Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 106. Kehebohan di pagi hari


__ADS_3

“Daddy, jangan pergi. Tolong antarkan aku ke tempat Mommy sekarang,” isak Rania dengan air mata bercucuran.


“Mommy sakit lagi. Aku mau tinggal dengan Mommy saja,” isaknya, berhambur di pelukan Bara.


Bara melepas koper di tangannya, sedikit membungkuk merengkuh pundak gadis tanggung yang sudah dianggap putrinya.


“Maaf, Rania, tapi Daddy tidak bisa. Daddy masih ada urusan,” pinta Bara, memohon pengertian.


“Siapkan pakaianmu, nanti Pak Rudi akan mengantarmu ke tempat mommy-mu,” lanjut Bara.


Meraih kembali kopernya yang tumbang karena dihempasnya mendadak dan menyeretnya keluar menuju halaman rumah, tempat di mana mobilnya menunggu membawanya ke bandara.


Di halaman depan sudah menunggu Pak Rudi, berdiri di samping Alphard hitam. Mobil yang biasa dibawanya ke mana-mana, mengantar nyonya Barata Wirayudha. Melihat kehadiran Bara, pria tua itu berlari menghampiri, mengambil alih koper hitam yang ada di tangan Bara dan memasukannya ke bagasi mobil.


“Pak, aku titip rumah,” bisik Bara, melangkah mendekat ke mobil. Tepat saat akan meraih gagang pintu mobil, dari arah dalam rumah terlihat Rania menghambur memeluk Bara.


“Daddy, jangan pergi. Aku mau Daddy. Rania bagaimana ... kalau Daddy pergi,” isaknya, menangis kencang, sesengukan membasahi punggung kemeja Bara.


Pria itu belum bergantian pakaian sejak pagi. Hanya melepas jas kerja dan melemparnya di kursi mobil sebelum masuk ke rumah. Tangan kemeja yang digulung sebatas lengan dengan kemeja kusut, hampir keluar dari dari dalam celana panjangnya. Belum lagi rambut berantakan dan wajah acak-acakan.


Cukup melihat tampilan Bara saat ini, siapa pun bisa menilai apa yang terjadi. Kelelahan jiwa dan raga menghantam tubuh kekar itu sekaligus.


“Ran, jangan begini. Daddy ....” Bara menghentikan kalimatnya, setelah merasa tangis Rania semakin menjadi. Berbalik dan memeluk erat gadis itu.


“Aku mau Daddy, aku mau Mommy. Aku mau Daddy bersama-sama dengan Mommy dan Rania seperti dulu lagi, Dad. Seperti teman-temanku yang lain. Daddy adalah daddy-ku, walaupun Mommy mengatakan bukan,” ucap Rania menumpahkan isi hatinya.


“Rania mau seperti Icca. Punya Daddy dan Mommy,” bisiknya lagi.


“Maaf, tapi Daddy ada urusan saat ini. Nanti, Pak Rudi akan mengantar Rania ke tempat Mommy, ya?” tawar Bara.


Rania menggelengkan kepalanya dengan kuat, pertanda gadis itu belum bisa diajak kompromi. Masih terisak hebat di pelukan Bara, sampai sesengukan dan kesulitan bernapas.


“Rania mau kita bersama, ada Mommy, Daddy dan Rania. Mommy juga setuju,” isak Rania kembali.


Deg—


Kata setuju yang keluar dari bibir Rania, membuat Bara membeku. Ia menatap Rania dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


Dulu saat bersama, Rania memang dekat dengannya dibanding Brenda yang suka marah-marah pada anak kecil. Namun, sudah hampir sepuluh tahun berlalu, tanpa kontak dan berhubungan lagi, seharusnya ikatan yang terbentuk antara dirinya dan Rania tidak sedekat ini.


Entah siapa yang telah merecoki pikiran gadis kecil yang harusnya masih polos dan tidak ikut campur masalah orang dewasa. Apapun alasannya, Rania tidak pantas dikorbankan, untuk apapun tujuannya itu.


“Rania tidak mau yang lain. Rania hanya mau Daddy. Rania juga mau punya Daddy.” Kembali Rania berbicara setelah melihat Bara diam dan tidak merespon.


Gadis itu berulang kali meminta dan memohon. Bahkan Rania menolak melepas pelukannya pada Bara. Bersamaan dengan itu, ponsel di saku Bara bergetar dan berdering nyaring.


“Ya,” sapa Bara pada asistennya.


“Maaf, Pak. Sudah tidak ada penerbangan dari Jakarta ke Surabaya. Pesawat terakhir baru saja terbang setengah jam yang lalu. Jadwal terdekat, besok pagi,” sahut Kevin.


Tanpa menjawab, Bara sudah mematikan sambungan ponselnya dan membawa masuk Rania ke dalam mobil yang dikendarai Pak Rudi.


***


Malam pertamanya di Surabaya, tentu bukanlah perkara mudah untuk Bella melewatkannya dengan tenang. Apalagi dengan masalah rumah tangga yang masih membayangi pikirannya saat ini.


Bolak-balik di atas tempat tidur, matanya sulit terpejam. Entah karena ia merindukan kamar tidurnya di Jakarta atau merindukan si pemilik kamar yang hampir belasan jam tidak dilihatnya.


Mengingat Bara, air mata kembali menetes. Tidak terbendung, mengalir deras dan terus menerus. Entah apa yang ditangisinya. Padahal suaminya itu sudah sangat menyakitinya.


Ia bukan wanita yang egois dan tidak pengertian. Sebagai seorang istri, ia sudah cukup legowo menerima Bara dan masa lalunya. Sedikit pun tidak pernah mempermasalahkan Bara mau menolong mantan istrinya yang kesulitan. Bahkan, ia ikhlas menerima Rania di tengah keluarga mereka.


Namun, saat mendengar ucapan Kevin di telepon tadi pagi, hatinya sakit. Bara diam-diam di belakangnya menolong Brenda tanpa memberitahunya seperti yang sudah-sudah. Rasanya tidak dianggap sama sekali. Itu yang membuatnya tercekat dan meradang seketika


Lama merenung dan berpikir, sampai akhirnya Bella memaksa tidur demi bayinya. Bersusah payah memejamkan mata, pada akhirnya Bella terlelap juga saat waktu menjelang tengah malam. Tidur dengan buliran air mata.


***


Pagi itu Bella terbangun dengan keadaan jauh lebih baik. Meskipun wajah sembabnya karena terlalu banyak menangis tidak bisa disembunyikan. Issabell yang juga sudah bangun tampak mengusap lembut wajah Bella dengan tangan mungilnya.


“Moning, Mommy,” celotehnya mengecup pipi Bella bertubi-tubi. Bahkan ia menindih tubuh Bella yang telentang, berbaring di dada mommy-nya dengan manja.


“Mommy, lindu Daddy,” ucapnya membuat Bella teringat kembali dengan suami tidak tahu dirinya. Begitulah yang ada di otaknya saat membenci Bara.


“Ya, nanti baru bertemu Daddy, ya. Di sini ada Mommy dan Oma. Daddy lagi sibuk kerja, tidak bisa ikut ke sini,” sahut Bella, berusaha memberi alasan.

__ADS_1


Tangan Bella menepuk lembut punggung Issabell, menenangkan gadis kecil itu supaya tidak banyak protes dan membahas tentang Bara.


“Ayo kita bangun. Kita lihat Oma sedang apa di bawah,” ucap Bella, mengendong Issabell turun dari tempat tidur.


Keduanya sedang menuruni tangga, bergandengan tangan menuju ke lantai satu, saat seorang asisten rumah tangga yang sedang membersihkan teras luar berteriak kencang.


“Tolong!”


“Tolong!”


“Tolong! A ... a ... ada mayat di dalam mobil!” teriaknya kencang, masih dengan kain lap dan sapu lidi di tangannya. Tangannya terarah ke pintu keluar, menunjuk ke halaman depan rumah.


Pagi itu matahari belum muncul dari ufuk timur. Suasana di luar pun masih dingin dan sedikit gelap. Hanya terdengar kokok ayam tetangga, pertanda pagi telah datang bersiap menyambut hari.


“Ada apa?” tanya Bella heran. Ikut menatap keluar, tetapi suasana masih gelap. Bahkan lampu taman pun belum dimatikan. Saat itu baru pukul 05.00 pagi.


Kaki dan tangan asisten itu gemetar, entah apa yang dilihatnya di luar sampai ketakutan seperti itu. Dari arah dapur, muncul Ibu Rosma yang heran mendengar suara berisik.


“Ada apa, Bell?” tanya Ibu Rosma.


Bella menggeleng, pertanda ia tidak mengerti. Sebaliknya, ia malah menunjuk ke asisten rumah tangga yang masih asing di matanya. Sepertinya gadis sederhana dengan rambut berkepang dua ini baru saja dipekerjakan ibunya.


“Di ... di luar ada mayat, Bu,” jelasnya dengan suara terbata. Telunjuknya dengan ragu mengarah ke pintu utama.


“Mayat!” pekik keduanya terkejut. Ibu Rosma berlari keluar dengan tubuh rentanya. Bella yang baru saja paham dengan kepanikan sang asisten baru, menggendong Issabell ikut berlari keluar untuk memastikan.


Baik Ibu Rosma dan Bella menghela napas lega, saat menyadari penyebab kepanikan di pagi hari. Ekspresi keduanya berbeda, saat tatapan mereka tertuju pada mobil sport hitam yang entah sejak kapan terparkir rapi di halaman rumah mereka.


Ibu Rosma tersenyum, samar-samar menatap bayangan lelaki yang sedang terlelap di belakang setir. Berbanding terbalik dengan Bella, yang langsung berbalik masuk ke dalam rumah.


***


T B C


Love You all


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2