Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 164 : Pengakuan sang pengasuh


__ADS_3

Pengasuh Issabell sudah berdiri ketakutan di depan Bara. Tertunduk, jemarinya saling meremas di depan perut. Bara mengeraskan rahangnya, menatap tajam. Mata elang itu memerah, memendam amarah yang berusaha ditahannya supaya tidak lepas dari kontrolnya.


Bagaimana pun, yang di hadapannya adalah perempuan. Tidak sebanding dengannya, bukan tandingannya. Berhasil menyakiti perempuan, menang pun hanya akan menjadi abu.


“Kemarikan ponselmu!” perintah Bara, mengulurkan tangannya. Sebenarnya dia tidak berhak mengutak atik barang pribadi orang lain, termasuk milik pekerjanya sekali pun. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kecurigaan Bara mengarah pada perempuan yang terlihat lugu, dengan mata mulai berkaca-kaca di depannya.


“Maaf Pak, apa salah saya?” tanya sang pengasuh memberanikan diri.


“Masalah penculikan Icca beberapa waktu lalu, aku belum membuat perhitungan denganmu.” Bara membuka suara. Berat dan mengerikan.


“Maaf Pak, saya serius tidak tahu menahu. Saya lalai. Saya minta maaf untuk itu,” jawab sang pengasuh.


Bara yang belum memulai apa pun tentu saja tidak mau mendengar begitu saja. “Kemarikan ponselmu!” pinta Bara, dengan nada lebih keras dan tegas.


“KEMARIKAN!!!” Bara berteriak kencang, setelah menunggu sekian lama, sang pengasuh tetap bergeming. Suaranya menggelegar, memantul di empat sisi ruang kerjanya. Yakin, suaranya akan terdengar sampai keluar.


Dengan ketakutan yang tercetak nyata di wajahnya, sang pengasuh berjalan mendekat. Tangannya gemetar, mengeluarkan gawai putih dari saku celana panjangnya. Kedua bahunya naik ke atas, terlihat ketakutan saat meletakan ponsel ke atas meja.


“Ini Pak,” ucapnya pasrah.


“Maaf!” ucap Bara datar. Tanpa permisi, langsung mengacak-acak ponsel itu. Yang pertama dibongkarnya adalah galeri, mencari tempat penyimpanan foto yang mungkin saja masih tersimpan foto istrinya. Entah kenapa insting Bara begitu kuat, kalau sang pengasuh adalah pengkhianat di keluarganya.


Puas membongkar galeri, tanpa ada jejak foto Bella maupun Issabell, Bara kembali membongkar chat whattapp, mencari percakapan atau nomor yang mencurigakan, tetapi lagi-lagi nihil. Semuanya bersih dan aman.


Beralih ke kontak, dari A sampai Z, tidak ditemukan nama janggal yang mencurigakan. Bara sudah akan mengembalikan ponsel itu ke pemiliknya. Wajah tegang pengasuh terlihat lega, membuat kecurigaan Bara semakin bertambah. Ponsel yang tadi sudah akan diserahkannya, ditarik kembali.


Deg—


Bara segera mengeluarkan ponsel miliknya, menghubungi nomor Roland dari gawai sederhana milik mbak pengasuh.


“Pak, kalau sudah ... apa saya boleh permisi.” Sang pengasuh mencoba menyudahi. Jujur, dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Bara pada ponselnya, tetapi diperlakukan seperti ini sontak membuat gadis itu menciut.


Jari-jari panjang Bara sudah menekan deretan nomor di layar ponsel, setelahnya menyalakan speaker supaya mereka berdua bisa mendengar dengan jelas. Nada sambung begitu nyaring terdengar, Bara tersenyum menatap sang pengasuh, sedangkan yang ditatap hanya bisa menahan gugup. Seperti akan diledakan dalam beberapa menit ke depan.


“Hallo Mbak, ada berita apa?” tiba-tiba terdengar suara bariton Roland dari ujung panggilan. Berat seperti biasa.


Terkejut! Tentu saja Bara tersentak meskipun sudah menduga.

__ADS_1


“Mbak, ada apa menghubungiku?” tanya Roland dari seberang.


Bara segera mengoreskan kalimat di secarik kertas putih, meminta pengasuh Issabell itu menjawab sesuai permintaannya.


Minta bertemu sekarang juga!!


Ragu, tetapi gadis itu tidak bisa mengelak. Tatapan Bara begitu mengerikan sekaligus mematikan.


“Ma ... af, Pak. Apa kita bisa bertemu?” tanyanya terbata, menahan takut.


“Ada masalah apa sampai harus bertemu. Aku sedang di luar kota. Besok baru kembali ke Jakarta.”


“Ya ... Pak.”


Roland baru saja hendak memutuskan sambungan, tetapi tiba-tiba lelaki itu menyela.


“Mbak, Bella sudah baikan?” tanyanya pelan.


“Su ... dah Pak.”


“Kalau sempat, tolong bawa Icca juga saat menemuiku. Aku merindukan anak itu,” ucap Roland lagi.


“Apa ... apa tujuanmu?” tanya Bara. Memilih menjatuhkan bokongnya di kursi hitam dengan sandaran tinggi bisa diputar ke segala arah.


“Ma ... af, Pak.”


“Ceritakan padaku, apa yang sudah kamu lakukan selama ini pada keluargaku! Aku akan mencoba sedikit berbaik hati, kalau kamu mau jujur padaku.” Bara menatap lekat dengan jemari mengetuk perlahan di atas meja jati berurat yang divernis mengkilap.


“Duduk! Ceritakan semuanya, aku tidak mau ada yang terlewatkan sedikit pun!”


“Maaf Pak.”


“Aku memintamu bercerita, bukan meminta maaf!” tega Bara.


“Duduk!” perintah Bara.


Laki-laki dengan garis wajah tegas itu sedang menunggu. “CEPAT! KATAKAN!!” teriaknya lagi. Tangan itu sudah mengepal, memukul meja kerjanya dengan keras.

__ADS_1


“Ma ... ma ... af Pak. Awalnya saya bekerja pada Ibu Rissa. Diminta melaporkan semua kegiatan bapak dan Non Icca kalau ... di kamar. Cerita Ibu, kalau dia tidak diizinkan masuk ke dalam kamar bapak.” Pengasuh itu mulai bercerita. Ada rasa was-was, takut Bara meledak lagi, selama dua tahun tinggal di atap yang sama, tentu dia tahu seberapa temperamen sang majikan.


“Lalu?” Bara tampak serius, menunggu cerita selanjutnya.


“Pernah juga diminta mencuri ponsel bapak ... sambil ... sambil membawa Non Icca ke kamar bapak.”


Wajah pengasuh tampak ketakutan, tetapi berusaha menguatkan hati dan berterus terang.


“Bagaiaman bisa saya sampai tidak tahu?” tanya Bara, heran.


“Bapak sedang di kamar mandi.”


“Lalu apalagi?” todong Bara.


“Belakangan tiba-tiba Ibu Rissa menghubungi saya lagi melalui ponsel Pak Roland. Katanya Ibu di penjara, dan meminta saya melapor semuanya ke Pak Roland. Ibu Rissa cerita, kalau dia dan Pak Roland adalah orang tua kandung Non Icca.”


“Kurang ajar! Selama ini mereka bersekongkol mengelabuiku!” Tangan laki-laki itu kembali terkepal.


“Maafkan saya, Pak,” ucap pengasuh dengan wajah ketakutan. Menunduk, meremas tangannya di atas pangkuan.


“Apalagi yang tidak saya ketahui?”


“Yang menculik Non Icca itu ... sebenarnya Pak Roland. Waktu itu hanya untuk mengambil sampel darah dan ... Pak Roland ingin bertemu langsung dengan Non Icca.”


Hening. Sang pengasuh memberanikan diri mengangkat pandangannya.


“Saya diminta mengajak Non Icca bermain di halaman depan, jadi mudah untuk melakukan aksinya. Sebelumnya, orangnya Pak Roland sudah mengawasi rumah ini dan rumah di Surabaya.”


Bara memijat pelipisnya, tidak menyangka kalau selama ini dia kecolongan, dikhianati orang-orang terdekatnya.


“Sebelum penculikan, saya sempat memancing Ibu Bella, mengenai laki-laki yang sering mengawasi rumah, tetapi saat itu Ibu mengatakan kalau saya terlalu banyak menonton sinetron. Dari situ, saya berani mengiyakan rencana Pak Roland yang meminta bertemu Icca. Saat itu, Ibu Bella tidak mencurigai apa pun.”


“Ya Tuhan, Bell. Kalau terjadi sesuatu padamu dan Icca, aku harus bagaimana,” desah Bara, merangkai kembali cerita yang disampaikan pengasuh.


Bunyi ketukan di pintu ruang kerja, mengalihkan perhatian keduanya.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2