
“Jangan membahas itu dulu! Aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Aku akan sabar menunggumu. Sudah, lebih baik kita segera tidur.” Jawab Raffael tak ingin semakin membuat istrinya memikirkan hal berat. Biarlah dia akan sabar menanti hari itu tiba. Hari di mana Jelita menyerahkan dirinya dengan ikhlas sebagai seorang istri. Yang paling penting saat ini Raffael akan berusaha menyembuhkan trauma istrinya dulu.
Bukannya tidur, Jelita justru kini menghadap Raffael. Karena sebelumnya dia membelakangi suaminya. Raffael pun heran, kenapa istrinya tidak tidur dan justru menghadap ke arahnya. Karena dengan posisi seperti ini jujur membuat Raffael tersiksa. Ada sesuatu di bawah sana yang bergejolak dan berusaha mati-matian ia tahan sampai waktunya tiba.
“Apakah aku boleh memeluk Mas Raffa?” tanya Jelita dengan menatap intens mata suaminya.
“Tentu saja!” Raffael langsung menarik tubuh Jelita dan memeluknya dengan erat. Jelita juga membalas pelukan itu erat. Karena memang ia merasakan kanyamanan yang tidak pernah ia rasa sebelumnya saat memeluk Raffael seperti ini.
Jelita merasa aneh. Seperti ada yang bergerak-gerak di bawah sana. Padhal matanya hampir saja terpejam. Lalu ia mengurai pelan pelukannya. Berniat ingin bertanya pada suaminya. tapi sayangnya Raffael sudah lebih dulu menutup matanya. akhirnya Jelita mengurungkan niatnya itu dan kembali memeluk tubuh suaminya tanpa bersentuhan dengan sesuatu yang tiba-tiba saja tadi bergerak.
Sedangkan Raffael terpaksa pura-pura tidur sebelum Jelita menanyakan apa yang diarsakan oleh wanita itu. karena memang benar, senjata pamungkasnya sedang menggeliat seolah sedang mencari mangsanya.
***
Waktu berlalu. Semenjak kejadian malam itu, di mana Mario nekat datang menemui istrinya, semenjak saat itu pula Raffael melarang istrinya pergi tanpa ia damping. Termasuk rencana Jelita yang ingin kembali bekerja di café milik Bu Alin.
Raffael sudah memberitahu kepada Bu Alin kalau sementara waktu Jelita tidak bisa datang ke sana. Apalagi pekerjaan kantornya akhir-akhir ini sangat padat. dan beruntungnya wanita yang sudah seperti ibu kandung Jelita itu mengerti dengan kondisi Jelita.
Raffael memang sudah berencana membantu istrinya menyembuhkan rasa trauma itu. hanya saja dia tidak ingin langsung membawa istrinya pergi ke psikiater. Dia takut jika Jelita berpikiran buruk jika pergi ke sana. Karena semua orang pasti beranggapan jika pergi ke psikiater, tentu kondisi pisikis orang itu sedang tidak baik. Khawatirnya nanti Jelita merasa dirinya seperti orang gila yang butuh penanganan dari seorang psikiater.
Kebetulan Raffael mempunyai seorang teman ahli psikologi. Namun temannya itu masih berada di luar negeri. kemungkinan minggu depan baru pulang ke Indonesia. Jadi, Raffael akan mengajak istrinya bertemu dengan temannya itu untuk berkonsultasi dalam suasana yang lebih rileks.
__ADS_1
**
“Sayang, bagaimana kalau nanti malam kita pergi makan malam berdua?” ajak Raffael saat mereka berdua sedang berada di dalam kamar.
Jelita yang sedang membantu suaminya memakaikan dasi, sejenak menghentikan kegiatannya. Karena memang selama ini dia hanya terus berada di rumah mewah milik mertuaya. Namun hal itu tak membuat Jelita tertekan atau tidak nyaman.
“Lalu bagaimana dengan Ethan?”
“Ethan biar sama Mama atau Livy. Aku ingin kita menikmati waktu berdua saja. apa aku egois?”
Jelita mengulas senyum mendengar pertanyaan suaminya. setelah itu dia menggelengkan kepalanya sebagai respon.
“Ya sudah baiklah. Nanti malam kita pergi berdua.” Jawabnya dan membuat hati Raffael senang.
Malam pun tiba. Sesuai rencananya tadi pagi, kini Jelita sudah siap untuk pergi makan malam bersama suaminya. Raffael juga sudah memberitahu Mamanya kalau akan mengajak istrinya pergi makan malam di luar tanpa membawa Ethan. Abi pun mengerti. Karena selain makan malam, Raffael juga akan bertemu dengan temannya yang merupakan ahli psikolog itu.
“Ma, titip Ethan ya? Kalau dia nangis, Mama hubungi Mas Raffa saja.” pesan Jelita pada Abi sebelum pergi.
“Kamu tenang saja. Ethan tidak bakalan rewel. Apalagi Tantenya juga sudah siap menemani Ethan bermain. Kalau kalian mau bermalam juga Mama tidak masalah.” Seloroh Abi di akhir kalimatnya.
Wajah Jelita bersemu merah mendengar ucapan terakhir Mama mertuanya itu. dia tidak menampik kalau ucapan Abi bukan tanpa alasan. Sebagai seorang istri sekaligus pengantin baru, sampai saat ini Jelita belum bisa menjadi seorang istri yang seutuhnya untuk Raffael. Tentu saja alasannya karena trauma masa lalunya itu. hingga berdampak pada perasaannya terhadap Raffael masih terkesan abu-abu.
__ADS_1
Tak ingin membuat istrinya berpikiran yang macam-macam tentang gurauan Mamanya, Raffael pun segera menggamit lengan istrinya dan segera berangkat untuk pergi makan malam.
***
Raffael mengajak istrinya makan malam di sebuah restaurant yang cukup terkenal di pusat kota. Pria itu memilih tempat duduk yang nyaman dan masih bisa berbaur dengan pengunjung lainnya. Raffael sengaja tidak memilih ruangan VVIP agar istrinya tidak terlalu canggung jika hanya berduaan saja.
“Hai, Raff! Sorry aku telat datangnya!” ucap seorang wanita yang baru saja datang menghampiri meja Raffael dan Jelita saat pelayan baru saja menyajikan pesanan makanan mereka.
Jelita seketika menundukkan kepalanya saat melihat seorang wanita asing yang tidak ia kenal langsung memeluk suaminya dan mencium pipi kanan dan kiri Raffael secara bergantian.
“Ok, nggak apa-apa. Duduk saja! sebentar aku pesankan makanan buat kamu.” Lanjut Raffael, lalu tangannya melambai memanggil pelayan. Bahkan dia sampai mengabaikan keberadaan istrinya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1