
Sudah seminggu Jelita dan Raffael tidak saling berkomunikasi. Terlebih setelah makan malam bersama keluarnta Raffael saat itu.
Selama seminggu itu pula Jelita masih mengirim kue pesanan ke kantor Raffael. Hanya saja selama tiga hari berturut-turut ada karyawan yang sengaja menunggu kedatangannya untuk mengambil kue, hingga tidak harus membuatnya susah payah menaiki lift menuju ruangan CEO. Lalu hari-hari berikutnya Jelita membawa kue itu ke ruangan Raffael. Hanya saja di sana tidak ada siapa-siapa.
Jelita juga tidak berniat untuk menghubungi Raffael walau hanya berbasa-basi menanyakan kabar. Karena sedari awal kedatangan pria itu di kehidupannya, Jelita memang tidak memberikan harapan apapun. Dan sekarang jika Raffael tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak, harusnya dia juga baik-baik saja. kehidupannya akan berjalan seperti semula.
Tapi benarkah seperti itu. hanya Jelita sendiri yang tahu bagaimana perasaannya sekarang terhadap Raffael. Apalagi tipe wanita sepertinya tidak pernah sedikitpun membagikan keluh kesahnya pada orang lain. Sekalipun itu Bu Alin. Bagi Jelita, Bu Alin cukup tahu masa lalunya saja. selebihnya, ia akan mengatasinya sendiri. Apalgi ini masalah perasaan.
Seperti biasa, sepulang dari Café Jelita akan tetap di rumah saja menemani Ethan bermain. Karena selama ini hanya Ethan lah tempat melepas segala kepenatan dalam hidupnya. Melihat tawanya dan rengekan putranya itu sudah cukup menghibur Jelita.
Sementara itu di Café Bu Alin tampak Abi sedang berkunjung ke sana seorang diri. Abi sangat penasaran dan ingin tahu banyak tentang Jelita dari Bu Alin. Orang yang selama ini dekat dengan Jelita.
“Saya sangat senang sekali didatangi Nyonya Reno.” Ujar Bu Alin tersenyum hangat pada Abi.
“Mbak Alin jangan bicara formal seperti itu. Mbak Alin kan bukan karyawan Mas Reno lagi.” sahut Abi merasa tak nyaman dengan sikap Bu Alin.
“Nggak apa-apa, santai saja. karena memang anda ini Nyonya Reno kan?”
Abi hanya tersenyum, membiarkan Bu Alin senyamannya saja memanggilnya. Padahal usia Bu Alin terpaut jauh dengannya.
Kemudian Bu Alin menanykan maksud kedatangan Abi ke Café. Tentunya bukan hanya sekadar mampir kalau tidak ada urusan penting.
“Aku ingin bertanya tentang Jelita, Mbak. Apakah Mbak Alin yang selama ini telah menolong Jelita?” tanya Abi.
Bu Alin terdiam sejenak. Dia mengamati wajah Abi yang terlihat oensaran sekali dengan kehidupan Jelita. Meskipun dalam hatinya sudah bisa menilai kalau Abi adalah wanita baik-baik dan pastinya akan merestui hubungan Raffael dengan Jelita, apa salahnya jika ia menceritakan semua masa lalu Jelita. Ataukah Abi sudah tahu semua? Hanya saja ingin tahu lebih jelas dari orang terdekat Jelita.
“Aku sudah tahu dari Raffa, Mbak. Kalau Jelita itu adalah wanita korban,-“
__ADS_1
“Benar. Sykurlah kalau Raffa sudah bilang jujur pada anda…”
Bu Alin pun melanjutkan ceritanya. Dimuali dari pertemuan pertamanya dengan Jelita, hingga kehamilannya, bahkan Jelita sempat ingin mengakhiri hidupnya saat mengetahui sedang mengandung anak dari hasil pemerko_saan.
Bu Alin kembali menitikan air matanya saat mengingat masa kelam itu. dia juga mengatakan pada Abi kalau Jelita tidak pernah sekalipun membahas siapa pria yang telah berbuat jahat padanya. Karena setelah Jelita memutuskan untuk merawat anaknya, semenjak saat itu lah Jelita sudah mengubur dalam masa lalunya yang kelam itu.
Abi pun ikut menangis mendengarnya. Terlebih sangat menyayangkan sikap Ibu Jelita yang telah mengusirnya dan menuduh penyebab kematian Ayahnya sendiri.
“Raffa sudah meminta restu atas hubungannya dengan Jelita. Aku adalah orang pertama yang memberikan restu, Mbak. Aku sangat berterima kasih, melalui Mbak Alin, Raffa dipertemukan dengan wanita seperti Jelita. Lalu apakah Jelita tingga di dekat sini, Mbak?”
“Iya. Jelita tinggal di belakang Café ini. hanya saja kalau malam begini dia tidak keluar lagi. hanya menemani Ethan bermain di dalam.” Jawab Bu Alin.
“Ethan?”
“Iya. anak Jelita. Usianya sudah tiga tahun. Selama ia bekerja, saya lah yang menjaganya. Saya sudah menganggap Jelita seperti anak saya sendiri, dan Ethan seperti cucu saya sendiri.” Jawab Bu Alin.
***
Hari ini Raffael baru saja pulang dari luar kota. Perjalanan bisnisnya yang begitu mendadak tidak sempat memberi kabar pada Jelita. Apalagi ponselnya tertinggal di kamarnya. Ia hanya membawa ponsel khusus untuk berhubungan dengan orang kantor. nomor Jelita pun Raffael tidak ingat.
Setibanya di rumah, Raffael langsung mengecek ponselnya yang ternyata sudah kehabisan daya. Ia segera mengisinya dan tidak sabar ingin melihat pesan yang dikirim Jelita. Apakah wanita itu mengirim pesan dan mengatakan rindu. Ataukah menanyakan keberadaannya selama beberapa hari ini? membayangkannya saja Raffael senyum-senyum sendiri.
Sambil menunggu batreinya terisi penuh, Raffael memutuskan untuk mandi dulu. Rasanya memang ia butuh berendam sejenak untuk merilekskan tubuhnya.
Dengan masih mengenakan handuk sebatas pinggang, Raffael menyalakan ponselnya. Setelah menunggu beberapa saat berharap notif pesan dari Jelita masuk, ternyata zonk. Di sana tak ada satu pun pesan yang dikirim Jelita. Mendadak tubuh Raffael lemas. Dia teringat dengan ucapan terakhir wanita itu saat mengantarnya pulang usai makan malam. Jelita memintanya untuk tidak berharap balasan cinta.
“Apakah tidak ada sedikitpun rasa untukku, Jelita?” batin Raffael sedikit kecewa.
__ADS_1
Raffael melirik jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. ia bergegas mencari baju ganti. Sekarang juga ia akan pergi menemui Jelita. Bukankah ia sudah bertekat akan terus mengejar cinta Jelita, walau wanita itu sama sekali tidak membalas perasaannya.
Pukul setengah dua belas kurang Raffael baru sampai rumah Jelita. Dia melihat sekitar sudah tampak sepi. Apalagi rumah Jelita sudah gelap. Itu tandanya penghuni rumah sudah tidur semua. Namun Raffael tetap keluar dari mobilnya. Entahlah, apakah dia akan mengetuk pintu rumah Jelita demi melepas rindunya.
Dari samping rumah Jelita Raffael mencium bau nasi goreng. Rupanya di depan gang ada orang penjual nasi goreng di sana. Dan seseorang yang sejak beberapa hari ini memenuhi pikiran Raffael ternyata sedang duduk di sebuah kursi menunggu pesanan nasi gorengnya.
Raffael tersenyum senang. Ternyata malam ini dia bisa melihat dan bertemu langsung dengan wanita pujaan hatinya. Akhirnya ia memilih untuk menunggu di depan teras saja.
“Astaga!!” pekik Jelita terkejut saat melihat seorang pria sedang duduk di sebuah kursi depan terasnya.
Jelita yang awalnya mengira ada orang jahat sedang menyatroni rumahnya, kini ia menajamkan penglihatannya. Ternyata pria itu adalah Raffael.
“Hai!” Sapa Raffael dan tersenyum ramah menatap Jelita sambil melambaikan tangannya.
Jelita menunjukkan sikap biasa saja. walau jujur saja ada sedikit kelegaan dalam hatinya saat melihat Raffael.
“Ada apa Mas datang ke sini?” tanya Jelita dengan suara datarnya.
“Tentu saja karena merindukan kamu.” Jawab Raffael sambil merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Jelita.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!