Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 78


__ADS_3

Hari itu juga dunia Jelita hancur berkeping-keping. Ujian yang diberikan Tuhan terhadapnya benar-benar sangat dahsyat. Masalah rumah tangganya yang masih belum selesai, kini datang lagi kabar duka tentang meninggalnya sang Ibu.


Arvin masih memeluk tubuh lemah Jelita yang sedang menangis tanpa suara. Pria itu berjalan pelan masuk rumah dan mengajak Jelita duduk agar lebih tenang. Walau pada kenyataannya Jelita terus menangis tergugu.


“Ibu…Ibu…Ibu… kenapa Ibu meninggalkan Lita, Bu!” lirihnya dalam isakan.


“Kamu yang sabar, Lita! Mungkin ini memang yang terbaik dari Tuhan. Ibu kamu sudah tidak sakit lagi. Ibu kamu sudah tenang di sisinya. Memang sangat sulit, tapi kamu harus bisa mengikhlaskannya.”


Arvin sendiri masih terpukul dengan kabar ini. dia tidak menyangka kalau selama ini kakak iparnya itu tidak hanya menderita penyakit bronchitis yang sudah kronis. Menurut informasi dari dokter tadi saat kondisi Bu Sukma sempat kritis, ternyata Bu Sukma juga mengalami gagal ginjal. Entah sejak kapan wanita itu menyembunyikan semua pemyakitnya. Dia sendiri yang diserahi amanah oleh Jelita untuk membantu menjaga Bu Sukma merasa ikut bersalah karena tidak tahu apa-apa tentang penyakit lain yang diderita oleh kakak iparnya.


Setelah Jelita cukup tenang, Arvin memutuskan untuk kembali lagi ke rumah sakit. Malam ini juga jenazah Bu Sukma dibawa pulang ke rumah duka sebelum besok pagi dimakamkan.


Arvin meminta bantuan beberapa saudara jauhnya yang tingga tak jauh dari rumah Bu Sukma untuk dimintai tolong membantu persiapan pemakaman.


Jelita terdiam memaku setelah kepergian Arvin ke rumah sakit. Hatinya hancur berkeping-keping. Tujuan utamanya pulang kenapa justru seperti membawa petaka seperti ini. bahkan di hembusan nafas terakhir Ibunya, Jelita tak sempat mengatakan apapun ataupun mendengar pesan terakhir Ibunya.


**


Keesokan paginya jenazah Bu Sukma sudah siap dimakamkan. Pagi ini juga Ethan dibawa oleh pembantu Arvin untuk ikut mengantar neneknya ke perstirahatan terakhirnya. Jelita memeluk anaknya dengan erat. Mengingat setelah beberapa hari ini dia menitipkan Ethan pada pembantunya Arvin.


Jelita tidak sempat memberi kabar pada keluarga suaminya ataupun Bu Alin. Karena sejak semalam keadaannya tidak baik-baik saja. dia hanya fokus pada sang Ibu.


Tangis pilu mengiringi kepergian Bu Sukma. Jelita beberapa kali pingsan karena tidak rela ditinggal pergi selamanya oleh sang Ibu, ditambah lagi keadaannya yang akhir-akhir ini sedang tidak sehat.


Beberapa saat kemudian setelah proses pemakaman itu selesai, Jelita masih enggan beranjak dari sisi makam yang tanahnya masih basah itu. sedangkan Arvin berdiri tak jauh dari Jelita sambil menggendong Ethan. Pria itu membiarkan Jelita bersimpuh di makam Ibunya. Siapapun orangnya jika ditinggal pergi selamanya oleh orang tua kita pasti sangat sedih. Tak terkecuali Jelita.


Belum juga hilang ingatannya tentang kematian sang Ayah beberapa tahun yang lalu, kini ia harus kehilangan lagi sosok wanita yang telah melahirkannya. Jelita terus dibayangi rasa bersalah karena selalu menunda kepulangannya saat sang Ibu memintanya pulang karena rindu dengan anaknya. apakah itu memang pertanda kalau Ibunya akan pergi meninggalkan dunia ini.

__ADS_1


Jelita kembali tergugu di samping makam Bu Sukma. Arvin tidak tega melihat kesdihan wanita itu. apalagi Ethan menatap bingung ke arah Bundanya. Akhirnya Arvin menghampiri Jelita.


“Lita, sudah! Jangan menangis terus. Ibu kamu akan semakin sedih jika melihat kamu seperti ini. ikhlaskan Ibu kamu, dan doakan yang terbaik. Hidup kamu belum berakhir, masih ada Ethan yang membutuhkan kasih sayangmu.”


Jelita menghentikan tangisnya saat Arvin menyebut nama anaknya. dia menoleh pada Omnya yang sejak tadi menggendong Ethan. Kemudian ia mengambil Ethan dan menggendongnya.


Arvin akhirnya berhasil mengajak Jelita pulang. dia tidak ingin terjadi hal buruk dengan keponakannya itu saat terus-terusan menangis di samping pusara Ibunya.


Sesampainya di rumah, Jelita langsung masuk ke dalam rumah bersama Ethan. Arvin pun ikut masuk. Dia juga meminta pembantunya untuk tinggal sementaara di rumah kakak iparnya menemani Jelita dan Ethan.


Sore harinya suasana rumah sangat sepi. Beberapa sanak saudara Arvin satu per satu pulang ke rumah mereka masing-masing. Menyisakan dirinya, Jelita, Ethan, dan pembantunya yang saat ini sedang membersihkan rumah.


“Lita, apa kamu tidak mengabarkan semua ini pada suami kamu?” tanya Arvin dengan hati-hati.


Jelita yang sedang duduk seorang diri tak lantas menjawab pertanyaan Arvin. Suasana hatinya masih berduka dengan kepergian sang Ibu. Tapi baru saja ia diingatkan dengan masalahnya yang sama sekali belum ada solusinya. Bukan berniat tidak mencari solusi sebenarnya. hanya saja hati Jelita masih sangat sakit dengan kalimat hinaan yang dilontarkan oleh suaminya kemarin.


“Biarkan saja, Om!” jawabnya kemudian dengan suara datar.


“Atau aku hubungi saja mertua kamu?” tawar Arvin.


“Tidak perlu, Om! Nanti saja kalau aku sudah lebih baik akan pulang dan menyelesaikan masalah ini.” jawab Jelita lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya.


***


Tanpa terasa sudah tujuh hari kepergian Bu Sukma. Selama itu Jelita masih dirundung kesedihan mendalam. Beberapa kepingan kenangan bersama sang Ibu selalu melintas dalam pikirannya. Sesakit ini ternyata ditinggal pergi oleh orang tua kita. Bahkan belum sempat ia membahagiakan sang Ibu, tapi Tuhan lebih dulu mengambilnya.


Dan selama itu pula Jelita masih terus berusaha menghubungi suaminya. meskipun pesan yang dikirim beberapa hari yang lalu belum juga terkirim, otomatis panggilannya juga tidak bisa tersambung. Sampai-sampai Ethan sering mencari keberadaan Ayahnya namun Jelita selalu mengatakan kalau Raffael sedang bekerja.

__ADS_1


***


Beberapa hari setelah kepulangannya dari rumah mertuanya dengan kejutan yang diberikan oleh istrinya, sejak saat itu Raffael tidak pulang ke rumahnya. Bahkan ke kantor saja dia tidak datang.


Raffael masih marah dengan Jelita dengan kejadian waktu itu. dia juga sempat mengatakan sudah tidak sudi lagi menganggap wanita itu sebagai istrinya. Walaupun hatinya masih ada cinta untuk Jelita.


Raffael sengaja mengganti nomor ponselnya. Ia memberi waktu selama tiga hari pada Jelita agar wanita itu berinisiatif datang dan meminta maaf padanya. Namun sampai seminggu Jelita tak kunjung datang. hal itu semakin membuatnya yakin kalau apa yang dilihatnya waktu itu adalah kenayataan. Dan Raffael sudah bertekat untuk mengakhiri hubungannya dengan wanita itu.


Dengan keadaan yang berantakan, Raffael akhirnya memutuskan untuk pulang setelah seminggu ini tinggal di apartemen yang baru saja ia beli.


***


Raffael baru saja menginjakkan kakinya, sudah dihadang oleh Mamanya yang selama ini juga mencari keberadaannya.


“Raffa!!! Astaga! Kemana saja kamu selama ini? dimana Jelita dan Ethan?” tanya Abi khawatir. Apalagi melihat keadaan Raffael sedang tidak baik-baik saja.


Sebagai seorang Ibu Abi tentu yang paling khawatir dengan keadaan anaknya. apalagi selama seminggu ini anaknya itu absen dari kantor setelah berpamitan menjemput istrinya. Abi juga sudah menghubungi Jelita, namun tidak ada jawaban.


Raffael menghentkan langkahnya sejenak dan menatap Mamanya.


“Jangan cari dia lagi! tidak sudi Raffa menganggapnya istri. Dia bukan istriku lagi, Ma!” jawab Raffael lalu kembali melanjutkan langkahnya masuk ke kamar.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2