
Bella buru-buru turun dari mobil sembari menggendong Issabell yang tertidur. Secepatnya ia harus mengusir lelaki yang sedang berbincang dengan ibunya, sebelum suaminya terbangun dan mengamuk. Entah Rahmat atau Matt, ia tidak ambil peduli. Keutuhan rumah tangganya jauh lebih penting saat ini.
Menyandang status istri Bara selama dua tahun lebih, meskipun baru menjadi istri sesungguhnya beberapa bulan terakhir, Bella menjadi tahu satu hal. Suaminya adalah lelaki yang mudah meledak, emosi dan mudah mengamuk.
“Maaf, ada apa, ya?” tanya Bella masih dengan memeluk Issabell.
Sontak lelaki yang berdiri membelakangi Bella itu berbalik. Tatapannya meredup, begitu manik matanya tertuju pada gadis kecil yang ada di gendongan Bella. Pupus sudah harapannya, layu sebelum berkembang.
“Ma ... maaf, saya lancang,” bisik Matt, terdengar kecewa.
Dari arah dalam rumah muncul pengasuh Issabell, mengambil alih gadis kecil itu dari pelukan mommynya.
“Ada apa, ya? Bagaimana Bapak bisa sampai ke sini?” tanya Bella heran. Setahunya ia tidak pernah membagi alamatnya pada Matt. Meskipun lelaki itu tidak patah semangat menghubunginya melalui pesan ataupun panggilan yang jarang dijawabnya.
Sebagai seorang istri, Bella cukup mengerti posisinya. Tidak pantas untuknya saling bertukar kabar, berkirim pesan ataupun berhubungan dengan laki-laki lain selain suaminya. Status membuatnya membatasi diri, meski hanya sekedar menyapa, rasanya tidak pantas. Itu juga menjadi salah satu caranya untuk menjaga kehormatan suaminya.
“Panggil Matt saja,” pinta Matt.
“Ada apa, Matt?" tanya Bella, ikut duduk di samping ibunya. Matanya terpaku pada shopping bag berlogo salah satu merek ponsel ternama. Melihat itu, Bella langsung paham maksud dan tujuan Matt datang menemuinya.
“Aku mengantar ponselmu,” sahut Matt, menunjuk ke arah shopping bag.
“Terima kasih, tetapi tidak perlu repot-repot. Aku juga sudah membeli ponsel baru,” sahut Bella.
“Tidak apa-apa. Aku tetap akan bertanggung jawab,” sahut Matt.
Matt mengerti, memang sejak awal komunikasi mereka, Bella banyak menghindar. Tidak mau banyak bicara dengannya. Bahkan Bella tidak mau membahas mengenai ponsel. Untuk itulah, ia mencari tahu banyak hal tentang Bella termasuk alamat tinggal.
Namun sayang, informasinya tidak akurat. Ia tidak mencari tahu tentang status Bella yang sudah memiliki seorang putri, yang artinya Bella sudah menikah.
Ibu Rosma yang menyimak sejak tadi, mempersilakan Matt duduk dan menawari minuman, tetapi lelaki itu menolak.
“Tidak Bu. Terima kasih,” tolaknya menjaga sopan.
Ibu Rosma menatap Matt dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Jujur, ia terkesima dengan kesopanan lelaki matang di depannya. Melihat tatapan Matt pada putrinya, Ibu Rosma tahu lelaki itu sudah menyimpan rasa pada Bella. Sayangnya Bella sudah menikah, kalau tidak pasti ia akan menyetujuinya.
Apalagi melihat penampilan Matt yang rapi dengan kemeja dan celana bahan. Siapa saja pasti akan mengagumi. Ditambah cara bicaranya yang sopan dan tuturnya yang halus.
__ADS_1
“Bu,” kejut Bella, melihat Ibu Rosma yang menatap Matt sampai lelaki itu malu sendiri.
“Maaf,” sahut Ibu Rosma, menahan malu. Apalagi ia sempat membayangkan untuk mengenalkan Rissa, yang sampai sekarang belum ada kejelasan. Masih betah menyendiri di usia 27 tahunnya, padahal Bella sang adik sudah menikah dan memiliki anak.
Setelah merasa suasana semakin canggung, apalagi Bella yang sejak tadi diam tidak mau bicara dan terkesan menghindar, akhirnya Matt berpamitan pulang.
“Kalau begitu aku permisi dulu Bu, Bell,” pamit Matt.
Lelaki itu masih sempat mencium tangan Ibu Rosma sebelum benar-benar melangkah menuju ke mobilnya. Sikap Matt kembali menambah kekaguman wanita tua itu.
***
Bella baru saja hendak melangkah masuk ke rumahnya sembari menenteng shopping bag berisi ponsel, saat terdengar suara keributan di halaman rumahnya.
Manik mata indah itu terkejut kala melihat Bara yang baru bangun dari lelapnya sedang memukul Matt.
“Mas!” pekik Bella, berlari. Berusaha melerai suaminya.
“Bu!” teriak Bella sambil berlari, memanggil Ibu Rosma yang sudah masuk ke dalam lebih dulu.
Kali ini Bara mendapat lawan seimbang, yang sama-sama tidak mau mengalah. Dengan susah payah Bella melerai keduanya.
“Mas!” pekik Bella kembali, menangis melihat suaminya bergulat, saling baku hantam.
“Kurang ajar! Laki-laki tidak tahu diri. Beraninya kamu mendekati istriku. Aku akan membunuhmu!” ancam Bara, melabuhkan sebuah pukulan telak di rahang Matt.
Posisi seperti itu terus berlanjut. Saling memukul, saling menindih, saling menendang, sampai akhirnya seorang security ikut turun tangan melerai setelah mendengar teriakan histeris Bella.
Tidak lama, Ibu Rosma juga berlari menghampiri. Terkejut melihat pertikaian di depan matanya.
“Bar, sudah!” teriak Ibu Rosma.
Keduanya berhenti saat mendengar teriakan Ibu Rosma yang menggelegar.
“Memalukan!” omel Ibu Rosma, melihat beberapa asisten rumah tangga dan security yang ikut mengelilingi keduanya. Tidak jauh dari pergumulan dua lelaki itu, tampak Bella terduduk di halaman rumah, menutup mulutnya, menahan tangisnya yang pecah supaya tidak terdengar ke luar.
“Katakan! Apa maksudmu mendekati istriku?” tanya Bara dengan emosi, mengarahkan telunjuknya ke Matt dengan penuh amarah.
__ADS_1
Matt yang baru saja bangun, tampak merapikan pakaiannya.
“Aku hanya membawa ponsel pengganti untuk Bella. Bosku sempat menabraknya di bandara dan membuat ponselnya jatuh dan rusak,” jelas Matt, mengusap pelipisnya yang bengkak karena pukulan Bara.
Matt masih berusaha mengingat. Sepertinya dia pernah melihat Bara. Akan tetapi di mana dan siapa, otaknya masih belum bisa mengenali.
Tangan Bara masih terkepal, berusaha menahan amarah. “Jangan dekati istriku!” ancam Bara.
“Mas, sudah. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Dia Rahmat,” jelas Bella.
Mendengar nama Rahmat, emosi Bara bukannya mereda, sebaliknya malah terpancing kembali. Maju beberapa langkah, dan mencekal kerah kemeja Matt.
“Apa maksudmu menghubungi istriku dan sekarang menemuinya? Hah?!” tanya Bara.
Matt menggeleng. “Maaf, aku sungguh tidak tahu kalau Bella sudah menikah,” sahut Matt.
“Mas, sudah Mas,” bujuk Bella, memeluk erat pinggang Bara dengan berurai air mata. Berharap pelukannya akan menenangkan Bara.
“Jangan pernah menampakkan wajahmu di depan istriku! Aku akan mematahkan kakimu kalau aku masih melihatmu berkeliaran di dekat istriku!” ancam Bara, menunjuk tegas pada Matt.
“Ayo masuk, Bell,” ucap Bara, lembut. Kemarahannya menghilang dan jauh lebih tenang saat ini. Menggenggam tangan Bella, Bara mengajak masuk ke rumah.
Matt yang masih sibuk berpikir sejak tadi, tiba-tiba bersuara.
“Maaf sebelumnya, Pak Barata bukan?” tanya Matt, memastikan.
Langkah Bara terhenti saat mendengar ucapan Matt. “Bagaimana kamu tahu namaku?” tanya Bara heran.
“Aku asisten Halim Hadinata,” jelas Matt, tersenyum.
***
T b c
Love you all
Terima kasih.
__ADS_1