Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 45


__ADS_3

Tepat setelah mendengar ucapan terima kasih dari Mario, Raffael pun bergegas masuk ke ruang tamu. Dia tidak bisa membiarkan istrinya berduaan dengan Mario. Selain paham dengan kondisi Jelita yang masih sedikit shock dengan pertemuannya itu, Raffael juga cemburu. Khawatir jika Mario terlalu lama memanda Jelita, pria itu akan jatuh hati pada istrinya.


“Ehm!” Raffael berdeham memasuki ruang tamu. Seketika itu Mario mencelos. Padahal dia masih ingin berlama-lama berdua dengan Jelita. Walaupun hanya ngobrol santai. Tapi memang dia harus sadar dengan posisinya.


“Kapan aku bisa bertemu dengan Ethan?” tanya Mario tiba-tiba.


“Yang jelas tidak sekarang. yang penting istriku sudah memaafkanmu sudah lebih dari cukup. Kamu ingat bukan, apa yang dikatakan oleh Jelita tadi? jangan melewati batasan.” Sahut Raffael dengan suara datar.


Mario hanya menghembuskan nafasnya pelan. Ternyata sejak tadi Raffael menguping pembicaraannya dengan Jelita. Akhirnya ia hanya mengangguk samar dengan apa yang diucapkan oleh Raffael.


***


Setelah bertemu dengan Jelita, Mario langsung pulang ke rumahnya. Dia ingin memberitahu pada kedua orang tuanya mengenai pertemuannya baru saja dengan Jelita. Sebelumnya memang Mario tidak mengatakan apapun tentang hal ini. termasuk pertemuannya dengan Raffael beberapa waktu lalu.


Chiko dan Chelsea tentu senang mendengar kabar itu. meskipun tidak mungkin mengharapkan Mario bisa bersama Jelita. Karena selain Jelita sudah menjadi milik Raffael, tentunya Jelita pasti sangat mencintai suaminya. namun satu hal yang lebih membuat sepasang suami istri itu senang. Yaitu bisa bertemu dengan Ethan, cucunya.


“Mama harap kamu bisa memegang kata-kata Raffael dan Jelita, Mario. Jangan melewati batas!” ujar Chelesea mengingatkan anaknya.


“Iya, Ma. Mario paham kok.”


Chiko pun demikian. Dia tidak ingin lagi membuat hubungannya dengan keluarga Reno merenggang jika suatu saat nanti ada hal yang tidak diinginkan. Misalnya saja Mario jatuh cinta pada Jelita. Karena itu tidak mungkin dan tidak moleh terjadi.


“Mario sekarang merasa lebih lega, Ma, Pa. sekarang Mario hanya menunggu untuk diberi kesempatan bertemu Ethan. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anak kandungku, Ma.”


Pandangan Mario menerawang jauh membayangkan menggendong Ethan. Meskipun ia belum pernah melihat anaknya, tapi Mario yakin kalau Ethan adalah anak yang tampan dan tentunya sangat menggemaskan.


“Sabarlah! Mama dan Papa juga ingin bertemu dengan Ethan.” Sahut Chelsea yang sepemikiran dengan Mario.

__ADS_1


Sementara itu Jelita saat ini sedang berada di balkon kamarnya. Wanita itu merasakan hawa tenang dalam hatinya. Mungkin lebih tepatnya perasaan Jelita terasa plong setelah selama ini hidup dalam bayang-bayang masa kelamnya itu


Meskipun masih menyisakan rasa sesak saat bertemu dengan Mario tadi, namun perlahan rasa itu hilang. Memang benar yang diucapkan oleh Rachel. Berdamai dengan masa lalu itu ternyata memberikan efek yang luar biasa untuk hatinya.


“Kenapa, hem? Ada yang masih kamu takutkan?” tanya Raffael yang yang tiba-tiba sudah memeluk Jelita dari belakang.


“Mas?” Jelita sedikit terkejut dengan kedatangan suaminya.


“Tidak. Aku merasa lebih baik. Terima kasih. Terima kasih sudah banyak membantuku sejauh ini.” ucap Jelita dengan jujur.


“Jangan bilang seperti itu, Sayang! Aku melakukannya tulus karena aku sangat mencintaimu. Dan semua itu juga demi kebahagiaan kamu.”


Sungguh Jelita sangat terenyuh dnegan perkataan suaminya. Raffael ada pria baik. Dia sangat bersyukur bisa bertemu dengan Raffael. Walau awal pertemuannya dulu, pria itu bersikap seenakanya sendiri. Ternyata dibalik sikapnya yang seperti itu, Raffael memang ingin memperjuangkannya. Hanya saja saat itu dirinya masih sulit untuk membuka hatinya. Lantas, apakah sekarang Jelita sudah bisa membuka hatinya untuk Raffael.


“Apakah Ethan sudah pulang, Mas?” tanya Jelita mengalihkan perhatian. Jujur saja dengan posisi seperti ini membuat Jelita salah tingkah. Raffael selalu sukses membuat jantungnya berdebar.


“Ethan malam ini tidak pulang.” jawab Raffael dengan santai.


“Mama, Papa, dan Livy sekarang ada di Villa keluarga. Mereka bermalam di sana bersama Ethan.” Ucap Raffael dengan mengulas senyum tipis pada istrinya.


Jelita jelas tidak terima. Sejak tadi dia memikirkan Ethan yang tidak pulang-pulang. tapi sekarang justru suaminya bicara dengan santai kalau mertuanya membawa Ethan bermalam di Villa.


“Kenapa kamu baru bilang sekarang sih, Mas? Ya sudah, aku siap-siap dulu.” Ujar Jelita menahan kesal lalu berusaha lepas dari pelukan suaminya.


“Siap-siap kemana, Sayang? Ini sudah malam. perjalanan dari rumah ke Villa membutuhkan waktu tiga puluh menit lebih. Pasti Ethan juga sudah tidur.” Cegah Raffael dan tangannya masih merengkuh pinggang istrinya.


“Tap.. tapi, Mas. Bagaimana kalau Ethan nanti mal,-hmmp”

__ADS_1


Tiba-tiba saja Jelita merasa ada sesuatu yang kenyal dan basah menempel di bibirnya. matanya menatap intens mata Raffael tanpa jarak sejengkal pun. Degupan jantung Jelita pun semakin tak karuan. Apalagi sebelumnya ia sudah merasakan bibir manis suaminya. lantas, apakah malam ini mereka berdua akan mengulangi berciuman seperti waktu itu.


Raffael pun perlahan menyapukan lidahnya pada bibir Jelita yang masih terkatup. Meneroboskan lidahnya dengan pelan memasuki rongga mulut istrinya. Jelita pun membuka mulutnya dan membiarkan suaminya melakukan apa yang diinginkan, meskipun ia belum bisa membalasnya.


Ciuman itu semakin lama semakin menuntut. Bahkan Raffae sendiri bisa merasakan deru nafas Jelita yang sukses membuat sesuatu di bawah sana bergejolak. Namun tiba-tiba saja Jelita melepas ciumannya. Membuat hati Raffael sedikit kecewa.


“Maaf, Mas! Aku..aku.. belum,-“


“Ya sudah, lebih baik kita istirahat. Besok pagi kita akan jemput Ethan!” sahut Raffael menutupi kekecewaan hatinya.


Raffael berjalan lebih dulu masuk ke kamar. meninggalkan Jelita yang masih bingung dengan perasaannya sendiri.


“Apa kamu marah denganku, Mas?” tanya Jelita menghentikan langkah suaminya.


“Untuk apa aku marah? Aku akan sabar menanti hari itu.” ujar Raffael dengan tersenyum menatap istrinya.


“Maafkan aku, Mas! Bisakah kamu memberiku waktu?”


Raffael mengangguk. Lalu menggandeng tangan istrinya menuju tempat tidur.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


 


__ADS_2