
Suasana hati Raffael masih tampak berbunga-bunga setelah meresmikan hubungannya dengan Jelita ke jenjang pertunangan beberapa waktu yang lalu. Untuk rencana pernikahan, memang keduanya belum membicarakannya lagi. Raffael tidak ingin terlalu memaksa calon istrinya itu untuk segera melangsungkan pernikahan itu.
Kabar pertunangan Raffael dan Jelita sudah didengar oleh beberapa karyawan perusahaan. Bahkan mereka juga tahu kalau calon istri atasan mereka adalah wanita yang biasa mengantar kue ke kantor. meskipun demikian, mereka tidak terlalu ikut campur ataupun nyinyir tentang siapa yang akan menjadi calon istri CEO mereka. Justru mereka bersikap sopan pada Jelita yang masih melakukan pekerjaannya sebagai pengantar kue.
Sebenarnya Raffael sudah meminta Jelita berhenti mengantar kue ke kantornya. Cukup bekerja seperti biasa saja di café Bu Alin. Namun setelah menimbang-nimbang, Raffael mengurungkan niatnya itu. karena jika Jelita setiap hari masih mengirim pesanan kue ke kantornya, otomasti dia juga bisa bertemu dengan wanita itu.
“Ini pesanannya, Tuan! Saya permisi.” Ucap Jelita yang baru saja meletakkan satu box kue pesanan Raffael.
Raffael yang sejak tadi sibuk di depan layar laoptopnya tampak megacuhkan Jelita. Namun, setelah mendengar suara Jelita, ia baru sadar. Dia pun segera berdiri saat melihat Jelita sudah meraih handle pintu.
“Tunggu!” cegahnya dengan menghadang tubuh Jelita.
Jelita terkesiap saat jarak tubuhnya dengan Raffael nyaris menempel. Perlahan dia memundurkan langkahnya dengan perasaan gugup bercampur takut. Entah kenapa, ia seperti merasa dejavu dengan kejadian ini.
“Maaf!” sesal Raffael setelah melihat raut berbeda dari wajah Jelita.
“Ayo duduklah sebentar!” ajak Raffael menuju sofa.
Jelita mengangguk. Kemudian Raffael mengambilkan segelas air putih pada Jelita agar suasana hatinya sedikit membaik.
“Maaf, aku tadi sangat sibuk. Sampai melupakan kamu.” Ucap Raffael.
“Nggak apa-apa. Ehm, Mas.. sebaiknya aku tidak usah mengirim kue lagi. aku nggak enak dengan karyawan Mas.” Ucap Jelita.
“Kenapa memangnya dengan mereka? Apa mereka mengganggu kamu?” tanya Raffael sembari menautkan kedua alisnya.
“Tidak. Bukan seperti itu. aku hanya ingin menjaga harga diri Mas Raffa saja. aku tidak ingin mereka berpikiran yang macam-macam tentang hubungan kita yang jelas-jelas berbeda kelas. Setiap hari Mas kan bisa bertemu aku meskipun tidak seperti sekarang ini.” Jawab Jelita memberikan pengertian pada calon suaminya.
Raffael bepikir sejenak. Memang ada benarnya yang diucapkan oleh Jelita. Meskipun yang ia tahu semua karyawannya tidak ikut campur urusan pribadinya, namun tidak sepantasnya juga Raffael masih meminta Jelita sebagai seorang pengantar kue. Walau maksud dan tujuannya bukan sebagai pekerja.
__ADS_1
“Baiklah. Mulai besok kamu tidak perlu lagi mengantar kue ke sini. Nanti aku akan meminta orang lain saja pada Tante Alin untuk mengantar pesanan selanjutnya.”
Jelita sangat lega mendengarnya. Setelah itu ia segera pamit kembali ke café. Apalagi sebentar lagi jam makan siang tiba. Namun tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dai luar.
Cklek
Seseorang yang baru saja masuk ke ruang kerja Raffael itu menunjukkan raut wajah tak ramahnya pada Jelita. Apalagi setelah mendengar kabar pertunangan mereka. Sania tidak terima. Dia yang sejak dulu menaruh hati pada Raffael. Bahkan rela menunggu bertahun-tahu sampai pria itu pulang. namun, kenyataannya justru Raffael memilih wanita lain yang baru saja ia kenal. Bahkan wanita itu adalah seorang single mother dan berbeda kelas dengan Raffael.
“Ada apa, Sania?” tanya Raffael saat melihat Sania sejak tadi diam dan menatap sinis pada Jelita.
“Aku ingin bicara dengan Kak Raffa.” Jawab Sania.
“Bicaralah!”
“Tapi aku hanya ingin kita bicara berdua saja. tanpa ada orang lain yang mendengarnya.” Seru Sania memberi penekanan.
Jelita yang merasa tidak diharapkan kehadirannya, dia pun sadar diri dan memilih segera pergi dari ruangan Raffael. Namun sayangnya, belum sempat ia beranjak, Raffael sudah mencekal tangannya.
Karena merasa sudah terpojok dengan tuduhan yang dilayangkan oleh Raffael. Sania memilih untuk tetap pada pendiriannya. Yaitu merebut hati Raffael dari wanita yang bernama Jelita.
“Ya, memang aku sudah mencari tahu tentang dia. Kenapa Kak Raffa tidak pernah melihatku? Sudah lama aku menunggu Kak Raffa. Tapi kenapa Kak Raffa justru dengan wanita seperti dia? Kak Raffa hanya dimanfaatkan oleh wanita itu. sadarlah, Kak! Aku mencintaimu dengan tulus.” Ujar Sania menggebu-gebu disertai deraian air mata dan juga tatapan kebencian yang tertuju pada Jelita.
“Sudah cukup bicaranya?” tanya Raffael dengan tenang. Sedangkan Jelita tampak merasa bersalah pada Sania. Namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Sania masih diam. namun tatapannya tak lepas dari Jelita. Sudah sejauh ini melangkah dan menunggu Raffael bisa melihat cintanya, dia tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan Raffael. Tak peduli walau kenyataannya Raffael sudah bertunangan dengan Jelita.
“Aku tidak akan pernah rela Kak Raffael dengan wanita murahan itu!” tunjuk Sania pada Jelita.
“Cukup, Sania! Silakan angkat kaki dari kantor ini sekarang juga. dan jangan harap kamu kembali lagi ke sini, ataupun berbuat macam-macam dengan Jelita. Atau kamu akan tahu akibatnya. Keluar!!” usir Raffael dengan geram.
__ADS_1
Sania mengusap air matanya. dia segera keluar dari ruangan Raffael dengan meninggalkan amarah yang masih memanas.
“Kamu jangan berpikir yang macam-macam. Sejak dulu aku tidak pernah ada hubungan apa-apa dengan dia.” Raffael mencoba menenangkan Jelita yang masih diam setelah kepergian Sania. Pasalnya hatinya saat ini dipenuhi oleh berbagai macam pikiran buruk. Apalagi Sania menyebutnya sebagai wanita murahan.
“Lebih baik aku balik ke Café sekarang juga.” jawab Jelita dan berlalu begitu saja.
Raffael hendak mengejar Jelita namun tiba-tiba ada panggilan dari Papanya. Alhasil dia membiarkan Jelita kembali ke Café.
Setelah menerima panggilan dari Papanya, Raffael menghubungi seseorang untuk mengikuti Jelita yang baru saja keluar dari kantornya. Raffael khawatir dengan Jelita. Apalagi setelah kedatangan Sania. Dia takut wanita itu nekat pada Jelita.
Raffael menghela nafasnya panjang. Sepertinya ia harus segera membicarakan pernikahannya dengan Jelita. Raffael harus secepatnya menikahi Jelita agar bisa terus berada di sisi wanita itu sekaligus menjaganya.
Raffael menutup laptopnya dan bersiap untuk pergi makan siang. Namun saat ia hendak keluar dari ruangannya, ada seseorang yang tiba-tiba menyerobot masuk ke ruangannya.
“Dasar! Sahabat nggak ada akhlak! Kenapa kamu bertunangan tidak memberi kabar padaku, hah? Apa kamu merasa aku saingi karena aku juga akan bertunangan?” tuduh Mario, sahabat Raffael yang baru datang dan tampak sangat kesal.
“Apa sih? Datang-datang sudah nggak jelas begini.” Jawab Raffael dengan wajah pura-pura tidak mengerti.
Mario hanya memutar bola matanya dengan malas mendengar jawaban Raffael. Pria yang baru saja pulang dari luar negeri itu tampak terkejut dengan kabar pertunangan Raffael yang dilakukan secara diam-diam. padahal Mario lah yang akan bertunangan lebih dulu. Namun sayangnya kepulangannya harus ditunda dulu. Sampai pada akhirnya Raffael yang lebih dulu bertunangan.
“Syukurlah kalau kamu sudah bertunangan. Setidaknya semua orang tahu kalau kamu laku juga.” ujar Mario akhirnya. Dan mendapat tatapan tajam dari Raffael.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!