
Pagi ini Jelita bangun dari tidurnya dengan keadaan yang sudah lebih baik. Meskipun hampir semalam penuh ia tidak bisa memejamkan matanya lantaran rasa takut dalam dirinya masih terus menghantui. Beruntungnya semalam Ethan cepat tidurnya. Jadi ia tidak sampai mengabaikan anaknya itu seorang diri.
Jelita masih ingat dengan jelas saat semalam Raffael masuk ke dalam rumahnya. Dan hal itu mengingatkannya pada kejadian beberapa tahu silam dimana mahkotanya direnggut oleh anak dari atasannya.
Jelita pikir dia sudah bisa melupakan kejadian pahit itu. namun ternyata dengan kejadian Raffael masuk ke rumahnya, rupanya dia masih terbayang-bayang kejadian kelam itu. karena memang selama ini, khususnya semenjak kelahiran Ethan, Jelita sama sekali tidak pernah dekat dengan seorang pria manapun. Dengan rekan kerjanya di café juga ia jarang sekali beriteraksi dalam waktu lama dengan mereka. Seperti ada rasa minder dalam dirinya jika berdekatan dengan seorang pria. Termasuk dengan Raffael.
Mengingat nama Raffael, Jelita sampai heran. Kenapa pria itu berusaha mendekatinya. Walau tanpa dipungkiri pesona Raffael mampu mengikatnya saat pertemuan pertamanya dulu. Namun Jelita segera menepis perasaan itu. lagi pula siapa dirinya dan siapa Raffael. Maka dari itu ia berusaha menjauhi pria itu.
“Bundaaa….”
Lamunan Jelita buyar seketika mendengar suara malaikat kecilnya yang baru saja bangun. Wajah lucu Ethan yang masih bermuka bantal itu semakin tampak menggemaskan. Jelita pun segera mendekati Ethan dan mengusak rusuh pada bocah itu. alhasil Ethan tertawa kegelian.
“Bunda tidak nangis lagi?” tanya Ethan tiba-tiba.
Jelita terharu dengan pertanyaan anaknya. dia menggelengkan kepalanya lalu tersenyum dan mencium kedua pipi gembul Ethan.
“Maafkan, Bunda ya Sayang! Sekarang Ethan mandi yuk, setelah ini makan lalu ke rumah nenek.” Ajak Jelita lalu meraih bocah itu membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Cukup dengan mendengar tawa Ethan dan melihat tingkah lucu bocah itu, Jelita perlahan bisa melupakan kejadian kemarin.
Sebenarnya ada rasa bersalah dalam diri Jelita terhadap Raffael. Akibta rasa traumanya, ia sampai meluapkan perasaan itu pada orang yang sama sekali tidak tahu tentang masa lalunya. Mungkin nanti ia akan meminta maaf pada pria itu.
***
Pukul delapan Jelita sudah berangkat ke café. Walau café buka pukul sebelas, namun Jelita tetap ingin membantu di sana. Walau bukan tugasnya. Mengingat Bu Alin adalah orang yang selama ini banyak membantunya.
“Lita? Bagaimana keadaan kamu?” tanya Bu Alin tiba-tiba saat melihat Jelita datang bersama Ethan.
Jelita bingung dengan pertanyaan Bu Alin. Kenapa wanita itu bertanya tentang keadaannya. Apa jangan-jangan semalam Raffael mengatakan pada Bu Alin.
“Lita baik, Bu? Memangnya ada apa?” jawab Jelita.
“Nggak apa-apa. Syukurlah kalau begitu. Semalam Ibu mimpi buruk tentang kamu dan Ethan. Ya sudah kalau begitu biar Ethan bersama Ibu saja bermain di belakang.” Ujar Bu Ali mengalihkan pembicaraan agar Jelita tidak curigat terhadapnya.
__ADS_1
Jelita hanya mengangguk samar. Setelah itu ia masuk ke dapur untuk membantu membuat kue. Sedangkan Ethan sudah berlari ke halaman belakang sambil membawa mainan baru yang semalam dibelikan oleh Raffael.
Sebenarnya Jelita tidak ingin memberikan mainan yang dibawah Raffael pada Ethan. Bahkan ia berencana akan mengembalikannya. Berhubung Ethan ingat, jadi bocah itu tadi sempat nangis gara-gara ingin membuka kemasan mainan itu. akhirnya Jelita pasrah. mungkin ia lebih baik menggantinya saja.
***
Siang hari ini perusahaan Raffael tidak memesan kue sebanyak kemarin. Hanya beberapa saja dan juga minumannya sekaligus.
“Lita, untuk yang box warna biru ini isinya Black Forest. Tolong nanti berikan khusus pada Raffa. Bilang dari Ibu dan tidak perlu bayar lagi.” ucap Bu Alin sebelum Jelita berangkat mengantar pesanan kue ke kantor Raffael.
Sistem pembayaran yang dilakukan Raffael melalui transfer. Jadi setiap hari kue dan minuman yang dipesan tidaklah sama. Raffael biasanya membayar di muka sebelum pesanannya dikirim. Jadi Bu Alin sengaja memberikan kue Black Forest tambahan untuk Raffael sebagai bonus darinya.
“Baik, Bu. Ya sudah, kalau begitu Jelita berangkat dulu. Apa ada pesan lagi?”
“Tidak. Hati-hati dalam berkendara!”
Jelita mengangguk lalu segera membawa box isi Black Forest tadi dan memasukkannya jadi satu dengan kue yang lainnya.
Beberapa menit kemudian Jelita sudah tiba di kantor Raffael. Dia sudah dipersilahkan resepsionis langsung menuju ruangan Raffael.
“Tunggu dulu!” panggil seseorang dari belakang saat Jelita sudah sampai di depan pintu ruangan Raffael.
“Kamu maau mengantar kue pesanan Kak Raffa? Eh, maksudku Tuan Raffael?” tanya Livy.
“Iya, Nona.” Jawab Jelita dengan tersenyum ramah pada Livy.
Livy masih diam. perempuan itu menelisik penampilan Jelita mulai dari atas sampai bawah. Dia sangat penasaran pada sosok wanita pengantar kue itu. kenapa kakaknya kemarin sampai ingin membantu wanita itu mengambil minuman. Livy juga menduga kalau Raffael sepertinya menyukai sosok wanita yang ada di depannya itu.
“Benar-benar bukan wanita berkelas. Dan sangat tidak cocok dengan Kak Raffa.” Batin Livy masih terus memandangi Jelita.
Jelita yang sejak tadi diam melihat sikap aneh Livy, semakin lama semakin tidak nyaman. Apalagi tatapan Livy yang menurutnya seperti seorang juri yang sedang menilai penampilan seorang model.
“Maaf, Nona! Apa saya bisa masuk meletakkan kue ini?” tanya Jelita yang tangannya sudah mulai kebas.
__ADS_1
“Nona Jelita? Anda bisa membawa kue itu ke dalam.” Ucap Raffael yang tiba-tiba muncul.
“Oh iya, Nona Livy. Anda diuntus Tuan Reno sekarang juga untuk datang ke ruangannya.” Ucap Raffael pada adiknya.
Livy menahan kesal pada sang Kakak. Tapi dia juga tidak bisa menolak perintah atasannya. Padahal ia masih sangat penasaran dengan Jelita.
Usai kepergian Livy ke ruangan Papanya, Raffael mempersilakan Jelita masuk membawa beberapa kue pesanannya. Dan kue yang hanya beberapa box itu memang ia pesan untuk dibawa pulang. sebagian dimakan di kantor bersama Livy dan beberapa karyawan yang berada di lantai yang sama dengannya.
“Tuan, yang box warna biru ini Black Forest tambahan dari Bu Alin. Katanya bonus untuk Tuan.” Ucap Jelita.
Bukannya menjawab, Raffael justru diam memandangi Jelita. Hatinya sedikit lega saat melihat wajah cerah Jelita tidak seperti semalam yang sangat ketakutan.
“Jelita, maafkan aku atas kejadian semalam!” lirih Raffael penuh penyesalan.
Jelita mendongakkan kepalanya memberanikan diri menatap mata Raffael.
“Justru saya yang ingin minta maaf pada Tuan atas kejadian semalam.”
“Tidak! Kamu tidak salah. Harusnya aku tidak memaksa masuk ke rumah kamu. Hingga membuat kamu sangat ketakutan seperti semalam.”
“Jelita, ijinkan aku mengenal kamu lebih dekat. Aku ingin menjaga dan melindungi kamu.” Ucap Raffael, lalu ia memberanikan diri memegang kedua tangan wanita itu.
Tatapan Raffael sangat lembut membuat Jelita sangat bingung menghadapi situasi aneh seperti ini.
Cklek
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!