Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 48


__ADS_3

Saat ini Raffael sedang mengajak Jelita dan juga Ethan pergi ke mall. Semenjak menikah beberapa minggu yang lalu, Raffael belum pernah sekalipun mengajak istri dan anaknya pergi jalan-jalan. Karena memang saat itu keadaan Jelita tidak baik-baik saja akibat trauma masa lalunya. Khawatir jika bertemu dengan Mario lagi. namun sekarang trauma Jelita sudah sembuh setelah wanita itu mampu berdamai dengan masa lalunya, yaitu bertemu dengan Mario dan memaafkan kesalahan pria itu.


Kabar pernikahan Raffael dan Jelita sudah terdengar oleh seluruh karyawan perusahaan Reno. Beberapa rekan bisnis Raffael juga ada yang sudah tahu. Pernikahan mereka berdua yang memang dadakan, cukup membuat mereka semua terkejut. Tapi tidak sampai terdengar kabar buruk yang menjadi bahan konsumsi publik. Karena sedari awal semua karyawan Raffael juga sudah mengetahui kalau Jelita, wanita yang pernah bekerja sebagai pengantar kue itu adalah calon istri atasan mereka.


Kendati pernikahan Raffael dan Jelita dilaksanakan secara dadakan, Jelita tidak ingin suaminya mengadakan acara resepsi besar-besaran seperti yang sudah direncanakan. Abi dan Reno sebenarnya ingin sekali mengadakan resepsi itu, namun kalau menantunya tidak mau, mereka juga tidak akan memaksa. Hanya saja Jelita ingin mengalihkan acara resepsi itu dengan cara berbagi dengan anak-anak panti asuhan.


Abi dan Reno tidak menyangka dengan sikap peduli menantunya. Mereka benar-benar bersyukur memiliki menantu seperti Jelita. Walau pandangan orang lain masih ada sedikit yang mencelanya. Seorang single mother menikah dengan pria tajir. Pasti dugaan buruk tentang Jelita yang ingin memanfaatkan kekayaan Raffael sempat berhembus dari sebagian kecil orang yang tidak suka dengan Jelita.


*


Mobil Raffael kini sudah tiba di basement mall. Sejak tadi Ethan tak henti-hentinya bersorak senang saat diberitahu oleh Bundanya bahwa akan diajak jalan-jalan. Maklum saja, selama ini Jelita memang tidak pernah mengajak buah hatinya jalan-jalan di pusat perbelanjaaan seperti sekarang ini. jelas berbagai macam permainan di sana tersedia lengkap. Dan pastinya Ethan sangat senang.


Raffael keluar dari mobil menggendong Ethan. Bocah itu bahkan terus meronta dari gedongan ayahnya karena ingin berjalan sendiri. Namun Jelita melarangnya.


“Jangan dibiarkan dia jalan, Mas! Nanti saja kalau sudah sampai di timezone.” Ujar Jelita khawatir.


Ethan memang bocah yang sangat aktif. Terlebih dia tidak pernah sekalipun datang ke tempat seperti ini sebelumnya. Tentu saja ada rasa khawatir pada diri Jelita. Takut jika anaknya berlarian di kerumunan orang yang berlalu Lalang.


“Tenang saja, kamu jangan khawatir! Ayo kita jalan. Kamu gandeng tanganku, ya?” jawab Raffael dengan tenang.


Jelita pun mengangguk. Dia berjalan sambil menggamit lengan kanan suaminya. sementara Ethan sudah lebih tenang dalam gendongan ayahnya.

__ADS_1


Sesampainya di pusat permainan anak-anak, Raffael segera menurunkan Ethan. Dia membiarkan Ethan bermain sepuasnya di wahana bermain anak seusia Ethan. Tentunya dnegan keamanan dan keselamatan yangsudah terjamin. Sedangkan Jelita dan Raffael hanya memantau dari tempat duduk yang sudah tersedian. Sesekali Jelita menghampiri anaknya, khawatir jika berlarian dan bertabrakan dengan anak-anak yang lainnya.


“Sayang, kamu tunggu di sini dulu, ya? Aku belikan snack dan minuman dulu buat Ethan.” Ujar Raffael mendekati istrinya yang sedang berada di dekat Ethan.


Jelita hanya mengangguk, lalu ia kembali mengawasi Ethan.


Tak jauh dari tempat Jelita mengawasi Ethan yang sedang bermain, ada seorang pria yang sejak tadi juga mengawasi mereka. Dia adalah Mario.


Mario sejak tadi mengetahui Raffael yang sedang mengajak Jelita dan juga Ethan ke wahana bermain anak. Dari jauh ia melihat wajah anak kandungnya yang tampak ceria. Ingin sekali ia menghampiri Ethan dan memeluknya. Karena semenjak pertemuannya dengan Jelita beberapa waktu yang lalu, sampai saat ini Mario belum diberi kesempatan untuk bertemu dengan darah dagingnya. Jika ia nekat ingin menghampiri Ethan saat ini juga, Mario takut jika Jelita nanti akan marah. Akhirnya Mario hanya bisa melihat dari kejauhan.


“Ehm! Kenapa kamu di sini?”


Mario langsung menoleh ke belakang saat mendengar suara seseorang yang tidak asing di telinganya. Ternyata Raffael sedang membawa beberapa snack dan cup es krim.


“Oh..” sahut Raffael singkat. Pria itu cukup peka. Pasti Mario juga sejak tadi sedang melihat istrinya yang sedang menemani Ethan bermain.


“Apa kamu mau bertemu Ethan?” tanya Raffael, sontak membuat Mario terkejut.


“Apa sudah boleh? Karena saat itu Jelita memang bilang akan mempertemukan aku dengan Ethan. Tapi aku tidak tahu kapan.”


Raffael pun akhirnya mengajak Mario menuju wahana bermain anak dimana Ethan sedang bermain. Mungkin sudah saatnya Mario bertemy dengan anaknya. bagaimana pun juga pria itu berhak menyayangi darah dagingnya sendiri. Terlepas dengan masa lalu yang ditorehkan Mario pada Jelita masih membekas di hati Raffael.

__ADS_1


Jelita sangat tekejut saat melihat suaminya datang bersama Mario. Namun, perasaan Jelita terlihat berbeda. Tidak takut seperti dulu sebelum ia berdamai dengan pria itu. mungkin agak sedikit canggung saja, karena ini pertemuan kedua kalinya setelah mereka sudah berbaikan.


“Mario ingin bertemu dengan Ethan, Sayang. Biarkan dia mengawasi Ethan di sana. Ayo kita duduk!” ajak Raffael sekaligus memberitahu Jelita.


Ada rasa yang aneh dalam diri Mario saat melihat Raffael memperlakukan Jelita dengan lembut. Namun setelah itu ia berusaha membentengi hatinya agar tidak terjadi hal buruk yang tidak diinginkan.


Jelita pun mengangguk samar ke arah Mario. Lalu ia ikut bersama suaminya duduk tak jauh dari wahana bermain itu.


Mario menghampiri Ethan yang sedang bermain. Pria itu tidak serta merta memperkenalkan dirinya sebagai ayah kandung Ethan. Biarkan saja dia dekat dulu dengan Ethan, untuk urusan siapa dirinya dan Ethan harus memanggilnya apa, biar Jelita saja yang memberitahu pada anaknya.


Raffael dan Jelita melihat dari jauh interaksi Ethan dengan Mario. Ada rasa tak nyaman di hati Raffael saat melihat Mario yang sedang bersama Ethan. Rasa tak nyaman yang berujung dengan rasa takut kehilangan istrinya.


“Terima kasih, Mas atas kelapangan hati kamu. Aku semakin mencintaimu.” Ujar Jelita tiba-tiba dan berhasil membuat hati Raffael lega.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2