Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 133. Kunjungan Kailla


__ADS_3

Selepas dari menjemput Issabell, Bella langsung mengajak gadis kecil itu pulang ke rumah. Setelah sebelumnya meminta Pak Rudi, tutup mulut atas pertemuannya dengan Roland.


Entah kenapa, perasaannya tidak enak setiap membahas Roland pada Bara. Suaminya itu sejak awal tidak suka kedekatan Roland dengan putrinya. Seperti kedatangan lelaki itu beberapa minggu yang lalu, Bara menjadi begitu pencemburu, meskipun bibirnya masih belum mau mengakui.


Sore itu seperti biasa, Bara pulang lebih cepat dari jam kerja normalnya. Begitu turun dari mobil, lelaki itu mengedarkan pandangan di halaman depan rumah, mencari keberadaan sang nyonya. Seperti biasa, kalau masih sore seperti ini, istri dan anaknya pasti sedang menikmati waktu santai.


Kakinya belum sempat melangkah masuk, sebuah Alphard hitam mengalihkan dunianya. Masuk dengan lancang dan parkir tepat di sisi mobil sport-nya. Tentu saja, Bara mengerutkan dahi. Bingung dan heran dengan kedatangan tamu yang tidak biasanya. Ia sedang tidak ada janji dengan siapa pun, tetapi tiba-tiba ada tamu tak diundang.


Belum sempat hilang terperanjatnya, muncul Kailla, teman kuliah istrinya, sekaligus istri sahabat baiknya, Pram. Meloncat turun dari mobil sembari menenteng kantong kresek bening di tangan kanannya.


“Astaga, pengacau kecil ini datang lagi!” gumamnya menahan kesal.


Senyum usil Kailla membuat mood naik turun, tidak beraturan seperti rollcoaster.


“Sore Om, Bellanya ada?” tanya Kailla dengan senyum cerah yang siap menghancurkan seisi rumah. Bara sangat yakin, istri Pram ini benar-benar bisa menjungkir-balikan dunia, memorak-porandakan seisi bumi.


“Bella sedang tidak ada di rumah,” sahut Bara ketus, dengan spontan dan menyeringai licik. Sudah terbayang kekacauan apa yang akan dibuat Kailla di rumahnya.


Kailla mengerutkan dahinya. Antara bingung dan kesal dengan jawaban Bara. Ia bukannya tidak tahu seperti apa suami Bella.


“Jangan berbohong, Om. Aku membawa titipan Bella. Istrimu itu memintaku membeli gado-gado di dekat kampus,” sahut Kailla, mematahkan pernyataan Bara.


Deg—


Bibir Bara terkatup rapat. Tidak bisa membela diri setelah di sekak-mat Kailla. Mematung di tempatnya berdiri, menatap Kailla dengan wajah datar. Tak lama, menyusul Sam, asisten Kailla yang ikut turun dari kursi depan.


“Sore, Om,” sapa Sam, ikut-ikutan memanggil Bara dengan sapaan yang sama dengan Kailla.


“Kurang ajar!” umpat Bara, merasa dipermainkan. Bukannya ia tidak tahu siapa Sam yang hanya asisten Kailla, bawahannya Pram.


“Maaf, Om. Aku masih mode tampilan anak kuliahan, mantan teman kuliahnya Bella, jadi panggilan pun harus menyesuaikan,” celetuk Sam. Berjalan menuju pos security, Sam memilih berbincang dan bergabung di sana.


“Masuk!” perintah Bara pada Kailla. Baru saja kakinya melangkah, matanya menangkap bayangan Ricko yang duduk di kursi sopir, bersembunyi darinya.


Bara tentu saja terpancing. “Kai, masuk saja sendiri. Aku masih ada urusan,” ucap Bara. Urung masuk ke dalam rumah, sebaliknya lelaki itu malah menghampiri Ricko.


Rasa cemburu Bara selalu terpancing, saat melihat Ricko. Entah kenapa, lelaki itu sulit untuk mengendalikan diri setiap ada lelaki yang dekat dengan Bella berdiri di sekitar istrinya.


Tok ... tok ... tok.

__ADS_1


Mengetuk kasar kaca jendela mobil, sekejap kemudian wajah tampan Ricko muncul.


“Ya, Pak,” sahut Ricko ketakutan. Sudah tidak terhitung berapa kali wajahnya babak belur karena ulah Bara. Yang sialnya ia tidak bersalah sama sekali.


“Ingat! jangan sampai berani melangkah turun dari mobil. Jangan menampakkan wajahmu di depan istriku, Bella,” ancam Bara, mengarahkan telunjuknya pada Ricko.


Ricko mengangguk, tidak berani membantah. Sudah menjadi nasibnya selalu dimusuhi Bara tanpa alasan yang jelas.


***


Kailla sudah masuk ke rumah besar Bara tanpa permisi begitu melihat pintu utama tidak terkunci. Ini bukan kali pertama kunjungannya. Sudah beberapa kali ia mengunjungi Bella saat temannya itu masih kuliah.


“Anybody home?” teriak Kailla seperti biasa. Sifat asli dan apa adanya Kailla saat berada di depan Bara dan Bella. Hubungan baik suaminya dengan Bara, membuat Kailla tidak ada sungkan-sungkannya pada Bara.


“Memang kamu pikir aku bukan orang? Kenapa masih teriak?” sahut Bara kesal dengan suara cempreng Kailla.


“Maaf, Om. Aku sudah terbiasa. Di rumahku kalau tidak teriak, tidak ada yang mendengar. Om tahu sendiri 'kan, rumahku seluas istana negara,” sahut Kailla asal. Senyum usilnya benar-benar membuat Bara naik darah.


Bara hanya bisa mengelus dada setiap berhadapan dengan Kailla. Beruntung istrinya jauh berbeda. Bisa dipastikan, ia akan mengirimnya kembali ke rumah orang tuanya kalau mendapatkan istri sebar-bar Kailla.


Dari arah dalam rumah muncul yang ditunggu. Bella dengan daster rumahnya yang nyaman dan rambut dikucir kuda terlihat begitu cantik sore ini.


Dengan tidak sopannya, Kailla mendahului. Memeluk Bella, menghadiahkan ciuman di pipi kiri dan pipi kanan sahabatnya itu. Bara yang sudah terlanjur merentangkan tangannya bersiap menyambut sang istri hanya bisa menelan kecewa.


“Mas, sudah pulang?” tanya Bella, setelah melepas pelukannya pada Kailla.


Bara hanya mengangguk, menyimpan kesalnya seorang diri. Apalagi melihat wajah bahagia istrinya, sebisa mungkin ia mengalah.


“Aku capek, Bell. Aku ke kamar sebentar. Icca mana?” tanya Bara lemas. Jangankan ciuman, bahkan ia tidak sempat mengusap perut Bella.


“Icca sedang bermain dengan mbaknya di kamar,” sahut Bella, sudah meraih tangan Kailla. Mengajak temannya itu ke dalam menikmati gado-gado pesanannya.


***


Bara baru turun ke bawah saat jam makan malam. Dengan raut wajah berseri setelah istirahat sebentar di kamarnya dan membersihkan diri. Ia sudah sangat merindukan Bella. Langkah kaki menapaki anak tangga yang membawanya turun ke lantai satu.


Saat mencapai ruang tamu, langkah kaki Bara terhenti saat manik matanya menangkap sosok cantik yang masih betah berkunjung dan belum pulang sejak sore tadi. Raut bahagia yang tadi menghiasi wajahnya, meredup hilang.


“Anak nakal ini betah sekali. Tidak mau pulang-pulang. Pram juga, peliharaannya lepas, bukan dicari. Apa dia tidak tahu, kalau istrinya sudah menghilang berjam-jam. Artinya pasti akan ada korban karena ulah istri nakalnya," gerutu Bara dalam hati.

__ADS_1


Lelaki itu tidak berani menggerutu di depan Bella, takut istrinya marah-marah dan tidak mengizinkannya mendekat nanti malam dan terancam tidak mendapat jatah harian.


“Mas, ayo kita makan malam,” ajak Bella, meraih tangan suaminya. Setengah menyeret, membawa lelaki kekar itu ke ruang makan.


Mengekor di belakang, Kailla dengan santainya. Ia baru saja memberi uang kepada Ricko dan Sam untuk mencari makan di warung dekat rumah Bella.


“Kailla akan ikut makan malam bersama kita hari ini. Aku yang memintanya, Mas. Kami sudah lama tidak bertemu,” cerita Bella, dengan antusias. Sengaja mengajak sahabatnya itu makan malam di rumahnya, obrolan mereka belum selesai.


Bara menurut, meskipun dalam hati mengumpat kasar. Hanya bisa berdoa, setelah perut Kailla kenyang, anak nakal itu langsung ingat pulang ke rumahnya. Ia juga butuh waktu berdua dengan istrinya.


Selesai makan malam, Bara memilih duduk di ruang keluarga, menonton dan mencuri dengar dari kejauhan istri dan Kailla bercerita. Indra pendengarannya sedang menangkap apa ada nama laki-laki asing yang dibicarakan keduanya.


Matanya berkali-kali melirik jam di dinding. Detik, menit terasa lama berlalu. Sudah hampir habis sabarnya. Jujur, ia bingung. Bagaimana Pram bisa tidak mencari keberadaan istrinya yang sudah berjam-jam menghilang.


Dengan melangkah ke teras rumah, Bara akhirnya menyerah. Terpaksa menghubungi Pram untuk menyeret Kailla pulang.


“Ya, Bar.” Terdengar suara maskulin dari seberang telepon.


“Kamu di mana Pram?” tanya Bara, dengan tidak sabar. Berdiri di teras rumah, memandang kegelapan malam.


“Aku masih di jalan, Bar. Ada apa?” tanya Pram heran. Tidak biasanya Bara menghubunginya.


“Cepat ke rumahku sekarang, Pram. Bawa pulang istrimu. Bertamu tidak ingat waktu," omel Bara, seperti biasa.


“Hah?! Ada apa dengan Kailla, Bar?” tanya Pram lagi.


“Bertamu dari sore, sampai jam segini masih belum mau pulang,” gerutu Bara, menatap jam di pergelangan tangannya, sudah hampir pukul 20.00 malam.


Ia sudah terbiasa dengan sahabatnya itu. Berbicara pun sudah blak-blakan dan terus terang. Tidak ada yang ditutupi. Bukan berarti ia tidak menyukai Kailla, hanya saja anak nakal itu mengganggu kesenangannya. Harusnya jam segini, ia dan istrinya sudah bergelung di balik selimut. Saling memeluk dan berbagi kecupan. Mengusap dan berbincang dengan bayi mereka.


***


T B C


Love you all


Terima kasih.


Yang mau baca kisah Om Pram dan Kailla ada di judul : Istri kecil Sang Presdir & Istri Sang Presdir.

__ADS_1


__ADS_2