
Menunggu adalah hal yang paling membosankan, waktu seakan melambat dan enggan bergerak. Demikian juga yang dirasakan Bara dan Bella. Dari subuh menunggu sampai siang, siang menanti hingga malam. Rasanya waktu jalan di tempat.
Kalau Bella memilih meringkuk di atas ranjang menahan sakit, lain hal dengan Bara. Laki-laki itu masih setia di samping tempat tidur, mengenggam tangan sang istri untuk menguatkan.
“Mas, sakit,” lirih Bella. Tenaganya habis sudah. Jangankan untuk berjalan-jalan, berbicara pun sudah sepenggal-sepenggal.
“Sabar, Sayang. Harus kuat untuk adek bayi. Aku suapin makan sedikit,” tawar Bara, membungkuk dan membisikan kata-kata menenangkan sambil mengusap pelan perut buncit istrinya.
Bella menggeleng. “Perutku sakit sekali, Mas.” Bella terlihat lemas, menahan sakit yang tak kunjung berhenti. Ibu hamil itu sebentar-sebentar melihat jam, jarum jam di dinding serasa lama sekali berjalan.
“Ya, sabar ya. Nanti kalau adek bayinya sudah keluar, tidak akan sakit lagi,” hibur Bara. Tidak tega melihat kesakitan istrinya.
“Jam berapa sekarang, Mas?” tanya Bella dengan mata terpejam. Belum lama menatap jam, Bella kembali bertanya. Rintih kesakitan itu terdengar kembali. Jangankan meremas dan mencakar, bahkan Bella sudah tidak sanggup bergerak.
“Jam tujuh malam. Ayo makan sedikit atau kamu mau makan sesuatu?” tanya Bara.
Tidak mau, Mas. Perutnya sakit. Aku tidak sanggup makan apa-apa lagi. Sakitnya itu ....” Bella terdiam. Wajah pucat dengan bibir bergetar menahan nyeri tanpa henti itu kembali merintih pilu.
“Ya, Sayang.”
“Ini sakit, Mas. Sakit ... sekali,” rintih Bella lagi, mengusap perutnya.
“Ya, Sayang. Aku juga tidak bisa apa-apa? Kalau bisa meminta, aku tidak keberatan berbagi sakitnya,” ucap Bara, mendekap tubuh Bella yang gemetar hebat.
Ibu Rosma yang baru saja masuk setelah selesai menikmati makan malam di kantin rumah sakit tampak membawa sekotak makanan untuk jatah makan malam menantunya.
“Bagaimana, Bar” tanya Ibu Rosma.
Bara menggeleng. “Masih belum bertambah pembukaannya. Padahal ini sudah hampir empat jam dari mulai dipasangkn infus,” jelas Bara. Wajah lelaki itu tampak kusut, tak jauh berbeda dengan wajah istrinya.
“Ibu dengar, kalau diinfus seperti ini sakitnya tanpa jeda. Apa sebaiknya dioperasi saja.” Ibu Rosma berpendapat.
“Aku tidak mau dioperasi.” Bella berkata lemah. Buru-buru menjawab saat mendengar ucapan sang ibu.
Bara menghela napas kasar. Sejak tadi membujuk Bella untuk memilih jalan operasi, tetapi istrinya tetap menolak. Padahal kondisi Bella benar-benar sudah tidak sanggup melakukan apapun.
“Bell, kalau dioperasi, tidak akan sakit lagi. Sebentar saja, setelah itu sudah bisa memeluk adek bayinya.” Bara kembali membujuk. Melihat kondisi Bella, Bara pesimis istrinya sanggup melahirkan normal.
“Aku tidak mau, Mas. Aku takut dioperasi.” Bella menolak.
Ibu dan mertua itu hanya bisa menurut. Untuk saat ini mereka tidak bisa berbuat banyak selain membantu dengan doa dan menguatkan Bella.
“Mas, aku mau minum.” Bella meminta dengan suara pelan.
Tanpa banyak bertanya, Bara segera membantu Bella untuk duduk dan menyodorkan segelas air putih ke bibir kering istrinya.
“Sudah. Mas tolong atur tempat tidurnya, aku mau duduk saja,” pinta Bella lagi, setelah selesai menyesap beberapa tetes air dari gelas kaca untuk membasahi tenggorokannya.
Dalam posisi duduk, Bara semakin jelas melihat raut kesakitan dan lelah istrinya. Tidak tega itu semakin menjadi. Ingin rasanya bertukar tempat, menggantikan rasa sakit yang dirasakan Bella. Sejak subuh sampai malam, Bella menanggung kesakitannya sendirian.
__ADS_1
“Duduk begini apa sakitnya berkurang?” tanya Bara, membiarkan tubuhnya menjadi tumpuan Bella. Terpaksa membungkuk di samping tempat tidur, supaya Bella bisa leluasa memeluknya.
Laki-laki itu merelakan dirinya menjadi pelampiasan istrinya, dicakar dan diremas sepanjang hari. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sedikit beruntung, Bella bukan tipe yang suka berteriak kala nyeri itu datang. Istrinya memilih diam meringkuk sambil meremas seprai atau tubuhnya.
“Sama saja, Mas,” ucap Bella yang bergelayut di leher Bara. Memeluk suaminya dengan erat.
“Kalau tidak kuat, boleh mengigit atau mencakarku. Aku tidak akan marah padamu, Bell. Kalau memang sudah menyerah, dioperasi juga tidak apa-apa. Itu tidak mengerikan. Banyak juga para ibu-ibu di luar sana melahirkan secara operasi dan mereka baik-baik saja,” jelas Bara dengan sabar. Tangannya berusaha mengusap lembut punggung Bella berulang kali.
“Ya, Mas. Aku tahu. Aku ... bukan tidak mau, aku ... belum siap. Aku takut membayangkan perutku dibelah dengan pisau tajam,” jelas Bella terbata.
“Kalau memang pada akhirnya harus dioperasi, kamu harus siap, Sayang. Demi adek bayi. Dioperasi atau pun normal sama saja perjuangannya. Tetap saja akan menjadi ibu seutuhnya.”
“Ya, Mas.”
Hingga pukul sembilan malam, kondisi tetap sama. Bella yang sudah lelah berbaring dan duduk akhirnya memilih untuk berjalan di tengah kesakitan dan sisa -sisa tenaganya.
“Mas, tolong bantu aku. Aku coba berjalan lagi,” pinta Bella dengan suara melemah.
“Apa masih bisa? Wajahmu pucat sekali, Bell.”
“Masih Mas.”
Ibu Rosma yang sepanjang hari melihat perjuangan berat putrinya hanya bisa berdoa dalam hati. Berusaha menahan airmata, menggantinya dengan senyuman supaya Bella tetap memiliki semangat untuk berjuang.
Dengan tertatih-tatih, Bella melangkah perlahan. Kedua tangannya melingkar di leher Bara. Sesekali meringis, meremas kulit tubuh suaminya untuk menyalurkan sakit perut yang begitu tidak berperasaan.
Kaki itu melangkah dengan gemetar, tenaganya hampir habis. Tepat di langkah ke tujuh, Bella merasakan sesuatu turun dari inti tubuhnya. “Mas, seperti ada cairan yang turun,” bisik Bella. Keduanya menuduk, menatap ke arah yang sama. Cairan bening bercampur darah merembes turun mengalir sampai ke betis.
Secepat kilat Ibu Rosma menekan tombol di dekat brankar. Tak sampai lima menit, seorang perawat masuk dengan senyuman.
“Bagaimana, Bu?” tanyanya dengan tenang.
“Sus, ada cairan yang mengalir turun” adu Bara, menunjuk ke betis istrinya.
“Ya sudah. Ayo berbaring lagi. Kita coba periksa lagi. Kemungkinan air ketubannya pecah. Mudah-mudahan setelah ini pembukaannya semakin cepat,” ungkap Suster, masih bisa bersikap tenang di saat pasiennya panik.
***
“Pembukaan lima!” ucap perawat, tersenyum.
Selang satu jam kemudian, Bella kembali bisa tersenyum di tengah lelah dan sakitnya, saat dokter melakukan pemeriksaan kembali dan memastikan pembukaannya bertambah. Syukur itu semakin berkumandang setiap pemeriksaan, pembukaan kian bertambah dan mencapai sempurna akhirnya. Tenaga dan semangat Bella yang terseok-seok dan hampir habis, tiba-tiba mencuat kembali. Bercampur bahagia dan sukacita.
Semua usaha dan perjuangan Bella diuji kembali saat tengah malam, di mana orang-orang sudah terlelap, menikmati bantal empuk dan mulai berlayar ke alam mimpi. Namun tidak untuk Bella, ibu hamil itu sedang berjuang melahirkan putra pertamanya.
Tepat pukul setengah satu dini hari, Bella dipindahkan ke ruangan bersalin ditemani Bara dan Ibu Rosma di luar ruangan.
“Mas, ini sakit,” isak Bella, merintih dan berurai air mata, meremas seprai putih dengan posisi sudah siap melahirkan. Kedua kaki yang sudah memberi jarak, membuat akses untuk sang dokter membantu proses kelahiran seorang bayi ke dunia.
“Ya. Sabar ya, Bu. Sebentar lagi adek bayinya keluar,” hibur salah satu perawat yang menemani.
__ADS_1
“Mas, di mana kamu?” lirihnya lagi, lima menit kemudian. Tidak mendapati Bara di sebelahnya, Bella kembali mencari.
“Ya Bu, atur pernapasan. Tarik napas, hembuskan. Ibu harus tenang. Semua pasti baik-baik saja.”
“Dok, aku mau suamiku,” rintih Bella di tengah kesakitannya. Berulang kali ibu hamil itu memanggil suaminya.
Bara yang awalnya tertahan di depan pintu, akhirnya diizinkan masuk setelah Bella merengek minta ditemani sang suami.
“Ya, Bell. Aku di sini.” Bara langsung berlari begitu diizinkan masuk. Segera merengkuh kedua tangan Bella. Melihat kondisi Bella saat ini, jantung Bara bergemuruh. Berdetak kencang tak terkendali. Semua materi dan teori yang dipelajarinya dari buku panduan ibu hamil dan melahirkan, lenyap dan hilang. Jangankan menenangkan Bella, dia sekarang butuh ditenangkan.
Jerit kecil Bella, ibu hamil itu tersentak saat sobekan oleh gunting di inti tubuhnya menandakan proses kelahiran itu akan dimulai.
“Sakit, Mas.” Bella merintih pelan.
“Ya, Sayang. Sebentar lagi adeknya keluar. Perjuanganmu akan berakhir.”
Mata Bara sudah berkaca-kaca, pertahanan dirinya hampir runtuh. Apalagi melihat bagaimana perjuangan Bella mendorong keluar buah hati mereka berulang kali. Sampai kehabisan napas dan tersengal hebat, tetapi jagoan Wirayudha masih saja betah bertahan di dalam.
“Dorong lagi, Sayang. Kamu pasti bisa.” Bara kembali menyemangati, sembari mengecup pelan kening istrinya. Kedua tangan mereka saling menggengam. Saling bertautan satu sama lain, menyalurkan kekuatan dan cinta.
“Tarik napas yang panjang dulu, Bu. Setelah itu dorong sebisa ibu. Sudah terlihat kepalanya,” ungkap sang dokter.
Dengan sekuat tenaga, Bella kembali mendorong. Diiringi ungkapan cinta, kalimat penuh penyemangat yang keluar dari bibir Bara.
“Ayo Sayang, pasti bisa.”
“Lagi Sayang, kamu pasti bisa. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Sayang,” ungkap Bara
Kalimat-kalimat indah itu sanggup mengalihkan kesakitan Bella bersamaan dengan suara bayi mungil yang menangis kencang tiba-tiba seiring dorongan kuat Bella. Calon ibu itu memekik pelan. Suara-suara bahagia juga terdengar dari dokter dan timnya, yang begitu gembira saat berhasil menarik bayi laki-laki tampan itu keluar dari tempat persembunyiannya selama sembilan bulan ini.
“Oek .... oek ... oek ....”
“Selamat Bu, bayinya laki-laki. Lengkap!” tegas dokter yang membantu proses persalinan. Menyerahkan bayi itu kepada dokter anak yang sudah menunggu di sisinya.
Bara bisa melihat jelas dari tempatnya bediri, bayi dengan kulit keriput berlumuran darah itu dibawa ke sebuah wastafel di pojok ruangan. Ada selang kecil yang disambungkan ke tubuh bayi mungilnya bersamaan dengan tangis jagoannya semakin kencang.
Haru menyergap pasangan suami istri yang baru saja menyelesaikan ujian mereka untuk naik satu tingkat. Menjadi ayah dan ibu seutuhnya. Ayah dan ibu dari bayi yang terlahir dari rahim Bella, mengalir darah keduanya. Wirayudha sesungguhnya.
“Terimakasih, Sayang. Sudah membuatku menjadi laki-laki sejati. Menjadi seorang daddy sesungguhnya. Aku mencintaimu, Bella Cantika.
Setelah dibersihkan, bayi telanjang itu ditidurkan di dada Bella untuk mendapatkan pelukan pertama ibunya. Sentuhan dari kulit ke kulit. Di saat inilah tangis keduanya pecah. Menyentuh bayi laki-laki mereka untuk pertama kalinya.
“Terimakasih, Mas. Sudah menjadikan aku wanita yang sesuai dengan kodratnya. Menjadi seorang istri dan ibu yang sesungguhnya. Aku juga mencintaimu, Barata Wirayudha,” ucap Bella meneteskan air mata, dengan napas yang mulai terdengar teratur.
“Selamat datang. Jagoan kecilku ... The Real Wirayudha.” Bara berkata pelan. Dua bulir air matanya jatuh tak tertahan. Di usianya yang sudah di penghujung kepala tiga, dia mendapatkan Baby Real, anak laki-laki pertamanya. Yang benar-benar seorang Wirayudha.
“The Real Wirayudha? Bagaimana bisa kamu menamai putraku dengan nama seaneh ini!” gerutu Bella, kesal.
“Ya, baby Real.” Bara terkekeh pelan.
__ADS_1
***
T.E