
Raffael terdiam melihat langkah Jelita yang semakin menjauh. Apakah setelah mendapat penolakan dari wanita itu, Raffael akan menyerah begitu saja? tentu saja tidak. Raffael yang memang sifatnya tidak pernah menyerah sebelum keinginannya tercapai, sudah pasti dia akan tetap mengejar Jelita.
Mungkin Jelita masih terkejut dengan ungkapan perasaannya yang secara tidak langsung. lagi pula kalau dia menjadi Jelita juga tidak semudah itu menerimanya. Apalagi pada sosok yang baru saja ia temui dan tidak mengenal dekat.
Raffael akan sabar dan mencari cara lain untuk mendekati Jelita. Terlebih ia sudah tahu tentang masa lalu wanita itu. masa lalu yang menurutnya sangat kelam, dan Raffael sangat salut dengan kegigihan hati Jelita yang dengan tegas menolaknya.
Akhirnya usaha Raffael malam ini gagal. Dia terlihat biasa saja. tidak aada kata putus asa dalam dirinya. Selama matahari masih menyinari bumi, dan ia masih berpijak di belahan bumi yang sama dengan Jelita, selama itu pula Raffael akan terus berusaha mendekati wanita itu.
Tidak lama Raffael menikmati minuman yang sudah dipesannya itu. untuk apa juga berlama-lama di café kalau orang yang dituju kini sedang berusaha menjauhinya.
Raffael begegas menuju kasir untuk membayar minumannya. Setelah itu ia akan pulang.
***
Tepat sampai rumah, Raffael langsung menuju ruang makan di mana saat ini keluarganya sedang berkumpul di sana untuk makan malam bersama. Dia pulang sedikit terlambat, karena terlihat kedua orang tuanya dan juga Livy hampir menyelesaikan makan malamnya.
“Selamat malam semuanya!” sapa Raffael berbasa-basi.
Raffael langsung mengambil piring dan mengisinya dengan makanan setelah mencuci tangannya sebentar. Di atas meja makan itu juga tampak kue Black Forest yang dia pesan tadi siang. Rupanya masih banyak dan sepertinya dibawa Mamanya pulang.
“Apa kamu tadi lembur, Raff?” tanya Abi.
“Ngga, Ma. Ada urusan sebentar di luar.” Jawab Raffael lalu kembali mengunyah makanannya.
Sedangkan Livy sejak tadi tampak diam saja. sebenarnya dia juga sangat penasaran pada hubungan kakaknya dan wanita pengantar kue dari Alin’s Café. Tapi sayangnya Livy tidak punya banyak nyali untuk menanyakannya langsung pada Raffael, terlebih di hadapan kakaknya.
Abi dan Reno lebih dulu meninggalkan ruang makan, karena memang sudah selesai. sedangkan Livy sepertinya sengaja menunggu kakaknya.
Raffael tidak peduli dengan adiknya yang masih duduk di meja makan. Dia malaah asyik menikmati makanannya dan juga kue Black Forest.
“Kak!” panggil Livy yang mulaikesal karena melihat sikap kakaknya yang acuh dan seperti tidak menganggap keberadaannya.
__ADS_1
Sedangkan yang dipanggil hanya diam saja dan mulutnya masih terus mengunyah.
“Kak Raffa!!” panggil Livy lagi.
“Hemm?” jawab Raffael tanpa sedikitpun menatap adiknya.
Livy yang sudah menahan kesal di ubun-ubunnya, akhirnya ia menanyakan langsung pada kakaknya mengenai Jelita.
“Apa Kak Raffa menyukai pengantar kue itu?” tanya Livy.
“Memangnya kenapa? Ada masalah?” jawab Raffael yang kini sudah fokus dengan Livy.
Raffael hanya ingin menegaskan pada adiknya untuk tidak terlalu ikut mencampuri urusan pribadinya. Setiap orang mempunyai privasi masing-masing. Meskipun Livy adalah adiknya, tetap saja tidak ada hak buat dia mencampuri urusan pribadinya. Terlebih masalah perasaan.
“Dia tidak sepadan dengan kita, Kak. Dan aku tidak suka.” Jawab Livy dengan entengnya.
“Kalau kamu tidak suka ya terserah kamu. Memangnya aku pernah mencampuri urusan kamu dengan Febian? Aku juga sama seperti kamu. Aku tidak suka dengan Febian.” Jawab Raffael.
“Sikap dan status sosial itu sangat berbeda jauh, Vy! Kamu perlu tahu dengan hal itu. dan Kakak ingatkan ke kamu, jangan sekali-kali kamu ikut campur dengan urusan pribadi Kakak. Aku bahagia atau tidak bukan status sosial yang menentukan. Ingat itu! suatu saat kamu akan merasakannya.” Ucap Raffael lalu segera beranjak pergi meninggalkan Livy.
Raffael benar-benar kesal dengan adiknya. Ya, dia menganggap Livy memang belum dewasa. Dan tentang hubungan Livy dengan seorang pria bernama Febian sebenarnya juga Raffael tidak suka.
Febian adalah anak salah satu rekan bisnis Papanya. Dan sebenarnya diantara Livy dan Febian tidak ada hubungan apa-apa. Livy saja yang sangat terobsesi dengan sosok Febian yang good looking dan good rekening.
Meskipun Raffael tinggal di luar negeri, dia tahu banyak tentang pria yang bernama Febian itu. bagaimana tidak tahu, karena hampir setiap kali Livy menghubunginya, adiknya itu selalu menceritakan tentang Febian. Raffael jelas sangat malas mendengarnya.
Sedangkan kalimat yang dilontarkan pada adiknya tadi memang sengaja ia lakukan, agar Livy bisa bersikap sedikit dewasa dalam menilai sesuatu. Raffael tidak peduli jika adiknya mengadu pada Mama atau Papanya tentang Jelita. Bahkan Raffael sudah siap menghadapinya, terlebih dengan status Jelita yang sudah mempunyai anak.
Hari ini weekend. Raffael tentu saja libur bekerja. Otomatis selama dua hari ini dia tidak bisa bertemu dengan Jelita. Padahal dia sangat merindukan wanita itu. setiap hari rasanya hati Raffael sangat berbunga-bunga jika bertemu dengan Jelita. Meskipun hanya menatap wajahnya sekilas.
Penampilan Jelita yang sangat sederhana. Sikap tangguhnya, mandirinya, tegasnya, dan lain sebagainya. Ternyata semua itu bisa membuat hati Raffael bahagia.
__ADS_1
Mengingat selama ini dia seringkali didekati wanita dari kalangan atas yang menawarkan diri sebagai teman bai, bahkan ada yang terus terang ingin menjadi kekasihnya, namun Raffael sama sekali tidak tertarik dengan mereka. Dan semenjak pertemuannya dengan Jelita, Raffael sudah memantapkan hatinya untuk berlabuh pada wanita itu. tak peduli jika nanti jalannya akan sangat terjal, dan kemungkinan besar dapat penolakan dari kedua orang tuanya.
Raffael baru saja mendapat pesan dari Bu Alin kalau Jelita sekarang juga sedang libur. Karena memang Jelita diberi libur oleh Bu Alin setiap hari Sabtu dan Minggu. Jadi setiap weekend, Jelita selalu menghabiskan waktunya dengan Ethan. Terkecuali jika Café sedang sangat ramai, Jelita pasti akan datang untuk membantu.
Raffael sudah besiap dengan pakaian casualnya. Pagi ini dia akan menemui Jelita di rumahnya. Dia akan mengajak wanita itu jalan, sekaligus bicara serius. Tentunya pasti akan menggunakan Ethan sebagai senjatanya.
Beberapa saat kemudian Raffael sudah sampai di depan rumah Jelita. Pintu rumah Jelita terbuka, dan terlihat Ethan sedang bermain dengan mainan kesukaannya.
“Ada apa anda pagi-pagi ke sini?” tanya Jelita yang sedang berdiri di belakang Raffael.
Raffael sangat terkejut karena dia sama sekali tidak melihat ataupun mendengar suara langkah kaki seseorang. Dan ternyata Jelita ada di belakangnya.
“Ehm, aku ingin bertemu dengan Ethan sekaligus Bundanya.” Jawab Raffael jujur.
“Bukankah saya sudah bilang kalau,-“
“Bundaaaa!!!” tiba-tiba Ethan berlari ke arah Jelita.
Jelita tidak tahu kalau Ethan berlari menghampirinya, dan bertepatan itu ada seorang pengendara motor yang baru saja keluar dari gang.
“Awass, Ethan!!!”
Brakkkk
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!