Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 75


__ADS_3

Raffael masuk ke dalam taksi begitu saja tanpa menunggu Arvin keluar dari mobilnya. Dia memang sedang dikejar-kejar oleh pekerjaan. Secepatnya dia juga akan menyelesaikan pekerjaannya, agar bisa kembali lagi ke sini menemani istri dan anaknya.


Sementara itu Arvin baru saja masuk ke dalam rumah kakak iparnya. Dia terkejut ternyata Jelita sudah datang bersama Ethan. Pria itu menelisik mencari keberadaan Raffael, namun tidak ada.


“Apa kabar kamu, Lita?” tanya Arvin berbasa-basi.


“Baik, Om. Terima kasih banyak Om selama ini sudah membantu Ibu dan sering memberi kabar tentang Ibu.”


“Nggak perlu bilang seperti itu. sebenarnya aku juga tahu kalau kamu juga pasti harus menunggu suami kamu dulu kalau akan ke sini. hanya saja neneknya Ethan tuh yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan cucunya. Bahkan nggak napsu makan karena kangen cucunya. Oh iya, dimana suami kamu?”


“Mas Raffa langsung balik. Dia hanya mengantarku saja.” jawab Jelita singkat.


Arvin hanya menganggukkan kepalanya. Pria itu memang sikapnya selalu hangat. Apalagi terhadap Jelita. Entahlah, kenapa sejak dulu dia ingin sekali memiliki Jelita. Walau pada kenyataannya sangat tidak mungkin. Tapi bagi Arvin, cukup dekat dan bisa melihat Jelita saja sudah membuatnya bahagia. Karena beberapa waktu yang lalu Bu Sukma sempat bicara empat mata padanya tentang Jelita.


Saat keadaan Bu Sukma sedang kurang enak badan beberapa hari yang lalu, wanita itu bicara pada Arvin untuk menjaga Jelita dan Ethan. Bu Sukma meminta Arvin untuk menganggap Jelita seperti anaknya sendiri. Arvin sendiri tidak mengerti apa maksud ucapan kakak iparnya itu. akhirnya dia menjawab dengan anggukan kepala agar Bu Sukma lega.


**


Sampai malam hari Arvin masih berada di rumah Bu Sukma. Pria itu lah yang sejak tadi menemani Ethan bermain. Sedangkan Jelita menikmati waktunya bersama sang Ibu.


“Apa kamu bahagia menikah dengan Raffael, Lita?” tanya Bu Sukma tiba-tiba.


“Iya, Bu. Mas Raffa sangan mencintaiku dan juga menyayangiku. Aku pun sama. Sangat mencintainya.”


“Syukurlah, Ibu senang mendengarnya. Ibu berharap hubungan kalian selalu awet sampai tua nanti. setiap perjalanan rumah tangga seseorang itu pasti banyak sekali batu kerikil yang menghalanginya. Ibu hanya ingin kalian berdua menghadapinya dengan sabar. Jika terjadi kesalah pahaman, selesaikan dengan baik-baik, dan kepala dingin.”


“Iya, Bu. Lita akan selalu menurut dengan nasehat yang Ibu berikan. Lebih baik Ibu sekarang tidur. Sudah malam. ita juga akan mengajak Ethan tidur.”


Bu Sukma mengangguk dengan seulas senyum di bibirnya. setelah itu membiarkan Jelita keluar dari kamarnya.


Setelah memastikan Jelita keluar dan menutup pintu kamarnya, Bu Sukma memegangi dadanya yang sangat sakit. Mungkin sejak tadi wanita itu menahannya. Tak lama kemudian ia meminum segelas air putih dan tidur. Rasa sakit itu pasti akan menghilang dengan sendirinya setelah dipakai istirahat.

__ADS_1


Sedangkan Jelita kini sudah berada di ruang tamu. Dia mengajak Ethan tidur dengan kata lain mengusir Arvin secara halus.


“Kamu sakit, Lita?” tanya Arvin khawatir saat melihat wajah pucat Jelita.


“Nggak kok, Om. Hanya kelelahan saja mungkin. Maaf, aku harus mengajak Ethan tidur. Ini sudah malam.”


Arvin menghembuskan nafasnya pelan. Padahal ia masih ingin berlama-lama di sini. tapi melihat keadaan Jelita seperti kurang enak badan dan butuh istirahat, akhirnya ia berpamitan pulang.


“Ya sudah kalau begitu Om pulang dulu. Kalau ada apa-apa hubungi Om saja! kamu nggak perlu sungkan. Anggap Om sebagai pengganti Ayah kamu.” Ucap Arvin dengan tulus.


Jelita yang awalnya merasa tidak nyaman saat dekat dengan Arvin, dia bisa melihat sorot mata pria itu yang berkata dengan tulus.


“Iya, Om. Terima kasih.”


**


Jelita kini sudah berada di kamarnya. Ethan baru saja tidur sekitar sepuluh menit yang lalu. Waktu juga masih menunjukkan pukul setengah sembilan malam. kemudian ia mengambil ponselnya untuk melihat apakah suaminya sudah membalas pesannya atau menghubunginya. Ternyata tidak.


Drt drt drt


Baru saja Jelita meletakkan ponselnya. Tiba-tiba ada notif pesan masuk. Mungkin suaminya membalas pesannya. Namun pengirim pesan itu adalah nomor baru. Karena tidak mengenalnya dan sangat penasaran dengan pesan yang dikirim, akhirnya ia membuka pesan itu.


Mata Jelita membulat sempurna saat membaca pesan itu. atau lebih tepatnya melihat gambar yang dikirim oleh orang tak dikenalnya itu. di sana ada foto Raffael bersama seorang wanita. mungkin kalau wanita itu hanya duduk berdua saja dengan suaminya Jelita masih bisa memakluminya. Karena bisa saja mereka sedang meeting. Tapi tidak. Raffael terlihat sedang memegang pinggang wanita itu dan posisinya mereka sedang berada di tempat keramaian yang minim cahaya. Bahkan baju Raffael masih sama seperti baju yang dikenakan saat mengantarnya tadi.


Jelita memilih menonaktifkan ponselnya. Dadanya terasa sangat sesak setelah melihat foto itu. apakah selama ini suaminya seperti itu? dia memang belum banyak tahu tentang kehidupan Raffael di luar sana. Mendadak kepala Jelita kembali pusing. akhirnya dia meminum obat sakit kepala setelah itu memutuskan untuk tidur.


Keesokan paginya keadan tubuh Jelita tiba-tiba sangat lemas. Wanita itu enggan bangun. Namun dia harus memasak untuk Ibu dan anaknya. akhirnya setelah mencuci mukanya, Jelita keluar dari kamar dan membiarkan Ethan masih terlelap.


Sebelum Jelita ke dapur, ia melihat pintu kamar Ibunya yang masih tertutup. Dia membukanya untuk memastikan apakah Ibunya sudah bangun.


Cklek

__ADS_1


“Ibu!!!”


Tubuh Jelita seketika lemas tak berdaya saat melihat Ibunya terjatuh dari tempat tidur. Entah sejak kapan jatuhnya. Yang pasti saat ini wajah Bu Sukma tampak pucat dan mata terpejam rapat. Dia kemudian memberanikan diri untuk memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Ibunya. Syukurlah masih berdenyut, namun ia harus membawanya ke rumah sakit.


Beberapa saat kemudian Jelita sudah berada di rumah sakit. Tepatnya di depan ruang IGD menunggu Ibunya mendapatkan pemeriksaan dari dokter.


“Kamu tenang saja, Lita. Ibu kamu pasti baik-baik saja.” Ujar Arvin menenangkan.


Ya, tadi Jelita langsung menghubungi Arvin untuk meminta bantuan membawa sang Ibu ke rumah sakit. Sedangkan Ethan dititipkan ke ART yang bekerja di rumah Arvin.


Jelita sangat khawatir dengan keadaan Ibunya. Entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang selama ini disembunyikan oleh Ibunya.


“Apa selama ini Ibu sering sakit-sakitan, Om?”


“Tidak. Ibu kamu hanya bilang sakit biasa saja. aku juga selalu mengantar check up dan selalu dapat obat yang harus dikomsumsi sampai habis.” Jawab Arvin dengan yakin.


Beberapa saat kemudian dokter yang memeriksa Bu Sukma keluar dari ruangan IGD dengan wajah yang tampak pias.


“Bagaimana keadaan Ibu saya, Dok?”


“Pasien harus segera mendapat penanganan khusus. Penyakit bronkitisnya sudah kronis. Apakah selama ini pasien tidak pernah mengkonsumsi obatnya?” tanya dokter namun tak satu pun dari Arvin dan Jelita bisa menjawabnya.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


 


__ADS_2