Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 64


__ADS_3

Dengan langkah gontai Jelita masuk ke dalam ruang ganti mengikuti suaminya. melihat reaksi Raffael yang masih dingin terhadapnya, membuat nyali Jelita kembali menciut. Bagaimana jika di dalam ruang ganti itu Raffael mengusirnya dan tidak mau memaafkannya.


Kini Jelita sudah masuk ke ruang ganti. Terlihat Raffael masih sibuk melepas kancing kemejanya. Bahkan dari pantulan cermin, Raffael hanya melirik sekilas atas kedatangan istrinya.


“Mas, kamu masih marah sama aku?”


Raffael masih diam seolah tidak mendengarkan ucapan Jelita. Pria itu sudah berhasil melepas kemejanya. Alhasil terpampanglah tubuh atletis Raffael yang membuat Jelita kesusahan menelan salivanya. Namun Jelita masih terus melihat suaminya saat mulai melepas celana dan hanya menyisakan boxer saja.


Dengan sekali tarikan, tali kimono Jelita lepas. Lalu ia melepasnya begitu saja dan berhambur memeluk suaminya dari belakang.


“Maafkan aku, Mas! Aku akui aku memang salah. Aku janji tidak akan mengulangi kejadian tadi sore. Aku tidak akan menerima panggilan video dari Mama lagi.” ucap Jelita dengan suara lirih penuh penyesalan.


Raffael terdiam memaku di tempatnya. Ia bisa mendengar sendiri ungkapan rasa penyesalan istrinya. Bahkan sampai semalam ini wanita itu belum tidur hanya demi menunggunya pulang dan meminta maaf.


Namun, selain Raffael sangat tersenyuh dengan permintaan maaf istrinya, pria itu sedikit menarik bibirnya ke atas saat melihat usaha istrinya untuk meminta maaf. Apalagi pada punggungnya kini ia bisa merasakan dengan jelas dua aset milik Jelita yang menempel di sana.


Raffael sejak tadi memang tidak begitu melihat cermin yang ada di hadapannya. namun setelah merasakan sentuhan dari dua aset istrinya, pria itu mencoba menatap pantulan dirinya dan juga Jelita dari cermain.


Mata Raffael terbelalak saat melihat istrinya mengenakan lingerie yang begitu menggoda. Ternyata lingerie yang dia beli kemarin melalui maid’nya bermanfaat juga.


Cukup lama Jelita memeluk suaminya dari belakang. Namun rupanya Raffael masih diam. membuat Jelita merasa malu sekaligus takut. Padahal senjata milik suaminya kini sudah terasa sesak di dalam wadahnya. Dengan perlahan, Jelita melepas pelukannya. Mungkin setelah ini ia akan kembali mengenakan kimononya sebelum suaminya mengusir dari ruangan itu.


“Mau kemana kamu?” sergah Rafafel saat pelukan istrinya akan lepas. Lalu dengan cepat Raffael memutar tubuh Jelita hingga kini keduanya saling berhadapan.


Jelita mendongak menatap wajah suaminya. kedua pasang netra itu saling bertemu. Raffael yang tidak tahan melihat bibir manis istrinya, langsung menghujaninya dengan lummatan lembut. Rasa nikmat yang ia peroleh dari bibir istrinya seketika membuat rasa kesal sekaligus amarah yang sempat ada kini lenyap begitu saja. bahkan dalam hatinya Raffael menyesali perbuatannya yang memilih pulang larut malam. kemungkinan sejak tadi Jelita sudah mempersiapkan semua ini.


Awalnya Raffael yang sangat aktif melummat bibir Jelita, namun perlahan kini keduanya sama-sama aktif. Jelita sampai mengalungkan kedua tangannya ke leher Raffael untuk memperdalam ciumannya. Sedangkan Raffael menekan pinggul istrinya sampai menempel pada tubuhnya dan menyentuh senjatanya yang sudah menegang.


Suara decapan dari kedua bibir mereka mengisi keheningan ruang ganti malam ini. mereka berdua masih sibuk mema_gut dengan penuh kelembutan. Karena tubuh Raffael lebih tinggi dari istrinya, hingga menyebabkan Jelita sedikit kelelahan akibat berjinjit terlalu lama, akhirnya Raffael mengangkat tubuh Jelita.

__ADS_1


“Mas!” pekik Jelita saat merasa tubuhnya melayang sekejap.


“Pegangan yang kuat!” pinta Raffael dengan nafas terengah. Bukan karena berat badan istrinya, melainkan sudah tidak tahan dengan dua aset milik Jelita yang kini menempel tepat di dadanya.


Raffael kembali memperdalam ciumannya. Jelita pun membalas ciuman itu tak kalah rakus. Kini Jelita sudah tidak lagi malu untuk melakukannya. Apalagi melihat reaksi sang suami yang tampak senang dengan caranya menggoda.


Puas dengan pagutannya, Raffael kini menciumi leher jenjang istrinya hingga turun pada dua aset yang sejak tadi menantang.


Cukup lama keduanya melakukan sesi pemanasan di dalam ruang ganti. Raffael langsung menggendong Jelita ala bridal style menuju tenpat tidur. Bahkan tubuh keduanya sudah tidak tertutup sehelai benang pun.


Malam itu akhirnya mereka lalui dengan peluh keringat kenikmatan. Hentakan demi hentakan yang diberikan Raffael membuat Jelita semkain terbang melayang. Begitu juga dengan Raffael yang semakin dibuat candu oleh kemolekan tubuh Jelita.


Kalau saja ia tidak melihat wajah kelelahan Jelita, pasti Raffael tidak akan berhenti dan terus menggempur istrinya sampai pagi menjelang. Saat mereka menyelesaikan pelepasan yang terakhir pun waktu sudah menujukkan pukul tiga dini hari.


“Kamu lelah?” tanya Raffael sambil mengusap kening istrinya yang berkeringat.


Sungguh pertanyaan yang sangat konyol. Apalagi Raffael bisa melihat sendiri hembusan nafas Jelita yang kelelahan.


Raffael hanya mengulum senyum. Dia suka melihat tingkah istrinya yang menurutnya lucu dan polos. Walau kenyataannya memang masih polos tubuhnya.


“Tunggu dulu di sini! aku akan turun dan mengambil makanan untukmu.”


“Terima kasih, Mas!” jawab Jelita lalu mencium pipi Raffael.


“Kamu mau makan atau aku makan?” gerutu Raffael sedikit kesal karena merasa Jelita sengaja memancing hassratnya lagi.


“Sudah, cepatlah! Aku sudah sangat ngantuk, Mas.” Rengek Jelita.


Raffael hanya berdecak. Dia mengambil baju di lemari setelah itu turun dan mengambil makanan untuk istrinya. Tak lupa ia juga membawa susu hangat untuk istrinya. Mengingat keduanya habis bertempur hebat. Dan Jelita pasti kehilangan banyak tenaga.

__ADS_1


Jelita menghabiskan makanan yang dibawakan oleh suaminya. tak lupa segelas susu hangat itu juga tandas dengan cepat.


“Kamu ini lapar apa doyan sih, Sayang?” tanya Raffael sambil menggelengkan kepalanya.


“Dua-duanya.” Jawab Jelita, kemudian ia mencari kimononya yang tertinggal di ruang ganti tadi. setelah itu masuk ke kamar mandi untuk gosok gigi sebelum tidur.


Sekali lagi Raffael dibuat tercengang oleh sikap istrinya. Jelita turun dari ranjang tanpa memakai pakaian. Karena tadi dia makan dengan tubuhnya yang tertutup selimut.


“Aku ngantuk sekali, Mas! Aku tidur dulu ya?” ucap Jelita setelah keluar dari kamar mandi.


“Ya, kita tidur bareng dong Sayang. Aku juga butuh tenaga untuk,-“


“Untuk apa, Mas? Please Mas jangan lakukan dulu! Ini masih ngilu rasanya.” Potong Jelita sambil menunjuk intinya.


“Hei, kamu ini yang pikirannya selalu ke sana. Aku tadi belum selesai bicara. Aku juga butuh tenaga untuk mengajak kalian jalan-jalan nanti siang.”


“Benarkah?” Tanya Jelita terkejut sekaligus senang.


Raffael hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia segera menarik Jelita ke dalam pelukannya. Tak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus Jelita. Lalu disusul oleh Raffael.


“Aku sangat mencintaimu, istriku! tak akan aku biarkan siapapun merebutmu dariku.” Gumam Raffael dan semakin erat memeluk Jelita.


Jelita yang matanya sudah terpejam, dia mengulas senyum tipis saat mendengar ucapan suaminya baru saja. ternyata wanita itu belum sepenuhnya terlelap.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2