
Posisi kedua insan yang sedang mabuk asmara itu semakin intim. Raffael sejak tadi tidak melepas pagutannya, meskipun kini Jelita bersandar pada sofa dengan Reno mengungkung tubuh istrinya. Kedua kaki Jelita pun kini sudah berada di atas paha Raffael.
Sungguh memang sangat nikmat bermesraan di pagi hari seperti ini. apalagi mereka berdua bisa melakukan lebih dari itu. namun sayangnya Raffael tidak ingin terburu-buru. Dia ingin memberikan kenyamanan dulu pada istrinya sebagai kesan pertamanya. Agar suatu saat atau nanti saat mengulanginya lagi Jelita sudah terbiasa.
Deru nafas Raffael yang semakin memburu seiring dengan suara cecapan bibirnya dengan bibir Jelita membuat suasana pagi yang syahdu itu berubah memanas. namun Raffael harus segera mengakhirinya.
“Aku mencintaimu, Jelita.” Ucap Raffael sembari mengusap sisa saliva pada bibir istrinya.
Tanpa menunggu jawaban sang istri, Raffael segera melesat masuk ke kamar mandi. Jelita bingung dengan sikap aneh suaminya baru saja.
Jelita pun memperbaiki tatanan rambutnya. Setelah itu ia memilih keluar dari kamar berniat untuk pergi ke dapur membantu menyiapkan menu sarapan pagi ini.
Jelita baru kali ini merasakan kehangatan sebuah keluarga. Selama ini memang dirinya hanya hidup berdua saja dengan Ethan. Meskipun hubungannya dengan sang Ibu baru saja membaik, namun dengan tinggal di rumah keluarga suaminya, Jelita juga sangat bahagia.
Sebelumnya Jelita akan mengira kalau keluarga Raffael tidak menerima kehadiranya yang jelas berbeda jauh status sosialnya. Ternyata semua itu salah. Justru kedua orang tua Raffael sangat senang menyambut kehadirannya sebagai anggota baru. Bahkan mereka menerima Ethan yang jelas-jelas bukan darah daging Raffael.
Jelita tampak asyik di dapur membantu Abi memasak. Sedangkan Ethan masih tidur bersama Opanya. Kata Abi juga semalam Ethan tidak rewel meskipun baru pertama kali tidur dengan orang lain selain Bundanya.
“Lita, tolong ini bawa ke meja makan ya? Sebentar lagi Mama akan naik melihat Papa kamu sudah bangun apa belum.” Ucap Abi.
Kebetulan hari ini weekend. Jadi semua orang tampak santai. Hanya Raffael saja yang hari ini sibuk dengan beberapa urusan perusahaan yang belum selesai.
Setelah Abi menyiapkan makanan di atas meja makan, wanita itu membuat teh hijau sesuai permintaan suaminya tadi. sepanjang pagi ini hati Jelita sangat bahagia. Entah apa penyebabnya. Atau mungkin asupan vitamin tadi pagi yang dilakukan bersama suaminya. mengingat itu, tiba-tiba saja Jelita mengulas senyum tipis dengan wajah memerah.
“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Raffael yang tiba-tiba muncul di ruang makan.
Jelita jelas terkejut. Di saat membayangkan aktivitasnya tadi pagi, justru orang yang ada dalam bayangannya itu muncul tiba-tiba.
“Mas? Sejak kapan di sini?” tanya Jelita dengan gugup.
“Sejak kamu membuat teh. Memangnya sedang melamun apa sampai senyum-senyum seperti itu, hem?” bisik Raffael tepat di telinga istrinya.
__ADS_1
“Nggak melamun apa-apa, kok. Ya sudah aku ke kamar dulu. Apakah Ethan sudah bangun?” Jelita berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia sangat malu jika ternyata suaminya tahu kalau sedang membayangkan kegiatan tadi pagi.
“Sudah. Tadi Mama ambil baju Ethan katanya mau dimandiin sekalian. Ya sudah kamu mandilah dulu!”
Beberapa saat kemudian semua anggota keluarga kini sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama. Di sana juga ada Livy yang sedang duduk di samping Ethan. Sejak tadi Livy tak henti-hentinya mencubiti pipi gembul Ethan yang sangat menggemaskan.
“Vy, jangan gitu dong! Kasihan Ethan tuh nggak nyaman.” Protes Raffael saat melihat adiknya sejak tadi usil pada Ethan.
“Habisnya dia gemesin banget, Kak. Aku nanti pingin punya anak yang seperti Ethan gini.” Seloroh Livy tanpa beban.
“Sudah, lanjutkan dulu makannya! Biar Ethan sama Oma saja ya makannya?” Sahut Abi yang sudah lebih dulu menyelesaikan makannya.
Jelita hanya tersenyum melihat kebersamaan pagi ini yang begitu hangat. Lalu ia melanjutkan makannya.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Raffael amit pada Jelita untuk pergi ke kantor. walaupun weekend, kalau memang ada pekerjaan yang urgent, Raffael pasti akan tetap datang ke kantor.
“Aku pergi ke kantor dulu ya? Nanti setelah selesai, aku janji akan mengantar kamu ke Tante Alin.”
Raffael mengecup singkat kening istrinya sebelum pergi. Dan itu mmebuat Jelita sangat malu. Apalagi di sana ada Livy yang tidak sengaja lewat. Tapi Livy terlihat biasa saja dan tidak terganggu dengan apa yang kakaknya lakukan baru saja. baginya itu adalah hal yang wajar.
***
Sementara itu saat ini Mario sedang berdiam diri di dalam kamarnya. Beberapa hari ini keadaannya tidak baik-baik saja. terlebih setelah bertemu dengan Jelita. Wanita yang pernah ia nodai sampai melahirkan seorang anak.
Selama beberapa hari ini juga Mario tidak keluar rumah sama sekali. Kedua orang tuanya memang melarang agar menenangkan diri dulu. Sedangkan Merlyn yang sejak beberapa hari yang lalu terus menghubungi Mario, tampak pria itu abaikan.
Entah kenapa Mario sudah tidak ada mibat lagi untuk melanjutkan hubungannya dengan Merlyn. Padahal keduanya sudah lama menjalin hubungan. Meskipun sempat putus nyambung beberapa kali. Semenjak Mario bertemu kembali dengan Jelita ada rasa menggebu dalam dirinya untuk memiliki wanita itu. apalagi sudah ada anak dari hasil perbuatan bejaatnya dulu.
Drt drt drt
Mario meraih ponselnya di atas nakas. Ada pesan dari seseorang yang selama ini ia suruh untuk mencari tahu keberadaan Jelita.
__ADS_1
“Nona Jelita sudah resmi menikah dengan Tuan Raffael.”
Begitulah bunyi pesan singkat yang baru saja ia terima dari orang suruhannya. Seketika itu tangan Mario terkepal kuat. Dia tidak terima atas pernikahan Jelita dan Raffael. Harusnya dialah yang menjadi suami Jelita. Tak peduli walau wanita itu tidak mencintainya. Namun dnegan adanya anak, Mario semakin bertekat untuk merebut Jelita dari tangan sahabatnya sendiri.
Tok tok tok
Pintu kamar Mario terbuka dari luar, karena memang tidak ia kunci. Ternyata Mamanya yang masuk sambil membawakan segelas susu hangat.
“Ini minumlah dulu! Setelah ini keluarlah, ada Merlyn di bawah.” Ucap Chelsea.
Mario benar-benar malas untuk bertemu Merlyn. Padahal selama ini Merlyn yang ia perjuangkan. Bahkan sebentar lagi akan bertunangan. Apakah sebaiknya ia memutuskan hubungannya dengan kekasihnya itu.
“Ma, apa Mama menyukai Merlyn?” tanya Mario tiba-tiba.
Chelsea melirik jengah pada putranya itu. harusnya tidak perlu bertanya seperti itu Mario sudah tahu kalau memang sejak dulu Mamanya tidak begitu suka dengan Merlyn yang terkesan angkuh.
“Sekarang juga, Mario akan memutuskan Merlyn, Ma.” Lanjut Mario tanpa menunggu jawaban dari Mamanya.
Chelsea sangat terkejut. Kenapa Mario tiba-tiba memutuskan Merlyn? Walau dia tidak suka dengan wanita itu, tapi Chelsea takut jika Mario memutuskan Merlyn hanya karena ingin mengejar Jelita.
“Tunggu Mario! Apa kamu akan memutuskan Merlyn karena Jelita?” tanya Chelsea.
“Itu salah satu alasannya, Ma!” Jawab Mario dengan tersenyum tipis pada Mamanya. Setelah itu berlalu meninggalkan sang Mama yang masih sangat shock.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!