
Bagaimana mungkin Mario ada di kawasan Villa ini. Jelita benar-benar tidak menyangkanya. Apa Mario selama ini mencari keberadaannya. Sepertinya memang begitu. Pasti pria itu ingin bertemu dengan Ethan. Tapi Jelita tidak akan membiarkan Mario menemukan kebaradaannya. Bukan ingin menjauhkan dengan Ethan. Tapi memang tujuannya tinggal di sini karena ingin menenangkan diri. Akhirnya Jelita kembali masuk ke rumah sampai Mario benar-benar pergi dari kawasan ini.
Sedangkan Mario kini sedang berhenti di sebuah kios tempat biasa Jelita menitipkan kue dagangannya. Sejak kemarin Mario berada di kota ini untuk menemui Ethan. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui fakta bahwa Jelita sudah tidak lagi tinggal di rumahnya. Beberapa tetangga dekat rumah Jelita juga tidak tahu saat Mario bertanya. Akhirnya ia keliling mencari Jelita dan juga Ethan. Dan di siniliah dia sekarang. di kawsan Villa yang tak jauh dari tempat tinggal Jelita.
Mario asal tanya saja pada pemilik kios dimana saat ini dia berada. Mungkin saja orang itu pernah bertemu dengan Jelita. Mario menunjukkan foto Jelita pada pemilik kios itu. memang foto itu seperti foto lama dan tidak begitu jelas wajahnya. Tapi siapa tahu orang itu mengenal Jelita.
“Sepertinya saya pernah melihat Mbak ini, Mas.” Ucap pemilik kios itu dengan ragu.
“Dimana, Bu?”
“Dia mirip sekali dengan Mbak Lily yang sering mengantar kue dagangannya ke saya. dia tinggal di sekitar Villa ini tapi saya tidak tahu persis alamatnya.”
“Lily? Tapi nama perempuan ini Jelita, Bu.”
“Iya. namanya Lily. Mbaknya ini sedang hamil. Dan sudah memiliki suami.”
Seketika itu wajah Mario pias. Berarti yang dikatakan oleh Ibu pemilik kios itu bukan Jelita. Apalagi perempuan itu sedang hamil dan sudah mempunyai suami. jadi sangat tidak mungkin jika itu Jelita.
“Ya sudah, Bu terima kasih.” Pungkas Mario lalu pergi meninggalkan kawasan puncak dan segera pulang.
***
Akhir-akhir ini kesehatan Abi sedikit menurun. Terlebih semenjak satu bulan yang lalu setelah bertemu dengan Arvin dan mengetahui kebenaran tentang Jelita.
Abi sangat ingin bertemu dengan Jelita dan juga Ethan. Tapi tidak tahu lagi bagaimana caranya. Hatinya juga masih sangat kecewa dengan Raffael. Bahkan sudah satu bulan ini Raffael tidak pulang ke rumahnya. Dia juga tidak tahu menahu tentang keadaan Mamanya. Raffael menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Dia juga sering keluar kota menangani beberapa cabang perusahaan milik Papanya. Dan selama itu pula Reno dan Livy tidak bertegur sapa dengan Raffael. Karena memang Raffael sendiri yang menghindar.
Saat ini Raffael sedang berada di apartemennya. beberapa jam yang lalu dia baru saja pulang dari luar kota. Dan minggu depan kemungkinan akan pergi ke luar negeri.
Raffael mengirim pesan pada pengacaranya mengenai proses perceraiannya. Karena semenjak surat gugatan perceraiannya dilayangkan pada Jelita, sampai saat ini tidak ada kabar tentang kelanjutannya. Pengacaranya juga mengatakan kalau dari pihak tergugat tidak ada kabar sama sekali.
Sebenarnya bisa saja Raffael langsung mengurus perceraian itu. hanya saja ia ingin melakukan sesuai dengan prosedur. Setidaknya cukup melakukan mediasi agar bisa bertemu dengan Jelita dan menyepakati perceraian itu dengan baik-baik.
Drt drt drt
Raffael baru saja meletakkan ponselnya di atas nakas. Tiba-tiba ada notif pesan masuk dari adiknya.
“Kak, apa kamu sudah nggak peduli sama sekali dengan Mama? Mama sedang kurang sehat. Jika kamu masih mau menganggap Mama orang tua Kakak. Pulanglah!”
Raffael terkejut membaca pesan Livy. Memang dia akui kalau selama ini dia berusaha menghindari keluarganya hanya tidak ingin mendengar tentang nama mantan istrinya. Tapi dia tidak menyangka kalau saat ini Mamanya sedang sakit.
__ADS_1
Akhirnya hari itu juga Raffael memutuskan untuk pulang dan menemui Mamanya.
***
Raffael masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang tak biasa. Rumah yang selalu memberikan kehangatan dan kebahagiaan, kini terasa sangat hampa.
Raffael langsung masuk ke kamar Mamanya saat tadi bertemu dengan Papanya yang hendak masuk ke ruang kerjanya. Reno sendiri masih kecewa dengan anak laki-lakinya itu. dia memilih diam.
“Mama!” panggil Raffael pada Abi yang sedang duduk di kursi menghadap jendela kamarnya.
Abi hanya menoleh sekilas. Setelah itu kembali menatap ke arah luar.
“Maaf, Ma. Raffa tidak tahu kalau Mama sedang sakit.” Ucap Raffael mendekati Mamanya.
“Apa pedulimu pada kesehatan Mama? masih ada Livy yang selalu menemani Mama. harusnya masih ada lagi anak perempuan Mama yang merawat Mama jika Mama sedang sakit seperti ini.” jawab Abi.
Raffael tahu siapa anak perempuan satunya lagi yang dimaksud oleh Mamanya. Tentu saja Jelita. Rupanya wanita murahaan itu telah berhasil menarik perhatian Mamanya. Sampai membuat Mama dan Papanya membenci dirinya seperti sekarang ini.
“Ma, sudahlah! Jangan bahas ini lagi. Raffa sedang dalam proses bercerai dengan dia. Jadi Mama jangan pernah lagi berharap kehadirannya.” Ucap Raffael menahan emosinya.
Abi menoleh pada Raffael. Air matanya luruh begitu saja. dia tidak menyangka kalau sifat Raffael sangat keras kepala dibandingkan suaminya dulu.
“Ma! Mama ini bicara apa sih? Kenapa Mama jadi… Arghhhh…”
Raffael benar-benar kesal dengan situasi sekarang ini. proses perceraiannya saja belum selesai, Mamanya kini menuntut untuk segera mencari pengganti Jelita.
“Kenapa? Sekarang Mama tanya. Kenapa kamu tidak secepatnya mengurus perceraian kamu dengan Jelita jika kamu tidak ingin mempertahankannya?”
“Baiklah. Kalau Mama menginginkan seperti itu. asal Mama tahu. Kalau Raffa sama sekali tidak ada niatan untuk mempertahankan wanita itu.” pungkas Raffael lalu segera keluar dari kamar Mamanya dengan perasaan kesal.
Hari ini juga Raffael akan terbang ke kota tempat tinggal Jelita. Dia ingin menyelesaikan masalahnya dengan mantan istrinya itu. dia ingin tahu apa alasan Jelita tidak merespon gugatan perceraiannya. Padahal dia sangat ingin Jelita mentaati hukum dengan menjalani sidang perceraiannya. Rasa lelah sudah tidak Raffael rasakan lagi. sore ini dia bertekat pergi untuk menemui Jelita.
***
Selama perjalanan menuju tempat tinggal mantan istrinya, Raffael banyak mengingat beberapa kenangan manis yang pernah ia lalui bersama Jelita. Namun kenangan itu musnah begitu saja saat penghianatan yang dilakukan oleh istrinya.
Setibanya di bandara, Raffael langsung memesan taksi untuk mengantar ke rumah Jelita. Sesampainya di sana. Rumah itu terlihat sangat sepi seperti tidak berpenghuni. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Raffael bertanya pada tetangga sebelah. Orang itu hanya mengatakan kalau Jelita sudah lama tidak tinggal di rumah itu. jalan terakhir, Raffael datang ke rumah Arvin. Dia sangat yakin kalau Jelita tinggal di rumah Omnya sekaligus pria yang menjadi selingkuhan Jelita.
Raffael sudah berada ruang tamu rumah Arvin. Dia menunggu sejak tadi namun si pemilik rumah tak kunjung keluar. Membuatnya semakin geram.
__ADS_1
“Ada apa kamu datang ke sini?” tanya Arvin yang tiba-tiba sudah berada di ruang tamu.
“Tidak perlu berbasa-basi lagi. aku hanya ingin bertemu dengan kekasihmu. Dimana wanita murahaan itu? aku ingin menyelesaikan percer,-“
Bugh
Bugh
Dada Arvin bergemuruh hebat saat mendengar kata hinaan yang keluar dari mulut Raffael dan ditujukan untuk Jelita.
Raffael mengusap sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan Arvin. Kemudian tersenyum sinis menatap pria itu.
“Benar bukan yang aku katakan? Sekarang katakan dimana kekasi,-“
“Cukup!”
Arvin langsung menarik kerah baju Raffael dan mencengkeramnya dengan kuat.
“Kamu mencari wanita murahann itu bukan? Kamu ingin menyelesaikan perceraian kamu bukan?” tanya Arvin dengan nafas tersengal menahan amarah.
“Sayangnya kamu tidak bisa mempercepat proses perceraian kamu itu. tunggulah sampai wanita murahaan itu melahirkan anak seorang baj***an seperti kamu. Setelah itu akan aku pastikan, kalau wanita murahaan itu akan mengikuti proses hukum yang berlaku.”
Mata Raffael memerah. Jantungnya berpacu dnegan cepat saat mendengar kata-kata Arvin tentang Jelita yang akan melahirkan seorang anak. Apa maksud ucapan Arvin.
“Ap..apa maksud ka..mu?” tanya Raffael dengan suara bergetar.
“Apa kamu sudah menjadi pria bodohh yang tidak mengerti ucapanku? Ya, Jelita sekarang sedang mengandung anak kamu.”
Brukkk
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1