
Cukup lama Jelita terisak dalam pelukan Raffael. Bibirnya juga tak henti-hentinya menggumamkan kata maaf pada suaminya yang sempat membuat kesalah pahaman. Raffael mengecupi pucuk kepala istrinya, kemudian mengurai pelukan itu dan mengusap air mata Jelita.
“Kumohon, jangan menangis lagi, Sayang! Aku sangat cemburu melihat Mario dekat dengan kalian seperti tadi. aku tidak bisa membayangkan jika dia merebut posisiku. Apalagi dia ayah kandung Ethan.” Tutur Raffael menurahkan isi hatinya.
Bukan tanpa alasan Raffael mengungkapkan ketakutannya akan kehilangan istrinya. Dia tahu kalau Mario batal melangsungkan pertunangannya dengan kekasihnya setelah bertemu dengan Jelita. Jelas hal itu membuatnya sangat takut jika Mario perlahan merebut hati Jelita dengan memanfaatkan Ethan.
Jelita menggelengkan kepalanya. Menyangkal semua pikiran buruk suaminya. meskipun ia tahu kalau Mario ayah biologis Ethan, tapi tak pernah sedikitpun ia menaruh hati pada pria yang telah menorehkan luka di masa lalunya itu. memaafkan bukan berarti memberikan kesempatan untuk dekat dan seenaknya sendiri.
“Aku harus bagaimana, Sayang? Katakan! Mario pasti akan bertemu dengan Ethan dengan alasan sebagai ayah biologis Ethan. Bahkan bisa saja dia memanfaatkan pertemuannya dengan Ethan agar bisa berinteraksi dengan kamu.” Ucap Raffael yang semakin gundah.
“Permaianan macam apa ini?” kesalnya lalu duduk di bibir ranjang sambil memijit keningnya.
Baru saja Raffael merasakan bahagia atas kesembuhan istrinya dari trauma masa lalunya. Kini datang lagi masalah baru yang seakan mengancam hubungannya dengan sang istri. Apa lebih baik dulu dia tidak menyembuhkan istrinya saja dari trauma itu agar bisa mengurung wanitanya tanpa bisa bertemu dnegan pria manapun.
“Mas, kumohon jangan mempunyai pikiran buruk seperti itu. percayalah, aku sangat mencintaimu. Kamu adalah pria pertama di hati ini sekaligus pria terakhir yang akan menemani masa tuaku kelak.” Ujar Jelita meyakinkan suaminya yang tampak sangat gundah.
Jelita merangkum wajah suaminya agar menatap matanya dalam. Menatap cinta yang ada di balik sorot bening yang menyejukkan itu. setelah itu Jelita mendaratkan kecupan yang cukup lama di bibir suaminya. kecupan yang seolah menyiratkan betapa besar cintanya terhadap Raffael yang selama ini telah memperjuangkannya.
Kedua pasang mata itu sama-sama terpejam. Menyelami perasaan masing-masing dengan bibir yang masih menempel. Tidak ada lagi kegundahan dalam hati Raffael maupun Jelita. Mereka menyadari kalau memang cinta mereka sama-sama besar, dan tentunya takut kehilangan satu sama lain.
“Apa kamu percaya, Mas?” tanya Jelita setelah melepas kecupannya.
“Maafkan aku, Sayang. Aku percaya. Aku juga sangat mencintaimu.” Jawab Raffael dengan perasaan yang sudah lebih baik.
Tak lama kemudian Raffael menarik tubuh istrinya hingga Jelita terduduk di pangkuan pria itu. Jelita seketika menjadi salah tingkah dan jantungnya berdegup kencang. Meskipun keduanya sudah melebur jadi satu, tidak dapat dipungkiri kalau dalam posisi seperti ini membuat Jelita tak karuan.
“Kenapa wajah kamu memerah begitu, hem?” tanya Raffael sengaja menggoda.
“Ngg..nggak, kok. Jangan seperti ini, Mas! Lebih baik mau segera mandi. airnya pasti sudah dingin.” Elak Jelita dan beringsut bangun dari pangkuan suaminya.
__ADS_1
Namun sayangnya Raffael tidak mengijinkan Jelita berdiri. Ia masih menahan istrinya yang semakin bergerak resah dan justru membuat sesuatu di bawa sana terusik dan menggeliat.
“Bukannya kamu juga belum mandi, Sayang? Lebih baik kita mandi bersama!” ucap Raffael sambil tersenyum penuh arti.
“Mas Raffa saja dulu yang mandi. aku akan memandikan Ethan duluu,- hmmppp“
Ucapan Jelita menguap begitu saja saat Raffael langsung membungkam bibirnya sambil menggendonganya menuju kamar mandi. Jelita pun hanya bisa pasrah. bahkan ia sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya di dalam kamar mandi setelah ini.
Benar saja. selama satu jam setengah, Raffael dan Jelita baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang sama-sama basah. Meskipun setelah pergumukan panasnya di dalam kamar mandi cukup menguras tenaga, namun Jelita tetap melayani suaminya dengan baik.
Jelita menghampiri Raffael yang sedang duduk di depan meja rias. Lalu ia mengambil alih kegiatan suaminya yang sedang mengeringkan rambutnya.
“Sayang, aku bisa sendiri.” Tolak Raffael.
“Biarkan aku yang melakukannya, Mas! Sebagai seorang istri bukannya harus melakukan apa saja demi mengambil hati suaminya dan membuatnya semakin mencintai istrinya?” jawab Jelita dengan senyum tipis dan tangan bergerak lincah mengeringkan rambut sang suami.
Raffael tak henti-hentinya mengulas senyum saat melihat senyum manis istrinya melalui cermin di hadapannya. memiliki istri seperti Jelita sunggu anugerah luar biasa yang pernah ia miliki.
Raffael kini sudah memakai baju santainya. Wajahnya terlihat sangat segar, apalagi baru melakukan aktivitas panas di dalam kamar mandi yang menghasilkan banyak energi positif dalam dirinya.
“Sekarang duduklah! Giliran aku yang mengeringkan rambut kamu.” Ujar Raffael.
“Nggak usah, Mas! Biar aku sendiri. Mas keluar saja lihat Ethan. Dia sudah mandi apa belum.” Tolak Jelita dengan halus.
Raffael terdiam sejenak. Melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam petang. Tidak mungkin Ethan belum mandi jam segini. Pasti Livy atau Mamanya yang memandikannya.
“Sayang, kamu lupa kalau kita di dalam kamar mandi tadi sangat lama? Ini sudah petang, tidak mungkin Ethan dibiarkan Mama belum mandi. sudah, lebih baik menurutlah! Biar aku yang mengeringkan rambutmu. Bukannya tadi kamu bilang, sebagai seorang istri harus menurut dengan perkataan suami kamu, hem?”
Jelita pasrah. akhirnya membiarkan suaminya mengeringkan rambut panjangnya itu menggunakan hair dryer.
__ADS_1
Kini Raffael dan Jelita sudah terlihat lebih segar dan penampilannya santai. Mereka berdua keluar kamar hendak bergabung dengan keluarganya untuk makan malam bersama.
Raffael menggandeng tangan istrinya menuruni tangga. Namun di ruang tamu terdengar suara ramai yang sangat familiar di telinga Raffael. Akhirnya ia mengajak istrinya untuk ke ruang tamu dulu sebelum menuju ke ruang makan.
Raffael terdiam di tempatnya saat melihat Chiko dan Chelsea sedang bertamu ke rumahnya. Apalagi melihaat Ethan yang sedang duduk di pangkuan Chelsea. Memang Chiko dan Chelsea adalah kakek dan nenek Ethan. Hati Raffael kembali terusik saat melihat pemandangan itu.
“Mas! Jangan berpikiran yang macam-macam, ya?” bisik Jelita pelan.
Raffael menoleh ke arah istrinya. Senyum Jelita yang menawan itu cukup membuat hatinya lega dan menghilangkan pikiran buruk itu. kemudian Raffael mengajak istrinya bergabung dengan kedua orang tuanya dan juga Chiko dan Chelsea.
Jelita mengangguk hormat pada Chiko dan Chelsea. Terlebih pada Chiko yang dulu pernah menjadi atasannya saat magang.
“Jelita, apa Tante boleh meminta Ethan memanggil kami dengan panggilan kakek dan nenek?” tanya Chelsea di tengah-tengah perbincangan hangat itu.
“Boleh, Tante.” Jawab Jelita dengan sopan.
Abi melirik sekilas pada Raffael yang memilih diam. wanita itu cukup paham dengan apa yang dirasakan oleh anaknya.
“Aku baru tahu kalau Mario batal bertunangan dengan Merlyn, Ko!” ucap Reno tiba-tiba.
“Justru aku sangat bersyukur Mario putus dengan perempuan bar-bar seperti Merlyn. Kak Reno tahu? Merlyn bahkan sampai melayangkan pukulan pada Mario dan naasnya pukulan itu mengenai Mas Chiko. Bagaimana bisa Mario mempunyai kekasih seperti Merlyn. Padahal aku ingin mempunyai menantu seperti Jelita loh.” Sahut Chelsea menggebu-nggebu dan di akhir kalimatnya membuat semua orang terdiam.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!