
Raffael dan Jelita tidur dengan pulas setelah melakukan aktivitas panas malam itu. keesokan paginya, Jelita bangun terlebih dulu. Setelah membersihkan tubuhnya dari sisa percintaannya semalam, wanita itu keluar kamar untuk membantu ibunya menyiapkan sarapan. Namun sayangnya di dapur masih sepi. Waktu juga masih sangat pagi. pasti Ibunya masih tidur. Akhirnya Jelita masuk ke dalam kamar Ibunya, sekalian untuk melihat Ethan.
Jelita menghentikan langkahnya saat baru saja masuk ke kamar Bu Sukma. Terlihat wanita paruh baya itu sedang duduk sambil mengelap mulutnya.
“Ibu sudah bangun?”
Bu Sukma terkejut saat menyadari Jelita sudah masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu segera membuang tisu bekas mengelap mulutnya ke kolong tempat tidur. Lalu segera minum air putih yang tersedia di atas nakas.
“Sudah. Ini Ibu baru mau ke dapur. Semalam Ibu nyenyak sekali tidurnya, karena ada cucu Ibu yang tampan ini.” ujar Bu Sukma sambil melirik ke arah Ethan yang masih pulas.
Jelita tersenyum bahagia bisa melihat senyum Ibunya. Kemudian ia mencium Ethan dulu sebelum mengikuti Ibunya ke dapur untuk memasak.
***
Jelita beserta suami dan kedua mertuanya berencana akan pulang nanti sore. Sebenarnya Jelita masih ingin bersama Ibunya. Namun waktunya juga yang menjadi kendala. Raffael juga sudah menawarkan pada ibu mertuanya itu agar ikut dengannya, mengingat Bu Sukma hanya tinggal seorang diri. Ya, meskipun masih ada beberapa sanak family di sana. Namun sayangnya Bu Sukma menolak, dengan alasan ingin dekat dengan mendiang suaminya.
Pagi ini setelah menyelesaikan sarapannya, Jelita meminta Raffael untuk diantar ke makam Ayahnya. Dia ingin menyapa Ayahnya yang sudah tenang di sisi Tuhan.
Beberapa saat kemudian Jelita dan Raffael sudah tiba di pemakaman umum dimana Ayah Jelita dimakamkan. Raffael juga pernah ke makam itu saat dulu ia mencari Jelita.
Raffael ikut duduk di samping makam Ayah Jelita. Dia hanya diam saja saat Jelita memperkenalkan dirinya pada batu nisa yang bertuliskan nama Ayah Jelita. Setelah itu ia ikut menundukkan kepalay seraya berdoa untuk mendiang Ayah mertuanya.
Saat sedang menundukkan kepalanya, Raffael mendengar suara isakan lirih yang keluar dari bibir istrinya. Pastinya Jelita sangat merindukan ayahnya dan juga menyesal karena dirinyalah yang menyebabkan kematian sang ayah. Raffael pun segera memeluk istrinya dan menenangkannya.
“Sayang, sudah jangan bersedih lagi. semua itu terjadi atas kehendaknya. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri atas kejadian itu. lebih baik kita doakan saja agar Ayah bahagia di sisi Tuhan.” Ujar Raffael.
Jelita hanya diam membenarkan ucapan suaminya. namun ada sesuatu hal yang mengganjal hati Jelita saat berada di makam ayahnya saat ini. yaitu tentang Ibunya. Alasan sang Ibu menolak ikut bersamanya adalah karena ingin dekat dengan sang ayah. Apa maksud dari ucapan itu. pikiran burukpun sempat menyelimuti hatinya. Ditambah lagi dengan kejadian tadi pagi yang tidak sengaja ia lihat.
__ADS_1
Cukup lama mereka berdua berada di makam. Hingga akhirnya Raffael mengjak pulang Jelita. Walau sebenarnya dia sangat berat dan masih ingin bercerita banyak di samping makam sang ayah.
Sebenarnya Jelita ingin sekali tinggal lebih lama lagi di rumah Ibunya. Hanya saja ia tidak berani meminta ijin pada suaminya. apalagi berhubungan dengan Arvin. Jelas suaminya tidak akan mengijinkan.
Kini waltu kepulangan Jelita tiba. Tujuan kepulangannya ke rumah sang Ibu adalah ingin melepas rindu pada sosok wanita yang telah melahirkannya itu. tapi sayangnya Jelita harus pulang bersama suaminya dengan menyisakan sakit di hatinya.
Tadi siang, saat Jelita sedang berdua di kamar Ibunya, dia menanyakan sesuatu yang telah disembunyikan Ibunya itu. benar saja, tisu yang dibuang oleh Bu Sukma dan tidak sengaja dilihat Jelita tadi pagi ternyata ada bekas darah yang keluar dari mulut Ibunya. Ternyata selama ini Bu Sukma menderita penyakit radang saluran pernafasan. Jelita sangat terkejut saat mendengarnya sekaligus sedih.
“Sejak kapan Ibu menderita penyakit ini, Bu?” tanya Jelita tadi siang.
“Sudahlah, kamu jangan khawatir. Itu tadi hanya kebetulan saja, karena Ibu semalam lupa minum obat.”
Jelita tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. apalagi setelah Ibunya menceritakan kalau penyakit itu ia derita setelah kematian sang Ayah. Ternyata selama ini tidak hanya dirinya saja yang hidup penuh dengan kesulitan. Ibunya juga.
Saat Jelita sudah menawarkan untuk mengajak berobat, Bu Sukma menolak dengan alasan sudah berobat sendiri dengan rutin di klinik terdekat. Dan semenjak hubungannya dengan Ibu sudah membaik, Arvin juga turut andil merawat Bu Sukma. Walau sebenarnya wanita itu sudah menolaknya. Yaitu dengan mengantar Bu Sukma periksa langsung ke rumah sakit besar yang tentunya kualitasnya sangat bagus. Beruntung penyakit itu bisa disembuhkan secara perlahan, yaitu dengan mengkonsumsi obat yang resepnya sama dari yang didapat di klinik.
Kini Jelita beserta suami dan mertuanya sudah bersiap untuk menuju bandara. Jelita masih sedih dan tidak rela harus berpisah dengan Ibunya. Tapi dia ingat dengan ucapan sang Ibu kalau seorang istri harus patuh pada suaminya.
Sebelum taksi yang mereka tumpangi datang, Arvin datang lagi ke rumah Bu Sukma. Pria itu juga akan mengantar kepergian mertua Jelita. Karena bagaimana pun juga Arvin adalah Om Jelita sekaligus sebagai pengganti Ayah Jelita.
Raffael tampak tidak suka saat melihat kedatangan Arvin. Tapi dia berusaha bersikap biasa saja. apalagi Papanya sudah terlihat akrab dengan Arvin.
“Om, bisa Jelita bicara dengan Om Arvin sebentar?” ucap Jelita pad Arvin yang sedang bersama Reno, Abi, dan juga Reno.
Arvin mengangguk samar lalu mengikuti Jelita yang masuk ke rumah. Raffael sangat kesal. Bisa-bisanya istrinya memancing emosinya seperti ini. namun saat ia hendak mengikuti istrinya, Mamanya mencekal tangannya. dan Abi menggelengkan kepalanya pelan.
***
__ADS_1
Kini Raffael beserta istri, anak, dan kedua orang tuanya sudah berada di pesawat dalam perjalanan pulang. sejak tadi Jelita tampak diam. begitu juga dengan Raffael yang juga sengaja mendiamkan istrinya.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai. Sopir pribadi Reno menjemputnya di bandara. Jelita menggendong Ethan dan membiarkan suaminya membawa barang bawaannya. Lagi-lagi tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Hanya sesekali menimpali ucapan Abi dan Reno saja. Abi pun hanya menganggap kalau anak dan menantunya sedang kecapekan.
Setibanya di rumah, Jelita langsung masuk ke kamar Ethan. Livy yang sejak tadi menunggu kedatangan keponakannya itu pun segera mengikuti Jelita yang menuju kamar Ethan.
Livy ikut merawat Ethan dengan membantunya mandi. sedangkan Jelita membereskan baju kotar Ethan dan memasukkannya ke dalam tampat baju kotor.
“Vy, tolong kamu ajak Ethan turun dulu, Ya? Aku mau mandi.” ucap Jelita.
“Baik, Kak.”
Jelita masuk ke dalam kamarnya. Ternyata suaminya tidak ada di sana. Tapi sepertinya Raffael baru saja masuk kamar dan keluar lagi. Jelita menutup korden kamar sebentar sebelum mandi. tiba-tiba saja ia melihat mobil suaminya baru saja keluar dari halaman rumah.
“Mas Raffa kemana? Kenapa pergi tidak pamit?” gumam Jelita.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1