
Sampai selesai makan malam pun Raffael belum pulang ke rumah. Reno mengatakan pada Jelita kalau suaminya sedang ada urusan mendadak. Dia pun bisa bernafas lega meskipun merasa ada yang aneh dengan sikap suaminya. padahal Jelita tadi hendak menjelaskan pada Raffael mengenai dirinya yang mengajak Arvin bicara empat mata saat di rumah ibunya tadi.
Jelita bicara dengan Arvin hanya untuk mengucapkan terima kasih karena selama ini ikut membantu perawatan sang Ibu. Namun saat ia hendak memberitahu Raffael, ternyata suaminya itu lebih dulu memasang mode senyap seolah tidak ingin bicara dengan siapapun.
Jelita masuk ke kamar Ethan untuk menidurkan bocah itu. kebetulan Livy juga ikut. Perempuan itu sejak tadi menempel pada kakak iparnya seolah ada yang ingin dicurhatkan. Dan benar saja. saat Ethan sudah tidur, Livy curhat tentang hubungan asmaranya dengan pria yang bernama Febian.
Jelita yang sebenarnya masih memikirkan suaminya tak kunjung pulang, dia akhirya memilih menjadi pendengar setia adik iparnya yang sedang berbunga-bunga karena baru saja jadian dengan Febian.
Sedikit hiburan bagi Jelita di saat suntuk seperti ini. ternyata Livy adalah tipe orang yang sangat asyik diajak ngobrol. Awalnya saja dulu ia merasa tidak nyaman karena memang Livy sempat tidakmenyetujui hubungan kakaknya dengan dirinya. Namun setelah mengenal lebih dalam, Livy orangnya sangat baik.
Banyak sekali nasehat yang diberikan Jelita untuk Livy tentang hubungannya dengan Febian. Meskipun Jelita sendiri tidak ada pengalaman tentang hal itu sebelumnya, namun dia cukup memberikan saran dan nasehat untuk kebaikan hubungan Livy dan Febian ke depannya.
“Terima kasih banyak, Ka katas nasehatnya. Aku sekarang jadi seperti punya sahabat nih. Ternyata Kak Jelita sangat baik. Maaf, jika dulu aku sempat menentang hubungan Kakak dengan Kak Raffa.” Ujar Livy menyesal.
“Nggak apa-apa. Wajar kok. Aku juga memang merasa tidak pantas mendapatkan Mas Raffa. Ya sudah, lebih baik sekarang kamu istirahat. Bukannya besok sudah harus bekerja lagi?”
Livy pun mengangguk ramah. Setelah itu ia masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Jelita yang masih berada di kamar Ethan.
Jelita melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. namun sampai saat ini suaminya tak kunjung pulang. mencoba menghubunginya tapi tidak ada jawaban. Mau langsung tidur pun tidak bisa, sebelum suaminya pulang.
Tak lama kemudian terdengar pintu kamar terbuka. Suasana kamar yang temaram masih bisa membuat Jelita melihat dengan jelas kalau yang masuk itu adalah suaminya.
“Mas, baru pulang?” sambut Jelita.
Raffael hanya diam. kemudian ia segera mengunci pintu kamar dan menuju ruang ganti. Jelita sempat mencium aroma alkohol. Namun ia tidak berani bertanya banyak pada suaminya. lagipula suaminya baik-baik saja. tidak mabuk.
“Biar aku ambilkan bajunya, Mas!” sergah Jelita saat melihat Raffael membuka lemari pakaian.
__ADS_1
Raffael masih diam tapi tidak mengijinkan istrinya mengambil baju untuknya. Karena ia lebih dulu mengambil bajunya sendiri. Jelita hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan melihat sikap suaminya seperti ini dan baru ia tahu.
Jelita memilih menunggu suaminya di atas tempat tidur. Tapi sayangnya Raffael langsung merebahkan tubuhnya tanpa mempedulikan istrinya yang sudah menunggunya.
Mungkin Raffael sangat lelah dan ingin segera istirahat. Jelita pun tidak jadi bertanya mengenai kepergian suaminya tadi. dia pun akhirnya ikut tidur, meskipun matanya sangat sulit terpejam.
Keesokan paginya Jelita bangun terlambat. Dia sangat terkejut karena sudah pukul setengah tujuh. Ia beregegas masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan segera turun ke dapur. Suaminya juga sudah tidak ada di kamar.
Sesampainya di dapur, Jelita merasa tidak enak saat melihat mamanya baru saja selesai dengan kegiatan memasaknya.
“Maaf, Ma. Lita bangun kesiangan.” Ucap Jelita.
“Nggak apa-apa, Sayang. Kamu juga pasti lelah. Mama juga hanya memasak sedikit menu saja, dan buru-buru karena suami kamu sudah menunggu di meja makan.” Jawab Abi dengan tenang.
Jelita semakin merasa bersalah. Dia pun segera menyusul ke ruang makan. Raffael tampak sumringah saat mamanya membawakan masakan untuknya. Pria itu juga sudah tampak rapi. Padahal belum waktunya berangkat ke kantor.
Jelita berinisiatif mengambilkan makan untuk suaminya. Raffael yang ingin mencegahnya ia urungkan karena di sana ada Mamanya.
Pesawat. Apakah suaminya akan bepergian. Tapi kenapa Raffael tidak mengatakan apapun pada dirinya.
“Memangnya Mas Raffa mau kemana?” Tanya Jelita.
“Loh, kamu nggak tahu kalau suami kamu akan perjalanan bisnis ke luar negeri?” tanya Abi menatap heran anak dan menantunya secara bergantian.
Jelita menggelengkan kepalanya. Sedangkan Raffael tampak cuek dan mulai menyantap makanannya. Abi hanya geleng-geleng kepala melihat sikap anak menantunya itu yang sepertinya sedang bertengkar. Akhirnya wanita itu memilih keluar dari ruang makan tanpa mau ikut campur urusan anak dan menantunya.
“Mama bangunin Ethan dulu!” pamit Abi segera berlalu.
__ADS_1
Kini di ruang makan hanya ada Raffael dan Jelita. Jelita menatap suaminya yang sedang menikmati sarapannya. Pria itu sama sekali tidak ingin menjelaskan apapun pada istrinya mengenai kepergiannya. Otomatis membuat Jelita semakin tidak mengerti apa mau Raffael sebenarnya.
“Mas Raffa pergi berapa lama?” tanya Jelita dengan tenang.
“Sekitar satu sampai dua minggu.” Jawab Raffael tanpa menatap istrinya.
“Ya sudah hati-hati di sana.” Lanjut Jelita dengan menundukkan kepalanya.
Raffael menghentikan makannya. Ia melihat istrinya sedang tertunduk sedih. Namun ia juga masih kesal saat mengingat Jelita mengajak Arvin bicara berduaan saja.
“Aku memang tidak tahu tentang pekerjaan Mas Raffa seperti apa dan tentang perjalanan bisnis yang akan Mas lakukan sebentar lagi. tapi, aku ini istri Mas Raffa. Tidak bisakah Mas memberitahu aku tentang ini semua? Aku seperti istri yang bodooh yang tidak tahu apa-apa tentang kegiatan suaminya. apalagi semalam Mas pergi dan pulang tanpa memberitahuku. Apakah ini yang disebut rumah tangga, Mas?” jelita menatap suaminya dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
“Kita hanya mengenal sebentar dan langsung menikah. aku sama sekali belum cukup banyak mengenalmu, Mas. Begitu juga dengan kamu. tidak bisakah kita belajar bersama-sama dalam menjalani biduk rumah tangga ini, Mas? Aku juga tentunya masih banyak kekurangan. Tidak serta merta menjadi istri yang sempurna untuk kamu. Kalau kamu diam-diaman seperti ini, sama saja seperti kehidupanku sebelum ada kamu. Dan aku sudah terbiasa dengan kesendirian. Maaf jika ucapanku salah. Semoga perjalanan bisnis kamu ke luar negeri lancar dan baik-baik saja. maaf, aku tidak bisa mengantar kamu.” Tutur Jelita panjang lebar lalu bergegas pergi meninggalkan ruang makan.
Ternyata sejak tadi Reno mendengarkan pembicaraan anak dan menantunya di ruang makan. Sepertinya Raffael dan Jelita sedang bertengkar. Namun pria itu sangat salut dengan semua ucapan menantunya.
“Raff!” Reno mencekal lengan Raffael saat pria itu hendak mengejar istrinya.
“Tunda dulu kepergian kamu! Selesaikan masalah kamu dengan menantu Papa.”
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!