Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 60


__ADS_3

Belasan jam selama di pesawat, Raffael berusaha mengambil hati istrinya yang sejak berangkat tadi sudah mode hening. Beruntungnya Jelita bukan tipe orang yang pendendam dan mudah untuk memaafkan. Akhirnya perlahan hatinya mencair dengan perlakuan-perlakuan lembut suaminya.


“Mas, kalu kamu selalu bersikap seperti itu pada Mario, itu artinya kamu memang menganggap dia ingin mendekatiku. Dan kamu berusaha untuk selalu menunjukkan cintamu di hadapannya.” ucap Jelita yang kali ini sudah bisa berbicara santai.


“Lagi pula kalian juga sahabatan sudah lama, meskipun diantara aku dan dia pernah ada kejadian kelam, setidaknya kamu bisa kembali bersikap seperti sedia kala dengannya. aku sudah melawan rasa traumaku dengan berdamai dengan masa laluku. Namun, jika kamu kamu masih berpikiran buruk dengannya, itu sama tidak memberi solusi atas masalahku. Jadi kumohon, kamu juga harus bisa berdamai dengan masa laluku, Mas!”


Raffael menghembuskan nafasnya pelan sambil menatap mata istrinya. Memang ada benarnya juga yang dikatakan oleh istrinya baru saja. justru kalau ia selalu ingin menunjukkan rasa cintanya terhadap Mario, bisa jadi akan membuat pria itu murka dan terus berusaha mendekati Jelita.


“Baiklah.” Jawab Raffael singkat dan membuat perasaan Jelita lega.


***


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di bandara. Raffael mengajak istri dan anaknya istirahat sejenak mengisi peut mereka atau sekadar ngopi di salah satu café yang ada di bandara.


Ethan yang baru pertama kalinya melakukan perjalanan jauh, Jelita sangat bersyukur karena anaknya sama sekali tidak rewel. Justru kini bocah tiga tahun itu sangat antusias saat pertama kali sampai di bandara.


“Nanti kita tinggal di rumah Grandpa ya? Jadi selama aku pergi ke perusahaan, kamu bisa bersantai di sana bersama Ethan.” Ucap Raffael memberitahu istrinya.


“Iya, Mas. Apa di sana tidak ada orang lain yang tinggal?”


“Tidak. Hanya orang-orang Papa saja yang tinggal di sana untuk membersihkan rumah.”


Setelah beristirahat sejenak, Raffael segera pergi menuju kediaman mendiang Grandpanya. Kebetulan mereka sudah ada yang menjemput, jadi tidak perlu naik taksi lagi.


Tanpa mereka sadari, ternyata sejak tadi ada seseorang yang melihat kebersamaan Raffael dengan istri anaknya. orang itu mengepalkan kuat tangannya. dadanya bergemuruh penuh emosi melihat kemesraan Raffael bersama istrinya.


“Kamu tidak pernah tau bagaimana perjuanganku selama ini untuk mengambil hati Kak Raffa. Tapi kini dengan mudahnya kamu bisa menjadi istri Kak Raffa. Dasar wanita tak tahu malu!” gumamnya dengan mata memerah.


***

__ADS_1


Sesampainya di rumah mendiang kakek Raffael, Jelita dibuat takjub dengan rumah megah itu. memang dia tahu kalau suaminya adalah konglomerat, namun dengan melihat kemewahan rumah akan dihuni beberapa waktu ke depan ini membuat Jelita seperti berada di negeri dongeng.


“Ayo Sayang!” Ajak Raffael saat Jelita masih diam di tempat.


“Mas, apa benar ini rumah nyata? Bukan dalam mimpi?” tanya Jelita konyol.


Raffael hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Tanpa menjawab, dia langsung menari tangan istrinya sedangkan Ethan ada dalam gendongannya yang masih mengantuk.


Mereka sudah masuk ke dalam rumah. Jelita lagi-lagi dibuat melongo dengan isi rumah kakek Raffael. Apalagi mengingat dirinya yang hanya seorang rakyat jelata, rasanya tidak pantas dirinya berada di rumah megah ini.


“Sudah, jangan berpikir yang macam-macam! Lebih baik kita naik ke lantai atas untuk istirahat dulu.” Ajak Raffael seolah mengerti denga nisi hati istrinya.


Koper yang dibawa Raffael pun segera dibawa oleh maid yang bekerja di sana. Mereka juga bersikap ramah pada istri Raffael meskipun mereka belum dikenalkan langsung oleh Raffael tentang Jelita. Apalagi ada anak kecil yang turut ikut bersama majikannya.


Sesampainya di kamar, Raffael merebahkan Ethan di atas tempat tidur yang cukup luas itu. rupanya Ethan kembali tidur. Mungkin dia sedang jet lag karena ini penerbangan pertama kalinya. Sedangkan Jelita mengambil kopernya yang baru saja diberikan oleh maid, setelah itu dimasukkan ke dalam lemari.


“Sayang, jangan melakukan pekerjaan apapun! Lebih baik kamu istirahat saja. kamu pasti juga capek.” Sergah Raffael saat istrinya hendak memindahkan baju ke dalam lemari.


Raffael menunjukkan ruang ganti untuk istrinya. Dirinya juga mengambil baju ganti setelah itu akan ke ruang kerjanya sebentar. Namun rupanya itu hanya angan-angan semata, karena sesampainya di ruang tamu, ia melihat istrinya yang sedang berganti baju dengan posisi memunggunginya. Raffael menelan salivanya kasar saat melihat punggung istrinya dengan kulit yang begitu mulus.


Arghhhh!!!!


Pekik Jelita saat tiba-tiba ada yang mengecup punggungnya. Setelah itu ada sepasang lengan kokoh yang sudah melingkar di perutnya.


“Mas!” ucapnya lirih dengan darah yang sudah berdesir saat mendapatkan sentuhan dari suaminya.


“Harum sekali tubuhmu!” gumam Raffael masih menciumi punggung Jelita.


Jelita hanya menghembuskan nafasnya pelan saat suaminya masih melanjutkan aksinya. Apalagi kini tangan Raffael sudah berhasil menurunkan celana bahan milik istrinya. Dan kini hanya tinggal kain segitiga yang menutup bagian inti Jelita.

__ADS_1


Raffael memutar tubuh Jelita hingga kini mereka saling berhadapan. Mata Raffael langsung disuguhi pemandangan indah dari dua set berharga milik istrinya. Tanpa menunggu waktu lagi, Raffael segera merangkum bibir istrinya dengan lembut. Jelita pun membalas ciuman itu sambil mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


Puas dengan saling memagutt, Raffael kini turun ke bagian dada Jelita yang sejak tadi sudah menggodanya. Dua aset yang menggantung dan menantang itu tidak dibiarkan Raffael begitu saja. dengan menundukkan badannya, Raffael langsung menyerangnya secara bergatian. Dengan salah satu tangan yang sibuk memberikan sentuhan lembut pada inti Jelita.


Jelita selalu dibuat berdebar dengan sentuhan yang diberikan oleh suaminya. sentuhan yang selalu memabukkan dan jujur, membuatnya candu. Hanya saja, ia sebagai wanita dan masih tergolong pengantin baru, sangat malu jika ia yang memintanya lebih dulu.


Kedua insan yang sama-sama sudah terbakar gairrah itu tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Raffael melepas bajunya sendiri dengan cepat. Setelah itu ia menarik tirai yang hingga di sana tampak sebuah cermin besar. Jelita memang tidak tahu, jadi ia tadi berganti baju tanpa membuka tirai itu.


Jelita sangat malu saat tubuh polosnya terkihat di depan cermin yang besar itu. tapi tidak dengan Raffael. Pria itu justru sangat menikmati permainannya dengan menghadap ke arah cermin. Kembali memberikan ranggsangan pada tubuh istrinya.


“Mas!” lirih Jelita tertahan sambil menahan gerakan tangan suaminya yang sedang mengobrak-abrik intinya dengan lembut.


Raffael sama sekali tidak peduli. Dia menyingkirkan tangan istrinya dan kembali melanjutkan kegiatannya. Apalagi kini salah satu tangannya naik ke atas memberikan sentuhan pada salah satu aset Jelita.


Suara indah Jelita pun keluar begitu saja. dan semakin membuat darah Raffael berdesir hebat. Pria itu sebenarnya sudah tidak sabar, namun ia memilih untuk memberikan kenikmatan dulu pada istrinya. Apalagi ia bisa melihat langsung wajah istrinya melalui pantulan cermin di depannya.


“Apa kamu menyukainya, Sayang?” bisik Raffael dengan menjilat daun telinga istrinya.


Jelita tidak sanggup menjawab pertanyaan suaminya dengan kata-kata. Hanya dengan anggukan kepala sudah cukup membuat Raffael tersenyum puas.


“Aku.. tidak tah,-“


Bundaaaaaa!!!!!


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2