
Keesokan harinya Raffael dan Jelita sudah bersiap untuk pergi ke makam. Mereka sudah memesan taksi untuk mengantar ke pemakaman.
Kini Raffael dan Jelita sudah duduk bersimpuh di samping makam buah hati mereka yang hanya bertahan hidup beberapa bulan saja dalam kandungan Jelita. rasa sedih tentu masih menyelimuti hati keduanya, terutama Raffael. Pria itu masih ingat dengan jelas tentang rasa luka yang pernah ia torehkan pada istrinya saat itu. terlebih melihat makan sang Ibu mertua. Bahkan di akhir hayat Bu Sukma, Raffael tidak ada di samping beliau.
“Mas, sudah! Aku yakin dia sudah bahagia di sana. Dia bersama nenek dan kakeknya sudah tenang di surga.” Ujar Jelita mengusap lembut punggung suaminya.
Raffael mengusap sudut matanya yang berair. Lalu menatap dalam mata istrinya yang tampak lebih tegar darinya.
“Maaf, Sayang! Aku ingat masa itu.”
“Aku yakin Ibu, Ayah, dan anak kita di sana sangat bahagia bisa melihat kita bersatu kembali dan hisup bahagia dengan anak-anak kita.”
Raffael membenarkan ucapan istrinya. Setelah itu ia segera mengajak istrinya kembali. Karena Jelita pasti tidak nyaman jika berlama-lama dalam posisi seperti itu. Lain waktu dia akan berziarah lagi ke sini.
Usai dari makam, Jelita mengajak suaminya singgah sebentar ke rumah Arvin. Bagaimanapun juga Arvin juga berjasa besar dalam hidup Jelita. dia tidak bisa melupakan jasa baik pria itu begitu saja. apalagi selama ia tinggal di luar negeri Jelita sangat jarang sekali berkomunikasi dengan Omnya itu.
Saat tiba di rumah Arvin, baik Raffael maupun Jelita sangat terkejut saat melihat Arvin tengah menggendong seorang bayi berusia sekitar dua bulan. Rupanya pria itu sudah menikah lagi dan kini sudah dikaruniai seorang anak.
Jelita sangat senang melihatnya. Kedatangannya pun disambut hangat oleh Arvin. Walau pria itu sempat terkejut dengan kedatangan keponakannya yang secara tiba-tiba.
“Om kenapa tidak memberitahu kami kabar baik ini?” kesal Jelita saat sudah duduk di ruang tamu kediaman Arvin.
“Maafkan Om. Karena memang acaranya sangat sederhana.” Jawab Arvin singkat tak ingin membahas lebih dalam perjalanan cintanya dengan istri keduanya ini.
Tak lama kemudian datang seorang wanita yang diyakini istri Arvin. Wanita itu terlihat masih muda dan juga cantik. Tentu sikapnya juga sangat sopan terhadap tamu suaminya. Jelita semakin bahagia akhirnya Omnya bisa menemukan tamabatan hati yang sangat cocok di hatinya. Meskipun dulu ia sempat berburuk sangka pada Arvin.
Tidak lama Jelita dan Raffael berkunjung ke rumah Arvin, karena mereka harus segera pulang hari ini juga. Tak lupa Raffael juga turut mengundang Arvin di acara pernikahan Livy bulan depan. Karena Arvin juga saudaranya. Apalagi hubungannya sangat baik dengan kedua orang tuanya.
***
Kepulangan Raffael dan Jelita disambut suka cita oleh Abi, Reno, dan Livy. Tentunya juga Ethan. Tangis haru mereka menyambut kepulangan anak menantu mereka yang selama ini tinggal jauh dari orang tua.
__ADS_1
Raffael cukup lama memeluk Mama dan Papanya. Ada rasa bersalah terhadap kedua orang tuanya karena ia lebih memilih hidup berdua dengan istrinya daripada bersama keluarga besarnya.
“Maafkan, Raffa Ma, Pa. Raffa janji setelah ini akan kembali ke perusahaan. Mama dan Papa cukup di rumah saja menikmati masa tua kalian dengan cucu-cucu Mama dan Papa.”
Abi kemudian menoleh pada Jelita yang sedang duduk tak jauh darinya bersama Ethan. Wanita itu menghampiri menantunya yang kini sedang hamil muda. Mengusap lembut dengan senyum bahagia tersemat di bibirnya.
“Bagaimana kabar cucu Mama di sini? apa dia masih rewel?”
“Baik, Ma. Dia tidak rewel lagi, apalagi sudah berada di sini.” jawab Jelita.
“Sykurlah kalau begitu. Sebentar lagi rumah ini pasti akan sangat ramai dengan celotehan anak kecil. Apalagi Livy juga mau menikah. pasti tambah ramai.”
“Apaan sih Mama ini. nikah saja belum masak mau punya anak. Sudah ada Ethan saja rumah ini sangat ramai.” Sahut Livy sambil mencubit gemas pipi Ethan.
Ethan tampak mengaduh kesakitan akibat cubitan Livy. Seketika semua orang tergelak melihat pemandangan itu. karena memang selama ini Ethan sangat dekat dengan Livy. Bahkan banyak yang mengira kalau Ethan adalah anak Livy kalau kebetulan mereka sedang pergi berdua. Livy juga sangat menyayangi Ethan. Dia juga ingin mempunyai anak yang tampan dan lucu seperti Ethan jika nanti sudah menikah dengan Febian.
***
Raffael tidak terlalu ikut campur perihal pernikahan adiknya dengan Febian. Meskipun masih ada yang mengganjal di hatinya tentang sosok Febian yang akan menjadi adik iparnya itu. tapi kalau Livy bahagia dengan pria itu, apa boleh buat.
Raffael memang tidak banyak tahu tentang hubungan adiknya dengan pria arogan seperti Febian itu. dia hanya tahu sedikit kalau hubungan adiknya dengan sang kekasih sempat merenggang. Bahkan Febian pernah menghilang tanpa kabar. Hingga tiba-tiba saja dia muncul lagi lalu melamar Livy dan mempercepat pernikahannya. Ingin sekali ia mencari tahu tentang sosok Febian, namun Jelita melarangnya. Jelita berpesan pada suaminya agar tidak terlalu ikut campur urusan asmara Livy dengan kekasihnya.
***
Makan malam itu berlangsung cukup hangat. Sikap Febian terhadap Raffael yang selama ini agak dingin, kini sudah berubah. Febian sudah berubah lebih sopan pada calon kakak iparnya. Hal itu membuat Raffael cukup lega.
Usai makan malam, Raffael pamit mengajak istri dan anaknya untuk keluar menikmati udara malam hari. Raffael ingin menikmati kebersamaanya bersama Jelita dan Ethan saja tanpa ada gangguan. Dan di sini lah mereka sekarang. di sebuah taman bermain anak.
Ethan yang sudah memasuki usia empat tahun lebih, bocah itu terlihat semakin pintar dan mandiri. Jelita sangat bangga melihatnya.
“Aku sangat bahagia sekali malam ini, Sayang!” ujar Raffael sambil memegang lembut tangan istrinya.
__ADS_1
Mereka sedang duduk berdua sambil mengamati Ethan yang sedang asyik bermain bersama anak-anak yang lain.
“Aku juga, Mas. Aku harap kemesraan ini tidak akan pernah berlalu. Berjanjilah untuk terus berada di sisiku sampai rambut kita memutih.” Balas Jelita dengan tatapan penuh cinta tertuju pada suaminya.
“Tentu saja. terima kasih atas cintamu yang begitu besar untukku. Maafkan atas segala luka yang pernah aku torehkan padamu. Mari kita menua bersama! Aku sangat mencintaimu, Jelitaku.”
“Aku juga sangat mencintaimu, Mas.”
.
.
.
*THE END
Happy Reading!!
*****
Akhirnya tamat juga. Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Maaf jika ada banyak typo dan jln cerita yg ngg sesuai dg ekpektasi pembaca.🤗🤗
Jangan lupa terus ikutin cerita baru lagi yg segera rilis ya guys!
*****
Untuk pemilik akun di bawah ini mohon untuk dm di ig author. Karena ada sedikit pulsa untuk sebagai bentuk apresiasi dari author. Trims🤗😚
__ADS_1