Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 82


__ADS_3

Jelita tidak menyangka jika Mario akan datang ke sini. dengan demikian, pria itu jelas sudah tahu kalau rumah tangganya dengan Raffael sudah kandas.


Jelita tidak bisa mengusir Mario begitu saja. apalagi tujuan utama pria itu datang karena Ethan. Jadi, ia membiarkan saja Mario menikmati waktunya bersama Ethan.


Jelita memilih menjauh dari Mario yang saat ini sedang bermain bersama Ethan. Wanita itu masih sibuk menata hatinya setelah berpisah dari Raffael. Tidak ingin memikirkan jalinan asmara dengan siapapun lagi, Jelita ingin fokus pada Ethan dan janin dalam kandungannya ini.


Rupanya Mario cukup lama berada di rumah Jelita untuk melepas rindunya dengan Ethan. Setelah itu ia berpamitan pulang pada Jelita, walau sebenarnya sangat berat.


Mario sebenarnya ingin bertanya banyak hal tentang kandasnya hubungan Jelita dan Raffael. Tapi dia tidak sampai hati saat melihat Jelita yang sejak tadi cenderung diam dan menghindarinya.


“Aku sungguh terkejut dengan kabar perceraian kamu Jelita. Aku berharap kamu mempunyai hati yang lapang dalam menghadapi masalah ini.”


“Terima kasih.” Jawab Jelita singkat. Dia tidak ingin terlalu lama berinteraksi dengan Mario. Apalagi proses perceraiannya belum selesai.


“Aku pamit pulang dulu. Mungkin setelah ini aku akan sering datang ke sini untuk bertemu dengan Ethan.”


“Tidak perlu. Tolong jangan sering datang ke sini. aku tidak ingin benyak orang berasumsi buruk tentangku.”


Mario bisa melihat kesedihan yang begitu mendalam dari sorot mata Jelita. Ingin sekali menarik wanita itu ke dalam pelukannya, namun dia tidak punya banyak nyali.


“Maaf. Tapi bolehkah aku sering datang ke sini jika nanti urusan kamu dengan Raffa selesai?” tanya Mario seolah meminta kesempatan pada Jelita untuk lebih dekat dengan wanita itu.


Jelita tidak menjawabnya. Hatinya masih terlalu sakit jika membahas sebuah hubungan. Dia cukup peka dengan apa maksud ucapan Mario baru saja. bukan dia ingin menjauhkan Ethan dari Papa kandungnya. Hanya saja rasanya tidak etis jika nanti ia menerima kehadiran Mario. Apalagi saat ini dirinya tengah mengandung anak Raffael. Seolah keadaan tengah berbalik saja. jika dulu Raffael menikahinya dan bertanggung jawab atas Ethan yang notebene anak Mario. Dan sekarang Mario berusaha mendekatinya dan bisa saja pria itu mau bertanggung jawab atas anak yang sedang dikandungnya adalah anak Raffael.


“Hati-hati di jalan! Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk Ethan.” Pungkas Jelita tanpa menanggapi pertanyaan Mario baru saja.


***


Tanpa terasa sudah satu bulan Jelita tinggal di rumah Ibunya. Dan selama itu pula dia menjalani kehamilannya dengan sangat baik. Janin itu sangat pengertian dengan ibunya yang hanya seorang diri merawatnya. Meskipun begitu hati Jelita masih menyisakan rasa sakit atas perpisahannya dengan Raffael.


Hari ini Jelita akan pergi ke makam Ibu dan Ayahnya bersama Ethan. Hampir setiap seminggu sekali Jelita akan datang ke makam orang tuanya. Tentu saja Ethan yang selalu setia menemaninya.


Jarak tempat pemakaman dengan rumah Jelita tidak begitu jauh. Jadi Jelita dan Ethan akan pergi ke sana hanya dengan jalan kaki. Namun saat Jelita baru saja keluar dari rumah dan hendak mengunci pintunya, ada seorang kurir datang dengan membawa sebuah surat untuk Jelita.


“Terima kasih, Pak!” ucap Jelita tanpa melihat dulu isi amplop itu.

__ADS_1


Jelita melihat alamat pengirim surat itu ternyata dari pengadilan agama. Tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja. tanpa membuka amplop itu dan membaca isinya, dia sudah tahu kalau itu pasti surat gugatan cerai dari Raffael. Jelita menyimpan surat itu, kemudian ia melanjutkan tujuannya pergi ke makam orang tuanya.


***


Sementara itu Raffael sudah bertekat ingin segera menyelesaikan perceraiannya dengan Jelita. Dan baru hari ini pihak pengadilan agama memberikan surat kepada mantan istrinya untuk datang menghadiri sidang perceraiannya nanti di tahap awal yaitu mediasi.


Raffael berharap mantan istrinya bisa bersikap kooperatif untuk segera menyelesaikan urusan perceraiannya nanti. apalagi saat itu Jelita juga sudah menerima keputusannya. Meskipun hatinya masih sakit atas penghianatan yang dilakukan oleh Jelita, Raffael berharap dengan melakukan mediasi nanti antara dirinya dan Jelita bisa sepakat mengakhiri hubungannya dengan baik-baik.


Abi yang mengetahui dari Raffael kalau hari ini pihak pengadilan agama sudah memberikan surat gugatannya pada Jelita sekaligus mengharap kedatangan Jelita untuk sidang, wanita itu benar-benar marah pada Raffael.


“Ma, tolong hargai keputusan Raffa! Ini pilihan hidup Raffa.”


“Pilihan kamu bilang? Kamu lupa bagaimana dulu usaha kerasmu saat mendapatkan Jelita. Apa kamu sudah yakin atas tuduhan yang kamu berikan pada Jelita tentang perselingkuhan itu? bahkan sampai saat ini kamu tidak berusaha mencari kebenaran itu. kamu hanya menilai dari apa yang kamu lihat.”


“Raffa melihat dengan mata kepala Raffa sendiri, Ma kalau saat itu dia bersama Omnya di dalam kamar. apa yang mereka berdua lakukan jika di rumah tampak sepi, dan hanya mereka saja. apalagi dia hanya memakai handuk dan dipeluk oleh pria berengsek itu.”


“Belum tentu yang kamu lihat itu benar, Raff! Apa kamu tahu bagaimana keadaan Jelita saat itu. dia sedang meng,-hmmmp”


Reno segera membungkam mulu istrinya saat Abi hampir keceplosan akan mengatakan kalau Jelita sedang hamil. Reno memang marah pada Raffael. Tapi dia masih mempertahankan cucu yang sedang dikandung oleh Jelita. Jadi pria itu membiarkan apa saja yang akan dilakukan oleh anaknya. biarkan Raffael menyesali perbuatannya.


Dan di sini lah Abi dan Reno berada. Di dalam kamarnya. Abi masih terlihat emosi dengan Raffael. Namun suaminya terus menenangkannya.


“Raffa benar-benar mirip kamu, Mas.” Gerutu Abi dengan kesal.


“Kenapa aku diikut-ikutkan sih, Sayang? Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan aku.”


“Iya. sifat keras kepalanya sama kayak kamu dulu. Lihat saja, pasti dia nanti akan menyesali perbuatannya, sama seperti kamu dulu.”


Reno hanya menggaruk kepalanya. Karena yang diucapkan oleh istrinya benar. Tapi dia juga tidak memiliki solusi. Apalagi teringat dengan ancaman Jelita yang akan memggugurkan kandungannya. Dia hanya bisa berharap mata hati Raffael terbuka dan segera meminta maaf pada Jelita lalu mencabut gugatan perceraiannya.


“Aku ingin bertemu dengan Jelita dan cucuku. Cepat luangkan waktumu di kantor agar kita bisa pergi ke rumah Jelita. Aku juga ingin meminta maaf pada Bu Sukma.” Ucap Abi.


“Baik. Aku akan segera mengosongkan beberapa jadwal meeting. Lebih cepat lebih baik kita pergi ke sana.”


Tiga hari setelah pertengkaran Abi dan Raffael. Hari ini Abi dan Reno akhirnya bisa pergi ke rumah Jelita. Jujur saja Abi sangat rindu dengan Jelita dan juga Ethan. Tentu saja pada calon cucunya juga.

__ADS_1


Kepergian Abi dan Reno ke rumah Jelita secara sembunyi-sembunyi. Dia tidak memberitahu pada Raffael juga Livy.


***


Setelah menempuh perjalanan udara, kini Abi dan Reno sudah tiba di depan rumah Jelita, setelah taksi yang ditumpanginya mengantar dengan selamat sampai tujuan.


Namun Abi melihat rumah itu sangat sepi. Bahkan rumah itu seperti tidak berpenghuni.


“Coba kita ketuk dulu. Mungkin Ethan sedang tidur.” Saran Reno.


Abi mengangguk. Setelah itu mengetuk pintu rumah itu beberapa kali. Dan tidak ada yang membukanya. Nomor ponsel Jelita juga sudah tidak bisa dihubungi lagi. seketika itu pikiran buruk datang.


“Permisi Tuan, Nyonya! Mau mencari Lita?” tanya seseorang yang tak merupakan tetangga Jelita.


“Iya, Bu. Jelita dimana ya?” jawab Abi.


“Lita sudah tidak tinggal di sini lagi, Nyonya.”


“Maksudnya? Lalu tinggal dimana? Sejak kapan?” kali ini Reno yang bertanya.


“Saya kurang tahu. Setahu saya dua hari yang lalu dia pergi bersama Omnya.”


“Sama Ibunya juga?” Tanya Abi yang masih penasaran.


“Tidak. Lita sama anaknya saja. karena Bu Sukma sudah meninggal sekitar dua bulan yang lalu.”


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2