Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 141 : Keluar Kota lagi


__ADS_3

“Mas?!” ulang Bara, menatap tajam istrinya.


“Sejak kapan Bell?” Lelaki itu berbisik pelan di telinga istrinya, mempertanyakan sapaan yang di awal ditolaknya mentah-mentah, namun sekarang terdengar sangat manis kalau bibir Bella menyapanya, dan sanggup memporak-porandakan jiwanya kala Bella memanggil orang lain dengan panggilan yang sama.


“Apanya Mas?” tanya Bella ikut berbisik.


“Penampakan di depanku ini, sejak kapan kamu memanggilnya Mas. Aku tidak suka ya Bell, disamakan dengan buntelan ini,” gerutu Bara. Terpaksa dia mengalah, setelah sempat menatap seringai licik Roland. Sepertinya lelaki itu sengaja membuatnya terpancing emosi dan bertengkar dengan istrinya.


“Iya Land, nanti aku akan sampaikan langsung ke Icca.” Bara memilih menjawab, mewakili istrinya.


“Oh ya, mengenai boneka, tidak perlu repot-repot. Boneka hello kitty Icca sudah banyak. Cuma kalau memaksa, kamu bisa belikan boneka Hello kitty yang yang jenis kelaminnya laki-laki, yang pake jas hitam. Kalau yang pink, dia sudah banyak,” ucap Bara asal.


Lelaki itu mengandeng tangan istrinya yang masih melotot mendengar jawaban asal Bara. Bella tahu jelas, saat ini suaminya sedang menahan emosi. Kalau sampai dia salah sedikit saja, Bara akan meledak, membumi hanguskan semua yang ada disekitarnya.


“Masuk Bell,” pinta Bara, membukakan pintu mobil untuk istrinya. Tak lupa menahan bagian atas pintu mobil dengan tangannya supaya kepala Bella tidak terbentur. Perlakuan kecil ini saja, sudah menmbuat Bell melambung ke udara.


“Makasih Mas,” sahut Bella, menahan senyumnya. Tidak biasanya Bara bersikap manis seperti ini. Perhatian Bara tidak hanya sampai disana, lelaki itu masih membantu Bella memasangkan seatbelt.


“Kalau mommy nakal di belakang daddy, tendang perut yang kencang, Dek,” celetuk Bara saat tangannya tanpa sengaja menyentuh perut buncit Bella.


Mendengar itu Bella menciut, seketika menutup mulutnya, menyadari kalau Bara masih belum sepenuhnya tenang.


“Maaf Mas, jangan marah-marah lagi,” pinta Bella, setelah Bara duduk memegang kemudi.


“Katakan padaku setelah pertemuan kalian di sekolah, apa kamu masih bertemu Roland?” tanya Bara.


Deg—


Bella gugup seketika, teringat pertemuannya dan Roland saat lelaki itu membantunya mengganti ban.


“Maaf Mas, sebenarnya kemarin aku masih sempat bertemu Roland. Mas ingat kan, aku membawa mobil sendiri. Nah, ban aku kempes dan harus mengganti ban. Tiba-tiba Roland muncul dan membantuku,” cerita Bella dengan terus terang.


“Kurang ajar! Apa maunya?!” gerutu Bara. Meremas kemudi dengan kencang. Melihat tatapan Roland pada istrinya, Bara yakin ada niat tersembunyi yang direncanakan lelaki itu. Namun apa, Bara tidak bisa menebaknya.

__ADS_1


“Mas, sudah jangan marah lagi. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Tidak ada perasaan apa-apa juga. Lagipula mana ada sih yang suka sama wanita hamil yang sebentar lagi akan meletus. Ada-ada aja Mas ini,” ucap Bella.


Bara menghela nafas, emosinya perlu diredam. Kalau tidak akan meledak seperti biasanya,


“Bell, mulai sekarang kamu tidak boleh membawa mobil sendiri lagi,” titah Bara, melirik istrinya sekilas.


“Kalau sampai aku harus keluar kota dan kalau memang dirasa perlu, aku akan mempekerjakan sopir khusus untuk mengantar jemput Icca. Dan mulai sekarang, aku yang akan mengantar jemput Icca, Bell,” tegas Bara.


“Hah! Apa tidak salah, Mas?” tanya Bella memastikan pendengarannya tidak salah.


“Iya, seperti yang kamu dengar. Mulai sekarang, Mas yang akan mengantar jemput Icca ke sekolah.


Bella merengut seketika. “Kalau semuanya dikerjakan Mas, aku jadi tidak memiliki kegiatan apa pun setiap hari. Aku pasti kebosanan,” gerutu Bella.


“Sudah. Kamu cukup fokus pada kehamilanmu saja, Bell. Buat perutmu semakin cepat besar, supaya jagoanku segera keluar dari persembunyiannya.”


“Nanti kita buat lagi yang perempuan, setelah jagoan ini keluar,” lanjut Bara, tersenyum penuh kemenangan. Mengusap pelan perut Bella yang terlihat membuncit.


“Astaga Mas, yang ini saja belum keluar, Mas sudah merencanakan yang lain lagi,” keluh Bella.


“Huh! Ramai apanya Mas. Mas itu setiap hari di kantor, jadi Mas tidak tahu bagaimana repotnya, berisiknya. Apalagi kalau sudah bertengkar. Mas sih enak-enak saja. Tidak merasakan kerepotan itu. Dulu saja, sewaktu Rania menginap disini beberapa hari, pasti ada saja yang diperebutkannya dengan Icca. Sebentar-sebentar Icca menjerit, menangis,” keluh Bella.


“Begitukah? Ya sudah kita tambah satu lagi saja. Habis itu tutup pabriknya, tidak perlu produksi lagi,” sahut Bara sembari tertawa.


***


Keesokan harinya.


Bara yang baru saja bersiap terlihat mematut dirinya di cermin, memastikan kalau setelan kerjanya sudah benar-benar rapi. Bella sendiri sedang membereskan kamar tidurnya, menarik sprei yang tersingkap dan tertarik di sana sini akibat kegiatan mereka semalam.


“Bell, tolong aku,” pinta Bara, menyodorkan dasi untuk dipasangkan di lehernya.


“Sebentar, Mas.” Bella bergegas mendekati Bara, meraih dasi dengan berjinjit memasangkannya di leher suaminya. Bella yang sudah terlatih mengikat dasi sejak menikah dengan Bara, hanya membutuhkan waktu sebentar saja.

__ADS_1


“Sudah Mas,” ucap Bella tersenyum, tangannya dengan terampil merapikan kerah kemeja.


“Terimakasih, Sayang,” ucap Bara, tangannya segera mengunci pinggang istrinya. Perut membuncit Bella seketika beradu dengan perut rata berotot suaminya.


Bara baru saja menurunkan wajahnya hendak mengecup bibir istrinya, saat ponsel di saku celananya berdering.


“Shittt!!” umpat Bara, seketika harus menghentikan kesenangannya. Tangannya segera merogoh kantong, memastikan siapa yang menganggunya sepagi ini.


“Rania?” ucap Bara dalam hati saat melihat nama putrinya tertera di layar ponsel sepagi ini.


“Sayang, aku terima telepon dulu.” Bara meminta izin, setelahnya segera membuka pintu, akses menuju balkon untuk berbicara dengan putrinya.


Bella mengernyitkan dahi. Memandang suaminya dari balik jendela kaca, menangkap pergerakan mulut Bara dari kejauhan. Tidak biasa suaminya itu menerima telepon dan memilih menjauh seolah takut terdengar. Sepenting apa pun, Bara akan berbicara di depannya. Bahkan urusan perusahaan pun, Bara tidak pernah semisterius ini. Namun kali ini berbeda, Bara seolah menghindar dan takut. Seperti ada yang disembunyikan.


Selesai menerima panggilan, Bara bergegas menemui Bella kembali. “Bell, aku harus keluar kota lagi, mungkin pulangnya sedikit larut. Tidak apa-apa kan?” tanya Bara.


“Mas kamu kemana? Ke Bogor lagi?” tanya Bella, memastikan.


“Iya, aku harus ke Bogor lagi. Kamu tidak apa-apa kan kalau mengantar Icca hari ini. Aku sudah kesiangan, tidak bisa mengantarnya ke sekolah,” jelas Bara, menatap jam di pergelangan tangannya.


“Iya Mas.” Bella mengangguk, tetapi entah kenapa kali ini perasaannya berbeda dibandingkan sebelumnya saat Bara berpamitan ke luar kota.


“Mas pulang jam berapa?” tanya Bella lagi.


“Aku usahakan pulang secepatnya. Aku.. mencintaimu, Bell,” bisik Bara di telinga istrinya. Setelah itu, menyapu bibir tipis Bella, dan tersenyum malu-malu.


***


Hai.. Hai.. mau numpang promo novelku yang baru ya. Mungkin rada beda dengan kisah-kisah di novelku yang sebelumnya. Disini ada aroma perselingkuhan dan sedikit menyesakan.


Silahkan mampir ya, di judul. Tatap Aku, Suamiku


__ADS_1


TBC


__ADS_2