
Cukup lama Ethan bermain di wahana itu. Mario juga ikut menemani bocah itu. Ethan yang belum mengenal Mario, tetap fokus dengan permainannya. Hanya saja sejak tadi Mario juga ikut berperan membantu Ethan yang sesekali terjatuh saat sedang bermain. Dari interaksi itulah perlahan Ethan sedikit lebih dekat dengan Mario.
Karena sudah kelelahan bermain, Mario pun mengajak Ethan berhenti bermain dan menghampiri orang tuanya. Ethan sangat antusias bercerita tentang hal baru yang baru saja ia peroleh. Jelita pun ikut senang mendengar celotehan anaknya.
Raffael kemudian mengajak istri dan anaknya pergi dari wahana itu menuju foodcourt untuk mengisi perut. Mario juga diijinkan oleh Raffael untuk ikut. Mungkin Jelita akan memberitahu pada Ethan tentang Mario.
Kini mereka sudah duduk dan menuggu pesanan makanan mereka datang. Ethan duduk bersebelahan dengan Mario. Sedangkan Raffael dengan Jelita. Sejak tadi Raffael juga tak hentinya mengumbar kemesraannya dengan Jelita. Dan hal itu membuat Mario sedikit terusik.
Usai makan malam itu Jelita memperkenalkan Mario pada Ethan. Bocah itu memang masih belum paham dengan pembicaraan orang dewasa. Ethan hanya mengangguk-anggukan kepalanya saat Bundanya memperkenalkan Mario.
“Ethan, bisa memanggil Om itu dengan panggilan “Papa”. Mengerti, sayang?” ujar Jelita cukup membuat Raffael dan Mario terkejut.
Jika Mario senang karena mendapat panggilan Papa. Tapi tidak dengan Raffael. Pria itu ingin protes pada istrinya mengenai panggilan Mario untuk Ethan. Tapi setelah dipikir-pikir, panggilan apa juga yang pantas untuk Mario. Dengan menahan kekesalannya, Raffael mencoba untuk tetap bersikap tenang.
Ethan yang tidak mengerti apapun hanya bisa menurut dengan ucapan Bundanya. Bocah itu langsung mempraktekkannya pada Mario dengan memanggil “Papa”.
Betapa bahagianya Mario mendengar panggilan itu langsung dari bibir Ethan. Anak kandungnya. Andai saja waktu bisa diulang kembali. Mungkin dialah yang kini berada di posisi Raffael. Hidup bahagia bersama Jelita dan juga anaknya.
Tak ingin membuat suasana hatinya semakin memburuk, Raffael segera mengajak Ethan dan Jelita pulang. tidak peduli dengan raut kecewa Mario yang masih ingin menikmati kebersamaannya dengan Ethan.
__ADS_1
“Kamu bisa datang ke rumah jika ingin bertemu dengan Ethan. Tapi tidak dengan istriku.” ujar Raffael dengan suara tegas penuh penekanan.
Mario terdiam. Dia tidak mengerti sama sekali dengan kalimat terakhir Raffael. Begitu juga dengan Jelita. Namun wanita itu tidak ingin banyak bertanya lagi. apalagi melihat raut wajah suaminya yang tiba-tiba berubah, membuatnya sedikit takut. Akhirnya ia segera menggendong Ethan dan mengajaknya pulang. Jelita juga sempat mengangguk samar pada Mario sebagai tanda ia berpamitan pulang. dan hal itu semakin membuat Raffael terbakar api cemburu.
Jika saat berangkat tadi Raffael lah yang menggendong Ethan, tapi tidak untuk sekarang. Jelita yang menggendong anaknya itu. apalagi Ethan sudah terlihat mengantuk karena lelah bermain. Otomatis terasa sedikit berat dibandingkan jika Ethan tidak dalam kondisi mengantuk.
Susah payah Jelita menahan berat tubuh Ethan. Meskipun sudah menjadi hal biasa bagi wanita itu menggendong anaknya. tapi tidak dengan posisi sekarang ini. mulai dari lantai lima hingga sampai basement. Rasanya punggung Jelita mau patah. Ditambah lagi sejak tadi Raffael sama sekali tidak bicara apapun. Pria itu berjalan lurus tanpa memperhatikan istrinya sama sekali.
Jelita menghembuskan nafasnya lega saat baru saja memasuki mobil. Bahkan ia langsung meraih sebotol air mineral yang ada di atas dasbor mobil. Raffael pun segera melajukan mobilnya pulang.
Sepanjang perjalanan pulang tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Jelita memilih memejamkan matanya setelah kelelahan menggendong Ethan. Bagitu juga dengan Ethan yang tampak neynyak dalam dekapan bundanya.
Sementara itu Raffael sejak kepulangannya dari mall tadi langsung masuk ke ruang kerjanya. Sepertinya ada pekerjaan penting sampai menyita waktunya hingga larut malam.
Pukul setengah dua belas malam Raffael baru saja keluar dari ruang kerjanya. Rumah juga sudah terlihat sangat sepi. Seluruh penghuninya juga pasti sedang menyelami alam mimpi masing-masing.
Gelap. Hal pertama kali yang Raffael lihat saat baru masuk kamarnya. Karena tidak biasanya Jelita tidur dengan kondisi kamar yang gelap gulita seperti ini. wanita itu pasti menyalakan lampu nakas saja sebagai penerang. Kemudian Raffael menghidupkan lamu. Betapa terkejutnya dia saat tak melihat si penghangat ranjang itu di peraduannya. Seketika pikiran buruk melintas di benaknya. Apalagi Raffael mengingat kekesalannya saat di mall tadi.
Raffael memanggil-manggil nama Jelita di seisi kamar. di kamar mandi juga tidak ada siapa-siapa. Membuka lemari pakaian pun baju-baju istrinya masih lengkap. Lalu kemana perginya Jelita malam-malam begini.
__ADS_1
Raffael keluar kamar hendak bertanya pada security rumah. namun langkahnya terhenti saat menoleh ke samping, yaitu tempat tidur Ethan. Akhirnya ia masuk ke kamar Ethan.
Helaan nafas lega keluar dari mulut Raffael saat dia melihat sang istri terlelap damai sambil memeluk putranya. Bahkan baju yang dikenakan Jelita adalah baju saat pergi ke mall tadi.
“Sayang, maafkan aku!” lirih Raffael menyesali sikapnya terhadap sang istri tadi.
Raffael tahu kalau tempat tidur Ethan tidaklah luas. Istrinya juga terlihat tidak nyaman tidur di sana. Akhirnya, dengan perlahan dia mengangkat tubuh Jelita dan memindahkannya ke kamarnya sendiri.
Usai merebahkan Jelita, Raffael berganti baju dan segera menyusul Jelita ke alam mimpi. Namun sayangnya ada sesuatu dari tubuh Raffael yang terusik saat melihat bibir Jelita yang sedikit terbuka itu. dia tidak bisa tidur dengan nyenyak jika keinginannya itu tidak segera diwujudkan.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1