Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 70


__ADS_3

“Kenapa?” tanya Raffael pada istrinya saat dia baru saja keluar dari kamar mandi. pasalnya saat ini Jelita sedang memegang ponselnya.


“Mas, setelah pulang nanti bolehkah aku pulang ke rumah Ibu? Sebentar saja.” tanya Jelita dengan ragu.


Setelah bertukar pesan dengan maid yang menjaga Ethan, Jelita mendapat pesan dari Arvin yang mengatakan kalau Ibunya sedang kurang enak badan dan ingin bertemu dengan cucunya. Jelita bertanya apakah penyakit Ibunya kambuh. Ternyata tidak. Bu Sukma sakit biasa dan kangen dengan cucunya.


“Memangnya ada apa? Apa Ibu sakit? Lebih baik kita ajak tinggal bersama kita saja, Sayang. Nanti biar aku bisa membawa Ibu ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap.”


“Tidak usah, Mas. Ibu pasti menolak. Ibu pernha bilang kalau beliau tidak mau pindah kemana-mana. Baginya rumah itu sudah sangat nyaman. Apalagi bisa kapan saja mendatangi makam Ayah. Kata Om Arvin Ibu hanya sakit biasa saja dan kangen pada Ethan. bukan penyakitnya yang kambuh. Boleh, ya?”


Raffael bingung untuk memutuskan. Apalagi istrinya nanti di sana pasti akan lama dan dirinya tidak bisa menemaninya, karena pekerjaannya yang begitu padat.


“Mas tetap bekerja saja. aku tahu kalau pekerjaan Mas sangat padat. biar aku sama Ethan saja yang pergi.” Lanjut Jelita.


“Baiklah. Lihat nanti ya? Tapi aku tetap mengantar kalian.” jawab Raffael akhirnya.


***


Rencana bulan madu dadakan Raffael dan Jelita berjalan dengan lancar dan sukses. Mereka berdua benar-benar menikmati momen itu meskipun hanya sehari saja. banyak hal yang mereka dapatkan dari perjalanan singkat itu. karena tidak melulu tentang berbagi kepuasan di atas ranjang, melainkan tentang saling memahami sikap masing-masing. Apalagi keduanya memiliki sifat dan sikap yang jelas berbeda. Namun dengan perbedaan itu, jika bisa saling memahami satu sama lain, otomatis mereka akan saling melengkapi.


Jelita cukup lega setelah sampai rumah melihat Ethan yang tampak bahagia dengan kegiatannya. Mulai sekarang, Jelita akan membiasakan Ethan mandiri. Tidak harus bersamanya terus. Karena kini banyak sekali yang menyayangi anaknya. tidak seperti dulu. Lagi pula usia Ethan semakin lama semakin bertambah.


Beberapa hari lagi Raffael akan kembali ke tanah air. Jadi Jelita ingin menikmati hari-hari terakhirnya di sini dengan baik. Dengan mengajak suaminya pergi jalan-jalan bersama Ethan ke tempat yang belum pernah ia datangi. Dengan senang hati Raffael mengantarnya.


**


Acara undangan pesta dari rekan bisnis Raffael pun tiba. Malam ini Raffae datang bersama istrinya. Dan sesuai dengan rencananya, usai dari acara tersebut, mereka langsung bertolak ke bandara.

__ADS_1


Kini Raffael sudah tiba di hotel tempat acara diselenggarakan. Pria itu menggandeng mesra tangan istrinya yang malam sangat cantik dengan gaun yang tidak terlalu terbuka namun tetap menunjukkan kesan elegan.


Beberapa rekan bisnis Raffael tampak terpesona dengan Jelita. Apalagi wajah Jelita paling mencolok dibandingkan yang lainnya, karena mayoritas dari mereka adalah bule.


Raffael menyapa beberapa rekan bisnisnya sekaligus memperkenalkan Jelita sebagai istrinya. Jelita pun menyapa kembali sapaan dari mereka dengan sopan. Kemudian Raffael mengajak Jelita menemui si pemilik acara.


Tanpa Raffael dan Jelita ketahui, ternyata Sania juga ikut hadir dalam acara itu. perempuan itu sejak tadi melihat Raffael yang tampak sangat mesra dengan Jelita. Dia mengepalkan kuat tangannya. setelah itu Sania tersenyum sinis seolah sedang menemukan ide cemerlang.


“Mas, aku ambil minum dulu ya?” bisik Jelita pada Raffael yang tengah berbincang-bincang dengan rekan bisnisnya.


Raffael mengangguk dan membiarkan istrinya mengambil minum sekaligus menikmati beberapa hidangan yang tersedia dalam pesta itu. dan di saat itulah Sania datang. dia mengikuti kemana Jelita pergi.


“Wah, enak sekali ya anda sampai bisa ikut hadir dalam acara bergengsi seperti ini?” ucap Sania tiba-tiba.


Jelita menoleh sekilas. Namun setelah itu kembali melanjutkan langkahnya dan mengambil minuman. Dia sangat malas meladeni Sania. Dia juga heran, kenapa Sania bisa berada di pesta ini juga.


Jelita juga menikmati beberapa kue yang ada di sana. Dia masih mengabaikan keberadaan Sania. Karena memang tidak hanya dirinya saja yang ada di sana. Ada beberapa tamu juga sedang melakukan hal yang sama. Namun tanpa Jelita sadari, saat beberapa tamu lengah, Sania mengambil segelas minuman dan mengguyurkan minuman itu ke gaunnya yang berwarna putih. Setelah itu Sania terduduk di lantai sambil berteriak.


Beberapa orang datang menghampirinya. Dengan menggunakan Bahasa asing Sania menangis sambil menunjuk ke arah Jelita dan menuduh kalau Jelita yang melakukan semua itu.


Sania berdalih kalau Jelita adalah perempuan gila yang tadi sempat meminta tolong padanya dengan Bahasa yang tidak dia pahami (Indonesia). Sania berpura-pura tidak tahu Bahasa yang digunakan oleh Jelita, begitu juga dengan Jelita yang tidak bisa menggunakan bahas asing. Jadi hal itu terkesan Jelita yang memaksa Sania untuk membantunya dna berakhir dengan Jelita yang menyiram tubuh Sania dengan minuman karena dia merasa kebingungan.


Beberapa tamu yang datang menghampiri mereka berhasil kena hasutan Sania dan menatap heran sambil bergidik terhadap Jelita. Bahkan salah satu dari mereka sudah ada yang menghubungi pihak keamanan untuk membawa Jelita pergi dari pesta ini. Sania oun tersenyum penuh kemenangan. Dia berhasil membuat malu Jelita.


“Wait! Don’t do that!” cegah Jelita saat ada pihak keamanan sudah datang dan hendak membawanya keluar. (Tunggu! Jangan lakukan itu!”)


Sania dibuat terkejut dengan ucapan Jelita baru saja. begitu juga dengan beberapa orang yang masih ada di sana.

__ADS_1


“Miss Sania, we’re from the same country, right? Why do say that you can’t understand my language? And you are all have to knowing that I don’t do anything to her, include spilling the drink to her dress.”


(“Nona Sania, kita berasal dari negara yang sama, bukan? Kenapa anda bilang tidak megerti denfan Bahasa saya? dan anda semua harus tahu bahwa saya tidak melakukan apapun padanya, termasuk menumpahkan minuman ke bajunya”)


Sania tidak menyangka kalau Jelita sangat fasih menggunakan Bahasa asing. Dan kini justru orang-orang yang menatapnya heran sekaligus menganggap dirinya lah yang gila. Akhirnya pihak keamanan yang membawa Sania keluar dari acara pesta itu.


Raffael datang dengan tergesa-gesa saat melihat kerumunan di mana ada istrinya di sana. Tadi dia sempat melihat seklias keberadaan Sania di pesta ini. lalu perasaannya tidak enak. Khawatir Sania berulah pada istrinya.


“Sayang, ada apa ini? kamu baik-baik saja?” tanya Raffael khawatir.


Sementara orang-orang yang ada di tempat itu satu per satu meninggalkan Jelita. Mereka juga meminta maaf pada Jelita atas sikapnya yang sempat berburuk sangka padanya.


Raffael menatap bingung pada istrinya. Terutama dengan sikap orang-orang yang meminta maaf pada istrinya.


“Bisakah kita pulang sekarang, Mas? Nanti aku ceritakan semuanya.”


“Baiklah. Ayo kita pergi!”


Kini Raffael sudah berada di dalam mobil bersama Jelita. Pria itu mengepalkan kuat tangannya saat mendengar cerita istrinya tentang ulah Sania tadi. dia telah kecolongan. Ternyata Sania sudah berulah di luar batas. Bukan tidak mungkin perempuan itu akan mengulangi perbuatannya lagi.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2