Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 135. Mana suamimu?


__ADS_3

Senyum Bella berubah kaku, kala jejak mobil temannya menghilang dari pandangan mata. Lengan kekar Bara yang sedang merangkul pundaknya, dihempasnya tiba-tiba.


“Mas itu kelewatan!” gerutu Bella, dengan tatapan tajam menusuk ke manik mata Bara.


“Kelewatan bagaimana, Bell?” tanya Bara heran, menaikkan kedua bahunya.


“Kenapa sampai harus meminta Om Pram datang dan menjemput Kailla pulang?” Bella memberondong suaminya.


“Coba kamu lihat, ini sudah jam berapa, Bell.” Bara beralasan.


“Baru jam delapan, Mas,” sahut Bella kesal. Melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan Bara dengan senyum penuh kemenangannya setelah berhasil mengusir pengacau kecil yang mengganggu waktu berharganya.


“Kailla sudah mau pulang sejak tadi, aku yang menahannya,” jelas Bella, kesal sendiri. Selama ini, waktunya habis untuk mengurus anak dan rumah. Sekali temannya berkunjung, malah diusir suaminya. Padahal, kalau bukan karena permintaannya, Bella yakin Kailla tidak akan mau berkunjung.


“Oh ya? Mana aku tahu,” celetuk Bara dengan santai.


“Dia itu membawakan pesananku, Mas,” gerutu Bella lagi.


“Oh ya? Jadi besok-besok kita ke tempatnya saja kalau begitu, membawa buah tangan untuk minta maaf,” ucap Bara.


“Tidak perlu, Kailla tidak akan marah. Dia sangat tulus di balik sikap serampangannya,” sahut Bella.


Keduanya sudah bergegas menuju ke kamar tidur, saat Bara meraih tangan Bella dan menghentikan langkahnya.


“Bell, itu ... mahasiswa fakultas hukum ....”


Bara menggantungkan kalimatnya. Ragu-ragu untuk bertanya. Antara malu ketahuan cemburu dan penasaran.


“Astaga Mas, Kailla cuma bercanda. Dia senang mengusili Mas, sengaja memanas-manasi. Kailla suka melihat Mas uring-uringan,” jelas Bella, tertawa.


“Serius? Tidak ada mahasiswa fakultas hukum yang sering kalian bicarakan?” tanya Bara memastikan.


“Tidak ada, Kailla jangan didengar. Dia memang suka begitu. Suka usil, kenyataannya tidak seperti itu. Mas sering mengajaknya bertengkar, jadi dia sering mengerjaimu, Mas,” jelas Bella, mengusap perutnya yang naik turun menahan tawa.


Bara langsung memeluk istrinya, menghunjami kecupan di wajah Bella, membuat istrinya protes dan kewalahan.


“Mas, jangan-jangan yang dikatakan Kailla benar. Mas itu sangat mencintaiku. Benar begitu, Mas?” tanya Bella, sengaja memberi jarak supaya bisa menatap suaminya dengan saksama.


“Mas cemburu?” todong Bella lagi.


Deg—


Bara terperanjat, menelan saliva. “Bu ... bukan seperti itu juga, Bell. Kamu kan istriku. Aku pasti tidak mau dan tidak terima istriku didekati lelaki lain,” sahut Bara, mengelak.


“Sudah, ayo kita ke kamar. Aku belum mengobrol dengan jagoanku hari ini. Apa dia menanyakanku, Bell?” tanya Bara, mengajak masuk istrinya ke dalam kamar.


***


Bella sedang duduk di ranjang dengan bersandar di tumpukan bantal, sedangkan Bara sedang menikmati detik-detiknya yang sebentar lagi akan menjadi ayah dari jagoan kecil yang sedang meringkuk di dalam kandungan istrinya. Lelaki itu sibuk mengusap perut istrinya yang membesar, sembari mengecupnya sesekali.


“Icca bagaimana di sekolah, Bell?” tanya Bara, memandang istri yang sedang sibuk dengan ponsel sembari tertawa cekikikan.

__ADS_1


“Baik, Mas. Sudah tidak menangis lagi," sahut Bella, tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari layar ponsel.


“Kamu sedang berkirim pesan dengan siapa, Bell?” tanya Bara, mulai terganggu dan merasa diabaikan.


“Kailla, Mas.”


“Ya Tuhan, anak itu lagi,” dengus Bara mulai kesal. Tanpa meminta izin terlebih dulu, Bara langsung menyambar ponsel dari tangan istrinya. Melihat sekilas percakapan istrinya yang berderet dengan centang biru.


Mana suamimu? Sudah malam! Cuci kaki, gosok gigi, tidur!!


Ttd, Suami Bella.


Bara membalas pesan istrinya. Setelah selesai mengirim pesan dan memastikan sudah tercentang biru, Bara mengembalikan pada istrinya yang kembali merengut.


“Mas, jangan begini. Aku juga sudah mau selesai,” protes Bella, cemberut atas kelancangan Bara.


Cup! Sebuah kecupan mendarat di bibir Bella, membuat ibu hamil itu bungkam seketika.


“Sudah, jangan banyak protes. Nanti waktu kita terbuang percuma hanya karena anak nakal itu. Aku benar-benar ingin menghabiskan waktu denganmu Bell.”


Mendengar ucapan Bara, Bella segera meletakkan ponselnya di atas nakas. Cukup mengerti maksud sang suami yang tidak ingin diduakan dengan benda pintar persegi itu.


“Maaf, Mas, Aku tadi cuma mengobrol sebentar dengan Kailla. Dia mengabari kalau sudah sampai di rumah,” jelas Bella.


“Ya, lupakan temanmu itu. Aku lebih membutuhkan perhatianmu sekarang.”


Bara sedang berbaring di dekat perut istrinya, saat Bella membuka suara. Teringat dengan pertemuannya dengan Roland di sekolah.


“Hah?! Roland berkunjung ke sini lagi?” tanya Bara, mengerutkan dahi. Tidak ada laporan yang masuk dari penjaga rumah kalau istrinya menerima tamu.


“Bukan, Mas. Roland menemuiku di sekolahnya Icca,” jelas Bella, meluruskan.


Mata Bara langsung menyala, emosinya juga mulai merambat naik mendengar cerita istrinya.


“Bagaimana dia bisa sampai tahu sekolah Icca,” ucap Bara.


“Apalagi maunya? Aku tidak menyukai Roland, Bell. Sebisa mungkin, jangan terlalu dekat dengannya. Aku curiga dia ada niat lain dengan terus-terusan menemuimu,” ungkap Bara.


Sejak awal, Bara menaruh curiga dengan niat Roland. Lelaki itu seperti sengaja mencari celah untuk menemui istrinya.


“Dia ingin membawa Icca menemui mamanya,” jelas Bella.


“Tidak bisa!” tolak Bara.


“Aku tidak mengizinkannya. Kalau dia mengajak Icca bertemu dengan mamanya, otomatis kamu juga akan ikut bersamanya. Aku tidak mengizinkannya. Kalau dia mau, bawa saja mamanya menemuiku,” sahut Bara, memberi ide.


“Mamanya itu sedang sakit. Sekarang dirawat di rumah sakit di Surabaya, Mas. Bagaimana bisa dia datang ke Jakarta,” jelas Bella.


Bara bangkit dari posisi berbaringnya, duduk berhadapan dengan istrinya. “Bell, tidak perlu ikut campur terlalu jauh masalah ini. Biarkan aku yang menyelesaikannya dengan Roland,” jelas Bara.


Dengan kedua tangan menangkup wajah cantik istrinya. “Kamu mengerti kan maksudku, Bell?” tanya Bara.

__ADS_1


Bella mengangguk. “Ya, Mas.”


“Bagus. Sebisa mungkin menghindar. Aku tidak percaya dengannya. Kalau dia memang berniat baik, dia tidak mungkin mencari cara dengan menculik Icca hanya untuk melakukan tes DNA, dan pura-pura mendekatiku, menawarkan kontrak kerja sama. Apa pun niatnya, baik atau buruk, patut di dicurigai,” jelas Bara panjang lebar.


“Ya, Mas.”


“Tidak semua orang terlihat baik itu memiliki niat yang baik, demikian juga tidak semua orang terlihat buruk itu berniat buruk. Intinya kita harus berhati-hati. Kamu mengerti, Bell?”


“Ya, Mas.”


“Kamu tahu Bell. Icca itu sudah seperti putriku sendiri. Aku merawatnya dari masih bayi merah. Aku mengikuti proses tumbuh kembangnya. Dari tidak bisa apa-apa, sampai selucu saat ini. Aku tidak mungkin melepasnya begitu saja,” jelas Bara.


“Bahkan waktu masih bayi, sering kali aku harus bangun tengah malam karena Icca rewel dan tidak mau diurus mbaknya. Kakakmu di mana? Perempuan itu tidur sepuasnya.”


“Kamu tidak melihat bagaimana menyedihkannya Icca waktu tinggal di kontrakan bersama Rissa. Terlalu menyedihkannya. Terbayang bagaimana sedihnya jika ibu saat itu melihat kondisi Icca.”


“Bahkan belakangan aku diberitahu, Icca ditinggal dengan tetangga kontrakan, Rissa tidak mau mengurusnya. Lebih memilih bekerja,”


Bella mengangguk. “Ya, Mas.”


Kembali sebuah kecupan hangat mendarat di bibir Bella, lembut dan sedikit menuntut. “Bell, sudah lama aku tidak survei ke lokasi. Boleh ya,” pinta Bara, setelah melepas ciumannya.


“Lama apanya Mas, perasaan sering kali,” gerutu Bella.


“Itu relatif, Bell. Menurutku, sudah lama,” sahut Bara, tidak mau kalah. Tanpa banyak bertanya, langsung me’lumat bibir tipis istrinya. Tidak memberi kesempatan Bella protes.


Ciuman panas itu masih berlanjut, sampai tangan kekar Bara, merebahkan tubuh Bella di tengah ranjang. Baru saja lelaki itu akan melanjutkan ke tahap lebih intim, ponsel di nakas berdering hebat.


“Mas, ada telepon,” ucap Bella, mendorong tubuh suaminya yang sedang mengunci tubuhnya.


“Biarkan saja, Bell,” sahut Bara, melanjutkan mengecup basah leher jenjang istrinya.


“Siapa tahu penting, Mas. Angkat dulu,” pinta Bella, meraih ponsel dan menempelkannya di telinga Bara.


Begitu tersambung suara maskulin yang terdengar menyebalkan untuk Bara, keluar dari gawai tipisnya.


“Bar, kata istriku, kamu mencariku. Ada apa ya?” tanya Pram.


“Hah?! Tidak ada, aku tidak mencarimu!” sahut Bara ketus. Bagaimana ia tidak kesal, pesawat sudah siap lepas landas, tiba-tiba ada kendala.


“Kamu menggangguku saja Bar! Kalau tidak, aku sudah selesai dua putaran. Kailla sejak tadi mengomeliku karena tidak mau menghubungimu.”


“Serius, aku tidak mencarimu, Pram.” Bara mengerutkan dahinya.


“Aku mengecek sendiri pesanmu yang dikirimkan di ponsel istriku! Lain kali jangan sembarangan mengetik, menyusahkanku saja, Bar!” gerutu Pram, mematikan ponselnya.


***


T B C


Love You all

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2