Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 63


__ADS_3

Raffael yang masih mengenakan setelan kerjanya kembali lagi keluar rumah dengan mamacu kendaraannya entah kemana pria itu akan pergi. Meskipun kejadian tadi tidak seenuhnya salah Jelita, Raffael sudah terlanjur marah. Khususnya Mario.


Raffael sangat takut jika Mario semakin lama semakin jatuh cinta dengan Jelita. Apalagi dengan alasan-alasan berbau dengan Ethan.


Sedari awal alasan Raffael melakukan perjalanan bisnisnya ke luar negeri dengan mengajak serta istri dan anaknya salah satunya adalah ingin menghindari Mario agar tidak terlalu sering berkomunikasi dengan istrinya. Dia juga memperbolehkan Mario bicara dengan Ethan melalui ponselnya. Namun karena akhir-akhir ini dirinya sangat sibuk, hingga mengabaikan panggilan video Mario, Raffael tidak menyangka kalau Mario akan menggunakan car aitu. Meminta bantuan Mamanya untuk melakukan panggilan video dengan Ethan melalui ponsel Jelita.


Kini Raffael sudah tiba di sebuah café yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Café itu memang sering ia kunjungi sewaktu masih tingga di negara ini dulu. Setidaknya dengan menghabiskan waktunya untuk menikmati kopi yang disajikan di café itu bisa membuat pikiran Raffael sedikit lebih fresh.


Raffael sengaja menon aktifkan ponselnya saat melihat banyak sekali panggilan dari istrinya. Kalau suasana hatinya masih tidak baik seperti ini, lebih baik ia menghindari Jelita dulu, daripada membuat wanita itu semakin ikut dibuat kecewa.


“Kak Raffa!”


Raffael yang sedang menikmati kopinya sangat terkejut saat mendengar suara seorang perempuan yang tidak asing di telinganya.


“Sania? Kenapa kamu bisa ada di sini?”


“Boleh aku duduk, Kak?” tanya Sania mengabaikan pertanyaan Raffael. Bahkan belum dipersilakan Raffael, Sania langsung duduk di hadapan Raffael. Kemudian memesan minuman yang sama dengan Raffael.


Raffael benar-benar tidak menyangka kalau akan bertemu dengan Sania di negara ini. dia baru ingat kalau Papa Sania juga mempunyai perusahaan di negara ini. karena dia ingat dulu pernah bekerjasama dengan Papa Sania.


“Kak Raffa sendirian?” tanya Sania basa-basi.


“Hemm” Raffael menjawabnya dengan malas.


“Aku senang bisa bertemu dengan Kak Raffa lagi di sini.” ucap Sania dengan antusias. Dia merasa memiliki kesempatan untuk berdua dengan Raffael. Meskipun beberapa waktu yang lalu ia sempat melihat kedatangan Raffael ke negara ini tidak sendirian, melainkan bersama istri dan anak tirinya.


“Kamu lupa kalau aku sudah menikah?”

__ADS_1


“Aku ingat kok, Kak. Memangnya aku nggak boleh dekat dengan Kak Raffa lagi? bukankah Kak Raffa sejak dulu menganggapku sebagai adik?”


Raffael terdiam mendengar ucapan Sania. Karena memang itu benar. Meskipun ia sudah tahu sejak dulu kalau Sania ingin dekat dengannya, namun dia selalu menolak dan menganggap Sania seperti Livy. Tapi dengan memberi kesempatan pada perempuan itu untuk dekat dengannya, walaupun dianggap sebagai adik, sepertinya bukan solusi yag baik. Apalagi kini dirinya sedang marahan dengan Jelita. Justru akan semakin membuat hubungannya dengan sang istri akan bertambah runyam.


“Ya, Kamu benar. Tapi dengan menganggap kamu saama seperti adikku, bukan berarrti aku mengijinkanmu dekat denganku. Lebih baik kamu fokus dengan pekerjaan kamu saja, dari mengurusi hal yang tidak penting seperti ini. bukankah Frans itu kakak kamu? Kenapa harus bersusah payah ingin dianggap sebagai adikku kalau kamu punya kakak sendiri. Meskipun kakak tiri.” Jawaban Raffael cukup menohok hati Sania.


Raffael segera menghabiskan kopinya lalu pergi meninggalkan Sania yang masih terlihat marah. Dia juga tidak peduli kalau Sania tidak terima dengan ucapannya baru saja. memang dari awal Raffael kurang begitu suka dengan Sania.


***


Semantara itu Jelita sejak tadi menunggu kepulangan suaminya. sudah jam sepuluh malam Raffael belum pulang semenjak kepergiannya sore tadi. apalagi ponselnya dalam keadaan tidak aktif. Jelita pun semakin dibuat khawatir, jika terjadi sesuatu dengan suaminya.


Ethan sejak tadi juga mencari keberadaan ayahnya. Pasalnya bocah itu tadi sempat melihat ayahnya yang baru pulang dari kantor, namun sudah tidak terlihat lagi di rumah. sampai selesai makan malam Ethan terus menangis mencari Raffael. Mungkin karena kelelahan, akhirnya bocah itu tertidur. Lalu ia memindahkan Ethan ke kamar sebelah yang kini khusus menjadi kamar Ehan.


Jelita kini sibuk dengan ponselnya sambil menunggu kepulangan suaminya. entah apa yang di acari dalam browser ponselnya itu. tapi sepertinya tidak menemukan sesuatu yang dia cari. Terlihat dari rekasi wajah Jelita dengan kening berkerut, gelengan kepala, dan wajahnya juga memperlihatkan seperti orang yang sedang ketakutan.


Jelita ternyata sejak tadi mencari solusi untuk meminta maaf pada suami yang sedang marah akibat kesalahan yang tidak sengaja dilakukan oleh istri. Dan kebanyakan dari hasil pencariannya menunjukkan dengan cara memberi kepuasan di atas ranjang.


Jelita jelas takut sekaligus malu jika harus melakukan car aitu. Tapi memang di sana tidak ada cara lain yang lebih ampuh. Bukankah dia sendiri pernah bilang pada Raffael kalau hanya sekadar minta maaf, semua orang bisa melakukan itu. tapi belum tentu besok tidak melakukan kesalahan lagi, dan meminta maaf lagi.


Kini Jelita merasa kalau ucapannya dulu kembali padanya. Sungguh dia tidak mempunyai nyali yang cukup kuat jika harus menawarkan diri pada suaminya. iya kalau suaminya itu tergoda. Kalau tidak? Bisa malu dua kali dia.


Jelita tampak gusar. Dia juga tidak bisa tidur sejak tadi. kalaupun ditinggal tidur tanpa menunggu Raffael pulang, belum tentu suaminya sudah tidak marah lagi keesokan harinya.


“Apa aku harus melakukan car aitu?” gumamnya lagi dengan bimbang.


Jelita berjalan menuju lemari pakaian. Di sana berjejer banyak pakaian miliknya. Bahkan gaun dinas malam juga ada di sana. Karena kemarin Raffael meminta salah satu maid untuk membelikan baju istrinya, termasuk baju dinas malam.

__ADS_1


Jelita mengambil salah satu baju yang dikenal dengan sebutan lingerie. Dia menelan salivanya kasar saat melihat bahan baju yang super tipis itu. bahkan kalau dipakai, dua aset dan intinya akan terlihat jelas. Jelita sempat berpikir, buat apa diciptakan baju seperti itu kalau pada kenyataannya sesuatu yang ditutupi tetap terlihat dengan jelas. Apa bedanya dengan telanj_jang?


Tapi memang dari situs pencariannya tadi menjelaskan kalau dengan memakain lingerie, suami pasti akan lebih tergoda daripada langsung telanj_jang bulat. Mungkin letak seninya di situ. Wkwkwkw… (Kalau reader bagaimana? Wkwkwk)


Tidak ada solusi yang paling jitu selain menggunakan car aitu. Akhirnya Jelita memutuskan untuk memakai baju dinas malam berwarna maroon. Dia segera menukar pakaian tidurnya dengan lingerie, dan bersiap menyambut kedatangan suaminya. biar saja Raffael menolaknya ataupun menertawakannya. Yang penting berusaha dulu. Bukankah usaha tidak akan menghianati hasil?


Jelita sudah mengenakan pakaian dinas malamnya. Kemudian ia menuju balkon untuk melihat apakah suaminya sudah pulang apa belum. Karena dari balkon ia bisa melihat ke arah pintu gerbang.


Benar saja. mobil Raffael sudah memasuki halaman rumah. Jelita semakin dibuat senam jantung karena sebentar lagi pasti suaminya akan masuk ke kamar. dia segera meraih kimono untuk menutupi tubuhnya yanga hanya terbalut oleh lingerie.


Cklek


Raffael masuk ke dalam kamar. dia melihat istrinya sedang duduk di bibir ranjang seperti menunggu kepulangannya.


“Mas, kenapa baru pulang?”


Raffael hanya meliriknya sekilas lalu masuk ke ruang ganti. Pria itu sepertinya masih kesal dengan istrinya.


Jelita pun mengikuti Raffael yang masuk ke ruang ganti. Mungkin dengan melakukan di sana seperti tempo hari akan memberikan sensasi yang berbeda. Apalagi waktu itu belum selesai.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2