Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 149 : Selamanya putri kita


__ADS_3

“Ada apa?” tanya Bella dengan gerak mulut tanpa suara. Bara menggeleng, pertanda di juga tidak tahu untuk apa Brenda ingin bertemu dengannya dan Bella.


Dengan keraguan yang terlihat nyata, Bella meraih ponsel suaminya. Perlahan menempelkan benda pipih persegi itu di telinga.


“Iya, Mbak Stella.” Suara Bella terdengar kaku.


“Maaf Mbak Bella, maaf menganggu waktunya. Aku hanya menyampaikan pesan dari Kak Brenda yang ingin bertemu dengan Mbak Bella dan Mas Bara,” jelas Stella, pelan menahan malu. Rasanya berat untuk memohon hal yang terdengar aneh bagi semua orang, tetapi ini permintaan langsung dari kakaknya. Dia tidak bisa berbuat banyak dan menolak.


“Ada apa ya?” tanya Bella, beralih menatap suaminya.


“Kak Brenda tidak menjelaskan, Mbak.”


Hening sejenak, Bella terlihat berpikir dan melempar pandangan pada suaminya meminta bantuan. Bara membungkuk, mendekatkan bibirnya di telinga kiri sang istri, berbisik pelan. Sedangkan Bella, menutup setengah layar ponsel dengan telapak tangan, berusaha supaya suara Bara tidak sampai terdengar Stella.


“Aku ikut keputusanmu saja, Bell. Apapun itu, aku setuju,” bisik Bara, mencuri kecup di pipi istrinya.


“Mbak Stella, aku dan Mas Bara masih di Surabaya. Setelah kita kembali ke Jakarta, baru bisa menemui Mbak Brenda,” jawab Bella akhinya. Menyodorkan kembali ponsel pada suaminya.


***


Sepasang suami istri duduk bersisian menatap pemandangan yang sama. Mengekor pergerakan putri kecil mereka yang berlari kesana kemari mengitari halaman rumah ditemani pengasuhnya. Cuaca sore itu teduh dengan sorot mentari senja terhalang pepohonan yang tumbuh di sekeliling pagar rumah.


“Bell, kita perlu bicara.” Kalimat itu terucap juga setelah sekian lama tertahan dengan sikap Bella yang memberi jarak sejak dua hari.


Tidak ada reaksi, senyap masih menyelimuti. Bella masih memilih bungkam setelah sekian lama. Samar terdengar tawa kecil Issabell dari kejauhan, memecah hening untuk sementara.


“Pagi itu, Rania menghubungiku.” Tarikan nafas dalam, menyiratkan seberapa berat perjuangannya. Ada hati membeku yang harus dicairkannya, ada sosok dingin yang harus dibuat menghangat kembali, ada senyum yang sempat hilang harus dikembalikan lagi di bibir tipis yang sekarang kaku.


“Mengabari kalau Brenda sudah ... ehm ... kamu tahu sendiri bukan. Aku tidak perlu mengucapkannya, karena ucapan adalah doa. Harapku tidak seperti itu, meskipun hubungan kami memburuk selama ini,” lanjut Bara.


Ibu hamil dengan daster batik berwarna cerah itu mematung. Seakan tidak bereaksi, tetapi indra pendengarannya sedang menelaah setiap kalimat suaminya.

__ADS_1


“Selama ini, setiap membahas Brenda hubungan kita selalu memburuk. Entah berakhir dengan salah paham atau kondisimu tiba-tiba drop dan harus berakhir di rumah sakit. Jujur, aku tidak mau sampai terjadi hal buruk padamu dan jagoan kita,” jelas Bara.


“Aku terpaksa berbohong hari itu, untuk mencari tahu yang sebenarnya terjadi. Aku harus memastikan dulu, setelah itu aku akan mencoba jujur padamu, menceritakan semuanya,” jelas Bara.


“Mas.. masih mencintai Mbak Brenda?” tanya Bella tiba-tiba memotong. Keluar dari topik, tetapi bagi Bella itu sangat penting.


“Tidak lagi. Sejak bercerai, aku sudah belajar banyak. Belajar melupakan cara mencintai,” ucap Bara pelan nyaris tidak terdengar.


“Sebegitu besarkah dulu kamu mencintai Mbak Brenda, Mas?” tanya Bella, tersenyum getir.


“Aku mengenalnya sejak duduk di bangku SMA. Brenda cinta pertamaku.” Bara berucap dengan ringannya.


Tidak seperti biasa, ada beban. Saat ini mengorek kisah lama, tidak akan mengorek luka lamanya lagi. Dia sudah memiliki Bella, Brenda hanya akan menjadi kepingan masa lalu yang membuatnya belajar tentang hidup dan hubungan antara manusia.


“Cinta itu sebenarnya sudah lama berlalu, hanya saja aku butuh waktu untuk mengakuinya. Bahkan disaat masih terikat pernikahan, cinta itu sudah tidak ada. Rasa terbiasa membuatku sulit berpisah, tetapi itu bukan cinta lagi. Dan sekarang aku baru menyadarinya.” Bara berkata, matanya menerawang jauh.


“Mas, mencintaiku?” todong Bella lagi.


“Terkadang aku tidak bisa melihat cinta di matamu, Mas. Sikapmu menunjukan seolah aku dan anakmu tidaklah penting di dalam hidupmu,” cicit Bella pelan.


“Aku memang tidak seromantis suami temanmu, Kailla. Aku akui, meskipun sudah berguru padanya. Pram bisa mengucap ribuan kalimat cinta sepanjang hari pada istrinya. Aku bukan pria seperti itu, Bell.”


“Aku kesulitan menguasai emosiku disaat-saat tertentu. Mungkin tanpa sengaja melukaimu. Aku akui itu,” lanjut Bara.


“Mas, menyadarinya?” tanya Bella.


Bara mengangguk. “Dulu aku lebih temperamen lagi, lebih posesif lagi. Aku pencemburu. Dan ini salah satu pemicu dan akhirnya membuat Brenda berselingkuh dariku,” ucap Bara pelan. Membongkar sendiri sisi buruk yang selama ini berusaha dikuranginya.


“Bersamamu aku banyak belajar bersabar. Mungkin, kalau dengan wanita lain, pasti akan ada perceraian lagi,” lanjut Bara.


“Terimakasih, Sayang.”

__ADS_1


Lelaki itu memberanikan diri menautkan jari-jari tangannya pada jemari sang istri. Mengirim keyakinan lewat jalinan dan sentuhan kulit.


“Dulu Brenda sama kerasnya denganku. Hal kecil saja diributkan menjadi besar. Yang tidak ada dipermasalahkan menjadi ada. Tidak ada hari dimana kami tidak berdebat. Dan akhirnya Brenda memilih pergi dari rumah untuk mencari ketenangan. Dan aku sibuk dengan diriku sendiri, kesenanganku sendiri.”


“Terimakasih sudah bersabar untukku,” ucap Bara, mengecup punggung tangan istrinya.


Bella hanya diam. Menikmati sentuhan hangat suaminya perlahan dengan mata terpejam. Tak lama, seorang gadis kecil menghambur mendekati mereka. Memeluk lutut Bara sambil bercerita.


“Daddy, ada kuku-kuku, tebang ....” Berceloteh dengan nafas naik turun, menirukan gaya kupu-kupu mengepakan sayapnya.


“Benarkah? Kupu-kupunya warna apa, Sayang?” tanya Bara, meraih tubuh mungil putrinya dan mendudukannya di pangkuan.


“Melah, hijau, bilu,” sahut Issabell, menyebut sembari memainkan jarinya.


“Oh ya, Icca sudah pintar menyebut warna-warna,” ucap Bara, memberi pujian. Kecupan dilabuhkan Bara di pipi gembul Issabell yang berkeringat dengan aroma matahari sore.


“Icca sudah berkeringat, minta Mbak membawa Icca mandi. Nanti kita jalan-jalan di luar,” pinta Bara pada putrinya. Diturunkannya gadis kecil itu, berlarian mengejar pengasuhnya.


“Bell, aku akan membawa Icca menemui mama Roland sebelum kembali ke Jakarta. Kamu mau ikut?” tanya Bara.


Bella berpaling, menatap suami dan putrinya bergantian.


“Mas yakin?” tanya Bella memastikan.


Bara mengangguk. “Roland ayahnya, aku bisa apa. Kedua orang tuanya pasti menginginkan bisa memeluk cucu mereka di hari tuanya.”


“Apakah tidak masalah untuk Icca. Dia masih terlalu kecil, Mas?” tanya Bella. Ada ketakutan di dalam hati Bella. Takut Roland dan keluarganya akan mengambil gadis mungilnya. Dia sudah menyayangi Issabell seperti putrinya sendiri.


“Aku akan menjaganya dengan kedua tanganku. Dia selamanya akan menjadi putri kita, Bell,” sahut Bara menenangkan.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2