Bara, bersandar di pintu kamar mandi. Tersenyum haru menatap kedua orang yang disayanginya.
“Tidak. Pergi sana. Jangan mengganggu,” usir Bella.
“Bell, apa suamimu tidak sekalian dimandikan?” canda Bara, berharap bisa melunakan hati Bella.
Bukannya mendapat respon yang baik, sebaliknya Bara mendapat tatapan tajam yang mematikan.
“Mas, kalau bisa jangan muncul terus-terusan di depanku. Makin melihatmu, aku makin kesal,” gerutu Bella.
Bara terdiam beberapa saat, tetapi ia tetap berdiri di pintu. Menatap Bella yang sedang menemani Issabell bermain air di dalam bathtub. Bella baru saja memandikan putri kecilnya, tetapi Issabell belum mau selesai, masih betah bermain air di sana.
“Bell, maafkan aku. Aku tahu, aku salah. Mengenai Brenda ... aku sebenarnya tidak mau menyembunyikannya darimu. Aku juga mau jujur, tetapi aku khawatir. Setiap membahas Brenda, kamu akan tertekan. Makanya ...."
"Tapi tidak seperti itu juga, Mas!” potong Bella. Nada suaranya mulai meninggi. Mulai kesal setiap membahas masalah Brenda.
“Pernah tidak aku menolak setiap Mas mau membantu Mbak Brenda. Tidak, kan? Aku tidak pernah mempermasalahkan. Tetapi aku tidak suka cara Mas. Diam-diam melakukannya di belakangku. Aku seperti tidak dianggap!” ucap Bella penuh amarah.
“Bell, aku mohon. Jangan seperti ini. Kita bisa bicarakan baik-baik, tetapi jangan pergi seperti ini,” ucap Bara, berjalan mendekat.
“Bell, aku minta maaf. Aku harus bagaimana? Aku harus berbuat apa, baru kamu bisa memaafkanku." Bara memohon. Tangannya sudah meraih tangan istrinya, berusaha menggenggam.
“Lepas, Mas. Bisa tidak jangan menggangguku di sini,” pinta Bella.
“Tidak, aku tidak akan melepaskanmu. Sebelum kamu mau memaafkanku,” ucap Bara. Kali ini ia makin berani, malah memeluk erat istrinya.
“Mas!”
“Tidak, maafkan aku dulu,” pinta Bara, memohon. Wajahnya tampak memelas, berharap maaf dari sang istri.
“MAS!” teriak Bella penuh amarah. Sontak membuat Issabell yang sedang berendam di dalam bathtub menangis kencang kembali.
“Huaaa!" jerit Issabell, menangis kencang.
Kedua orang dewasa yang sedang berdebat di pinggir bathtub dengan drama saling dorong-mendorong itu seketika panik dan saling melepas. Bella baru akan mengendong putrinya yang masih basah tetapi, Bara segera menahannya.
“Sudah, aku saja” cegah Bara.
__ADS_1
“Jangan terlalu mendekat. Lantainya licin, Bell. Nanti kamu terpeleset,” ucap Bara lagi, menunjuk ke arah lantai yang basah. Bergegas meraih tubuh Issabell yang basah dan mengendongnya, ia menenangkan putrinya supaya berhenti menangis.
“Icca kaget, ya. Suara Mommy mengerikan, ya,” ucap Bara, berusaha menenangkan putrinya, membiarkan Issabell menelungkup di dadanya,
Bella segera meraih handuk yang tergantung di dinding, mengeringkan tubuh putrinya yang membasahi pakaian Bara.
“Sudah aku saja,” pinta Bella.
“Tidak, kamu sedang hamil. Tidak boleh mengendong Issabell,” potong Bara, membawa keluar Issabell yang mulai menghentikan tangisnya dan menurunkan Issabell ke atas ranjang.
Bella sedang membantu Issabell mengenakan pakaian saat Bara kembali menggodanya.
“Icca, Mommy kalau lagi marah menakutkan, ya,” ucap Bara, mulai mengusili Bella kembali.
“Tatut, Daddy,” celoteh Issabell, bergelayut manja di pundak Bara. Bahkan gadis kecil itu belum berpakaian.
“Icca, ayo sama Mommy. Cepat pakai bajunya, nanti masuk angin,” rayu Bella.
“Mau Daddy. Mommy suka malah-malah.”
Bella masih berusaha membujuk, tetapi putrinya masih bergelayut manja di pundak Bara. Sampai akhirnya ia menyerah.
“Mas, tolong pakaikan. Aku harus ke bawah menyiapkan sarapan Icca,” ucap Bella meletakan kaos Hello Kitty kesukaan Issabell di atas ranjang, bergegas meninggalkan ayah dan anak yang sedang mesra-mesranya. Tidak mau lepas sama sekali.
“Icca, nanti kalau Mommy marah-marah lagi, Icca harus menjerit kencang seperti tadi, ya,” ucap Bara, berusaha merasuki pikiran putrinya. Lelaki itu baru saja menguncir asal-asalan rambut putrinya.
“Yes, Daddy,” sahut Issabell, mengangguk. Rambutnya yang dikuncir asal dan berantakan oleh tangan kekar Bara semakin berantakan dan tidak beraturan.
“Nanti malam, mau tidur sama Daddy, kan?” tanya Bara lagi. Ia sedang meracuni otak polos putrinya.
“Mau ... mau.” Kali ini Issabell meloncat kegirangan di atas ranjang.
“Nanti Icca tidur di sini,” ucap Bara, menunjuk ke sisi kiri ranjang.
“Mommy bobok di tengah. Nah, Daddy di sebelah Mommy. Jadi, Icca bisa pelukan sama Mommy terus Daddy juga bisa peluk Mommy,” ucap Bara. Tangannya menepuk-nepuk ranjang, menunjuk tempat tidur yang akan mereka tempati.
***
T b c
Love you all
__ADS_1
Terima kasih.