
Raffael membawa Jelita masuk ke dalam rumahnya dengan posisi masih saling berpelukan. Betapa bahagianya pria itu setelah mendengar ungkapan perasaan Jelita baru saja. walaupun dia masih sulit mempercayainya.
“Katakan sekali lagi, Sayang!” pinta Raffael sambil menangkup kedua pipi Jelita.
“Aku juga sangat mencintaimu, Mas. Aku tidak bisa membuang perasaan ini. maafkan aku yang selama ini juga egois.”
Raffael menggelengkan kepalanya lalu kembali memeluk erat Jelita. sungguh hari ini dia sangat bahagia sekali. Dan ini bukan hanya mimpi belaka. Namun kenyataan.
Cukup lama keduanya saling berpelukan melepas rindu yang menggebu. Tak lama kemudian Raffael mengurai pelukannya dan kembali merangkum kedua pipi Jelita.
“Berarti kita masih sah suami istri?” tanya Raffael dengan binar mata penuh kelegaan.
“Tentu saja.”
Tidak menunggu lama, Raffael segera mendaratkan bibirnya pada bibir manis Jelita yang selama ini sangat ia rindukan. Jelita pun menyambutnya dengan senang hati.
Raffael dan Jelita sama-sama menikmati pergulatan bibir dan lidah yang begitu lembut itu. mereka seperti sedang kahausan dari dahaga panjang yang menyerangnya. Posisi mereka yang awalnya sedang berdiri saling memeluk, kini keduanya sudah berada di sofa tunggal yang ada di ruangan itu.
Baik Jelita maupun Raffael tak ada satupun yang ingin mengakhiri pergulatan itu. sama-sama seperti candu hingga membuat mereka lupa diri. Ciuman yang semakin lama semakin memanas. namun mereka berdua segera mengakhirinya. Bukankah masih banyak waktu untuk melanjutkannya. Lagi pula ada banyak hal yang ingin mereka bagikan, bukan hanya sekadar berbagi rasa rindu saja.
Raffael tersenyum tipis sambil mengusap bekas saliva pada bibir Jelita. bahkan nafas keduanya masih sedikit terengah usai ciuman panjang baru saja.
“Sayang, maafkan aku!”
“Aku juga minta maaf. Mari kita buka lembaran baru lagi. aku ingin memperbaiki semuanya.”
“Tentu saja. terima kasih, Jelita. terima kasih, Sayangku!”
Mereka berpelukan kembali. Namun hanya sejenak. Jelita mengusap rahang kokoh suaminya dengan lembut dan sedih saat merasakan pipi tirus suaminya. bahkan bulu-bulu sekitar rahang Raffael sengaja ia biarkan tumbuh begitu saja. mata Jelita berkaca-kaca menatapnya.
__ADS_1
“Pasti selama ini kamu hidup dengan tidak baik, Mas!” ucapnya sendu masih mengusap rahang Raffael.
“Nggak, Sayang. Aku baik-baik saja. tunggu dulu!”
Raffael menjeda kalimatnya. Ada satu hal yang sejak tadi sangat mengganjal pikirannya. Yaitu tentang keberadaan Jelita hingga bisa berada di kota ini.
“Sayang, bagaimana kamu bisa berada di kota ini?” tanya Raffael dengan raut wajah cemas.
“Cintalah yang mengantarku ke sini, Mas. Bahkan tanpa kita ketahui kita tinggal berdekatan.” Jawab Jelita dengan santainya.
“Aku serius, Sayang. Bagaimana kamu tahu aku tinggal di kota ini?”
Jelita menghembuskan nafasnya pelan. Ia menceritakan semuanya pada Raffael mulai dari awal. Lebih tepatnya saat mendapat pesan dari Livy tentang tentang barang titipan suaminya saat itu. lalu Jelita bertekat pergi ke negara ini berbekal sedikit informasi dari mertuanya.
Jelita menceritakan dengan detail awal mula kedatangannya di negara ini. beberapa hari menginap di hotel dan berpindah-pindah kota sampai akhirnya ia memilih kota sekarang ini. Raffael tidak menyangka kalau Jelita bakal senekat ini. tapi dia sangat bahagia, karena Jelita tidak patah semangat untuk memperjuangkan cintanya, yaitu dirinya.
“Terima kasih, Sayang!” Raffael memeluk haru istrinya.
“Apa kamu tidak merindukan Mama, Mas? Sebelum aku pergi ke sini, Mama sedang dirawat di rumah sakit. Penyakit jantung Mama kambuh, sampai dirawat di ruang ICU.”
“Apa? Mama sakit?”
Mata Raffael berkaca-kaca. Ada rasa bersalah begitu besar dalam hatinya saat mendengar kabar Mamanya. Apalagi selama ini dia tidak tahu sama sekali kalau Mamanya mempunyai riwayat penyakit jantung. Semua ini pasti dirinyalah penyebabnya.
“Namanya orang tua pasti memikirkan anaknya, Mas. Kamu jangan khawatir lagi. Mama sekarang sudah pulang. keadaannya sudah membaik. Dan pastinya Ethan sekarang ada di sana. Bersama Oma, Opa, dan Tantenya.” Jelita berusaha menenangkan suaminya.
Raffael masih terdiam. Hatinya lega kalau keadaan Mamanya sudah membaik. Apalagi sekarang ada Ethan di sana.
“Mama dan Papa pasti sangat menanti kepulangan kamu, Mas.” Lanjut Jelita.
__ADS_1
Raffael menatap sendu istrinya. Tujuannya pergi selama ini adalah ingin menata kembali hidupnya yang sempat berantakan karena penyesalannya terhadap Jelita. namun sekarang wanitanya sudah ada di sisinya, apakah ia akan pulang dan menjalani kembali kehidupannya seperti dulu. Tentu saja tidak.
“Sayang, maaf. Aku belum bisa pulang. kepergianku selama ini memang karena ingin menata hidupku yang baru. Jujur saja, kehidupanku yang dulu lah yang menjadikanku sosok yang sangat egois hingga menyakiti perasaan kamu. Aku ingin tetap di sini. aku sudah menemukan sebuah kenyamanan dalam kehidupanku selama di sini. walau aku tidak bisa sedikitpun menghapus namamu. Tapi sekarang kamu sudah ada di sini. maukah kamu hidup di sini? hanya kita berdua, memperbaiki hubungan kita sempat merenggang akibat keegoisan kita berdua.”
Jelita menatap dalam mata suaminya. sebagai seorang istri, tentu saja ia akan menurut apa saja ucapan suaminya jika memang itu yang terbaik. Dan akan ikut kemana pun suaminya pergi.
“Iya, Mas. Aku mau.” Jawab Jelita mantap.
Raffael sangat bahagia. Itulah yang paling tidak bisa ia lupakan dari sifat Jelita. selalu menurut dengan perkataan suaminya. sedangkan untuk urusan Ethan, bukan dia tidak menyayangi anak itu. tapi inilah pilihannya. Pasti ada sesuatu yang dikorbankan, salah satunya Ethan. Walau tak pernah sedikitpun Jelita maupun Raffal ada niatan untuk jauh dengan putranya. Lagi pula banyak orang yang menyayangi Ethan di sana. Pasti kedua orang tua Raffael memahami hal itu. Atau nanti akan mereka bahas lagi mengenai Ethan.
Waktu semakin larut. Tanpa terasa sejak tadi mereka berdua sudah banyak menghabiskan waktu tentang cerita kehidupan masing-masing selama berpisah. Tiba-tiba saja Jelita merasa lapar. Karena sejak tadi ia tidak berselera makan.
“Tunggu dulu, di sini!” ujar Raffael dan bergegas menuju dapur.
Jelita mengerutkan kening. Namun ia segera mengikuti langkah suaminya. sungguh pemandangan yang tak biasa bagi Jelita saat melihat Raffael sedang memakai apron dan siap membuat olahan makanan dengan beberapa bahan yang ada untuk istrinya.
“Mau masak apa nih, Chef?” tanya Jelita bergelut manja sambil memeluk Raffael dari belakang.
“Tentu saja masakan special dengan racikan bumbu kasih kasih sayang dan rasa cinta.”
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1