
Setelah kepulangan Chiko dan Chelsea, Reno menghubungi Raffael yang saat ini sedang berada di luar kota. Tepatnya di kampung halaman Jelita. Memang sejak tadi, baik Reno maupun Abi belum sempat bertanya kabar pada tentang pencarian Raffael terhadap Jelita.
Panggilan Reno dan Raffael tersambung. Abi yang duduk sambil menguping pembicaraan suami dan anaknya itu ikut merasa lega setelah Raffael mengatakan kalau sudah berhasil menemukan Jelita. Hanya saja saat ini Raffael sedang berada di hotel. Karena Arvin tadi tidak memperbolehkan Raffael menginap di sana.
Reno mengatakan pada anaknya kalau baru saja kedua orang tua Mario datang. Reno mengatakan semuanya. Tentang maksud kedatangan Chiko dan istrinya tadi. hal itu membuat Raffael semakin meradang. Sampai kapanpun juga ia tidak akan membiarkan Mario mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap calon istrinya.
“Pa, bisakah besok Papa dan Mama datang ke sini?” tanya Raffael tiba-tiba.
Abi yang sejak tadi diam dan lebih memilih menjadi pendengar setia, ia mengerutkan kening dan saling tatap dengan suaminya. apa maksud Raffaek memintanya datang ke kampung halaman Jelita. Kalau sudah bertemu dengan wanita itu, kenapa tidak membawanya pulang saja.
“Memangnya kenapa Papa harus pergi ke sana, Raff?”
“Raffa akan melangsungkan pernikahan Raffa dengan Jelita besok, Pa. dan lebih baik segera dilaksanakan di sini. apalagi Jelita saat ini tinggal di rumah Omnya. Raffa tidak ingin terjadi hal buruk lagi, Pa.”
Reno terdiam sesaat. Dia pikir keputusan Raffael tidak ada salahnya juga. justru dia sangat salut dengan anak laki-lakinya itu yang sangat gentle dan berani mengambil keputusan. Lalu ia melirik istrinya untuk meminta pendapat. Abi menjawabnya dengan anggukan samar dan seulas senyum bahagia.
“Baiklah. Papa dan Mama akan datang ke sana besok.” Jawab Reno.
***
Sementara itu Jelita saat ini sedang duduk di tepi kolam renang yang berada di halaman belakang rumah Arvin. Ethan sudah tidur sejak tadi. bocah itu kelelahan bermain dengan Raffael.
“Kenapa tidak tidur?” tanya seseorang yang cukup mengagetkan Jelita yang sedang melamun.
“Om? Aku belum ngantuk. Om sendiri, kenapa belum tidur?” tanya Jelita sedikit canggung. Apalagi saat ini ia hanya memakai setelan tidur yang menurutnya tidak sopan jika sedang bersama orang lain. Jelita pikir tadi Omnya sudah tidur.
__ADS_1
“Kalau aku Sudah terbiasa tidur malam. tadi habis menyelesaikan pekerjaan saja. kok lihat kamu ada di sini.”
Jelita hanya mengangguk tanpa tahu harus bicara apalagi. Dia juga merasa tidak nyaman berada di posisi seperti ini dengan Omnya. Apalagi sudah malam dan suasana sangat sepi.
Jelita dan Arvin sama-sama diam. mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Terlebih Arvin setelah tahu keputusan Jelita yang akan tetap melanjutkan hubungannya dengan Raffael. Pria yang menjadi sahabat seseorang yang telah membuat hidup Jelita hancur.
“Lita, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Arvin memecah keheningan.
“Apa, Om?”
“Apa kamu sudah yakin akan menikah dengan dia? Apa kamu mencintainya?”
Jelita terdiam seketika setelah mendapat pertanyaan itu. dia yang sangat awam dengan urusan percintaan, sama sekali tidak tahu harus menjawab apa. Lagi-lagi senjatanya hanya Ethan.
Arvin diam mendengarnya. Setelah itu memandangi wajah cantik Jelita dari samping. Entahlah, pria itu juga merasa aneh dengan hatinya saat berada di dekat Jelita.
“Kalau hanya Ethan tujuanmu. Aku bisa menjadi ayah Ethan.” Ucap Arvin cukup mengejutkan Jelita.
“Maksudku, Ethan bisa menganggapku sebagai ayah. Untuk apa kamu melakukan semuanya demi Ethan tapi hati dan perasaan kamu tidak bahagia. Sekali-kali egois itu perlu, Lita.”
Jelita sama sekali tidak mengerti dengan arah pembicaraan pria yang panggil Om itu. mungkin ada benarnya juga kalimat terakhir Arvin kalau sikap egois itu sesekali diperlukan. Tapi dia yakin, suatu saat nanti bisa mencintai Raffael. Walau tujuan awalnya memang untuk kebahagiaan Ethan. Dan semua ini hanya perkara waktu saja.
“Lita masuk dulu, Om. Takut Ethan terbangun.” Pungkas Jelita tanpa menanggapi ucapan Arvi yang terakhir tadi.
Jelita berlalu begitu saja. namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat Arvin mencekal pergelangan tangannya. Arvi sudah berdiri tepat di sampingnya.
__ADS_1
“Kamu bisa pertimbangkan ucapanku tadi. kita juga sudah lama kenal. Beda dengan kamu dan pria itu. aku hanya tidak ingin kamu menderita lagi, Jelita. Apalagi calon suamimu itu masih ada hubungan dengan orang yang selama ini membuat hidupmu menderita.”
Setelah mengatakan itu, Arvin masuk lebih dulu ke dalam rumahnya. Meninggalkan Jelita yang masih diam terpaku. Lebih tepatnya terkejut dengan kaliamat yang keluar dari mulut Omnya. Bahkan di benak Jelita sempat terpikir hal yang tidak mungkin. Tapi ia segera menepisnya. Dan segera masuk ke rumah. menemani Ethan tidur.
***
Pagi harinya Raffael sudah tiba di rumah Arvin. Hari ini ia berencana akan mengajak Jelita mempersiapkan pernikahan dadakannya. Namun saat bertemu dengan Arvin, Raffael sangat heran dengan tatapan pria itu. namun Raffael tidak terlalu mempedulikannya.
Jelita sangat terkejut saat Raffael mengatakan akan melangsungkan pernikahan hari ini juga. Arvin pun ikut tekejut mendengarnya. Kebetulan memang mereka kini sedang berada di ruang tamu.
“Apa kamu akan menikah tanpa restu dari Ibu kamu, Lita?” tanya Arvin tiba-tiba.
Ucapan Arvin membuat Jelita teringat dengan masa lalunya. Bukan dia ingin melupakan Ibunya. Hanya saja luka itu masih terasa saat sang Ibu mengusirnya dan sudah tidak menganggapnya lagi sebagai anak.
“Aku akan bertemu dengan Ibu Jelita setelah kita resmi menikah, Om.”sahut Raffael dan berhasil membuat raut wajah Arvin kesal.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1