Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 74


__ADS_3

Sania terduduk lemas setelah kepergian Raffael. Dia sangat terkejut kalau rahasia yang selama ini ia tutup rapat diketahui oleh Raffael. Yaitu tentang hubungan gelapnya dengan kakak iparnya sendiri. Bahkan kepergiannya ke luar negeri tidak sendirian. Melainkan bersama sang kakak ipar.


Sania jelas tidak berani main-main lagi dengan Raffael, termasuk keluarganya. Keluarga Raffael sangat berpengaruh besar dalam dunia bisnis, terutama Reno. Mau tidak mau akhirnya Sania terpaksa menghentikan rencana buruknya untuk memisahkan Raffael dengan Jelita.


Tidak bisa dipungkiri, meskipun sudah lama dia menjalin hubungan gelap dengan kakak iparnya, tapi untuk masalah hati, Sania sangat mencintai Raffael. Tapi kini ia harus merelakan perasaannya sebelum nanti masalah besar menghancurkan hidupnya.


***


Seminggu setelah perjalanan bisnisnya ke luar negeri, sampai saat ini Raffael masih disibukkan dengan pekerjaannya. Dan hal itu membuatnya lupa kalau ia mempunyai janji dengan istrinya yang akan mengantarnya pulang ke kampung halamannya.


Saat ini Raffael sedang berada di ruang kerjanya bersama dengan Mario. Kebetulan memang sejak dulu perusahaannya dengan perusahaan milik Mario menjalin kerjasama.


Seperti biasa, keduanya bersikap professional dalam hal pekerjaan. Tentunya tanpa membahas hal lain di luar masalah bisnis.


Saat keduanya tengah fokus dengan pembukaan outlet kosmetik yang ada di luar kota, dan dalam waktu dekat Raffael akan melakukan peninjauan langsung ke sana, tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya. Raffael kira itu adalah Livy, namun saat ia mempersilakan masuk ternyata yang datang adalah Jelita.


“Maaf Mas, kalau aku mengganggu.” Ucap Jelita merasa tak enak. Apalagi di sana ada Mario juga.


Jelita mengangguk sopan pada Mario setelah itu berjalan ke arah suaminya. sedangkan Mario tetap bersikap professional dan kembali membaca beberapa berkas di tangannya.


“Mas, bolehkah aku pulang hari ini?” tanya Jelita dengan tatapan memohon.


Jelita terpaksa datang ke kantor suamiya hanya demi meminta ijin untuk pulang. beberapa saat yang lalu ia mendapat kabar dari Arvin kalau Ibunya sedang sakit. Seketika itu Jelita sangat khawatir. Terlebih sudah lama ia memberi janji pada Ibunya akan pulang kalau pekerjaan suaminya sudah tidak padat lagi. tapi nyatanya sampai sekarang, Raffael masih sibuk.


“Ibu sedang sakit, Mas. Beliau ingin bertemu dengan Ethan.” Lanjut Jelita menahan air matanya agar tidak sampai tumpah.


Raffael menarik Jelita ke dalam pelukannya. Dia tidak peduli dengan keberadaan Mario. Dia mengerti dengan suasana hati istrinya saat ini. jujur dia juga merasa sangat bersalah karena sampai saat ini belum juga mengantar istrinya pulang untuk bertemu dengan Ibunya.


Raffael juga bingung. Pekerjaannya sangat mendesak dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja. tapi, istrinya juga lebih penting.


Mario yang sejak tadi ada di ruangan itu dan mendengar pembicaraan suami istri itu mencoba untuk ikut bicara. Atau menawarkan bantuan. Apalagi dia juga tahu kalau Raffael sedang sibuk.

__ADS_1


“Maaf, Raff! Aku tahu kamu pasti sangat sibuk. Aku bersedia kok mengantar Jelita dan Ethan pulang.” Ucap Mario dengan hati-hati.


Raffael yang sedang memeluk istrinya sangat terkejut mendengar ucapan Mario.


“Apa maksud kamu? Kamu aku ijinkan bertemu dengan Ethan. Bukan untuk berbuat semakin lancang.” Ucap Raffael dengan suara dinginnya.


Mario bingung menanggapi ucapan Raffael. Dia sudah menebak kalau ujung-ujungnya Raffael akan salah paham dengan ucapannya baru saja.


“Sudah, Mas! Bisa nggak kalian ini tidak bertengkar kalau sedang bertemu. Apalagi aku yang menjadi sumber masalahnya?” sahut Jelita dengan kesal.


“Kalau Mas Raffa tidak bisa mengantar tidak apa-apa. Dan maaf, aku menolak bantuanmu, Mario. Aku bisa pulang sendiri dengan Ethan.” Pungkas Jelita tampak jengkel. Setelah itu keluar dari ruangan suaminya. siang ini juga ia akan pulang ke rumah Ibunya bersama Ethan.


Raffael mengabaikan keberadaan Mario yang masih ada di ruang kerjanya. Pria itu mengejar istrinya. Raffael tidak akan mungkin membiarkan istrinya pulang hanya dengan Ethan saja.


“Sayang, tunggu!” Raffael berhasil mengejar istrinya yang baru saja memasuki lift.


“Ok. Sekarang juga aku akan mengantar kamu dan Ethan pulang. tapi maaf, jika aku nanti langsung pulang. nggak apa-apa kan?”


***


Saat ini Raffael sudah berada di bandara bersama istri dan anaknya. beberapa menit lagi pesawat mereka akan take off. Sejak tadi Jelita diam saja, karena dia mengkhawatirkan keadaan Ibunya. Meskipun Arvin mengatakan kalau Ibunya hanya sakit biasa dan ingin bertemu dengan cucunya, tetap saja dia sangat khawatir.


“Sayang, tenanglah! Ibu pasti baik-baik saja.” Raffael memeluk istrinya sesaat sebelum menuju gate keberangkatan.


Jelita hanya mengangguk dan mengulas senyum tipis di bibirnya.


“Sayang, kenapa wajah kamu pucat sekali? Kamu sakit? Apa sebaiknya kita tunda dulu? Aku lebih khawatir dengan keadaan kamu.” Ucap Raffael terkejut, lalu ia mengambil Ethan dari gendongan istrinya.


“Tidak apa-apa, Mas. Hanya pusing sedikit. Nanti pasti akan baikan. Dan aku tidak mau menunda keberangkatan ini. maaf, aku sangat merindukan Ibu.” Jawab Jelita dengan mata berkaca-kaca.


Raffael berada diambang dilemma. Dia tidak tega melihat wajah pucat istrinya. Tapi istrinya sangat merindukan Ibunya.

__ADS_1


Kini mereka sudah berada di dalam pesawat. Raffael menyuruh istrinya istirahat. Sedangkan Ethan bersamanya. Jelita pun menurut. Memang ia ingin tidur sebentar sampai sakit kepalanya mereda.


Perjalanan udara selama kurang lebih satu setengah jam akhirnya membawa Jelita ke kampung halamannya. Keadaan Jelita sudah lebih baik dari sebelumnya. Raffael pun segera memesan taksi untuk mengantar ke rumah mertuanya.


Sesampainya di rumah, Jelita langsung bertemu dengan Ibunya yang sengaja menunggunya di depan pintu rumah. entah sejak kapan. Yang pasti Bu Sukma merasa sangat bahagia saat melihat kedatangan cucunya.


“Ibu! Katanya Ibu sakit? Kenapa malah di sini?” protes Jelita setelah mengurai pelukannya.


Raffael mencium punggung tangan Bu Sukma setelah itu mereka masuk ke dalam.


“Ibu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Ethan. Apa kamu tahu, sekarang ini tubuh Ibu lebih baik saat melihat Ethan.” Jawab Bu Sukma jujur.


Jelita menghela nafasnya lega. Dia juga bisa melihat sendiri binar bahagia dari sorot mata Ibunya.


Usai bersantai sejenak, Raffael mengucapkan maaf pada Bu Sukma kalau dirinya harus segera pulang, karena pekerjaannya sangat padat. Bu Sukma yang memang tahu siapa menantunya itu, tentu saja memaklumi dan mengijinkan untuk pulang.


“Nak Raffa jangan khawatir! Lita dan Ethan baik-baik saja di sini. justru Ibu yang minta maaf pada Nak Raffa. Untuk sementara Ibu pinjam dua orang ini dulu ya? Sebentar saja, kok.” Seloroh Bu Sukma membuat Raffael bernafas lega.


Raffael kembali ke bandara dengan mengendarai taksi yang sudah ia pesan beberapa waktu yang lalu. Namun sebelum ia masuk ke dalam taksi, dia melihat sebuah mobil berhenti tepat di rumah Bu Sukma. Dia adalah Arvin.


Raffael meyakinkan dirinya sendiri kalau Arvin tidak mungkin melakukan sesuatu pada istrinya. Apalagi ada Ibu mertuanya. entah kenapa perasaan Raffael semakin tidak enak semenjak tahu kalau Arvin adalah adik tiri mendiang Ayah Jelita.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


 


__ADS_2