
Pagi sekali Jelita sudah terbangun dari tidurnya. Tidur yang sangat nyaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tentunya setelah kejadian kelam itu. Jelita masih belum tahu apa yang membuat tidurnya semalam sangat nyenyak. Dia belum sadar kalau posisinya saat ini sedang ada yang memeluk dari belakang. Bahkan tangan kekar suaminya yang begitu hangat melingkar di perut Jelita, tidak membuatnya terganggu. Sungguh, Jelita ingin sekali berlama-lama menikmati suasana ini. ingin tidur kembali. Sayangnya ada sesuatu dalam dirinya yang sejak bergejolak dalam kandung kemihnya dan ingin segera dikeluarkan. Kalau tidak merasakan hal itu, mungkin dia akan bangun siang dan melanjutkan mimpinya.
Arghhhh!!!
Jelita berteriak namun dengan suara tertahan kala tak sengaja menyentuh lengan kokoh yang ia tak tahu siapa pemiliknya. Dia menahan nafas sejenak walaupun buru-buru sekali ingin pergi ke kamar mandi. kemudian Jelita memberanikan diri menoleh ke belakang untuk memastikan siapa gerangan pemilik lengan kokoh itu.
“Mas Raffa!” lirihnya setelah tersadar.
Entah kenapa Jelita merasa aman dan lega setelah melihat bahwa seseorang yang memeluknya semalaman adalah Raffael, suaminya. apakah itu pertanda kalau hatinya sudah bisa menerima kehadiran Raffael? Bukan hanya sekadar demi Ethan?
“Mas, tolong lepasin!” lirih Jelita karena sudah tidak tahan untuk buang air kecil.
Raffael yang masih mengantuk, dia hanya bergumam tidak jelas. Namun rengkuhan tangannya perlahan mengendur. Dengan begitu Jelita bisa bangun dan segera ke kamar mandi.
“Mau kemana?” Raffael langsung membuka mata saat menyadari istrinya lepas dari pelukannya. Raffael takut jika Jelita masih ketakutan seperti semalam.
“Aku mau buang air kecil, Mas!” Jawabnya dan segera pergi ke kamar mandi.
Raffael mengucek matanya. dia melihat langit dari celah kaca jendelanya masih gelap. Ternyata benar. Masih pukul lima pagi. tapi dia sudah tidak bisa tidur lagi kalau sudah terbangun seperti ini. sedangkan Jelita baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh.
“Kamu mandi?” tanya Raffael.
“Nggak, Mas. Hanya cuci muka saja.” jawabnya singkat setelah itu Jelita bungung harus melakukan apa lagi.
__ADS_1
“Ini masih jam lima. Kamu bisa tidur lagi. Ethan juga pasti masih tidur.”
Jelita menggelengkan kepalanya. Ternyata wanita itu sama seperti dirinya. Kalau sudah bangun seperti ini, tidak bisa tidur lagi. akhirnya Raffael pun ikut bangun dan hendak ke kamar mandi juga.
“Ehm, Mas mau dibuatin kopi atau apa?” tawar Jelita sebelum suaminya masuk ke kamar mandi.
Raffael tersenyum simpul ke arah suaminya. sungguh bahagia sekali menjadi seorang suami. apalagi diperhatikan seperti ini oleh suaminya.
“Tidak usah. Nanti saja sebelum sarapan biasanya aku minum teh hijau. Kalau bangun tidur hanya minum air putih saja.” jawab Raffael.
Jelita akhirnya memilih tetap di dalam kamar dan tidak melakukan apapun. Karena dia masih asing berada di rumah mertuanya. mungkin belum terbiasa saja.
Cklek
“Mas, aku bingung mau ngapain di sini?” Keluh Jelita berusaha mencairkan hatinya sendiri.
“Nggak usah ngapai-ngapain. Sudah ada pembantu yang mengerjakan semuanya. Terkadang Mama yang memasak, tapi nggak sepagi ini juga.” jawab Raffael sambil memandang lekat wajah istrinya.
Jelita langsung salah tingkah saat suaminya memandang seperti itu. apalagi mereka duduk sangat dekat. Kemudian tanpa aba-aba Raffael melingkarkan tangannya di perut Jelita dengan menyandarkan kepalanya pada bahu wanita itu.
“Apa semalam tidurmu pulas? Apa sudah tidak ada lagi ketakutan yang kamu rasakan?”
“Terima kasih, Mas. Aku merasa lebih baik.” Jawab Jelita dengan jantung berdebar.
__ADS_1
Raffael menegakkan tubuhnya lalu kembali menatap lekat mata Jelita dengan sedikit meraih kepalanya agar bisa menoleh ke arahnya.
“Tatap mataku, Jelita! Kamu ingat dengan sorot mataku yang penuh cinta ini! aku berjanji akan selalu melindungimu dari segala hal yang membuatmu ketakutan. Aku akan membantumu menghilangkan trauma kamu. Percayalah, karena aku sangat mencintaimu.”
Jelita sungguh tersentuh dengan ucapan suaminya. memang baru kali ini ia menjalin sebuah hubungan dengan seorang pria. Dan beruntungnya pria itu adalah pria yang sangat baik, mau menerima masa lalunya dan menjadikannya istri. Meskipun dia belum bisa mengatakan secara langsung kalau ia mencintai suaminya, setidaknya dengan status itu membuatnya aman dan tidak perlu khawatir untuk kehilangan Raffael.
Jelita menatap mata suaminya seperti yang diperintahkan oleh Raffael. Tanpa dia sadari Raffael mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya. Hingga hembusan nafas hangat dan segar itu menerpa wajahnya. Jelita yang tersadar dengan posisi yang intimm itu ia perlahan menjauhkan wajahnya. Namun tiba-tiba saja ada benda kenyal menempel tepat di bibirnya.
Jelita diam terpaku sambil menatap mata Raffael yang juga sedang menatapnya dalam. Tatapan mata yang seolah menyiratkan pertanyaan, apakah boleh bibir Raffael berkenalan lebih jauh lagi dengan bibir manis Jelita itu. dan entah kenapa Jelita memberi jawaban dengan kode menutup matanya. meskipun Raffael sedikit ragu, ia tetap melanjutkannya. Dengan mulai menyapu bibir Jelita yang masih tertutup itu. membasahinya dan perlahan memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Jelita.
Jantung Jelita semakin berdebar tak karuan. Dia sangat awam dengan kegiatan seperti ini. namun jujur ada sesuatu yang aneh yang ia rasakan saat bibir dan lidah Raffael bergerak lincah di dalam mulutnya memberikan lummatan lembut yang begitu memabukkan.
Sejenak Raffael melepas pagutannya, untuk memberikan Jelita kesempatan meraih pasokan oksigen sebanyak-banyaknya. Dia memandang lekat wajah istrinya yang tampak memerah, lalu tersenyum tipis.
“Manis sekali bibis istriku. mari kita melakukannya lagi!” ujar Raffael dengan tenang. Sontak membuat Jelita membelalakkan mata. Namun secepat kilat Raffael kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Jelita.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!