Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 76


__ADS_3

Jelita terduduk lemas di kursi ruang tunggu. Dia tidak menyangka kalau selama ini Ibunya tidak pernah mengkonsumsi obatnya. Begitu juga dengan Arvin.


Beberapa perawat keluar dari ruangan IGD dengan mendorong brankar Bu Sukma. Jelita segera beranjak dan mengikuti kemana Bu Sukma dibawa.


Jelita dan Arvin tidak diperbolehkan masuk ke ruangan ICU selama Bu Sukma masih mendapatkan penanganan khusus. Jadi Jelita hanya bisa melihatnya dari luar melalui celah kaca pintu.


Jelita benar-benar terpukul dengan musibah ini. dia sampai melupakan ponselnya yang sejak tadi malam masih ia non aktifkan. Otomatis dia tidak bisa menghubungi suaminya. begitu juga dengan Raffael. Sedangkan Ethan, Arvin meyakinkan Jelita kalau anaknya aman berada di rumahnya bersama pembantunya.


Seharian ini Jelita berada di rumah sakit bersama Arvin. Pria yang berstatus sebagai Om Jelita itu tidak rela meninggalkan keponakannya sendirian di rumah sakit. Sampai-sampai pria itu mengerjakan pekerjaan kantornya di rumah sakit.


Dan sampai sore ini belum ada tanda-tanda keadaan Bu Sukma membaik. Dokter masih terus memantaunya setelah melakukan beberapa observasi. Jelita juga masih belum diperbolehkan masuk.


“Om, apakah Ethan baik-baik saja?” tanya Jelita pada Omnya yang sedang fokus dengan macbooknya.


Arvin menghentikan sejenak pekerjaannya. Dia lalu mengambil ponsel dalam sakunya untuk menelepon pembantunya untuk menanyakan Ethan.


“Kamu tenang saja, Lita! Ethan baik-baik saja” ujar Arvin setelah mengakhiri panggilannya dengan pembantu di rumahnya.


“Terima kasih, Om. Lebih baik Om Arvin pulang saja. biar aku yang jaga Ibu di sini.”


“Nggak apa-apa. Om justru tidak tega membiarkan kamu sendirian di sini. atau kamu yang mau pulang untuk istirahat?”


Jelita menggelengkan kepalanya. Setelah itu tak lagi bicara. Dia memilih duduk sedikit jauh dari Arvin yang kembali sibuk dengan pekerjaannya.


***


Sudah dua hari ini Bu Sukma dirawat di rumah sakit. Dan selama itu pula wanita itu belum menunjukkan keadaannya yang membaik. Jelita pun semakin dibuat cemas. Meskipun dia tak henti-hentinya memanjatkan doa demi kesembuah sang Ibu.


Semalam Jelita menunggu Ibunya bersama Arvin. Namun pagi-pagi sekali pria itu pulang karena ada pekerjaan yang sangat penting. Arvin berjanji nanti siang akan datang lagi.


“Ibu, cepatlah sembuh, Bu!” lirih Jelita sambil berdiri menatap tubuh lemah Bu Sukma di dalam ruangan ICU itu.


Air mata Jelita mengalir begitu saja. kenapa kehidupannya seperti ini. di saat hubungannya dengan sang Ibu baru membaik, kini harus mendapat ujian lagi dengan penyakit kronis yang diderita oleh Ibunya. Sebenarnya apa maksud Bu Sukma tidak pernah meminum obat-obatnya itu? Jelita sampai sekarang pun masih tidak mengerti. Dia berharap Tuhan akan memberikan keajaiban untuk kesembuhan Ibunya.


Mendadak kepala Jelita pusing. wanita itu memilih duduk setelah cukup lama berdiri melihat Ibunya yang terbaring lemah di dalam ruangan ICU.


Setelah duduk, rasa pusing itu tak kunjung menghilang. Malah kini perutnya tiba-tiba mual. Jelita segera pergi ke toilet untuk mengeluarkan isi perutnya. Mungkin karena kurang istirahat beberapa hari ini, hingga membuat tubuhnya melemah.


Jelita kembali duduk di depan ruang ICU setelah berjasil mengeluarkan isi perutnya. Dia menyandarkan bahunya sejenak sambil memejamkan mata. Tiba-tiba saja ada seseorang yang sudah duduk di sampingnya. Jelita terkejut saat melihat keberadaan Arvin.

__ADS_1


Ternyata waktu sudah siang. Padahal Jelita tadi tidak benar-benar berniat untuk tidur. Tapi dia justru tertidur lumayan lama dengan posisi duduk.


“Lebih baik kamu pulang dulu, Lita! Apa kamu nggak kangen sama Ethan? Biar Ibu kamu, Om yang jaga.” Ucap Arvin.


Pria itu juga terlihat lelah setelah baru pulang dari kantornya. Dia sejak tadi kepikira tentang Jelita. Akhirnya ia mempercepat meetingnya setelah itu langsung pergi ke rumah sakit.


“Apa Om tidak keberatan jika Lita pulang dulu?” tanya Jelita dengan ragu.


“Nggak apa-apa. Kamu istirahat di rumah juga tidak apa-apa. Om yang akan menunggu Ibu kamu.”


Jelita mengangguk. Dia juga sangat merindukan Ethan. Sekaligus akan memberitahu suaminya kalau Ibu sedang dirawat di rumah sakit. Apalagi sudah dua hari dia berada di rumah sakit tanpa membawa ponsel. Jelita takut jika suaminya akan salah paham lagi.


Jelita beranjak dari duduknya. Dia akan pulang dengan naik taksi. Namun, tiba-tiba saja matanya berkunang-kunang dan kepalanya sangat berat.


Brukk


“Lita! Kamu kenapa?”


Arvin dengan sigap menangkap tubuh Jelita yang hampir terjatuh itu. lalu membawa Jelita duduk kembali dan memberikan sebotol air mineral.


Tangan Jelita masih bergetar saat memegang botol air mineral itu. kepalanya juga masih berat dan berdenyut.


“Kamu tunggu di sini sebentar! Jangan pergi kemana-mana.” Pinta Arvin lalu pria itu segera pergi entah kemana.


Setelah Arvin memberikan no ponselnya kepada perawat itu, dia segera kembali menemui Jelita yang sedang menunggunya.


“Ayo Om antar kamu pulang, Lita! Kamu istrahat di rumah saja dulu. Jangan khawatir tentang Ibu kamu. Ada perawat yang akan memberikan informasi perkembangan kesehatan Ibu kamu.” Ujar Arvin.


Jelita mengangguk saja. karena dia merasa tubuhnya semakin lemah. Benar dia butuh istirahat.


**


Kini Jelita dan Arvin sedang dalam perjalanan ke rumah. Jelita meminta diantar pulang ke rumah saja daripada ke rumah Omnya dimana Ethan berada di sana. Dia ingin istirahat sejenak sampai keadaannya benar-benar sehat, setelah itu baru menemui Ethan.


Beberapa saat kemudian mobil Arvin sudah tiba di depan rumah Bu Sukma. Dia ikut turun mengikuti Jelita yang masih tampak pucat.


Arvin ikut masuk mengantar Jelita sampai dalam rumah. namun baru saja Jelita menginjakkan kakinya di ruang tamu, dia merasakan perutnya bergejolak. Dengan tubuh yang masih lemah, dia mempercepat langkahnya masuk ke dalam kamar menuju kamar mandi.


Jelita kembali memuntahkan isi perutnya. Sampai tidak ada yang dikeluarkan, namun perutnya masih mual. Bajunya juga sempat terkena noda bekas muntahannya karena sudah tidak bisa menahannya tadi.

__ADS_1


Arvin yang ikut khawatir dengan Jelita, pria itu memberanikan diri masuk ke kamar keponakannya itu. tidak berniat apa-apa. Hanya ingin membantu Jelita.


Rupanya saat Arvin masuk ke kamar mandi, dia melihat Jelita masih menunduk di depan wastafel. Nafasnya masih tersengal-sengal setelah beberapa kali muntah. Tidak hanya itu, bajunya juga tampak basah setelah ia membersihkannya secara asal tadi.


“Jelita, kamu baik-baik saja?” tanya Arvin mendekat.


“Kepalaku sangat pusing, Om!”


“Ya sudah, ayo Om bantu kamu keluar dan setelah ini istirahatlah!”


Jelita masih diam mengahdap wastafel. Sadar dengan bajunya bagian depan yang basah, dia tidak enak jika Arvin melihatnya.


“Om, bisa minta tolong, ambilkan handuk Lita di gantungan baju?” pinta Jelita menemukan solusi.


Arvin mengangguk dan segera mengambil apa yang diminta oleh keponakannya.


“Lita, ini handuknya cepat kamu pakai!” ucap Arvin memberikan handuk itu pada Jelita yang masih berada di dalam kamar mandi.


Arvin menunggu sebentar di luar, karena Jelita melepas cardigannnya yang basah hingga tersisa baju dalamnya hanya kaos lengan pendek berbahan tipis. Setelah itu ia menutup tubuhnya dengan handuk, dan keluar kamar mandi.


Arvin membantu memapah Jelita menuju tempat tidur. Pria itu berjalan dengan tangan seperti memeluk Jelita. Khawatir jika Jelita tiba-tiba pingsan.


Brakkkk


Kedua orang itu tampak terkejut saat melihat pintu kamar terbuka dengan cukup keras. Ditambah lagi tatapan nyalang dari seseorang yang baru saja masuk dengan raut muka memerah.


“Mas Raffa!” lirih Jelita sedikit tak percaya kalau suaminya datang.


“Oh, begini kelakuan kamu selama tiga hari ini tanpa suamimu, hah?” bentak Raffael dengan amarah yang sudah di ubun-ubunnya.


Arvin yang baru tersadar dari posisinya segera melepas rengkungan tangannya dari punggung Jelita.


“Dasar wanita murahan!! Tidak sudi lagi aku menganggapmu sebagai istri!” murka Raffael lalu segera pergi meninggalkan Jelita dan Arvin.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2