Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 87


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Raffael sudah berada di rumah sakit. Ia menyusul Arvin yang pergi lebih dulu membawa Jelita dengan naik taksi.


Entah apa yang telah terjadi dengan Jelita. Saat Raffael tiba, dia melihat tatapan permusuhan yang ditunjukkan oleh Arvin. Raffael mendekati pria yang merupakan Om Jelita itu untuk bertanya bagaimana keadaan wanita itu. sepertinya Jelita juga masih berada di ruang pemeriksaan.


“Aku akan membuat perhitungan denganmu jika tejadi hal buruk pada Jelita.” Ancam Arvin sambil mencengkeram kerah baju Raffael.


Arvin juga tidak tahu pasti bagaimana keadaan Jelita. Namun yang pasti saat dia baru saja sampai rumah sakit beberapa waktu yang lalu, keadaan Jelita sudah tidak sadarkan diri. Di sela-sela pahanya juga tampak mengeluarkan darah.


Cklek


Seorang dokter keluar dari ruangan pemeriksaan dengan raut wajah tak terbaca. Raffael dan Arvin segera mendekat dan bertanya tentang keadaan Jelita saat ini.


“Di sini siapa yang sebagai suami dari Ibu Jelita?” tanya dokter melihat Arvin dan Raffael secara bergantian.


“Saya, Dok. Saya suaminya.”


Arvin menatap sinis pada Raffael. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak ingin membuat gaduh rumah sakit.


“Istri anda mengalami keguguran dan harus segera dilakukan tindakan kuretase.” Jawab dokter.


Seketika itu tubuh Raffael seperti dihantam oleh batu besar. Baru saja ia ingin berjuang mendapatkan maaf sekaligus cintanya kembali dari Jelita, terlebih ada calon buah hatinya di dalam rahim wanita itu. namun, kenyatahan pahit harus ia terima saat Jelita keguguran.


Raffael terduduk lemas di kursi tunggu. Tatapannya kosong seiring dengan keluarnya perawat yang sedang mendorong brankar Jelita.


Begitu juga dengan Arvin. Pria itu juga merasa menyesal. Raffael bisa bertemu dengan Jelita pasti gara-gara pria itu ingin meminta maaf. Dan itu semua berawal dari dirinya yang memberitahu semua kesalah pahaman itu. dan tentunya dari pertemuan Jelita dan Raffael itulah yang menyebabkan Jelita seperti sekarang ini.


Arvin juga tidak bisa berbuat apa-apa. Nasi sudah menjadi bubur. Janin itu sudah tidak bisa diselamatkan. Sedangkan Raffael langsung menuju ruang administrasi untuk menanda tangani surat persetujuan untuk tindakan kuretase Jelita.


Raffael kini sedang menunggu seorang diri di depan ruang operasi. Sedangkan Arvin berpamitan pulang karena tidak tega meninggalkan Ethan yang hanya dititipkan pada penjaga Villa. Entahlah, meskipun Arvin membenci Raffael, tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak. Pria itu menurunkan egonya dan membiarkan Jelita berada dalam pengawasan Raffael.

__ADS_1


Raffael menghubungi kedua orang tuanya dan memberitahu tentang kondisi Jelita saat ini. dia sudah siap kena amukan Mamanya jika nanti tahu kalau penyebab keguguran Jelita karena ulahnya.


Beberapa saat kemudian tindakan kuretase yang dilakukan oleh Jelita sudah selesai. wanita itu masih memejamkan matanya karena masih di bawah pengaruh obat bius. Raffael mengikuti perawat yang akan membawa Jelita ke ruang perawatan.


Raffael duduk di samping brankar Jelita sambil mengusap lembut tangan wanita itu. ingin sekali dia memeluk wanitanya dengan erat sebagai penebusan atas rasa sakit yang selama ini diderita oleh Jelita.


“Sayang, maafkan aku. aku salah. Maafkan aku. aku…” Raffael manangis tergugu di samping Jelita yang masih memejamkan matanya.


***


Jelita sudah sadar dari pengaruh obat bius. Dan sejak tadi dia sama sekali tidak mau menatap wajah Raffael yang entah sejak kapan berada di ruangannya. Jelita sudah tahu kalau dia kehilangan janinnya. Wanita itu memang menyesal tapi dia berusaha kuat. Mungkin semua ini sudah takdir dari Tuhan agar proses perceraiannya dengan Raffael berjalan lebih cepat.


Raffael sendiri memilih duduk di sofa tak jauh dari brankar Jelita. Meskipun wanita itu enggan bicara atau bahkan menatap wajahnya, namun Raffael tetap berada di sana menunggunya.


Cklek


“Lita! Maafkan Mama, Nak. mama turut berduka.”


Jelita juga ikut menangis. Dia sungguh terenyuh dengan sikap Abi yang ikut merasa kehilangan atas gugurnya janinnya.


“Lita nggak apa-apa, Ma. Lita sudah menerima semua ini.” jawab Jelita dengan wajah sendu.


Reno juga ikut bersedih karena calon cucunya sudah pergi dari dunia ini. tapi semua itu memang sudah menjadi kehendak Tuhan. Apalagi melihat wajah tegar Jelita, membuatnya semakin salut dengan wanita itu.


“Terima kasih, Mama dan Papa sudah hadir di sini. mungkin ini jalan terbaik dari Tuhan agar Lita bisa segera menyelesaikan proses perceraian ini.”


Deg


Raffael yang mendengar jelas ucapan Jelita, dia segera mengahmpirinya. Dia tidak terima jika Jelita masih melanjutkan proses perceraian itu. apalagi dia sudah mencabut gugatan perceraiannya.

__ADS_1


“Tidak, Jelita! Aku tidak akan menceraikan kamu. Aku sudah mencabut gugatan itu. jadi kita masih sah sebagai suami istri.” Ucap Raffael.


“Raffa, tolong jangan membahas ini dulu. Jelita masih butuh waktu untuk beristirahat. Biarkan dia tenang dulu.” Ucap Abi menahan emosinya. Kemudian dia melirik suaminya agar membawa Raffael keluar.


Abi tidak lagi mengajak Jelita bicara. Wanita itu sangat paham dengan kondisi Jelita. Kemudian membiarkan Jelita beristirahat.


Setelah empat hari dirawat di rumah sakit, keadaan Jelita sudah pulih. Dan hari ini juga ia sudah diperbolehkan untuk pulang.


Selama dirawat di rumah sakit, Abi lah yang setia menunggu Jelita. Begitu juga dengan Raffael. Namun pria itu tidak diperbolehkan dekat dengan Jelita. Hanya melihatnya dari jauh atau bisa mendekat saat Jelita sedang tidur.


Jelita pulang dijemput oleh Arvin. Sedangkan Abi bersama Raffael. Sesampainya di rumah, Jelita langsung masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat. Dia juga mengajak Ethan masuk karena sangat merindukan anak itu. tak lama kemudian Abi ikut masuk untuk memastikan bahwa Jelita benar-benar istirahat.


“Ma, terima kasih atas waktu luangnya selama ini demi menunggu Lita di rumah sakit. Lita rasa, lebih baik Mama pulang saja. jangan khawatir, Lita baik-baik saja di sini.”


Sebenarnya Abi enggan pulang. dia masih ingin berlama-lama bersama Jelita. Namun rupanya wanita itu merasa tidak nyaman dengan keberadaannya. Mugkin Jelita butuh waktu untuk sendiri. Apalgi ada Raffael di rumahnya.


“Baiklah. Mama akan pulang. walau sebanranya Mama masih ingin bersama kalian. Mama ingin sekali kita berkumpul bersama seperti dulu lagi.” ujar Abi sungguh-sungguh.


“Maaf, Ma. Jelita tidak bisa mengabulkan itu semua.”


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2