
Jelita masih menundukkan kepalanya dan mulai menikmati makanannya lebih dulu. Membiarkan suaminya ngobrol dengan waanita asing itu. tak ingin berburuk sangka, Jelita menganggap kalau suaminya dan wanita itu adalah teman lama yang tidak pernah bertemu.
Sedangkan Raffael yang sejak tadi ngobrol dengan Rachel seketika tersadar kalau istrinya sejak tadi diam sambil menikmati makanannya. Sungguh ia merutuki kebodohannya yang telah mengabaikan Jelita.
“Sayang, maaf. Kenalkan dia, Rachel. Teman lamaku.” Ucap Raffael mengusap lembut tangan istrinya. Tatapannya penuh penyesalan. Namun Jelita terlihat biasa saja.
“Chel, dia Jelita istriku. yang aku certain ke kamu.” Lanjutnya menoleh ke arah Rachel.
Rachel mengulurkan tangannya pada Jelita dan tersenyum ramah. Begitu juga dengan Jelita. Ia membalas uluran tangan Rachel.
Mereka bertiga makan terlebih dulu sebelum membahas tentang Jelita. Memang sebelumnya Raffael belum mengatakan pada istrinya mengenai pertemuannya dengan Rachel yang ingin membantunya. Dia tidak ingin membuat istrinya tidak tenang saat mengatakannya langsung.
Usai makan, Raffael bicara pada Jelita. Memeberitahu tentang Rachel yang seolah dokter psikolog yang akan membantunya menyembuhkan trauma itu. awalnya Jelita terkejut. Kenapa suaminya tidak membicarakan hal itu sebelumnya. Beruntungnya Rachel segera menyela ucapan Raffael yang hendak minta maaf pada istrinya.
“Raffa memang tidak aku perbolehkan untuk mengatakan pada kamu Jelita. Semua itu demi kebaikan kamu. Tenang saja, kita sekarang sudah berteman. Raffa sudah menceritakan semuanya tentang kamu. Jadi kamu tidak perlu mencemaskan apapun.
Jelita yang awalnya tidak nyaman, kini perlahan rileks. Apalagi melihat perangai Rachel yang begitu baik dan tutur katanya sopan.
Setelah melihat istrinya cukup nyaman berinteraksi dengan Rachel, akhirnya Raffael membiarkan kedua wanita itu bicara dari hati ke hati membahas trauma yang dialami oleh Jelita.
Meskipun suasana restaurant cukup ramai, namun itu tak membuat Jelita terusik. Justru dia akan merasa tidak nyaman jika hanya bicara berdua saja dengan Rachel.
__ADS_1
“Sebenarnya kamu belum terlambat mengatasi trauma ini, Jelita. Karena dengan kamu menerima kehadiran Raffael di hidupmu, itu salah satu bukti kalau trauma yang kamu alami belum masuk ke dalam kategori berat. Tapi tetap harus disembuhkan.” Ucap Rachel.
“Dan untuk penyembuhan trauma itu, kamu cukup berdamai dengan sesuatu yang membuatmu terluka itu. hanya itu satu-satunya cara.” Lanjutnya seketika membuat Jelita terdiam.
“Maaf, Raff, Jelita. Sepertinya aku harus kembali lebih dulu. Aku harap setelah ini pertemuan kita selanjutnya aku sudah dapat kabar bahagia dari kalian. semangat ya Jelita! Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Tuhan itu maha baik. Tuhan saja mau memberikan maaf pada umatnya, kenapa kita tidak?” pungkas Rachel setelah itu ia beranjak pergi meninggalkan Raffael dan Jelita.
Beberapa saat kemudian Raffael dan Jelita pulang setelah menyelesaikan makan malamnya. Mereka berdua sama-sama diam setelah mendengar solusi dari Rachel tadi. memang benar yang diucapkan oleh Rachel. Namun Raffael tidak rela jika membiarkan istrinya bertemu dengan Mario. Mengingat pria itu sampai saat ini terus berusaha meminta maaf pada istrinya dan akan menebus kesalahannya itu. Raffael takut Mario merebut istrinya. Terlebih ada Ethan.
Raffael menghentikan mobilnya di sebuah taman kota yang tidak terlalu ramai. Namun ia tidak mengajak istrinya turun. Hanya membuka kaca mobilnya saja.
“Kenapa Mas berhenti di sini?” tanya Jelita bingung. Pasalnya sejak tadi ia juga melamun. Lebih tepatnya memikirkan solusi yang diberikan oleh Rachel.
Raffael masih diam dengan tatapan lurus ke depan. Dia sangat menginginkan istrinya sembuh dari trauma itu. jadi, apakah ia membiarkan Jelita bertemu dengan Mario.
Jelita pun membalas tatapan suaminya. melihat sorot mata Raffael yang penuh cinta, ada sedikit kekuatan dalam hatinya untuk melakukan itu semua. Akhirnya Jelita menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pernyataan Raffael baru saja.
“Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah mencintaiku begitu besar.”
Raffael menarik Jelita ke dalam pelukannya. Dengan modal cinta yang besar pada Jelita, ia sangat yakin kalau Jelita tidak akan terpengaruh oleh ucapan Mario nanti jika mereka berdua bertemu.
***
__ADS_1
Setelah pertemuannya dengan Rachel beberapa waktu yang lalu, Raffael pun tidak ingin menunda lebih lama lagi untuk mempertemukan istrinya dengan Mario. Memang akhir-akhir ini dia cukup sibuk dengan pekerjaan kantor. jadi, hari ini akan menghubungi Mario.
Reno dan Abi juga mendukung keputusan Raffael yang akan mempertemukan Jelita dan Mario. Bagaimana pun juga mereka berdua sudah lama bersahabat dengan kedua orang tua Mario. Mereka juga tidak ingin hubungan baik yang telah lama dijalin harus pupus begitu saja karena keegoisan anak-anak mereka.
Sementara Mario yang beberapa hari ini mulai kembali lagi ke kantor, ia cukup terkejut saat Raffael menghubunginya. Apalagi Raffael mengatakan ingin bertemu dengannya. Mario tidak bisa menebak, apa tujuan Raffael mengajaknya bertemu.
Mario sudah menunggu Raffael di sebuah restaurant. Siang ini mereka hanya bertemu berdua. Raffael ingin bicara dulu empat mata dengan Mario sebelum mempertemukannya dengan sang istri.
“Ehm!!”
Raffael yang baru saja tiba. Langsung mengambil tempat duduk di depan Mario. Kedua pria itu tampak canggung setelah beberapa waktu yang lalu sempat adu jotos.
“Aku ingin bertemu denganmu untuk membahas istriku.” ucap Raffael mengawali obrolan.
“Aku akan memberikan kamu kesempatan untuk bertemu Jelita. Namun hanya untuk meminta maaf. Tidak ada hal lainnya. Dia istriku dan aku sangat mencintainya. Apa kamu paham dengan maksudku?” tanya Raffael menatap tajam mata Mario.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!