Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 91


__ADS_3

Dan di sinilah saat ini Livy dan Jelita berada. Di ruang tamu.


Jelita sangat terkejut saat mendengar Abi tengah dirawat di rumah sakit dan dirawat diruangan ICU. Livy mengatakan kalau penyakit jantung Mamanya kambuh, jadi harus mendapat penanganan khusus dari dokter.


“Tunggu sebentar, Kak!” Livy masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sesuatu yang akan diberikan kepada Jelita.


Beberapa saat kemudian Livy menyerahkan sebuah kotak persegi panjang dari Raffael kepada Jelita. awalnya Jelita bingung dan tidak mengerti apa isi kotak itu. sepenting apakah isinya.


“Buka saja, Kak! Kak Raffa hanya menitipkan itu sebelum dia pergi.”


Jelita mengangguk samar. Kenapa hatinya mendadak ngilu saat memegang kotak itu. lalu ia segera membukanya. Di dalam kotak itu ada beberapa amplop yang tertata rapi. Jelita mengambil satu amplop paling atas lalu membuka dan membacanya.


******


Dear, Jelita.


Semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan dan kebahagiaan untuk kamu dan Ethan. Hanya maaf dan maaf yang aku ucapkan dalam tulisan ini. meskipun di pertemuan terakhir kita, bibir kamu sudah memeberiku maaf, tapi aku masih merasakan sakit hatimu atas perbuatanku selama ini, Jelita.


Aku tahu kamu adalah wanita yang sangat tangguh sekaligus seorang Ibu hebat bagi Ethan. Namun sebagai makhluk Tuhan, kamu pasti juga pernah rapuh. Naasnya lagi, kerapuhan yang kamu alami itu adalah aku penyebabnya.


Jelita, aku tahu kalau kamu sudah tidak sudi lagi bertemu lagi denganku. Maka, hanya dengan tulisan ini aku bisa menyampaikan banyak hal untukmu.


Aku datang di kehidupanmu saat itu telah berhasil menyembuhkan luka masa lalu kamu. Namun kedatanganku di kehidupanmu justru menorehkan luka paling dalam yang pernah kamu alami. Aku memang tidak pantas disebut sebagai lelaki sejati. aku pria egois dan berengsek yang telah melukai perasaan kamu.


Andai waktu bisa diputar kembali, aku pasti akan mendengarkan penjelasan kamu atas kesalah pahaman itu. dan kita bisa merawat anak kita yang mungkin sekarang sudah tumbuh semakin sehat dalam rahimmu.


Maafkan aku, Jelita. aku yang menyebabkan kamu keguguran. Aku ini seorang pembunuh anakku sendiri. Dan secara tidak langsung, aku juga yang menyebabkan kematian Ibu. Tapi percayalah, Jelita! aku sungguh menyesali semua perbuatanku.

__ADS_1


Rasa cintaku padamu yang begitu besar, menyebabkan mata hatiku buta dan dilanda api cemburu yang begitu besar. Aku tidak pernah merasakan jatuh cinta selain dengan kamu. Sialnya lagi, rasa cintaku telah menyakiti perasaanmu, Jelita.


Pria egois dan berengsek seperti aku ini tidak pantas mendapatkan maaf darimu, Jelita. aku benar-benar menyesal atas kalimat hinaan yang pernah aku ucapkan padamu dulu. Saat itu aku benar-benar emosi, jadi tidak bisa berpikir jernih dan bertindak gegabah untuk mengakhiri hubungan kita.


Aku saat itu menunggu kedatangan kamu meskipun hatiku marah. Itu semua karena rasa cintaku masih besar untukmu, Jelita. hingga kabar kehamilan kamu datang, aku merasa sangat bahagia dan berprasangka baik pada Tuhan kalau hubungan kita masih bisa diselamatkan. Namun lagi-lagi aku gagal. Aku justru menambah luka di hatimu dengan membuat janin dalam rahimmu hilang.


Jelita, aku tidak akan menyangka kalau kamu akan melayangkan gugatan cerai padaku. itu tandanya aku bukan pria yang pantas untuk menjaga dan mendampingi kamu.


Asal kamu tahu Jelita, alasan gugatan cerai yang kamu layangkan semua itu tidak benar. Aku tidak pernah sekalipun berselingkuh darimu. Foto yang dikirim seseorang yang sengaja ingin menghancurkan rumah tangga kita itu adalah Mario. Namun aku tidak menyalahkan dia. Karena aku tahu, bukan dari foto itu kamu ingin mengakhiri hubungan kita ini.


Jika kamu menginginkan perpisahan ini, kamu jangan khawatir, Jelita! aku sudah menanda tangani surat gugatan kamu. Meskipun aku tidak pernah berniat sedikitpun untuk menceraikan kamu.


Jika keberadaanku membuatmu semakin membenciku, aku berjanji akan pergi dan kamu tidak akan pernah bisa menemukanku. Aku pergi dengan membawa cintamu yang tidak akan pernah mati dari hatiku, Jelita.


Aku hanya berharap semoga setelah perpisahan kita ini, kamu bisa menemukan kebahagiaan kamu yang tak pernah sekalipun kamu dapatkan bersamaku. Ijinkan aku memanggilmu Sayang untuk yang terakhir kalinya, meskipun hanya sebuah tulisan dan sebelum hakim mengetuk palu tanda perpisahan kita.


Terima kasih, Jelita!


Terima kasih atas cinta kamu selama ini!


Semoga kamu bahagia, Sayang!


Your sincerely,


Raffael.


*****

__ADS_1


Jelita membaca surat yang ditulis oleh Raffael dengan berderai air mata. Memang dia membenci pria itu. namun ia sudah merekan semua masa;ah yang terjadi selama ini. yaitu dengan mengakhiri hubungannya dengan Raffael. Tapi dia tidak menyangka kalau Raffael memilih pergi jauh dengan meninggalkan tulisan yang sangat menyesakkan dada.


Kemudian Jelita mengambil satu amplop lagi yang ternyata berisi foto-foto kenangan dirinya bersama Raffael dulu. Air mata Jelita semakin mengalir deras. Lalu pada amplop terakhir berisi dua buku nikah miliknya dan milik Raffael.


Livy yang sejak tadi diam membiarkan Jelita membaca surat dari kakaknya juga ikut penasaran tentang isi surat itu. tapi dia tidak berhak ikut campur.


“Sejak kapan Mas Raffa pergi?” tanya Jelita dengan mata memerah.


“Sekitar tiga minggu yang lalu, Kak. Kak Raffa pergi dengan meninggalkan semuanya. Dia tidak membawa apapun. Bahkan jabatannya dia serahkan padaku. aku tahu Kak Jelita sudah dibuat sakit oleh Kak Raffa. Tapi aku tidak tega melihat keadaan Kak Raffa saat memilih pergi meninggalkan kami.”


Lalu Livy menunjukkan beberapa foto Raffael saat terakhir mereka bertemu. Jelita melihat dengan jelas wajah tirus pria itu. air mata Jelita pun kembali menetes.


“Kamu tahu kemana kakak kamu pergi?” tanya Jelita dan Livy menggelengkan kepalanya.


“Kalau aku tahu, pasti aku sudah mengabarkan kalau Mama sedang sakit, Kak.”


Dengan dada yang masih sesak, Jelita segera pergi meninggalkan Livy. Dan tujuannya sekarang adalah ke rumah sakit.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2